Fatwa Ulama: Bagaimana Urutan Dalam Berdzikir?

Fatwa Ulama: Bagaimana Urutan Dalam Berdzikir?

Soal:

Apakah dalam berdzikir itu harus berurutan?

Jawab:

Dzikir yang memang disebutkan urutannya dalam nash, maka dibaca sesuai zhahir nash tersebut. Sedangkan dzikir yang tidak disebutkan urutannya maka tidak diwajibkan berurutan. Anda bisa membacanya sesuai apa yang mudah bagi anda untuk mengingatnya.

Namun yang semestinya untuk anda baca di awal dzikir adalah dzikir-dzikir yang memiliki makna mengesakan Allah, mengagungkan-Nya, mengungkapkan kecintaan kepada-Nya, rasa takut kepada-Nya, mensucikan-Nya dari segala keburukan dan aib. Ini dalam rangka mengamalkan hal yang dituntut dalam agama yaitu ber-husnuzhan kepada Allah dan bertawakkal dengan kuat kepada Allah, memohon pertolongan kepada Allah dan bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Ruh dari dzikir adalah dengan menghadirkan hal-hal tersebut di dalam hati dan menumbuhkannya ketika tengah membaca dzikir. Dan tidak mungkin bisa menghasilkan keberkahan dari dzikir kecuali dengan menghadirkan hal-hal tersebut.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي

wahai anak Adam, setiap kali engkau berdoa kepadaku dan mengharap kepadaku, maka Aku ampuni dosa yang ada pada dirimu dan tidak Aku pedulikan lagi (dosamu)

Maka Allah menggandengan dzikir lisan, yaitu doa, dengan amalan hati yaitu ar raja’ (pengharapan). Kemudian keduanya diganjar dengan ampunan. Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik, dihasankan oleh Al Albani. Wabillahi At Taufiq.

***

Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam & Al Akh Muhammad bin Mahdi Zhafir

Sumber: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=1452

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
App Muslim.or.id

About Author

Yulian Purnama

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

View all posts by Yulian Purnama »
  • Ade

    Assalaamu ‘alaikum. Ustad, kalimat pertama pada paragraf terakhir … Maka Allah menggandengkan dzikir lisan, yaitu “dosa” .. Maksudnya “Doa” atau memang “Dosa” ?

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam, yang benar “do’a”. Jazakumullahu khaira atas koreksinya.