Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Tauhid: Perintah Allah Ta’ala yang Terbesar untuk Hamba-Nya (Bag. 1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
21 April 2015
di Akidah
perintah Allah
Share on FacebookShare on Twitter

Banyak kita jumpai perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau perintah Allah Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada perintah untuk berbuat baik kepada ke dua orang tua, perintah shalat dan berbagai macam amal ibadah lainnya, perintah untuk berdakwah, dan perintah-perintah lainnya. Dari berbagai macam perintah tersebut, manakah perintah yang paling besar dan paling penting untuk direalisasikan dalam kehidupan seorang hamba? Simaklah penjelasannya dalam pembahasan berikut ini.

Perintah Allah Ta’ala yang terbesar

Sangat penting untuk diketahui bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Seluruh perintah Allah Ta’ala yang lainnya mengikuti perintah untuk bertauhid ini dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan bertauhid terlebih dahulu. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa [4]: 36)

Di dalam ayat ini terdapat sepuluh hak yang wajib kita tunaikan. Oleh karena itu, ayat ini disebut dengan “huquuqul ‘asyroh” (hak-hak yang berjumlah sepuluh), yaitu hak Allah Ta’ala, hak kedua orang tua, dan seterusnya sampai dengan hak hamba sahaya (budak). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan hak-Nya, yaitu (yang artinya),”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Ini adalah bukti bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diserukan kepada seseorang dan merupakan kewajiban terbesar seorang hamba dalam sepanjang hidupnya, sebelum menunaikan kewajiban yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala juga memulai dengan perintah bertauhid. Dan sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ 

“Katakanlah, ’Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu dan bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-An’am [6]: 151)

Dalam ayat ini terdapat lima wasiat bagi seorang hamba. Yaitu mentauhidkan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak membunuh anak-anak kita, tidak boleh mendekati perbuatan keji, dan tidak membunuh jiwa yang Allah Ta’ala kecuali dengan alasan yang dapat dibenarkan (Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1: 20; karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai wasiat-Nya dengan perintah untuk bertauhid.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Para ulama ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan “beribadah kepada-Ku” adalah “mentauhidkan Aku”. Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tujuan utama pencipatan makhluk adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Oleh karena itu, tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Karena dengan melaksanakannya, mereka dapat mewujudkan tujuan penciptaan dirinya. (Lihat Syarh Tsalaatsatul Ushuul, hal. 17, karya Syaikh Shalih Alu Syaikh).

Kalau kita telah memahami bahwa perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah tauhid, maka otomatis kewajiban kita adalah mempelajari tauhid terlebih dahulu sebelum mempelajari cabang ilmu agama lainnya, karena tauhid adalah asas dalam agama kita ini. Kita juga harus mempelajarinya dan menyampaikannya kepada masyarakat secara terus-menerus. Oleh karena itu, tidak selayaknya apabila pengajaran tauhid ini disepelekan, tidak dinomorsatukan, atau bahkan tidak diajarkan sama sekali. Namun sayangnya, kita dapati saat ini sebagian da’i yang menyepelekan dan menganggap remeh hal ini.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Selesai disempurnakan ba’da subuh, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 27 Jumadil Akhir 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Referensi utama:

1) Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.

2) Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
2

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
jin masuk surga

Serial 27 Alam Jin: Jin Ada yang Masuk Surga

Komentar 2

  1. Samsudin says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum, izin ambil artikel untuk bahan kutbah jum’at.

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, silahkan

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah