Perintah Allah Ta’ala Yang Terbesar Untuk Hamba-Nya (2)

Perintah Allah Ta’ala Yang Terbesar Untuk Hamba-Nya (2)

Setelah kita mengetahui bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar bagi seorang hamba, lalu apakah tauhid tersebut? Dan bagaimanakah merealisasikan perintah Allah Ta’ala untuk bertauhid?

Tauhid adalah Mengesakan Allah Ta’ala dalam Ibadah

Setelah kita memahami bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar, maka kita harus memahami apakah yang dimaksud dengan tauhid supaya tidak salah paham. Syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah menjelaskan, bahwa tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah (dengan kata lain, tauhid adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, tidak kepada yang lainnya).

Perlu diketahui bahwa mendefinisikan tauhid dengan pernyataan “mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah” adalah mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan bagian tauhid yang paling penting (yaitu tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah). Karena definisi tauhid yang lengkap adalah, “Mengesakan Allah Ta’ala dalam penciptaan dan pengaturan (alam semesta) [tauhid rububiyyah, pen.]; mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya [tauhid uluhiyyah, pen.]; dan menetapkan nama-nama yang husna untuk Allah Ta’ala serta menycikan Allah dari berbagai kekurangan dan sifat-sifat yang tercela [tauhid asma’ wa shifat, pen.].” [1]

Namun, seringkali kita jumpai para ulama hanya mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid uluhiyyah saja. Para ulama mendefinisikan tauhid dengan hanya menyebutkan tauhid uluhiyyah adalah karena pertimbangan-pertimbangan berikut ini.

Pertama, tujuan para ulama mendefinisikan tauhid dengan tauhid uluhiyyah adalah dalam rangka menekankan betapa pentingnya tauhid uluhiyyah tersebut. Karena tauhid uluhiyyah adalah inti ajaran dakwah yang dibawa oleh seluruh Rasul, mulai dari Nabi Nuh ‘alaihis salaam hingga nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’”. (QS. An-Nahl [16]: 36)

Bukti lain tentang betapa pentingnya tauhid uluhiyyah adalah bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk menegakkan tauhid uluhiyyah ini (lihat kembali surat Adz-Dzariyat ayat 56 pada bagian pertama tulisan ini).

Ke dua, sesungguhnya penyelewengan yang sangat banyak terjadi pada manusia sejak zaman dahulu dan akan terus berlanjut hingga sekarang ini adalah kesyirikan dalam masalah uluhiyyah. Kesyirikan yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah kesyirikan umat Nuh ‘alaihis salaam dalam masalah uluhiyyah. Dan demikianlah kesyirikan tersebut terus berlanjut pada umat-umat yang lain sehingga Allah pun mengutus para Rasul-Nya dengan misi pokok menegakkan tauhid uluhiyyah. Sehingga tauhid inilah yang merupakan titik perseteruan dan permusuhan antara para Rasul dengan umatnya masing-masing dan merupakan titik persimpangan yang memisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir.  Dan tema perseteruan ini akan terus berlanjut hingga sekarang dan mungkin akan terus berlanjut hingga hari kiamat. [2]

Adapun tauhid rububiyyah, maka hal ini telah menjadi fitrah dalam diri setiap manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang meyakini bahwa yang menciptakan langit dan bumi adalah selain Allah Ta’ala. Tidak pula dijumpai seorang pun, meskipun orang musyrik dan kafir, bahwa yang menciptakan manusia adalah manusia itu sendiri. Oleh karena itu, apabila kita mendefinisikan tauhid dengan “pengakuan bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan”, maka umat Islam akan menganggap tauhid rububiyyah itulah inti dan hakikat tauhid yang sebenarnya. Sehingga mereka sudah merasa bertauhid dengan pengakuan itu, dan lalai dengan kewajiban mentauhidkan Allah Ta’ala dalam uluhiyyah. Padahal, hakikat tauhid sebenarnya, yang menjadi inti materi dakwah setiap rasul dan tujuan utama kitab-kitab diturunkan adalah tauhid uluhiyyah, bukan tauhid rububiyyah.

Selain itu, umat Islam juga akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan syirik apabila memahami tauhid sebatas tauhid uluhiyyah. Karena mereka akan memahami, berarti tidak mengapa beribadah kepada selain Allah Ta’ala, yang penting kita tetap mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki. Oleh karena itulah, para ulama kita seringkali mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid uluhiyyah saja untuk menekankan pentingnya hal ini dan untuk menjelaskan bahwa tauhid inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang-orang kafir.

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah “ibadah syar’i”, yaitu tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah Ta’ala yang bersifat syar’i (hukum syari’at-Nya). Adapun “ibadah kauni” adalah tunduk kepada hukum Allah Ta’ala yang bersifat kauni, yaitu ketentuan dan taqdir Allah Ta’ala yang Allah Ta’ala tetapkan kepada hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang baik maupun yang jahat, berupa sakit, miskin, atau yang lainnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam [19]: 93)

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah ibadah yang bersifat syar’i, yaitu ibadah yang hanya khusus dilakukan oleh orang-orang yang beriman.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita limpahan hidayah sehingga kita mampu merealisasikan perintah Allah Ta’ala yang terbesar tersebut. [Selesai]

***

Selesai disempurnakan ba’da subuh, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 27 Jumadil Akhir 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] ‘Aqidatu Tauhid, hal. 149, karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan.

[2] Lihat Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, hal. 41-44, karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan Imam Syafi’i Menggugat Syirik, hal. 52-55, karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc.

___

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

Leave a Reply