Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ringkasan Hal-Hal Yang Boleh Dan Tidak Boleh Terhadap Non Muslim

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
23 Februari 2017
di Fikih
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Perkara-Perkara Yang Tidak Diperbolehkan
  • Perkara-Perkara Yang Dibolehkan

Berikut ini ringkasan perkara-perkara yang dilarang dan perkara-perkara yang dibolehkan terhadap orang kafir. Sengaja kami paparkan secara ringkas tanpa menyebutkan banyak penjelasan sisi pendalilan dan pendapat-pendapat para ulama agar tersampaikan dengan lebih singkat dan padat. Harapannya agar kaum Muslimin dan juga non Muslim, bisa memahami dengan singkat dan gamblang permasalahan ini.

Perkara-Perkara Yang Tidak Diperbolehkan

  • Tidak boleh mengikuti agamanya, mencakup semua ritual dan kepercayaannya
    Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19).

    Allah Ta’ala juga berfirman:

    قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

    “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun).

    Allah Ta’ala juga berfirman:

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi“ (QS. Al Imran: 85).

  • Tidak boleh membantu non Muslim menghancurkan atau merendahkan Islam
    Allah Ta’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi auliya bagimu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 57).

  • Tidak boleh tasyabbuh bil kuffar, meniru kebiasaan yang menjadi ciri khas kaum non-Muslim
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    من تشبه بقوم فهو منهم

    “Orang yang menyerupai suatu kaum,  ia menjadi bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud no.4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

    Yang dimaksud menyerupai orang kafir yang dilarang adalah menyerupai mereka dalam perkara-perkara dianggap oleh syariat sebagai tasyabbuh dan yang menjadi kekhususan mereka. Apabila suatu perkara bukan merupakan kekhususan mereka, namun dilakukan orang secara umum maka bukan tasyabbuh. Diantaranya contohnya: merayakan hari ulang tahun, merayakan hari lahir Nabi, meniup terompet, memuliakan hari Sabtu, merayakan imlek, merayakan tahun baru Masehi, dll.

  • Tidak boleh menghadiri atau merayakan perayaan kaum non-Muslim
    Allah Ta’ala berfirman:

    وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

    “Dan orang-orang yang tidak melihat az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. Al Furqan: 72).
    Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan: “az zuur adalah hari-hari perayaan kaum musyrikin” (Tafsir Al Qurthubi).

    Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

    اجتنبوا أعداء الله في عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم

    “Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan).

    Ulama ijma akan hal ini. Disamping juga perbuatan ini termasuk tasyabbuh bil kuffar.

  • Tidak boleh menjadikannya teman dekat, pemimpin dan orang kepercayaan
    Allah Ta’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi aliya bagi(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (QS. Al Maidah: 51).

    Allah Ta’ala juga berfirman:

    لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

    “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28).

    Makna auliya adalah: pemimpin; orang kepercayaan; orang yang dicenderungi untuk disayangi; teman dekat; wali. Ini semua makna yang benar dan tercakup dalam ayat.

  • Tidak boleh seorang Muslimah menjadikan lelaki non Muslim sebagai suami
    Allah Ta’ala berfirman:

    فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

    “maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” (QS. Mumtahanah: 10).

  • Tidak boleh pergi ke negeri non Muslim tanpa kebutuhan
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    أَنا بريءٌ من كلِّ مسلمٍ يُقيمُ بينَ أظهرِ المشرِكينَ

    “Aku berlepas diri dari setiap Muslim yang tinggal di antara mayoritas kaum Musyrikin” (HR. Abu Daud no. 2645, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarah Tsalatsatil Ushul menjelaskan bahwa dibolehkan safar ke negeri kafir dengan syarat:

    1. Hendaknya seseorang memiliki cukup ilmu yang bisa memelihara dirinya dari syubhat.
    2. Hendaknya memiliki agama yang kuat untuk menjaga agar tidak terjatuh dalam syahwat.
    3. Hendaknya ia benar-benar berkepentingan untuk bepergian.

    Dan dibolehkan tinggal di negeri non Muslim dengan syarat:

    1. Merasa aman dengan agamanya.
    2. Ia mampu menegakkan dan menghidupkan syi’ar agama di tempat tinggalnya tanpa ada penghalang.

  • Tidak boleh memuliakan non Muslim
    Allah Ta’ala berfirman:

    قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

    “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja“” (QS. Al Mumtahanah: 4).

  • Tidak boleh memakan sembelihan non Muslim yang selain Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)
    Allah Ta’ala berfirman:

    وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

    “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121)

  • Tidak boleh terlebih dahulu memberikan salam
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    لا تبدؤوا اليهود ولا النصارى بالسلام

    “Janganlah engkau mendahului orang Yahudi dan Nasrani dalam mengucapkan salam” (HR. Muslim no. 2167)

  • Tidak boleh memintakan ampunan bagi non Muslim yang sudah meninggal
    Allah Ta’ala berfirman:

    مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

    “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim” (QS. At-Taubah: 113).

  • Tidak boleh dimakamkan bersama dengan kaum Muslimin
    Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (19/21) disebutkan,

    اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ دَفْنُ مُسْلِمٍ فِي مَقْبَرَةِ الْكُفَّارِ وَعَكْسُهُ إِلاَّ لِضَرُورَةٍ

    “Para fuqaha sepakat bahwa diharamkan memakamkan Muslim di pemakaman orang kafir atau sebaliknya, kecuali jika darurat”.

  • Tidak boleh menjadikannya saudara atau menyebutnya sebagai saudara
    Allah Ta’ala berfirman:

    لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

    “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al Mujadilah: 22)

  • Tidak boleh menzaliminya
    Karena zhalim itu haram secara mutlak kepada siapapun, termasuk kepada orang kafir. Allah ta’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8).

    Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala juga berfirman:

    يا عبادي ! إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا . فلا تظَّالموا

    “Wahai hambaKu, Aku telah haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku jadikan kezaliman itu haram bagi kalian, maka janganlah saling menzalimi” (HR. Muslim no. 2577).

    اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ

    “Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah” (HR. Ahmad no.12549, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 767).

  • Tidak boleh menyakitinya atau menganggu orang kafir yang dijamin keamanannya oleh kaum Muslimin, yang sedang dalam perjanjian damai, atau kafir dzimmi
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    من قتل مُعاهَدًا لم يَرَحْ رائحةَ الجنَّةِ ، وإنَّ ريحَها توجدُ من مسيرةِ أربعين عامًا

    “Barangsiapa yang membunuh orang kafir muahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun” (HR. Bukhari no. 3166).

Perkara-Perkara Yang Dibolehkan

  • Boleh bermuamalah atau bergaul dengannya secara umum, seperti: bermain bersama, belajar bersama, bekerja bersama, makan bersama, safar bersama, dan muamalah-muamalah yang lain. Tentunya muamalah adalah perkara yang sangat banyak jenisnya dan luas sekali. Kecuali terhadap lawan jenis, ada adab-adab Islam yang mengatur muamalah laki-laki dan wanita, diantaranya tidak boleh berduaan, tidak boleh bersentuhan, tidak boleh berpacaran, wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahram, dll.Karena hukum asal muamalah secara umum adalah mubah, kaidah fiqhiyyah mengatakan

    الأصل في المعاملات الإباحة

    “hukum asal muamalah adalah mubah”

    Allah Ta’ala berfirman:

    لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah: 8),

    Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata,

    واستأجَرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وأبو بكر رجلًا مِن بني الدِّيلِ ، هاديًا خِرِّيتًا ، وهو على دينِ كفارِ قريشٍ ، فدفعا إليه راحلتيهما ، وواعداه غارَ ثورٍ بعدَ ثلاثَ ليالٍ ، فأتاهما براحلتَيْهما صبحَ ثلاثٍ

    “Rasulullah dan Abu Bakar menyewa seorang dari Bani Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, padahal ia ketika itu masih kafir Quraisy. Lalu Nabi dan Abu Bakar menyerahkan unta tunggangannya kepada orang tersebut dan berjanji untuk bertemu di gua Tsaur setelah tiga hari.  Lalu orang tersebut pun datang membawa kedua unta tadi pada hari ke tiga pagi-pagi” (HR. Bukhari no. 2264).

  • Boleh berjual-beli atau menggunakan produk buatan non Muslim
    Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata,

    أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم اشتَرى طعامًا من يَهودِيٍّ إلى أجلٍ ، ورهَنه دِرعًا من حديدٍ

    “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan berhutang, lalu beliau menggadaikan baju perang besinya kepada orang tersebut” (HR. Bukhari no. 2068).

  • Boleh berbuat ihsan (baik) dengannya secara umum (memberi hadiah, memberi bantuan, berkata sopan, bersikap ramah, dll.)
    Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, ia berkata:

    ذُبِحتْ شاة لابن عمرو في أهله ، فقال : أهديتم لجارنا اليهوديّ ؟، قالوا : لا ، قال : ابعثوا إليه منها ، فإني سمعتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : ( ما زال جبريل يوصيني بالجار ، حتى ظننت أنه سيورِّثه )

    Aku menyembelih kambing untuk Ibnu Umar dan keluarganya. Ibnu Umar berkata: “apakah engkau sudah hadiahkan kambing ini juga kepada tetangga kita yang Yahudi itu?”. Mereka berkata: “Belum”. Ibnu Umar berkata: “berikan sebagian untuk mereka, karena untuk mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik pada tetangga, hingga hampir aku menyangka tetangga akan mendapatkan harta waris” (HR. Tirmidzi 1943, dishahihkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad 797).

  • Boleh menjenguknya ketika sakit
    Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:

    كان غُلامٌ يَهودِيٌّ يَخدِمُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فمَرِض، فأتاه النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَعودُه، فقعَد عِندَ رَأسِه، فقال له : أسلِمْ . فنظَر إلى أبيه وهو عندَه، فقال له : أطِعْ أبا القاسمِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأسلَم، فخرَج النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهو يقولُ : الحمدُ للهِ الذي أنقَذه من النارِ

    “Ada seorang Yahudi yang suka membantu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Suatu hari ia sakit, Nabi pun menjenguknya. Nabi duduk di dekat kepadanya lalu mengatakan: ‘Masuk Islamlah anda!’. Lalu orang itu memandang kepada ayahnya yang ada di sampingnya, lalu ayahnya mengatakan: ‘Turuti perkataan Abul Qasim (Rasulullah)’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun keluar dan berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan ia dari api neraka‘” (HR. Bukhari no.1356).

  • Boleh menyambung silaturahim dengan kerabat yang non Muslim
    Asma’ radhiallahu’anha mengatakan,

    أَتَتْنِى أُمِّى رَاغِبَةً فِى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آصِلُهَا قَالَ « نَعَمْ »

    “Ibuku datang kepadaku dan ia sangat menyambung silaturahim denganku. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin silaturahim dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”. (HR. Bukhari no. 5978).

  • Boleh memakan makanan non daging sembelihan hasil olahan non Muslim, baik Ahlul Kitab atau bukan, selama tidak ada zat haram di dalamnya
    Allah Ta’ala berfirman:

    وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

    “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121).

    Yang dilarang dalam ayat ini adalah daging sembelihan, adapun sayuran, buah-buahan, makanan laut, kue dan lainnya dari orang kafir maka tidak ada masalah selamat tidak ada zat haram. Dalam hadits Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

    أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم اشتَرى طعامًا من يَهودِيٍّ إلى أجلٍ ، ورهَنه دِرعًا من حديدٍ

    “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan berhutang, lalu beliau menggadaikan baju perang besinya kepada orang tersebut” (HR. Bukhari no. 2068).

  • Boleh memakan makanan daging sembelihan Ahlul Kitab, selama tidak ada zat haram di dalamnya 
    Allah Ta’ala berfirman:

    الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ

    “Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka” (Al-Maidah : 5).

  • Boleh seorang lelaki Muslim menikahi wanita Ahlul Kitab
    Allah Ta’ala berfirman:

    وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

    “(dan dihalalkan menikahi) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik” (Al-Maidah : 5).

  • Boleh bersentuhan kulit, kecuali terhadap lawan jenis
    Karena dibolehkan bermuamalah dengan mereka, berjual-beli dengan mereka, dibolehkan menikahi wanita ahlul kitab. Maka konsekuensinya, bersentuhan kulit dengan non Muslim itu boleh. Adapun makna ayat:

    فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ

    “Sungguh orang-orang musyrik itu adalah najis” (QS. At Taubah: 28)

    Syaikh Ibnu Jibrin mengtakan: “najis yang dimaksud disini adalah ma’nawiyah (konotatif), yaitu bahwa mereka itu berbahaya, buruk dan rusak. Adapun badan mereka, jika memang bersih, tentu tidak dikatakan najis secara hissiy (inderawi)” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Al Maktabah Asy Syamilah).

***

Penyusun: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
18 Juli 2026
0

Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguran Jika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan...

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

oleh Luqman Hasan Nahari
17 Juli 2026
0

Karakteristik hewan akikah Sunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal...

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Artikel Selanjutnya

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (3)

Komentar 46

  1. Husein al izmah says:
    7 tahun yang lalu

    Apa hukumnya memberi hasil buruan yng haram kpd non muslim..ttp kita tdk meminta imbalan apapun

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      7 tahun yang lalu

      Tidak diperbolehkan, karena orang non Muslim juga dilarang makan makanan haram

      Reply
  2. Faiz says:
    7 tahun yang lalu

    Apa hukumnya kita membantu orang kafir beribadah seperti membawakan bunga kepada orang Hindu ?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      7 tahun yang lalu

      Tidak diperbolehkan

      Reply
  3. Putri says:
    7 tahun yang lalu

    Apa hukumnya,jika kita tidak membayar hutang kita kepada non muslim

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      7 tahun yang lalu

      Berdosa, hutang kepada siapapun tetap harus dibayar.

      Reply
  4. Adha says:
    6 tahun yang lalu

    Kak, pacar saya non islam tapi setiap minggunya saya mengingatkan ia ibadah karna kami saling menghormati satu sama lain. Kira2 hukumnya boleh apa tidak ka ?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Pacaran itu tidak diperbolehkan, lebih lagi dengan non Muslim.

      Reply
  5. Aisyah says:
    6 tahun yang lalu

    Boleh tidak jika hanya menyukai wajahnya dan sifatnya,tidak sampai ingin mengikuti agamanya?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Lama-kelamaan akan kagum pada agamanya.

      Reply
    • wawan says:
      6 tahun yang lalu

      saya lelaki muslim berkawan dengan seorang perempuan Kristen.. hasrat saya mahu menikahinya satu hari nanti karna saya mau dia tahu bahwa Islam itu agama yang indah dan menenangkan.

      Reply
  6. Imam says:
    6 tahun yang lalu

    Menikah dgn non muslim itu boleh asalkan yahudi dan nasrani tpi bukan pezina

    Reply
    • Ismed says:
      6 tahun yang lalu

      Benarkah ??

      Reply
  7. afi says:
    6 tahun yang lalu

    bolehkah non muslim masuk ke kamar yang sering kita gunakan untuk beribadah?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Boleh saja

      Reply
  8. Ibnu Alfian says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum… Ustadz, bagaimana hukumnya meminta maaf kepada orang kafir?… terlebih jika maaf tersebut berkaitan dengan hak orang tersebut yang ada pada kita dengan tujuan kita guna mengembalikan hak orang itu?

    Reply
  9. San says:
    6 tahun yang lalu

    Boleh kah tinggal di rumah mertua non muslim?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Boleh saja

      Reply
      • Rido Akbar Ritonga says:
        6 tahun yang lalu

        Kk ipar saya mualaf, apakah dia boleh buka jilbab ketika di rumah orangtuanya yg kafir?

        Reply
        • Yulian Purnama, S.Kom. says:
          6 tahun yang lalu

          Boleh saja, karena orang tua termasuk mahram. Dengan syarat, orang tuanya terpercaya dan tidak suka mencari-cari aib kaum Muslimin.

          Reply
        • MRiagung says:
          4 tahun yang lalu

          bismillah. Ustadz afwan,Jika ada saudara kita bekerja di instansi pemerintah di bagian perizinan bangunan, berdosakah jika menerbitkan izin bagi pembangunan rumah ibadah bagi orang kafir?

          Reply
  10. Rahma says:
    6 tahun yang lalu

    Kak Bolehkan persahabat dengan non muslim?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Sudah dibahas di atas, coba baca kembali

      Reply
  11. Dewi says:
    6 tahun yang lalu

    Boleh kak kita menyewakan rumah kita kepada orang non muslim

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Boleh saja

      Reply
  12. Ismed says:
    6 tahun yang lalu

    Bolehkah memaki-maki dan menyakiti hati non muslim di sosmed nya, untuk membalas sakit hati kita atas perbuatannya tempo hari ??

    Reply
  13. Aan says:
    6 tahun yang lalu

    Bagaimana hukumnya jika kita mengutip kata” non muslim yang sudah meninggal

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Jika kata-katanya benar, maka tidak mengapa. Menukil tidak berarti memuji.

      Reply
    • Niati says:
      3 tahun yang lalu

      Bolehlah bekerja sebagai penjaga orang tua yg non muslim(cina)

      Reply
  14. Suherman says:
    6 tahun yang lalu

    Boleh enggak bermain permainan yang diciptakan orang kafir ?

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      6 tahun yang lalu

      Selama permainannya tidak ada pelanggaran syariat maka mubah saja

      Reply
  15. A says:
    6 tahun yang lalu

    Boleh tidak membantu like postingan non islam untuk keperluan sekolahnya, tetapi sekolahnya khusus non islam juga?
    Postingannya tidak berkaitan tentang agama hanya buah karya seperti gambar, menyanyi dan sebagainya

    Reply
  16. Anita says:
    6 tahun yang lalu

    Saya punya tetangga wanita muslim yg sudah menikah dengan laki laki Nasrani Dah sudah mempunyai dua anak. Bagaimana sikap saya…saya mau mengingatkan kagak enak saya cuma bisa mengingkari dalam hati

    Reply
  17. Endin putri s says:
    5 tahun yang lalu

    Jelaskan dalam hal apa sajakah kita boleh toleransi kepada non muslim

    Reply
    • Yulian Purnama, S.Kom. says:
      5 tahun yang lalu

      Sudah disebutkan di atas tentang hal-hal yang boleh

      Reply
  18. Hamba Allaah says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamu’alaykum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh

    Apakah boleh memfotokopikan buku agama orang kafir?
    Mohon jawabannya

    Reply
  19. Syafrizal says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamualaikum
    Semoga Allah memberkahi Ustadz dan keluarga, kaum muslimin dan muslimat.. Aamiin.
    Izin bertanya, bolehkah kita memberikan sumbangan ke badan sosial umum ?
    Syukron, Jazakallahu khairan wa barakallahu fiikum

    Reply
  20. Emy says:
    4 tahun yang lalu

    Assalammualaykum,ustad boleh ah mengadakan pengajian dirumah teman tetapi suaminya masih kafir.

    Reply
  21. Maymayy says:
    4 tahun yang lalu

    Apa hukumnya jika seseorang muslim di berkati oleh seseorang kristen, Contoh menantunya ingin di berkati oleh mertuanya karena mertuanya non muslim akan tetapi anaknya ketika menikah dengan muslim sudah mualaf ?

    Reply
  22. Dianmuslim says:
    4 tahun yang lalu

    Kak. Aku punya teman yang cacat fisik dan sakit. Sementara dia non muslim. Tapi saya berteman baik saya mengajarinya dan memberikan ilmu2 usaha konter. Supaya dia mndiri dan tidak bergantung orang lain. Apakah yang saya lakukan itu salah menurut pandangan islam?

    Reply
  23. Rika lazar says:
    4 tahun yang lalu

    Tetangg sy meninggal dan blm sempat mnt maaf kpd tetangga yg ktnya kristen.melalui org roh dia masuk trs mnt maaf ke org yg ktnya kristen tp keluarganya g terima mlh marah2..g terima kakanya yg almarhum mnt maaf ke kristen krn semasa hidupnya alm kakanya rajin solat..

    Reply
  24. Teguh says:
    4 tahun yang lalu

    saya seorang web developer,
    saya mendapatkan penawaran membuatkan koding (dari design ke html/css/js) , setelah saya lihat designya ternyata adalah web yang akan digunakan untuk menyebarkan agama tertentu…

    apakah saya boleh mengerjakan tersebut ?

    Reply
  25. Ulfa says:
    3 tahun yang lalu

    Bolehkah bekerja sebagai cleaning servis di skolah paud dan tk non muslim

    Reply
  26. Nasiruddin says:
    3 tahun yang lalu

    Banyak manfaatnya

    Reply
  27. Anis pratiwi says:
    3 tahun yang lalu

    Gimana kl non muslim itu mnginap drumah kita, bliau prempuan, usia 60an thun, krna rumah kami trbtas, kmar 1, bliau tdur d ruang tamu, alsan bliau tdak tdur drmhnya, krna 3 mnggu yg llu anak bunsuny mninggal, jadi bliau tak ada tman ngobrol lagi dan tkut sdrian, mau dibwa anakny yg 2 juga gak mau. Dan juga sprtinya bkn hnya smpai 40 hari mnginap drmh kmi yg smpit, sprti ingin d tmani trus, Jadi bgaimna sikap kita sbgai umat muslim. Kmi awalny tidak mnwarkn rumh kami, tpi dya sdri yg mmilih rumah kmi, n pkir kmi hnya utk bberapa hari. Smbil nunggu kluarga dtang mnemaninya. Trnyata ingin slmanya. Saya risih, saya n suami tidak lluasa drmh sdri. Saya dan suami pun jdi harus puasa sprti ibu yg hbis mlhirkn. Mau ngomng, tkut trsinggung. Trimksih.

    Reply
  28. Tiyo says:
    3 tahun yang lalu

    Apa hukum nya menyebarluaskan potongan ayat dari kitab agama lain?

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah