Perintah Allah Ta’ala Yang Terbesar Untuk Hamba-Nya (1)

Perintah Allah Ta’ala Yang Terbesar Untuk Hamba-Nya (1)

Banyak kita jumpai perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau perintah Allah Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada perintah untuk berbuat baik kepada ke dua orang tua, perintah shalat dan berbagai macam amal ibadah lainnya, perintah untuk berdakwah, dan perintah-perintah lainnya. Dari berbagai macam perintah tersebut, manakah perintah yang paling besar dan paling penting untuk direalisasikan dalam kehidupan seorang hamba? Simaklah penjelasannya dalam pembahasan berikut ini.

Perintah Allah Ta’ala yang Terbesar

Sangat penting untuk diketahui bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Seluruh perintah Allah Ta’ala yang lainnya mengikuti perintah untuk bertauhid ini dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan bertauhid terlebih dahulu. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa [4]: 36).

Di dalam ayat ini terdapat sepuluh hak yang wajib kita tunaikan. Oleh karena itu, ayat ini disebut dengan “huquuqul ‘asyroh” (hak-hak yang berjumlah sepuluh), yaitu hak Allah Ta’ala, hak kedua orang tua, dan seterusnya sampai dengan hak hamba sahaya (budak). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan hak-Nya, yaitu (yang artinya),”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Ini adalah bukti bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diserukan kepada seseorang dan merupakan kewajiban terbesar seorang hamba dalam sepanjang hidupnya, sebelum menunaikan kewajiban yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala juga memulai dengan perintah bertauhid. Dan sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (151)

Katakanlah,’Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu dan bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-An’am [6]: 151).

Dalam ayat ini terdapat lima wasiat bagi seorang hamba. Yaitu mentauhidkan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak membunuh anak-anak kita, tidak boleh mendekati perbuatan keji, dan tidak membunuh jiwa yang Allah Ta’ala kecuali dengan alasan yang dapat dibenarkan (Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/20, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai wasiat-Nya dengan perintah untuk bertauhid.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Para ulama ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan “beribadah kepada-Ku” adalah “mentauhidkan Aku”. Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tujuan utama pencipatan makhluk adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Oleh karena itu, tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Karena dengan melaksanakannya, mereka dapat mewujudkan tujuan penciptaan dirinya. (Lihat Syarh Tsalaatsatul Ushuul, hal. 17, karya Syaikh Shalih Alu Syaikh).

Kalau kita telah memahami bahwa perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah tauhid, maka otomatis kewajiban kita adalah mempelajari tauhid terlebih dahulu sebelum mempelajari cabang ilmu agama lainnya, karena tauhid adalah asas dalam agama kita ini. Kita juga harus mempelajarinya dan menyampaikannya kepada masyarakat secara terus-menerus. Oleh karena itu, tidak selayaknya apabila pengajaran tauhid ini disepelekan, tidak dinomorsatukan, atau bahkan tidak diajarkan sama sekali. Namun sayangnya, kita dapati saat ini sebagian da’i yang menyepelekan dan menganggap remeh hal ini. [Bersambung]

***

Selesai disempurnakan ba’da subuh, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 27 Jumadil Akhir 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi utama:
  • Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.
  • Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »

3 Comments

  1. Assalamu’alaikum, izin ambil artikel untuk bahan kutbah jum’at.

Leave a Reply