Tahnik dan Manfaat Kesehatan, Mitos atau Fakta? (02)

Tahnik dan Manfaat Kesehatan, Mitos atau Fakta? (02)

Baca pembahasan sebelumnya Tahnik dan Manfaat Kesehatan, Mitos atau Fakta? (01)

Hikmah Tahnik Menurut Penjelasan Ulama

Sebagian ulama memberikan penjelasan tentang hikmah dianjurkannya tahnik, yaitu agar yang pertama kali masuk ke dalam perut bayi adalah sesuatu yang manis. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menjelaskan,

وأما الحكمة من التحنيك بالتمر، فقد كان العلماء قديما يرون أن هذه السنة فعلها النبي صلى الله عليه وسلم ليكون أول شيء يدخل جوف الطفل شيء حلو، ولذا استحبوا أن يحنك بحلو إن لم يوجد التمر

“Adapun hikmah dari tahnik menggunakan kurma, para ulama terdahulu berpendapat bahwa sunnah ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar yang paling pertama masuk ke dalam perut bayi adalah sesuatu yang manis. Oleh karena itu, dianjurkan mentahnik dengan sesuatu yang manis jika tidak mendapatkan kurma.” [1]

Tahnik, Benarkah Berfungsi sebagai Vaksinasi Alami?

Sebagian kalangan mengatakan bahwa tahnik merupakan salah satu jenis imunisasi (vaksinasi) alami ciptaan Allah Ta’ala. Namun, tidak ada satu pun dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, perkataan para shahabat atau tabi’in, tidak ada satu pun juga perkataan para ulama yang bisa digunakan sebagai rujukan dalam hal ini. Demikian pula, tidak ada satu pun sumber referensi dan penelitian ilmiah yang valid yang dapat digunakan sebagai acuan atas klaim tersebut. Penjelasan sebagian orang yang mencoba-coba menghubungkan kedua hal itu (tahnik dan vaksin alami) sangatlah mengada-ada dan dibuat-buat, tidak ada landasannya sama sekali dari sisi ilmiah. Kalaupun mereka membawakan jurnal penelitian ilmiah tertentu, itu hanyalah kesimpulan yang sangat prematur dan sangat melenceng jauh. Dan bisa jadi hanya menjadi (maaf) “bahan candaan” bagi para ilmuwan (scientist) di bidang ini.

Tahnik sebagai Media Transfer Stem Cells (Sel Punca)

Sebagian orang juga “mengarang cerita” bahwa tahnik dapat merontokkan sel punca di rongga mulut bayi yang kemudian bermanfaat bagi bayi. Hal ini sangat mengada-ada. Mengapa? Sel punca di rongga mulut tidak berada di permukaan mukosa sehingga mudah rontok hanya semata-mata dengan meletakkan seujung jari kurma di rongga mulut. Pada penelitian terkait sel punca, sel tersebut diambil melalui proses operasi atau melalui biopsi (pengambilan sampel jaringan dengan alat tertentu). Karena lokasi sel punca berada agak di dalam, di bawah lapisan sel-sel epitel rongga mulut. Oleh karena itu, sekedar tahnik tidak mungkin bisa melepaskan sel punca, apalagi kemudian tertelan dan bermanfaat untuk memperbaiki kerusakan jaringan di tubuh bayi. Hal ini sangat jauh dan juga mengada-ada.

Tahnik sebagai Transfer “DNA Keshalihan”

Anggapan ini pun juga mengada-ada, bahkan berpotensi mengantarkan kepada kesyirikan. Sebagian orang meyakini bahwa tahnik hendaknya dilakukan oleh orang shalih agar dapat mengambil berkah dari air liurnya. Lalu sebagian orang pun menghubung-hubungkan bahwa hal ini bisa dicapai karena tahnik dapat memungkinkan terjadinya transfer DNA dari pentahnik. Sekali lagi, anggapan ini tidak benar. Mencari berkah dengan zat tubuh tertentu merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan orang lainnya termasuk sahabat yang paling mulia radhiyallahu ‘anhum.

Lalu, siapakah orang yang melakukan tahnik bayi di hari lahirnya? Yang mentahnik adalah siapa saja di antara anggota keluarga yang hadir ketika itu, bisa ayah, ibu, kakek atau yang lainnya. Tidak harus orang tertentu. [2]

Kesimpulan

Tidak kita dapati dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, penjelasan ulama terpercaya atau penelitian ilmiah yang valid yang menunjukkan bahwa tahnik berfungsi sebagai vaksin, transfer DNA keshalihan atau sebagai transfer sel punca yang memiliki manfaat kesehatan tertentu bagi sang bayi.

Kepada orang-orang yang tetap bersikeras menyatakan bahwa tahnik merupakan vaksin alami yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau klaim manfaat kesehatan lainnya yang tidak valid (dan disandarkan sebagai ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), kami ingatkan dengan hadits ancaman berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Siapa yang sengaja berdusta atas namaku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), maka silakan ambil tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3).

***

Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1438/21 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1]     http://islamqa.info/ar/ref/102906

[2]     Untuk pembahasan yang lebih luas mengenai hal ini bisa dibaca di:

https://muslim.or.id/32409-tahnik-apakah-hanya-boleh-dilakukan-oleh-rasulullah-02.html

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 – sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »