Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (9)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
2 Oktober 2016
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter
  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang benar) adalah Yang Diibadahi (Al-Ma‘būd) dan Yang Ditaati (Al-Muṭā‘), karena Al-Ilāh adalah Al-Ma`lūh sedangkan Al-Ma`lūh adalah Yang Berhak untuk diibadahi. Dia berhak diibadahi (disembah) karena bersifat dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi, yaitu Dia menjadi (Sesembahan) yang dicintai dengan puncak kecintaan dan ditaati dengan puncak ketundukan.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh juga menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang haq) adalah Tuhan yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintai-Nya, mematuhi-Nya, merendahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam kesulitan, berdoa kepada-Nya dalam terkait berbabgai urusan, bertawakkal kepada-Nya untuk meraih berbagai kemaslahatan, berlindung kepada-Nya, merasa tentram dengan menyebut-Nya, merasa tenang dengan mencintai-Nya, semua ibadah ini hanya untuk Allah semata[1. Fatḥul Majīd, hal. 53].

  2. Ibnu Rajab raḥimahullāh menjelaskan bahwa realisasi kalimat lā ilāha illallāh yang mengandung dua rukun tersebut adalah dengan mewujudkan tauhid dengan hatinya, maka ia akan mengeluarkan segala sesuatu (segala bentuk peribadatan kepada) selain Allah, seperti kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut dan tawakkal (kepada selain Allah dari hatinya), pada saat itu seluruh dosa-dosa dan kesalahanya dihapuskan, walaupun seperti buih di lautan[2. Fatḥul Majīd, hal. 72.].

    Lihatlah, bagaimana beliau memaparkan rukun An-Nafyu dengan mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hati seorang hamba! Tentunya rukun An-Nafyu haruslah dipahami dalam konteks An-Nafyu yang mengandung Al-Iṡbāt, sehingga nampak nilai pengesaan Allah (tauhid) dengan kedua rukun sekaligus.

    Demikianseorang hamba yang benar-benar memahami dan mengamalkan tuntutan kalimat tauhid ini adalah sosok hamba yang tidak mencintai dengan jenis cinta yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah takut dengan jenis takut yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap dengan jenis harapan yang ibadah kecuali kepada Allah, dan seterusnya dari berbagai macam ibadah ia hanya persembahkan kepada Allah semata, bahkan ia sempurnakan peribadatan kepada Rabbnya tersebut.

  1. Syaikh Abdur Rahman Alusy-Syaikh raḥimahullāh menjelaskan dalam kitabnya Fathul Majid bahwa orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini adalah yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas dan keyakinan sempurna, maka dalam keadaan yang seperti ini -pada asalnya- tidaklah ia terus-menerus melakukan suatu dosa, karena kesempurnaan ikhlas dan keyakinannya mengharuskan Allah lebih ia cintai dari segala sesuatu dan lebih ia takuti dari segala sesuatu, maka ketika itu tidak tersisa dalam hatinya kehendak terhadap apa yang Allah haramkan dan tidak terdapat pula ketidaksukaan terhadap apa yang Allah perintahkan[3. Fatḥul Majīd, hal. 5].

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

___

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Karnaval Bertema “Satanic” dan Apa Hukumnya bagi Seorang Muslim?

oleh Muhammad Insan Fathin
29 September 2026
0

Beberapa waktu lalu, media sosial kita sempat ramai disebabkan karnaval yang menampilkan atribut bertema satanik di ruang publik. Ditemukan pentagram...

Mengenal Nama Allah “Al-Haqq”

oleh Muhammad Insan Fathin
27 September 2026
0

Allah Ta'ala menamai Diri-Nya dengan Al-Haqq di dalam Al-Qur'an sebanyak sepuluh kali. Nama ini bukan sekadar gelar, melainkan penegasan bahwa...

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

oleh Mochammad Wibisono
9 September 2026
0

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri. Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat...

Artikel Selanjutnya

Macam-Macam Lafal Salam (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah