Silsilah Faedah Hadits Adab Dan Akhlak (1) : Amalan Yang Paling Dicintai – Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Silsilah Faedah Hadits Adab Dan Akhlak (1) : Amalan Yang Paling Dicintai

Segala bentuk amal shalih itu baik, terpuji, dan dicintai Allah ta'ala. Namun, beberapa amal shalih lebih afhdal, memiliki keutamaan dan pahala yang lebih daripada amal lain sehingga mampu mengantarkan pelakunya ke derajat yang lebih tinggi

3387 0

Amal Amalan Yang Paling Afdhal Fadhilah Amal Tentang Akhlak Faedah Adab Faedah Amal

Dari Abu Amr Asy-Syaibani, ia berkata,

حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ دَارِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: “الصَّلاَةُ عَلىَ وَقْتِهَا “. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: ثُمَّ “بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ” قُلْتُ ثُمَّ أَىُّ ؟ قَالَ: ((ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)) قَالَ: حَدَّثَنِيْ بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Pemilik rumah ini -sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud– memberitakan kepadaku, “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Saya bertanya  lagi, “Lalu amalan apa lagi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya bertanya kembali, “Kemudian amalan apa lagi?” Beliau berkata, “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Ibnu Mas’ud berkata, “Beliau (hanya) menyebutkan perkara tersebut, jika sekiranya aku bertanya lebih banyak, maka tentu beliau akan menambahnya (Shahih. Bukhari : 527 dan Muslim : 140).Gambar sisip 2

Kandungan hadits

Pertama: Keutamaan menuntut ilmu agama;

Kedua: Segala bentuk amal shalih itu baik, terpuji, dan dicintai Allah ta’ala. Namun, beberapa amal shalih lebih afhdal, memiliki keutamaan dan pahala yang lebih daripada amal lain sehingga mampu mengantarkan pelakunya ke derajat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, seorang lebih baik menyibukkan diri untuk melakukan amal shalih yang lebih afdhal dan memiliki pahala yang lebih banyak, daripada melakukan amal shalih yang keutamaan dan nilai pahalanya lebih sedikit;

Ketiga: Di antara amal shalih yang dicintai Allah adalah mengerjakan shalat pada waktunya. Tidak diperkenankan untuk memajukan dan mengakhirkan shalat dari waktu yang telah ditetapkan syari’at kecuali ada udzur yang dibenarkan syari’at;

Keempat: Dalam hadits di atas, shalat didahulukan mengingat kedudukannya yang penting dalam agama Islam. Shalat merupakan tiang agama, rukun Islam kedua, media yang menghubungkan hamba dan Rabb-nya, dan batas pembeda antara keimanan dan kekufuran;

Kelima: Keutamaan berbakti kepada kedua orangtua karena hak terbesar yang harus ditunaikan seorang hamba setelah hak Allah adalah hak kedua orang tua. Mereka berdua telah dijadikan Allah sebagai sebab lahirnya sang anak di dunia. Mereka berdua yang telah merawat dan memelihara sang anak sedari kecil dengan penuh cinta dan kasih sayang, tidak mengharap terima kasih dan imbalan. berusaha keras dalam bekerja untuk menafkahi hingga sang anak mampu mandiri. Dalam agama kita hak ibu lebih besar daripada hak ayah karena ibulah yang telah bersusah-payah mengandung, melahirkan, dan menyusui sang anak. Semoga Allah merahmati ayah dan ibu kita, membalas usaha mereka dengan kebaikan yang banyak , dan memberikan taufik kepada kita untuk berbakti kepada mereka berdua;

Keenam: Keutamaan berjihad di jalan Allah, yaitu mengerahkan upaya untuk meninggikan kalimat Allah, baik dengan mengorbankan jiwa, harta, dan ilmu untuk membela Islam.

Berjihad di jalan Allah wajib memperhatikan berbagai ketentuan yang ditetapkan syari’at, diantaranya adalah : [1] berniat untuk meninggikan kalimat Allah, [2] berada di bawah pimpinan waliyul amr, [3] memperoleh izin dari orang tua;

Ketujuh: Boleh menggunakan kata ‘لو’ (seandainya) berdasarkan perkataan ‘Abdullah Ibnu Mas’ud ‘ولو استزدته لزادني’. Dengan catatan penggunaannya bukan untuk mengungkapkan kesedihan atau kekecewaan yang berujung pada penentangan takdir yang telah ditetapkan Allah ta’ala;

Kedelapan: Perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi penanya ketika menjawab sebuah pertanyaan. Hal ini mengingat dalam beberapa hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama, yaitu amalan apakah yang paling afdhal. Para ulama menjelaskan jawaban nabi yang beragam untuk satu pertanyaan yang sama menandakan bahwa beliau memperhatikan kondisi dari sahabat yang bertanya. Berdasarkan hal ini pula, dapat ditarik kesimpulan bahwa amal shalih yang afdhal dikerjakan oleh hamba bisa saja berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka masing-masing;

Kesembilan: Pengagungan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tidak banyak bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, salah satu etika kepada seorang yang berilmu adalah tidak banyak bertanya kepadanya;

Kesepuluh: Metode tanya-jawab merupakan salah satu metode terbaik dalam memberikan dan me-review pelajaran;

Kesebelas: Pelajaran bagi seorang mufti/guru untuk bersabar dalam menghadapi pertanyaan dari murid.

***

Tangerang, 20 Muharram 1437 H

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel Muslim.or.id


Dukung pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dengan mendukung pembangunan SDIT YaaBunayya Yogyakarta http://bit.ly/YaaBunayya  

Hadits Ibnu Masud Amal Paling Di Cintai Ibnu Masud Faidah Lafal Hadits Tentang Etika Dan Agama

In this article

Join the Conversation

Shares