Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Silsilah Faedah Hadits Adab Dan Akhlak (1) : Amalan Yang Paling Dicintai

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.
3 November 2015
di Hadis
Share on FacebookShare on Twitter

Dari Abu Amr Asy-Syaibani, ia berkata,

حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ دَارِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: “الصَّلاَةُ عَلىَ وَقْتِهَا “. قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: ثُمَّ “بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ” قُلْتُ ثُمَّ أَىُّ ؟ قَالَ: ((ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)) قَالَ: حَدَّثَنِيْ بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

”Pemilik rumah ini -sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud– memberitakan kepadaku, “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Saya bertanya  lagi, “Lalu amalan apa lagi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya bertanya kembali, “Kemudian amalan apa lagi?” Beliau berkata, “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Ibnu Mas’ud berkata, “Beliau (hanya) menyebutkan perkara tersebut, jika sekiranya aku bertanya lebih banyak, maka tentu beliau akan menambahnya““ (Shahih. Bukhari : 527 dan Muslim : 140).Gambar sisip 2

Kandungan hadits

Pertama: Keutamaan menuntut ilmu agama;

Kedua: Segala bentuk amal shalih itu baik, terpuji, dan dicintai Allah ta’ala. Namun, beberapa amal shalih lebih afhdal, memiliki keutamaan dan pahala yang lebih daripada amal lain sehingga mampu mengantarkan pelakunya ke derajat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, seorang lebih baik menyibukkan diri untuk melakukan amal shalih yang lebih afdhal dan memiliki pahala yang lebih banyak, daripada melakukan amal shalih yang keutamaan dan nilai pahalanya lebih sedikit;

Ketiga: Di antara amal shalih yang dicintai Allah adalah mengerjakan shalat pada waktunya. Tidak diperkenankan untuk memajukan dan mengakhirkan shalat dari waktu yang telah ditetapkan syari’at kecuali ada udzur yang dibenarkan syari’at;

Keempat: Dalam hadits di atas, shalat didahulukan mengingat kedudukannya yang penting dalam agama Islam. Shalat merupakan tiang agama, rukun Islam kedua, media yang menghubungkan hamba dan Rabb-nya, dan batas pembeda antara keimanan dan kekufuran;

Kelima: Keutamaan berbakti kepada kedua orangtua karena hak terbesar yang harus ditunaikan seorang hamba setelah hak Allah adalah hak kedua orang tua. Mereka berdua telah dijadikan Allah sebagai sebab lahirnya sang anak di dunia. Mereka berdua yang telah merawat dan memelihara sang anak sedari kecil dengan penuh cinta dan kasih sayang, tidak mengharap terima kasih dan imbalan. berusaha keras dalam bekerja untuk menafkahi hingga sang anak mampu mandiri. Dalam agama kita hak ibu lebih besar daripada hak ayah karena ibulah yang telah bersusah-payah mengandung, melahirkan, dan menyusui sang anak. Semoga Allah merahmati ayah dan ibu kita, membalas usaha mereka dengan kebaikan yang banyak , dan memberikan taufik kepada kita untuk berbakti kepada mereka berdua;

Keenam: Keutamaan berjihad di jalan Allah, yaitu mengerahkan upaya untuk meninggikan kalimat Allah, baik dengan mengorbankan jiwa, harta, dan ilmu untuk membela Islam.

Berjihad di jalan Allah wajib memperhatikan berbagai ketentuan yang ditetapkan syari’at, diantaranya adalah : [1] berniat untuk meninggikan kalimat Allah, [2] berada di bawah pimpinan waliyul amr, [3] memperoleh izin dari orang tua;

Ketujuh: Boleh menggunakan kata ‘لو’ (seandainya) berdasarkan perkataan ‘Abdullah Ibnu Mas’ud ‘ولو استزدته لزادني’. Dengan catatan penggunaannya bukan untuk mengungkapkan kesedihan atau kekecewaan yang berujung pada penentangan takdir yang telah ditetapkan Allah ta’ala;

Kedelapan: Perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi penanya ketika menjawab sebuah pertanyaan. Hal ini mengingat dalam beberapa hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama, yaitu amalan apakah yang paling afdhal. Para ulama menjelaskan jawaban nabi yang beragam untuk satu pertanyaan yang sama menandakan bahwa beliau memperhatikan kondisi dari sahabat yang bertanya. Berdasarkan hal ini pula, dapat ditarik kesimpulan bahwa amal shalih yang afdhal dikerjakan oleh hamba bisa saja berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka masing-masing;

Kesembilan: Pengagungan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tidak banyak bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, salah satu etika kepada seorang yang berilmu adalah tidak banyak bertanya kepadanya;

Kesepuluh: Metode tanya-jawab merupakan salah satu metode terbaik dalam memberikan dan me-review pelajaran;

Kesebelas: Pelajaran bagi seorang mufti/guru untuk bersabar dalam menghadapi pertanyaan dari murid.

***

Tangerang, 20 Muharram 1437 H

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta,

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya

Kemana Masa Mudaku Melangkah? (3)

Komentar 2

  1. syaifuddin says:
    3 tahun yang lalu

    boleh kopypas akhi?

    Reply
    • Erwin Arnanda says:
      3 tahun yang lalu

      Silakan, dengan tetap mencantumkan sumber dan tidak mengubah isinya
      Barakallahu fiikum

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah