Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengapa Ada Yang Mati Kelaparan Padahal Rezeki Sudah Dijamin?

Sa'id Abu Ukkasyah oleh Sa'id Abu Ukkasyah
29 Maret 2015
di Akidah
rezeki terjamin
Share on FacebookShare on Twitter

Sobat, kalimat di atas sempat nggak terlintas dalam hati Anda? Sebagai seorang muslim yang baik, tentu tidaklah berani menjawab pertanyaan di atas jika tidak berdasarkan ilmu, karena ia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Israa`: 36)

Nah, untuk bisa memahami jawaban dari pertanyaan di atas, simaklah ayat-ayat Al-Qur`an yang agung berikut ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Surah Adz-Dzaariyaat:58)

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama.” (Al-Maa`idah:114)

وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Al-Hajj: 58)

وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Al-Jumu’ah: 11)

(Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103).

Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (Huud: 6)

Allah memberitahukan di dalam ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas sekali beberapa firman Allah di atas. Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala di atas.

Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang Allah ketahuinya.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (An-Nahl: 71)

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-‘Ankabuut: 62)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,

الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم

“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 )

Terkadang memang sebagian orang ada yang mati kelaparan dan sebenarnya ini tidaklah bertentangan dengan nama Allah Ar-Razzaaq (Yang Banyak Memberi rezeki).

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram.” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya)

Ya memang Allah telah menentukan rezeki orang yang mati kelaparan tersebut lebih sedikit dari sebagian orang yang lain, namun ada hikmah dibaliknya yang Allah ketahui. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang cocok bagi setiap hamba-Nya dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki banyak dan siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki sedikit.

Nasehat bagi yang mendapatkan rezeki yang sedikit

Pertama, segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’”

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

 “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku'”

كَلَّا

“Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Maksudnya bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.

Kedua, sesungguhnya barangsiapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya, ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya.’” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.Or.Id

 

Referensi:

Tafsir As-Sa’di.

Fatwa Islamweb.net, no.  14649

http://ar.Islamway.net/fatwa/7042/

 

ShareTweetPin
Sa'id Abu Ukkasyah

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
Sumber Ilmu Aqidah

Sumber Ilmu Aqidah (2)

Komentar 28

  1. belajar program says:
    11 tahun yang lalu

    ulasan yang sangat baik . saya inginbertanya dan semoga di beri jawaban yang bisa memberikan kepada saya peningkatan keimanan serta ilmu.
    pertanyaan saya : “Bagaimana dengan orang yg rejekinya di lapangkan di dunia serta mendapatkan tempat yg sama dengan orang yg di tahan rezekinya di dunia ? …….

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Ma’af, silahkan langsung saja pada inti pertanyaan, maksud kalimat : “mendapatkan tempat yg sama” apa?

      Reply
      • Yudhistira Perdana says:
        11 tahun yang lalu

        Maksud nya gini ustad.. dia sama2 beekerja d tempat yang sama.. sama2 kerja keras.. tapi yg satu dapat uang banyakk yg satu lg dapat uang nya dikit.. gt mungkin ya…
        Saya rasa artikel inj klo di pahami sudah memberikan jawaban

        Reply
      • belajar program says:
        11 tahun yang lalu

        maksudnya anggap ada 2 org.
        org 1 rejekinya di lapangkan
        org 2 rejekinya sedikit dan penuh rintangan

        nah mari asumsikan kedua org ini memiliki keimanan yg sama nah. apakah keduanya akan mendapatkan tempat yang sama di akhirat mengingat keduanya memiliki keimanan yang sama besarnya

        Reply
        • Sa'id Abu Ukkasyah says:
          11 tahun yang lalu

          Jika memang sama persis dalam keimanan keduanya, ya sama balasan keduanya di Surga. Wallahu a’lam.

          Reply
    • omheker says:
      6 tahun yang lalu

      Assalamu alaikum, terkadang saya berfikir….
      Ada orang di uji dengan Kekayaan
      dan Ada orang yang di uji dengan kemisikinan…

      kalau difikir fikir kenapa ya lebih asyik di uji dengan kekayaan

      Reply
      • Jalu says:
        6 tahun yang lalu

        Bedanya di lama hisab,yg 1 banyak harta,yg 2 lebih sedikit,yg kaya lebih lama hisabnya dari yang miskin
        Wallahu alam

        Reply
      • richie says:
        6 tahun yang lalu

        nggak juga..Sebetulnya semua manusia itu kaya.Cuma kita saja yang tidak / kurang bersyukur.

        Reply
      • Fije says:
        5 tahun yang lalu

        teman saya diuji dengan kekayaan. dia sekarang menginginkan kemelaratan. padahal perusahaannya dimana-mana. dari kekayaannya itu, banyaklah orang yang mengirimkan sihir kepada keluarganya karena iri dengki, fitnah, dan sebagainya. dia pun tidak tenang karena memiliki harta yang banyak. dia meninggalkan kekayaan orangtuanya dan memilih untuk hidup sederhana dan melepas semua aset perusahaannya.

        Reply
  2. fifi says:
    11 tahun yang lalu

    bagaimana menurut pak ustadz tentang hukum dari menulis maupun membaca cerita fiksi..?? Krn beberapa artikel yg pernah sy bca ada yg mengharamkan dengan alasan menyebarkan dusta dan yg membaca hanya menyia-nyiakan waktu tpi ada juga artikel yg membolehkan..

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Masih banyak kisah-kisah dalam Alquran dan As-Sunnah yg shahihah yg belum kita baca. Padahal kisah-kisah di dalam keduanya adalah kisah yang terindah, paling bermanfa’at , paling besar pengaruh baiknya atas diri kita dan paling dicintai oleh Rabb kita, sementara umur kita yang tersisa amatlah pendek.

      Reply
  3. Minak Jinggo says:
    11 tahun yang lalu

    ohhh jadi kesimpulannya, yang meninggal karena kelaparan itu jatah rezekinya sudah habis di dunia
    tolong di benerin klo salah

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Ya, rezekinya memang cuma segitu. Bahkan semua yang meninggal berarti sudah lengkap rezekinya di dunia diberikan, bagimanapun juga keadaan meninggalnya. Dan perlu diketahui bahwa setiap musibah karena dosa kita.

      Reply
      • Ria says:
        7 tahun yang lalu

        Oh jadi musibah itu bukan ujian yaa .. tp karena dosa kita ..

        bertaubat & bersedekah apakah cukup u membersihkan dosa spy kita terbebas dari musibah. ?

        Reply
      • kunto says:
        7 tahun yang lalu

        apa iya musibah itu sudah pasti karena dosa?

        Reply
      • Abu sopyan says:
        3 tahun yang lalu

        Mhn ijin tanya pak ustadz, waktu ibunya temenku meninggal…. Banyak orang yg memberikan donasi santunan atau apapun yg ditujukan utk ibunya temenku tdi.. lah pertanyaanku, apakah sumbangan donasi atau santunan tersebut bisa dikatakan sebagai rejeki si ibunya temenku atau gimna?

        Lah sedangkan katanya klo udah meninggal ya berarti jatah rejekinya udah abis kan..

        Reply
        • Eva says:
          3 tahun yang lalu

          Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah jawabannya seperti mohon koreksinya jika salah..
          Jika uang santunan dapat bermanfaat bagi yg meninggal misal disedekahkan maka itu adalah rejeki yg akan terus mengalir walaupun ybs sdh meninggal atau bermanfaat bagi keluarga yg ditinggalkan maka itu juga menjadi sedekah dari yg meninggal untuk keluarga yg ditinggalkannya karena sebab kematiannya
          Wallahu ‘alam bishowab

          Reply
  4. Indri maulida munawaroh says:
    7 tahun yang lalu

    Izin repost

    Reply
  5. Satria Wicaksana says:
    7 tahun yang lalu

    “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64 : 11)

    Di tingkatan esensi, sebenarnya yang namanya musibah berada dalam mekanisme keseimbangan alam yg diatur oleh Allah.

    Musibah yang merupakan kehendak dan izin dari Allah adakalanya sebagai bentuk (1) hukuman sebagai (2) teguran, serta musibah sebagai bentuk (3) kasih sayang dari Allah. Musibah sebagai bentuk hukuman dan teguran diatas yg dimaksud Ustad Sa’id Abu Ukkasyah diatas yg diakibatkan oleh dosa.

    Alam semesta esensinya diciptakan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan serta keseimbangan. Ketika berbuat dosa, maka itu membuat prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan terganggu. “Secara alamiah”, alam semesta membentuk keseimbangannya melalui hadirnya musibah. Semoga membantu Wallohu’alam…

    Reply
  6. Ija says:
    5 tahun yang lalu

    Jazaakumullahu khairan ustad beserta tim, ijin share

    Reply
  7. MUHAMMAD SA'ARI AMRI says:
    4 tahun yang lalu

    Kalo ada orang yang mati karena kelaparan..
    Jawabannya itu karena sudah ajalnya begitu, sudah takdir.. Kematian itu takdir Tuhan tidak ada yang tau kapan,dimana,dan penyebab kematiannya.. dan semua itu sudah ditetapkan oleh Allah..

    Reply
    • Waliyullah says:
      9 bulan yang lalu

      just imagine, if you’re real, and then it was you that destined to be death with starvation, with your so-called energy praying and asking for fortune to get good food, and then still thrown to deepest hell, while Allah SWT laughing upon his arash

      Reply
  8. Rusnah says:
    4 tahun yang lalu

    Assalamualaikum,izin bertanya ya ustadz.ada orang yang hidup susah bahkan beli beras 1kilo aja gak mampu.udah bekerja tapi selalu saja hasil nya sama hidup susah berkekurangan,apabila ada usaha yang buat lebih selalu terhalang,kenapa ya ustad apakah allah tidak adil,apakah rezeki hanya buat orang kaya saja.apakah allah tidak sayang orang miskin.padahal ibadah rajin menjalankan perintah dan larangan.kita tidak minta kaya,tapi cukup aja sudah syukur kok,pernahkah ustad merasa lapar dan fakir,kalau ustad pernah lapar mau makan ngak ada apa pun dan uang sepeserpun apa ustad hanya bilang”sabar”.

    Reply
    • Ata says:
      4 tahun yang lalu

      Pak ustaz, pertanyaan saya sama dengan ibu rusnah…

      Reply
    • Rizuki says:
      4 tahun yang lalu

      Maaf, mencoba menjawab sesuai ilmu saya ya.

      Ada beberapa alasan :
      1. Rezeki itu sesuai kemampuan. Bila ada orang yang berusaha maksimal tetapi hasil minimal, berarti kemampuan orang itu untuk mendapat rezeki memang pantas segitu.

      2. Rezeki itu bisa saja membuatnya lupa diri dan sombong apabila dikayakan. Sehingga Allah lebih suka dia tetap miskin, tetapi baik dan menyenangkan seluruh makhluk.

      2. Rezeki itu ditahan di dunia, tetapi akan diberikan tunai di akhirat karena suatu sebab. Mungkin berupa pahala, peleburan dosa, atau ridho Allah untuk memasukkannya ke Surga atas perjuangan dan kesabaran di dunia meski disempitkan rezekinya.

      Sekian. Semoga bermanfaat ya…

      Reply
    • James says:
      3 tahun yang lalu

      Pertanyaan yang hanya akan dijawab “normatif” oleh Pak Ustad

      Reply
  9. Freeday says:
    3 tahun yang lalu

    Jika ada berita orang mati kelaparan atau suatu negara mengalami bencana kelaparan kita gk pernah tau berita itu benar atau tidak.. Krn bisa saja berita itu di buat hanya utk kepentingan penggalangan dana… Di arab saja yg sebagian besar gurun pasir tidak pernah ada yg mati kelaparan…

    Reply
  10. wira says:
    3 tahun yang lalu

    Segalanya tidak ada yg lepas dari kekuasaan Allah, ketika ketetapan sudah ditetapkan disitulah keimanan di uji. Yg mengalami, yg mendengar, yg menyaksikan dan seterusnya ….
    ucapan apa yg akan keluar, perbuatan apa yg akan dikerjakan, kepada siapa setiap pribadi mengadu, dan seterusnya. Setiap detik yg berlalu, setiap nikmat yg di dapat tiap manusia, setiap kesulitan, dll , ada peritungannya.
    Allah telah menjanjikan keadilan tanpa terkecuali, dan masih banyak apa2 yg telah dikabarkan Allah dlm ajarannya. Manakah yg kita pilih dr jalan kita dg kejadian2 itu? Hidup tak hanya di dunia.

    Jangan berandai2 tentang apa yg tidak terjadi, yg blm terjadi… tidak setiap detik, setiap pelosok, dan setiap detil2 kita mengetahui semuanya. Cukupkan dengan apa yg telah Allah kabarkan, cukupkan dengan yg Allah tetapkan.

    Ilmu agama setiap manusia wajib mempelajarinya, dengan itu kehidupan kita hadapi.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah