Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. oleh Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.
7 April 2010
di Al-Qur'an
Share on FacebookShare on Twitter

Allah ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

Iman yang Dilandasi dengan Ilmu

Dalam surat ini Allah ta’ala  menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.  Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ

”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

يَجِبُ أَنْ يَطْلَبَ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَقُوْمُ بِهِ دِيْنَهُ

”Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa  membuat dirinya mampu menegakkan agama.”  [Al Furu’ 1/525].

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah ta’ala  berfirman,
مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ  نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).

Mengamalkan Ilmu

Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.
Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah

لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا

”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).

Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.

Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

Berdakwah kepada Allah

Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)

“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).
Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah. Simak firman Allah ta’ala berikut,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).

Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas, seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.

Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui Islam yang benar, namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan “duduk manis” tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah yang besar ini.
Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap agamanya. Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya. Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).
Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.

Bersabar dalam Dakwah

Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala. Seorang da’i (penyeru) ke jalan Allah mesti menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini dikarenakan para dai’ menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi syari’at [Hushulul ma’mul hal. 20].

Hendaklah seorang da’i mengingat firman Allah ta’ala berikut sebagai pelipur lara ketika berjumpa dengan rintangan. Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (٣٤)

”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).
Seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya (yang artinya),

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).

Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]

”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

Tags: tafsir
ShareTweetPin
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta,

Artikel Terkait

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

oleh Dany Indra Permana, S.Si., M.H.
9 Agustus 2026
0

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan...

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 1): Kiamat Datang dan Manusia Ingat Segala Amalnya

oleh Dany Indra Permana, S.Si., M.H.
6 Agustus 2026
0

Surah At-Takwir adalah surah ke-81 dalam Al-Qur’an, sebuah surat Makiyah yang banyak berbicara tentang kejadian-kejadian luar biasa pada hari kiamat,...

Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat

oleh Dany Indra Permana, S.Si., M.H.
31 Juli 2026
0

Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya...

Artikel Selanjutnya

Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah

Komentar 34

  1. tri muhroji says:
    16 tahun yang lalu

    Kesabaran juga harus melandasi setiap perjuangan. Termasuk ketika kita megajak kpd kebenaran namun mereka justru menutup mata hati. Hanya hidayah Allah yang akan mengembalikan seseorang ke jalan yang lurus

    Reply
  2. Sofya says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, terima kasih utk ilmu ini..

    Reply
    • Dadang says:
      3 tahun yang lalu

      Alhamdullilah semoga Allah swt balas dengan pahala aamiin

      Reply
  3. Budi Gustian says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, jazakallahu khairon, artikelnya bagus sekali, ana sangat suka sekali. Mudah2an ana bisa mengamalkannya.

    Reply
  4. 'abdurrahman says:
    16 tahun yang lalu

    mohon diijinkan untuk ngopi dr website ini..

    jazakumullah khairan

    Reply
  5. nur leytta says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah dapat ilmu…semoga bisa mengamalkanya

    Reply
  6. Abu Muhammad Naufal Zaki says:
    16 tahun yang lalu

    Wah, tampilan baru nih. . hijau – hijau sekarang dan ada kelompok topik bahasannya. . semoga lebih menambah ilmu dan lebih menyejukkan hati pembaca dg ilmu yg hak. . .
    Ya. . dulu sejak kecil di SDN setiap akan pulang sekolah murid2 diwajibkan membaca surat ini. . meskipun sekarang sudah tahu bhw itu tdk ada sunnahnya. .
    SUngguh setiap surat dan ayat dalam al qur’an mengandung pelajaran yg agung bagi kita namun semua itu tidka kita dapati jk tidak mempelajarinya . .
    semoga redaksi jika bisa setiap hari minimal menuliskan tafsir 1 ayat-1ayat dari al quran dari penjelasan para ulama shg sangat membantu para pembaca lbih mencintai al Qur’an..

    Reply
  7. akhwat bandung says:
    16 tahun yang lalu

    Jazakallah….. punten sudah di copy, mdh2an ikhlas

    Reply
  8. doni irvan says:
    16 tahun yang lalu

    syukron jazakallahu khair,ana mohon izin copi ya ustad

    Reply
  9. aisha says:
    16 tahun yang lalu

    alhamdulillah… dpat pencerahan.
    Jazakallah…..
    afwan izin untuk d copy, mdh2an ustadz ikhlas.

    Reply
  10. intan says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah ..sy mndpt bkal hdup yg sgt manfaat untuk dijdkn pdoman prbaikan Akhlaq yg msih blm mampu kami tunaikan sblmya. dan mnn maaf sy copy tuk refrensi dlm puta – putra kami. tmksh bmyak

    Wass

    Reply
  11. syaironi says:
    16 tahun yang lalu

    Banyak ilmu yang bisa aku petik dari, jazaakumullah khoiron katsiiro

    Reply
  12. Prastya Yudhistira says:
    16 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, matur nuwun atas penjelasan dari surat Al Ashr ini.. memang Sabar, Ikhlas, Tawakkal, Ikhriar, serta niat yang baik hnya krna Allah semata tu g bs di pisahkan y pak.. smg bs jd brmanfaat.. amin..

    Reply
  13. zaki says:
    16 tahun yang lalu

    smga bermanfaat untuk saya…amin

    Reply
  14. Note Of Life says:
    16 tahun yang lalu

    Ilmu Yang Sangat Bermanfaat
    Boleh Saya Sebarkan Artikel Ini ?

    Reply
  15. Haitan says:
    15 tahun yang lalu

    Dear All,

    Sudah waktunya kita kaum muslimin MEMPUNYAI PERHATIAN serius dengan DA’WAH, dan hal itu perlu DIWUJUDKAN, salah satunya adalah dengan MENJALANKAN DA’WAH dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, tentunya dengan harta dan jiwa sendiri. Seperti Nabi Muhammad SAW ke Thaif, dan kisahnya ini sangat makhsyur.

    Reply
  16. pur says:
    15 tahun yang lalu

    Nuwun sewu kulo ngopi kepareng njih?
    maturnuwun

    Reply
  17. Muhammad Zaid al-Hadi says:
    15 tahun yang lalu

    bagaimana menurut islam tentang Mahabbah, seperti jika membaca salah satu surat al quran akan memnjadi “pemanis muka”

    Reply
    • Muhammad Nur Ichwan says:
      15 tahun yang lalu

      @Muhammad Zaid al-Hadi
      Jika yang anda maksudkan mahabbah itu seperti “pelet”, maka tidak sepantasnya al-quran digunakan untuk hal-hal yang rendah seperti itu. Al-Quran bukanlah diturunkan sebagai “alat pelet”.
      Sepengetahuan kami, tidak ada dalil yang menyatakan akan hal tersebut. Bahkan perbuatan seperti ini bisa dikategorikan sebagai syirik, karena memfungsikannya sebagai jimat.

      Reply
  18. yandi says:
    15 tahun yang lalu

    ass izin copy dan share artikelnya ustad.jazakallah

    Reply
  19. Dede says:
    15 tahun yang lalu

    Subhanallah…
    Syukon ilmunya…

    Reply
  20. hazby says:
    14 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum wr.wb
    Ustadz ijin berbagi semoga menjadikan pahala bagi kita semua yang mau belajar n mendalami makna al-quran n mengamalkannya.
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    Reply
  21. Fikri says:
    14 tahun yang lalu

    ijin ambil ya

    Reply
  22. angga says:
    14 tahun yang lalu

    mksihh

    pencerahannya :)

    Reply
  23. abu musyaffa says:
    14 tahun yang lalu

    Mohon ijin untuk copy dan menyebarkan kepada segenap muslimin. Syukron

    Reply
    • Ardien says:
      7 tahun yang lalu

      Mohon ijin copas ustadZ. Untuk dakwah di lingkungan sekitar rumah

      Reply
  24. kang dahlan says:
    14 tahun yang lalu

    ustadz izin copast artikelnya es

    Reply
  25. nonmae says:
    14 tahun yang lalu

    Aslamualikum mohon izin copas tadz…

    Reply
  26. Kaka says:
    14 tahun yang lalu

    assalamuallaikum wr wb, ijin mengkopi ya ustadz, syukron

    Reply
  27. nhasyakm says:
    14 tahun yang lalu

    i like this article…very good

    Reply
  28. widayanti says:
    13 tahun yang lalu

    subhanallah, saya izin share

    Reply
  29. Dadan says:
    7 tahun yang lalu

    Alhamdulillah.mohon izin ana menggunakan karya antum sebagai referensi materi da’wah

    Reply
  30. Anisah says:
    1 tahun yang lalu

    ilmu yg sangat bermanfaat ….smg mjd amal ilmu jariyah bagi yg menulis artikel ini…..lanjut terus sy suka

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah