Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
14 Juli 2008
di Akidah
apakah kesyirikan di zaman ini lebih parah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang
  • Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya
  • Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya

Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.

Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’rof: 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam…!! Kenapa bisa demikian ?

Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang

Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka, “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’: 67). “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (Az-Zumar: 8).

Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata. Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ro’du: 14)

Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya

Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu…!! Allohu Akbar!

Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya

Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu. Dalilnya adalah firman Alloh, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (Az-Zukhruf: 87). Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31)

Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.

Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”

Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

***

Penulis: Ibnu ‘Ali Al-Barepany
Artikel www.muslim.or.id

ShareTweetPin5
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

- Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). - S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). - S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). - Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. - Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya
hukum menggunakan Sutroh saat sholat

Sholatlah Dengan Menggunakan Sutroh

Komentar 13

  1. haliza says:
    18 tahun yang lalu

    harap bacalah ini akan memberi munafaat kepada mu hai kawan

    Reply
  2. M. Gunawan says:
    17 tahun yang lalu

    Menurut saya, pemeluk Islam yg bercampur baur dengan kesyirikan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, celakanya kesyirikan-kesyirikan tersebut merupakan bagian dari Islam, sehingga jika tidak dilakukan merasa tidak sah atau afdhol.
    Biasanya kesyirikan itu berasal dari budaya atau kebiasaan turun temurun.
    Yang menjadi keprihatinan saya, masalah ini (setahu saya) tidak diatasi secara serius oleh lembaga-lembaga Islam, sekiranya pun ada, rasanya hanya sekedar tambal sulam. (mudah-mudahan saya keliru).
    Malah kalangan musuh-musuh Islam sudah menyebarkan bibit kerusakan aqidah ini dengan nama yang indah tapi menipu yaitu “melestarikan kearifan lokal”.
    Sudah lama saya ingin diskusi masalah ini, tapi saya tidak tahu kemana ?.
    Saya punya perkiraan kasar, penganut Islam yang suka mencampur adukan dengan kesyirikan sangat banyak sekali dan merata diseluruh wilayah Indonesia.

    Reply
  3. ilham says:
    17 tahun yang lalu

    bagaimana cara memberantas hal diatas pd masy yg sdh mendarah daging?

    Reply
  4. Muhammad Abduh Tuasikal says:
    17 tahun yang lalu

    @ Ilham
    Semoga Allah senantiasa memberi hidayah demi hidayah.

    Semuanya butuh usaha dengan mendakwahi masyarakat yang ada. Diawali dengan mempelajari agama ini dengan benar. Kita mulai rubah dari diri sendiri, keluarga dan orang terdekat. Dan usahakan setiap dakwah kita menjadikan aqidah dan tauhid sebagai prioritas utama.

    Semoga Allah mudahkan usaha kita sekalian.

    Reply
  5. hadi says:
    16 tahun yang lalu

    sangat bagus, dan semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. memang jaman sekarang umat islam sendiri dengan kesyirikan bukannya memerangi tapi justru bersahabat. Allohu A’lam apa karena kedangkalan aqidah dan ilmunya, semoga artikel ini sekali lagi membantu sudara-saudara kita yang belum mengenal kesyirikan dan bahayanya.

    Reply
  6. dudung says:
    16 tahun yang lalu

    Memang iblis laktatullah sangat pandai dalam menggelincirkan aqidah umat.
    Cukup dengan membuat suatu kesirikan yang halus dalam suatu amalan , sehingga sebagian umat percaya bahwa perbuatan itu bagus dalam pandangannya….Dan mereka pun membela pendapat mereka bila ada yang memperingati perbuatan siriknya.
    Setelah iblis dapat memperdayai sesorang dengan rusak tauhidnya…, maka iblis tidak perlu lagi menggoda orang tersebut untuk berbuat kemaksiatan…dan membiarkan orang tersebut mengumpulkan amal baiknya sebanyak banyaknya.
    Pada hari akhir baru orang itu sadar bahwa dia telah berbuat sirik,,, dosa yang tdk terampuni …. dan amalan baik sebesar gunung yang dibawanya sia sia.
    Oleh karena itu ambilah “tiket” keselamatan dengan menjaga aqidah kita dan berbuat amal baik didunia.

    Reply
  7. Ahmad says:
    16 tahun yang lalu

    Ust..Ana Ijin copy dan share artikelnya

    Reply
  8. ummu afifah says:
    16 tahun yang lalu

    jazaakalloh khoyron…Ustaadz ana ijin share ke blog ana..

    Reply
  9. novandi says:
    16 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum…afwan ustaz izinkan ana copas terus ana sebarkan ke semua masyarakat…syukron

    Reply
  10. cnk says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum…Ana cecep-bandung. Ana telah, sedang, akan terus mengcopy tulisan2 di http://www.muslim.or.id selama masih diijinkan. Ana masukkan ke blog Ana : cnk.wordpress.com…Jazakallohu Khoir

    Reply
  11. edy says:
    15 tahun yang lalu

    assallammu’alaikum
    ustad ana mohon izin share artikel artikelnya

    Reply
  12. agus santosa somantri says:
    14 tahun yang lalu

    akibat di tinggalkan nya kewajiban menuntut ilmu . Shingga kebodohan di mana mana . Mereka merasa cukup beragama hanya mengikuti tokoh nya ajengan nya habib nya dll . Mereka berfkir masa kiai habib ajengan salah mereka kan bkn orang sembarangan . Itulah diantaranya awal mereka trjrmus kdlm k musrikan . akibat jahil kmudian taklid .

    Reply
  13. Halim says:
    6 tahun yang lalu

    Semua itu terjadi karena kedangkalan aqidah ummat, seharus kita punya lebih banyak ustad yang ikhlas beri pendidikan, pengajian tentang aqidah, tauhid, agar bisa berantas penyakit ummat, Dimesjid mesjid.
    Membuka ponpes jangan pake biaya mahal masuknya, sehingga para orang tua tak mampu masukan anak nya.. Materi ponpes lebih fokus aqidah, tauhid, dari pada materi lain..
    Sehingga bila kluar ponpes anak sudah punya mental kuat, jauh dari syirik, KKN, bila jadi pejabat..
    Punya jiwa bela agama dan negara, tidak anti politik seperti skarang, yang pintar agama menjauhi kursi pemerintahan,sehingga Indonesia di kuasai orang yang tak punya agama, malah benci Islam.. Suburlah KKN, kemiskinan, penderitaan rakyat, akhirnya lari pesugihan dll. Biar cepat kaya,..pergi ke orang pintar biar sembuh, karena bpjs susah n mahal.. Islam harus bersatu, banyak mencetak ustad, kyiai.. Hadang kesyirikan dan pemurtadan oleh penyebar agama lain.. Wallahu aklam

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah