Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fikih I’tikaf (15)

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
29 Juli 2015
di Fikih
Share on FacebookShare on Twitter

Matan dan Terjemah Kitab Zadul Mustaqni’ Bab I’tikaf

Berikut ini serial penjelasan fikih i’tikaf, bersama kitab Zadul Mustaqni’ fi ikhtishar Al-Muqni’, sebuah kitab fikih yang ditulis oleh yang ditulis oleh Al-Allamah Syaikh Syarafud Din Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjaawi rahimahullah (wafat th. 960 H atau 968 H).

Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Al-Muqni’ yang ditulis oleh Al-Allamah Ibnu Qudamah rahimahullah,

Isi dari kitab Zadul Mustaqni’ ini adalah:

  1. Kitab fikih yang sangat ringkas, tidak disebutkan di dalamnya dalil, ta’lil (alasan hukum), dan tidak diperbanyak permasalahan fikih yang detail dan rinci, karena maksud penulisannya sebatas menyebutkan masalah fikih secara global tanpa memperbanyak rincian.
  2. Penulis memilih pendapat terkuat dalam madzhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah sebagai bahan acuan
  3. Penulis dalam kitab ini juga tidak menyebutkan permasalahan yang jarang terjadi, yang sebenarnya permasalahan tersebut disebutkan dalam kitab asalnya, yaitu Al-Muqni’, namun menambahkan faidah yang tidak terdapat dalam Al-Muqni’.

Kitab ini merupakan kitab dasar dalam madzhab Hanbaliyyah dan barangsiapa yang hendak mendalami madzhab Hanbaliyyah maka silahkan dihafal matan kitab ini diiringi membaca kitab-kitab penjelasannya (Syuruh) dan catatan-catatan singkat tentangnya (Hawasyi), seperti kitab Ar-Raudhul Murbi’ (Al-Bahuti) , Syarhul Mumti’ (Syaikh Al-Utsaimin), dan Asy-Syarhul Mukhtashar. Al-Allamah Syaikh Syarafud Din Abun Naja Musa bin Ahmad Al-Hajjaawi rahimahullah dalam kitabnya Zadul Mustaqni’ fi ikhtishar Al-Muqni’ mengatakan,

بَابُ الاعْتِكَافِ

هُوَ لُزُومُ مَسْجِدٍ، لِطَاعَةِ اللهِ مَسْنُونٌ، وَيَصِحُّ بِلَا صَوْمٍ، وَيَلْزَمَانِ بِالنَّذْرِ، وَلَا يَصِحُّ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ  يُجَمَّعُ فِيهِ، إِلّا المَرْأَةَ فَفِي كُلِّ مَسْجِدٍ، سِوَى مَسْجِدِ بَيْتِهَا، وَمَنْ نَذَرَهُ، أَوِ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدٍ غَيْرِ الثّلَاثَةِ، وَأَفْضَلُهَا الحَرَامُ، فَمَسْجدُ المَدِينَةِ، فَالْأَقْصَى لَمْ يَلْزَمْهُ فِيهِ، وَإِنْ عَيَّنَ الْأَفْضَلَ لَمْ يَجُزْ فِيمَا دُونَهُ وَعَكْسُهُ بِعَكْسِهِ، وَمَنْ نَذَرَ زَمَنًا مُعَيَّنًا دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ قَبْلَ لَيْلَتِهِ الْأولَى، وَخَرَجَ بَعْدَ آخِرِهِ، وَلَا يَخْرُجُ المُعْتَكِفُ إِلّا لِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ، وَلَا يَعُودُ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدُ جَنْازَةً إِلّا أَنْ يَشْتَرِطَهُ، وَإِنْ وَطِئَ فِي فَرْجٍ فَسَدَ اعْتِكَافُهُ، وَيُسْتَحَبُّ اشْتِغَالُهُ بِالْقُرَبِ، وَاجْتِنَابُ مَا لَا يَعْنِيهِ.

Bab I’tikaf

I’tikaf adalah sebuah kegiatan menetap di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Hukumnya adalah sunnah. I’tikaf sah dilakukan tanpa berpuasa. Keduanya itu menjadi wajib karena nadzar. I’tikaf hanya sah dilakukan di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah di dalamnya, kecuali bagi seorang wanita, maka sah beri’tikaf di masjid manapun juga, selain mushalla (tempat shalat) di rumahnya. Barangsiapa yang bernadzar untuk melakukan i’tikaf atau melakukan shalat di sebuah masjid selain tiga masjid paling utama, yaitu masjid Al- Haram (Mekah), masjid Nabawi di Madinah, dan terakhir masjid Al-Aqsha, maka tidak wajib baginya menunaikan nadzarnya di tempat tersebut selain tiga masjid paling utama. Jika orang yang bernadzar tersebut menentukan masjid yang memiliki keutamaan lebih dibanding yang masjid lain, maka ia tidak boleh beralih pada masjid yang memiliki keutamaan dibawahnya. Barangsiapa yang bernadzar untuk i’tikaf dalam rentang waktu yang telah ditentukan waktunya, maka ia mulai masuk tempat i’tikafnya (masjid) sebelum malam pertama dari rentang waktu tersebut dan keluar darinya setelah akhir batas waktu. Seorang yang sedang i’tikaf (mu’takif) tidak boleh keluar dari masjid tempat i’tikafnya kecuali untuk keperluan yang harus ditunaikan. Ia tidak boleh menjenguk orang yang sakit, tidak boleh pula menghadiri pengurusan jenazah kecuali jika ia mensyaratkannya. Jika orang yang i’tikaf (mu’takif) menncampuri istrinya di kemaluannya, maka batal i’tikafnya Disunnahkan (bagi orang yang beri’tikaf ) untuk menyibukkan diri dengan aktifitas mendekatkan diri kepada Allah (ibadah khusus) dan menjauhi segala perkara yang tidak bermanfa’at.

***

Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
30 Juni 2026
0

Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus...

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Artikel Selanjutnya

Bertanya Masalah Agama, Kepada Siapa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah