Tafsir Surat Az Zumar Ayat 55

Tafsir Surat Az Zumar Ayat 55

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Soal:

Allah berfirman,

( وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ )

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” ( Az Zumar : 55).

Saya ingin penjelasan mengenai tafsir ayat di atas, apa makna dari firman-Nya “sebaik-baik apa yang telah diturunkan”? Apakah As Sunnah memiliki kedudukan yang sama dengan Al Qur’an dalam segala hal ?

Jawab:

Segala puji bagi Allah,

Pertama, Allah berfirman,

( وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ )

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya“ ( Az Zumar : 55).

Ibnu Jarir Ath-Thobari –rahimahullah – berkata: “Allah berfirman: “Wahai Manusia, ikutilah apa yang diturunkan olehNya” yaitu berupa perintah-perintahNya, dan jauhilah apa yang dilarang-Nya, karena itu merupakan sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kita dari Tuhan kita.

Jika ada yang bertanya, “berarti di Al-Qu’ran ada sesuatu yang lebih baik dari yang lainnya?”. Maka jawablah, “ seluruh Al-Qur’an adalah baik, maknanya tidaklah sebagaimana yang engkau pahami”. Makna dari ayat tersebut adalah: ikutilah apa yang telah diturunkan Tuhanmu baik itu berupa perintah, larangan, kabar, permisalan, kisah-kisah, perdebatan, janji dan ancamanNya; dan sebaik-baik dari mengikuti apa yang Tuhanmu turunkan adalah dengan engkau melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Larangan termasuk hal yang diturunkan di dalam kitab Al-Qur’an, seandainya seseorang melakukan hal yang dilarang tersebut, niscaya ia akan menjadi seburuk-buruknya dalam mengikuti apa yang diturunkan olehNya” ( Tafsir At Thobari 21/312).

Al Baghowi rahimahullah berkata: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”, maknanya di sini adalah Al-Qur’an, Al Qur’an seluruhnya baik, makna ayat ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hasan, “senantiasalah taat, jauhilah kemaksiatan, sesungguhnya Al-Qur’an menyebutkan hal-hal yang jelek untuk dijauhi, hal-hal yang rendah untuk dibenci, hal-hal yang baik untuk diteladani. As Sudi berkata, yang dimaksud dengan sebaik-baik di sini adalah segala sesuatua yang Allah perintahkan di Al-Qur’an” (Tafsir Al Baghowi, 7/128).

As-Sa’di rahimahullah berkata: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” berupa perintah-perintah dari perbuatan batin seperti cinta kepada Allah, khusyuk, takut, berharap, menasehati hamba-hambaNya, mencintai kebaikan bagi mereka, serta meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan hal-hal tersebut.

Dan juga dari perbuatan lahiriah, seperti sholat, zakat, puasa, haji, sedekah, dan berbagai macam perbuatan baik lainnya dan semisal dari semua yang Allah perintahkan. Dimana ini semua adalah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kita dari Tuhan kita. Maka barang siapa yang mengikuti perintahNya dari segala perkara-perkara ini dan semisal, maka ialah hamba muslim yang selalu kembali kepada Allah” (Tafsir As-Sa’di, 727-728)

Maka kesimpulannya, mengikuti sebaik-baik apa yang telah diturunkan dari Allah adalah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Imam Al-Ajuri rahimahullah berkata, “Kalam Tuhan kita adalah baik, bagi yang membacanya maupun yang mendengarkannya. Dan ini merupakan –wallahu a’lam– sifat dari kaum yang jika mereka mendengarkan Al qur’an maka mereka akan mengikuti sebaik-baik apa yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan apa yang Tuhan mereka yang Maha Mulia tunjukkan. mereka mencari ridho Allah dan mengharapkan rahmat-Nya dengan hal-hal itu” (Akhlaqu Hamalatil Qur’an hal. 8).

Kedua, tidak sempurna ittiba (mengikuti tuntunan) yang diperintahkan kecuali dengan ittiba kepada Rasul Muhammad Shollallahu’alaihi wassalam. Karena ittiba kepada Rasul juga termasuk yang diturunkan oleh Tuhan kita. Sebagaimana firman-firman Allah berikut ini:

(yang artinya) “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”” (Ali Imran : 32).

(yang artinya) “Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat” (Ali Imran : 132).

(yang artinya) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa : 65).

As Sunnah adalah hal yang dimaksudkan Allah dalam kitabNya.

Allah berfirman (yang artinya): “Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An Nahl : 44).

Ketiga, As Sunnah (hadits) merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah. Allah berfirman (yang artinya): “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (An Nisa : 113).

Allah juga berfirman kepada Ummahatul Mukminin (yang artinya), “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (Al Ahzab : 34).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan Al Kitab yaitu Al Qur’an. Kemudian Allah menyebutkan al hikmah, Aku mendengar sebagian ulama mengatakan al hikmah adalah Sunnah Rasulullah. Hal ini serupa dengan perkataan bahwasanya ketika Al Qur’an disebutkan, maka selalu diikuti dengan perkataan al hikmah. Tidaklah Allah maksudkan perkataan al hikmah di sini kecuali dengan sunnah Rasulullah. Hal ini dikarenakan al hikmah selalu digandengkan dengan Kitabullah (Al Qur’an). Allah mewajibkan untuk mentaati Rasul, mewajibkan manusia untuk mengikuti perintah Rasul, maka tidak boleh jika perkataan wajib itu kecuali dimaknakan kepada kitab Allah kemudian kepada Sunnah Rasulullah, karena sesungguhnya Allah selalu menggandengkan keimanan kepada Rasulullah dengan keimanan kepadaNya” (Ar Risalah, 78).

Diriwayatkan dari Abu Daud (4604), dari Miqdam bin Ma’di Kariba bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Aku diberikan kitab ( Al-qur’an) dan yang semisal dengannya”. Dishahihkan Syaikh Albani dalam Shohih Abu Daud.

Dan diriwayatkan juga dari Abu Daud (4605) dan Tirmidzi (2663) serta Ibnu Majah (13) , dari Abu Rafi rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi berkata : “sungguh akan didatangkan kepada salah seorang di antara kalian, ketika ia sedang bersandar di kursinya, salah satu dari perintahku atau laranganku, namun ia menjawab : kami tidak tahu, kami tidak mendapatkan ini di Kitabullah yang kami ikuti, maka kami tidak ikuti“. Dishahihkan Albani di Shahih Abu Daud dan selainnya.

Diriwayatkan dari Tirmidzi (2664) dan Ibnu Majah (12), dari Miqdam bin Ma’di Kariba al Kindi, sesungguhnya Rasulullah berkata, “Hampir akan datang waktunya, seorang lelaki yang sedang bersandar di kursinya, disampaikan kepadanya salah satu haditsku, namun ia berkata : “antara kami dan kalian ada Kitabullah, apa yang kami dapatkan di Kitabullah halal, maka kami halalkan, yang kami dapatkan haram, maka kami haramkan.” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya sesuatu yang diharamkan oleh Rasulullah itu sama (hukumnya –pen) seperti dengan apa yang diharamkan oleh Allah”Dishahihkan Al Albani di Shohih Ibnu Majah.

Ismail bin Ubaidillah berkata, “wajib bagi kita untuk menjaga apa yang datang dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya Allah berfirman (yang artinya), “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al Hasyr : 7)”. Bagi kami, kedudukan Sunnah Nabi itu sama dengan Al-Quran” (Kitab As Sunnah, oleh Muhammad bin Nashr Al Marwazi, halaman 88).

Hisan bin Athiyyah berkata: “Jibril turun kepada Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam, ia mengajarkan as sunnah sebagaimana ia mengajarkan Al Qur’an “ (kitab Az Zuhd oleh Ibnul Mubarok, halaman 23).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah berfirman : ‘wahai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan Taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya’ (An Nisa : 59]). Allah memerintahkan untuk taat kepadaNya dan kepada Rasul, Allah mengulang kata perintah taat untuk menunjukkan bahwa taat kepada Rasul adalah wajib meskipun hal tersebut tidak terdapat dalam Al Qu’ran. Apabila Nabi memerintahkan sesuatu, maka wajib taat secara mutlak, baik perintah tersebut terdapat dalam Al Qur’an ataupun tidak. Karena sesungguhnya Nabi diberikan Al Qur’an dan yang semisal dengannya. Namun, Allah tidak mengulang kata perintah taat ini tersendiri ketika terkait dengan ulil amri, bahkan kata taat tersebut dihapuskan, karena ketaatan kepada ulil amri tergantung dengan ketaatan kepada Rasul. Sesungguhnya ketaatan kepada ulil amri mengikuti ketaatan kepada Rasul, apabila mereka memerintahkan sesuatu sesuai dengan ketaatan Rasul, maka wajib diikuti, jika yang diperintahkan menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul, maka tidak wajib didengar dan ditaati” (I’lamul Muwaqi’in, 1/48).

Ibnul Qayyim juga berkata: “Allah menurunkan dua wahyu kepada Rasulullah, dan Ia mewajibkan hamba-hambaNya untuk beriman dengan keduanya, beramal dengan apa yang terdapat pada keduanya. Kedua wahyu tersebut adalah Al Kitab dan Al hikmah. Allah berfirman (yang artinya): “dan Allah turunkan kepadamu Al kitab & al hikmah”. Dan juga firmanNya (yang artinya): “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf , seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah“. Dan firmanNya yang lain (yang artinya): “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah“.

Al Kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an, sementara al hikmah adalah As Sunnah, sebagaimana kesepakatan para salaf. Segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasul (As Sunnah) dari Allah maka wajib dibenarkan dan diimani sebagaimana pula yang disampaikan oleh Allah (Al Qur’an) melalui lisan NabiNya. Ini merupakan dasar yang sudah disepakati oleh umat islam, tidak ada yang mengingkarinya kecuali ia bukanlah dari Islam. Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya Aku diberikan kitab ( Al-Qur’an) dan yang semisal dengannya (As Sunnah)” (Ar-Ruh, hal 75).

Maka jelaslah bahwa Sunnah merupakan wahyu dari Allah yang wajib untuk ditaati dan diikuti oleh seluruh orang yang beriman dengan Kenabian Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Apabila ini yang dimaksudkan dari pertanyaan sang penanya, maka sudah cukup jelas penjelasan ini dengan perkataan para Ulama mengenainya. Jika ini bukan yang dimaksud penanya, maka antara keduanya (yakni Al quran & sunnah) ada beberapa perbedaan yang banyak, di antaranya:

  • Al Qur’an adalah kitab Allah, yang diturunkan ke RasulNya sebagai wahyu, baik lafadz maupun maknanya. Ia adalah mukjizat, membacanya merupakan ibadah. Tidak boleh menyampaikan Al qur’an hanya dalam bentuk makna saja, dan juga orang yang berhadats tidak boleh menyentuhnya hingga ia suci.
  • Berbeda dengan As Sunnah (hadits), lafazhnya berasal dari Rasul. As Sunnah bukanlah mukjizat, boleh meriwayatkannya secara makna, orang yang berhadats boleh menyentuhnya (menyentuh kitab hadits – pen).
  • Al Qur’an dibaca ketika sholat sebagai bentuk ibadah, berbeda dengan Sunnah, tidak boleh membaca As Sunnah dalam sholat. Perbedaan lainnya, barangsiapa yang mengingkari satu huruf saja dalam Al Qur’an maka ia kafir, berbeda halnya dengan Sunnah.

Ada juga perbedaan-perbedaan lainnya, yang dapat dilihat di kitab-kitab ilmu Al Qur’an dan Sunnah serta kitab-kitab Ushul Fiqih. Wallahu a’lam.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/137235

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Boris Tanesia

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta

View all posts by Boris Tanesia »