Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hati Yang Terbaik

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.
21 April 2010
di Tazkiyatun Nufus
Share on FacebookShare on Twitter

Ali radhiallahu ‘anhu berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,

يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق

“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya 1/70-80).

Hati yang Terbaik

Wasiat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu ini, adalah suatu wasiat yang terkenal di kalangan para ulama yang menjelaskan kategori manusia.

Setelah beliau menjelaskan bahwa hati manusia itu adalah bagaikan wadah, maka hati yang terbaik adalah hati yang dipenuhi dengan ilmu. Hati yang dipenuhi oleh pemahaman terhadap Al Qur-an dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka yang memahami Al Qur-an dan sunnah rasul-Nya adalah orang-orang yang dikehendaki oleh Allah ta’ala untuk memperoleh kebaikan sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).

Pada sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, rasulullah menyebutkan lafadz خيرا yang berarti kebaikan dalam bentuk nakirah (indefinitif) yang didahului oleh kalimat bersyarat sehingga menunjukkan makna yang umum dan luas. Seakan-akan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengatakan, jika Allah menghendaki seluruh kebaikan diberikan kepada seorang, maka Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang Dia pahamkan terhadap agama-Nya. Karena seluruh kebaikan hanya Allah berikan bagi orang-orang yang mau mempelajari dan mengkaji agama Allah ta’ala.

Dari hadits di atas juga, kita dapat memahami bahwasanya mereka yang enggan mempelajari agama Allah ta’a a, maka pada hakikatnya mereka tidak memperoleh kebaikan.

Oleh karenanya, imam Ibnu Hajr Al Asqalani Asy Syafi’i tatkala menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan,

مَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر

“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan” (Fathul Baari 1/165).

Sang Alim Rabbani

Kemudian khalifah ’Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu menerangkan bahwasanya manusia terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah عالم رباني seorang yang berilmu, mengajarkan, mendakwahkan dan menyebarkan ilmunya. Karena seorang alim rabbani adalah sebagaimana yang diterangkan oleh imam Mujahid rahimahullah ta’ala,

الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره

”Ar Rabbani adalah seorang yang mengajari manusia hal-hal yang mendasar sebelum mengajari mereka dengan berbagai hal yang rumit.” (Tafsir Al Qurthubi 4/119).

Maka, seorang rabbani adalah seorang yang mengajarkan ilmunya. Maka dialah seorang yang selayaknya kita ikuti. Dialah seorang yang berilmu dengan ilmu  yang benar yaitu yang berupa Al Qur-an dan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i rahimahullah

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ    إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ

اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا         وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ

Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih

Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yang berdasar kepada wahyu)

Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Namun yang patut dicamkan oleh mereka yang berilmu adalah ilmu yang mereka ketahui dan ajarkan kepada manusia selamanya tidak akan bermanfaat hingga mereka mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مثل العالم الذي يعلم الناس الخير و ينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس و يحرق نفسه

“Permisalan seorang alim yang mengajari kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya (karena tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lilin yang menerangi manusia namun justru membakar dirinya sendiri.” (Al Jami’ush Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 10770 dengan sanad yang shahih).

Penuntut Ilmu di Atas Jalan Keselamatan

Jika kita bukan termasuk kategori yang pertama, maka hendaknya kita menjadi orang yang termasuk dalam kategori kedua, kategori yang beliau katakan sebagai متعلم على سبيل نجاة yaitu seorang yang mau belajar dan orang inilah orang yang berada di atas jalan keselamatan.

Maka benarlah apa yang beliau katakan, karena sesungguhnya seorang yang terus mau belajar adalah orang yang sedang meniti jalan menuju surga sebagaimana yang disabdakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor 2699).

Maka seorang yang selalu belajar dan belajar, maka dialah على سبيل نجاة  orang yang berada di atas jalan keselamatan.

Hamajun Ra-a’ (Gembel yang Tidak Berguna)

Adapun orang yang selain kedua golongan ini. Maka hal ini adalah sesuatu yang memalukan dan sangat berbahaya.

Kata beliau mereka ini adalah orang-orang yang gembel dan tidak begitu berguna. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki sifat mengikuti setiap orang yang berkomentar dan mengikuti kemana arah angin bertiup.

Artinya, siapa saja yang memberikan komentar kepadanya, maka dia akan mengikutinya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Orang ini tidak memiliki pendirian, ketegasan sikap karena ia tidak memiliki ilmu. Maka dia adalah seorang yang bingung.

Maka beliau katakan bahwa orang ini layaknya seperti pohon yang mengikuti kemana arah angin bertiup. Itulah orang-orang yang tidak menjalani kehidupannya dengan cahaya ilmu, dengan cahaya firman Allah dan sabda rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang ini adalah orang yang tidak berada dalam posisi yang kokoh dan kuat sehingga ia adalah seorang yang cepat berubah dan tidak memiliki pendirian. Orang yang mengikuti apa saja yang dikatakan oleh orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Maka boleh jadi dan bisa jadi dia celaka dikarenakan hal tersebut.

Persis seperti kejadian yang terjadi di masa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang yang terlempar dari untanya, maka kepalanya pun terluka. Namun pada malam hari, dia bermimpi sehingga dia memasuki pagi hari dalam kondisi junub. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana bersikap dikarenakan minimnya ilmu yang dia miliki. Akhirnya dia pun bertanya kepada orang yang berada di sampng kanan dan di samping kirinya. Apakah ia harus mandi untuk bersuci atau dia diperbolehkan bertayammum karena kepalanya terluka.

Ternyata dia bertanya kepada orang yang salah, sehingga dia memperoleh jawaban yang salah. Pihak yang ditanyai menyarankan bahwa dia tetap harus mandi karena tidak ada rukhshah (dispensasi) bagi dirinya. Akhirnya orang ini pun mandi, dan ia pun meninggal. Karena ketidaktahuannya tentang suatu hal yang mendasar bagi seorang muslim, yaitu bagaimana cara seorang muslim harus bersuci, kapan dia harus mandi dan bertayammum, akhirnya … keadaan naas pun menimpanya.

Demikian pula, seorang yang tidak menuntut ilmu agama pada hakekatnya dia bagaikan jasad yang tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan ilmu agama adalah nutrisi bagi hati yang menentukan keberlangsungan hidup hati seorang. Seorang yang tidak memahami agamanya, dia layaknya sebuah mayat meski jasadnya hidup. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan,

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ

وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar

Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya

Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda

Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Urgensi Menuntut Ilmu Agama

Wasiat Amir al-Mukminin, Ali radhiallahu anhu di atas pada dasarnya menghasung kita sebagai umat Islam untuk mempelajari agama ini dengan benar, karena diri kita sangatlah butuh akan ilmu agama ini.

Al Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين

“Manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti dan air, karena ilmu dibutuhkan manusia di setiap saat. Sedangkan roti dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau dua kali” (Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).

Faktor yang membuat kita memahami urgensi menuntut ilmu syar’i di saat ini adalah jika kita mengamati realita keagamaan di sekitar kita. Jika kita mau mengamati, betapa banyak pada zaman sekarang orang-orang yang berbicara tentang agama Allah ini tanpa dilandasi dengan ilmu.

Mantan artis yang baru saja berkubang dengan kemaksiatan, kemudian merubah penampilan sehinga nampak shalih dijadikan ikon keshalihan dan dijadikan tempat bertanya mengenai permasalahan agama. Seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal, tidak memiliki background pendidikan agama, tidak tahu bahasa Arab, tidak menghafal al Qur-an begitupula tidak tahu-menahu mengenai hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai pendapatnya dalam permasalahan agama.

Sungguh benar apa yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, beliau telah mensinyalir hal ini akan terjadi dalam sebuah haditsnya,

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في أمر العامة

“Akan datang tahun-tahun yang dipenuhi penipuan. Pada saat itu, seorang pendusta justru dibenarkan dan seorang yang jujur malah didustakan. Seorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah malah dikhianati. Pada saat itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Ar-rumwaibidhah adalah seorang yang (pada hakekatnya) dungu, namun berani bicara mengenai urusan umat.” (Ash-Shahihah nomor 1887).

Begitupula jika kita menyimak firman Allah yang mencela kebodohan seorang terhadap agama-Nya, maka kita akan memahami bahwa setiap muslim dituntut untuk mengetahui perkara agama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٦)يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (٧)

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (Ar Ruum: 6-7).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

أي: أكثر الناس ليس لهم علم إلا بالدنيا وأكسابها وشؤونها وما فيها، فهم حذاق أذكياء في تحصيلها ووجوه مكاسبها، وهم غافلون عما ينفعهم في الدار الآخرة، كأن أحدهم مُغَفّل لا ذهن له ولا فكرة

“Maksudnya kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala apa yang di dalamnya. Mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka lalai terhadap urusan akhirat dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat, seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula memikirkan (perkara akhiratnya)”

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

>والله لَبَلَغَ من أحدهم بدنياه أنه يقلب الدرهم على ظفره، فيخبرك بوزنه، وما يحسن أن يصلي

“Demi Allah, seorang dari mereka akan berhasil menggapai dunia, dimana ia bisa membalikkan dirham di atas kukunya, lalu dia mampu memberitahukan anda tentang beratnya. Namun dia tidak becus dalam mengerjakan shalat”

Dampak dari kebodohan terhadap agama Allah adalah berkurangnya keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim yang ‘alim terhadap perkara agama akan mengetahui berbagai perkara yang dapat mengundang keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap dirinya, dan begitupula ia akan mengetahui berbagai perkara yang dapat mengundang kemurkaan Allah sehingga ia dapat menjauhinya.

Berbeda halnya dengan seorang muslim yang tidak tahu perkara agama, karena ketidaktahuan dirinya dan sedikitnya ilmu agama yang ia miliki terkadang ia menerjang kemaksiatan, mendahulukan perkara-perkara yang tidak penting, atau rela menjual agamanya demi mendapatkan dunia. Dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga terkadang orang yang jahil terhadap agama, akan menyembah Allah sekenanya saja, ia tidak terlalu mempedulikan apakah ibadah yang ia lakukan telah diterima oleh Allah.

Terkadang, dia beranggapan bahwa ibadahnya telah diterima, sehingga dirinya sangat minim untuk menginstropeksi berbagai amalan yang ia lakukan dan mengukurnya dengan barometer syari’at, dengan barometer yang ditetapkan oleh Allah ta’ala. Hal ini dikarenakan barometer yang ada pada dirinya telah terbalik.

Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu agama merupakan sumber dari setiap kebaikan, sedangkan kebodohan terhadap agama ini merupakan sumber dari setiap keburukan.

Jika kita menyimak ayat-ayat Al Qur-an, maka kita pun akan menemukan bahwa berbagai bentuk kesyirikan –yang notabene adalah dosa terbesar- dan kemaksiatan bersumber dari ketidaktahuan seorang terhadap perkara agamanya. Diantaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (١٣٨)

“Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Rabb)” (Al A’raaf: 138).

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٥٤)أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (٥٥)

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)” (An Naml 54-55).

Coba anda perhatikan kedua ayat di atas, bukankah permintaan Bani Israil kepada nabi Musa ‘alaihis salam agar dibuatkan sesembahan (berhala) dan tindakan homoseks kaum nabi Luth berangkat dari ketidaktahuan mereka terhadap agama? Oleh karenanya, nabi Musa dan Luth menyatakan bahwa mereka adalah kaum yang jahil!

Oleh karena itu, setiap orang wajib untuk menuntut ilmu agama. Siapa pun dia, apa pun profesinya wajib menuntut ilmu agama untuk menghadapi dan melepaskan diri dari berbagai fitnah yang akan dia temui di dunia.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan umat beliau yang berjalan di atas sunnah beliau.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

ShareTweetPin2
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta,

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Artikel Selanjutnya

Kebangkitan yang Dinantikan

Komentar 54

  1. Vidya f. says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanallah.. Al ilmu q0bla q0ul wal ‘amal.. Ana izin share..
    Jazaakallahu khayran

    Reply
  2. Abu Isa al Bamalanji says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah atas nikmat Islam dan Sunnah. Semoga Alloh Tabaaroka wa Ta’ala memberkahi para ulama Sunnah yang telah membimbing kita, kaum muslimin dengan penuh perhatian. Dan semoga kita, kaum muslimin diberi pertolongan oleh Alloh agar selalu menempuh jalan ilmu. Jazakallohu khoiron ustadz atas artikelnya yang sarat ilmu.

    Reply
  3. terri says:
    16 tahun yang lalu

    saya suka artikel ini………

    Reply
  4. hotel di malioboro says:
    16 tahun yang lalu

    saya juga menyukainya ^ ^

    Reply
  5. muhammad nur ichwan muslim says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum
    artikel ini kami tulis dengan mengadaptasi khutbah yang pernah kami dengar dari ustadz Arismunandar hafizhahullah

    Reply
  6. ibnu hambal says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum..
    afwan, ijin share
    Jazaakallah..

    Reply
  7. jarwo al khatiri says:
    16 tahun yang lalu

    semoga qt termasuk kdlm golongan orang-orang yang berilmu, dan senantiasa mencari ilmu dan menggalinya demi kemaslahatan umat, dan semoga qt senantiasa mengamalkan sunnah rasululullah shallallahu’alaihi wasallam
    amin………..

    Reply
  8. Erwin winata El shirazy says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alak\ikum wr wb … subhanallah … mhn izin share …..

    Reply
  9. abu gaza says:
    16 tahun yang lalu

    subhanallah,,

    Reply
  10. kusnadi says:
    16 tahun yang lalu

    subhanallah mencari ilmu itu wajib

    Reply
  11. Abu Nabila says:
    16 tahun yang lalu

    Boleh jadi ada diantara ikhwan yang merasa sudah terlalu tua atau sudah terlambat untuk menuntut ilmu agama lagi. Kalau begitu, mari kita berhitung apakah memang sudah terlalu tua untuk hal itu.
    Bagi yang tidak pernah mendapat pendidikan di pesantren tentunya sudah sama2 maklum bahwa usia awal untuk kembali menuntut ilmu agama lagi dengan serius, kritis dan mendalam adalah kira2 pada usia 20 tahun. Dan akhir dari usia produktif manusia dalam menuntut ilmu ini insya Allah pada usia 70 tahun.
    Misalkan usia kita sekarang ini yang bisa dianggap sudah terlalu tua adalah 40 tahun.
    Pertanyaannya, sudah berapa lamakah kita menyia-nyiakan usia kita dari menuntut ilmu agama lagi? Jawabnya, 20 tahun. Dan berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk itu jika kita memulainya sekarang ini? Jawabnya, 30 tahun.
    Kesimpulannya, kita baru menyia-nyiakan 40% (20 tahun) dari usia produktif kita dan masih tersisa 60% (30 tahun) lagi usia yang sebaiknya diisi dengan kegiatan2 yang produktif dalam hal ini menuntut ilmu agama lagi dan 60% itu masih banyak. Dengan kata lain kita bahkan belum mencapai setengah jalan dari tahun tahun produktif kita. Masihkah merasa sudah terlalu tua?
    Sebenarnya tidak ada kata terlambat bagi orang yang giat menuntut ilmu agama selama ia menyadari kebaikan2 dan kemuliaan yang akan diperolehnya nanti di dunia dan akhirat.

    Reply
  12. abu zayyan says:
    16 tahun yang lalu

    ijin share

    Reply
  13. Ade Arha, says:
    16 tahun yang lalu

    terus terang sejak baca artikel ini hati akhi tersentuh .akhi ingin copy artikelnya, afwan,tdk apa”kan?

    Reply
  14. ikhwanB says:
    16 tahun yang lalu

    sy melihat keutamaan org2 berilmu di kota sy, mereka dimudahkan Allah rezekinya, ada yg menduduki jabatan / posisi penting (kepsek, ketua yayasan, organisasi, dll), pebisnis handal. ada beberapa diantara mereka yg memiliki 2 org istri,namun kehidupan mereka lebih mapan dibanding lainnya. mungkin inilah keutamaan memiliki ilmu dan mengamalkannya. kesibukan mereka dlm rmh tangga dan profesinya tdklah menyurutkan semangat mrk dlm menuntut dan menyebarkan ilmu syar’i. wallahua’lam.

    Reply
  15. sri sari sugihartini says:
    16 tahun yang lalu

    saya sangat menyukai artikel tersebut,dan kalo bisa maslah bid’ah tolong diperjelas karena masyarakat kita masih sangat awam ..
    trims ..

    Reply
  16. Al Majalanjy says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanallah, mencerahkan

    Reply
  17. Abu Zahirah says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanallah….
    Artikel ini sangat bermanfaat sekali yang akan menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa berusaha menuntut ilmu… jazakumullah

    Reply
  18. hafidz fauzi basyir says:
    16 tahun yang lalu

    syukron ktsiron ‘ala hazihinnusus…
    la’allahu an-yaj’alana min syababi alladzi ja’ala sababuhu fi tho’atillah wa fi tholabil’almi syar’i ibthigoan mardhotillah…amin ya rob

    Reply
  19. abdul rahman says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah… masih banyak saudara2 kita yang peduli tentang jalan kebenaran.
    Saya pun berharap ada yang ikhlas memberi saya via Email ilmu yang dapat mendekatkan hati kepada Allah

    Reply
  20. Abu Dzaki says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum,jazakallah khair artikelnya,mohon ijin untuk copy….

    Reply
  21. Abu Javas says:
    16 tahun yang lalu

    ahsanta…
    ana izin untuk copy ya…
    berlomba lombalah untuk berbuat kebaikan

    Reply
  22. ashari says:
    16 tahun yang lalu

    izin copy…….

    Reply
  23. fajar says:
    16 tahun yang lalu

    ane izin copy ya___untuk menyebarkannya__agar setiap yang baca sadar kan agamanya___dan di beri petunjuk ke jalan yang benar__maaf kalo ane salah,masih belajar

    Reply
  24. Arif rahman says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah,
    makasih atas ilmuny..

    Reply
  25. akh_ahmad says:
    16 tahun yang lalu

    nuwun sewu, izin baca dan kopi ngih…nuwun

    Reply
  26. asre says:
    16 tahun yang lalu

    izin untuk meng copy pak ustad.

    Reply
  27. Mamat cije says:
    16 tahun yang lalu

    Izin share dfacebook,,,,sukron wslm

    Reply
  28. Aboe Hafz Muhammad Rifyal El Indrapury says:
    16 tahun yang lalu

    Web yang funtastis…
    Semoga Allah memberkahi Pengelola dan Pengunjungnya…
    Amiin …

    Reply
  29. Djoko Purnomo says:
    16 tahun yang lalu

    Mohon ijin copy dan share njih….

    Reply
  30. Terbaik says:
    16 tahun yang lalu

    Terima Kasih

    Reply
  31. Iwan says:
    16 tahun yang lalu

    Terimakasih banyak atas ilmunya,mohon ijin untuk share.

    Reply
  32. Sofian Sagita says:
    16 tahun yang lalu

    Izin Copy….

    Reply
  33. sachi says:
    16 tahun yang lalu

    ane ijin mau copy bwt tugas ya.
    makasih atas ilmu yng ada

    Reply
  34. R Setiyono says:
    16 tahun yang lalu

    ijin copy, utk disharing ke rohis masyindo hcmc

    Reply
  35. abu hanifah says:
    16 tahun yang lalu

    ane ijin share y
    syukron

    Reply
  36. iman says:
    16 tahun yang lalu

    astaghfirullah, mata ana baru kebuka setelah baca artikel ini. intropeksi diri untuk lebih banyak menimba ilmu agama. syukron…

    Reply
  37. nunung sumiyati says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanallahwalhamdulillah.

    Ilmu yg sangat bermanfaat, terima kasih sdh mengingatkan,izin share Pak Ustadz,
    Jazakallah khoiron katsiro

    Reply
  38. hisyam says:
    16 tahun yang lalu

    ijin copast
    syukron katsir

    Reply
  39. Akbar says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanallah.. oy,mnt ijin boleh copy paste yah…

    Reply
  40. darmangumay says:
    16 tahun yang lalu

    tidak termasuk ILMU NGAKALIN

    Reply
  41. huurun fitriya says:
    15 tahun yang lalu

    ana izin copy ya

    Reply
  42. alinur ujang says:
    15 tahun yang lalu

    Syukron Ustadz, izin copy dan saya sebarluaskan kepada kaum muslimin dan muslimat.

    Reply
  43. nasyeem hameed says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum. ana ijin copy…

    Reply
  44. sri wahyuningsih says:
    15 tahun yang lalu

    izin copy ya…

    Reply
  45. muhamad suharto says:
    15 tahun yang lalu

    artikel yang sangat bermanfaat untuk pegangan dalam mengisi kehidupan yang lebih dan merupakan bekal untuk menghadap kita kembali ke Allah

    Reply
  46. mufida salsabila says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamu’alaykum ..
    izin copy yaa…
    share ilmu … stukron jazakumullah..

    Reply
  47. muhammad dhido says:
    15 tahun yang lalu

    izin copy artikelnya…

    Reply
  48. ieka says:
    15 tahun yang lalu

    Aslmkm.w.w

    Jazakumullah khairan katsira ya Ustadz, mohon izin share di FB, untk bisa dibaca adek2 dan sahabat ana..

    wslmkm

    Reply
  49. adam says:
    15 tahun yang lalu

    izin share

    Reply
  50. Luqman says:
    15 tahun yang lalu

    ijin sahre ustadz

    Reply
  51. assundawy says:
    14 tahun yang lalu

    masyaAlloh ….
    inspiratif sekali…saatnya belajar lagi ilmu agama…

    Reply
  52. viosixwey says:
    14 tahun yang lalu

    ya allah mudah mudahan blog orang muslim membagi inspiratif,dan bermanfaat bagi kaum muslim amin

    Reply
  53. Asep Gunawan says:
    7 tahun yang lalu

    Assalaamu’alaikum wr.wb.
    Pak Ustadz bisakah tulisan arab nya tidak memakai arab gundul? Kalau bisa dilengkapi kasrah, pattah dlhomahnya dalam setiap tulisan arabnya supaya yg membaca tdk salah membacanya. Saya termasuk yg tidak bisa membaca tulisan arab gundulnya. Mohon maaf…Terimakasih..
    , semoga kebaikan semua pihak dicatat sebagai amal baik yg diterima Allah SWT dan dibalas dengan pahala yg berlipatganda. Aamiin. Jazzakallahu khoiran katsiran.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      7 tahun yang lalu

      Wa’alaikumussalam, semoga anda diberi kemudahan untuk belajar bahasa Arab

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah