Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Perkataan Para Ulama tentang Nyanyian dan Musik

Muslim Atsary oleh Muslim Atsary
19 September 2014
di Fikih
Hukum Musik

Hukum Musik

Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • 1. Sa’id bin Musayyib
  • 2. Al-Qasim bin Muhammad
  • 3. Umar bin Abdil Aziz
  • 4. Fudhail bin ‘Iyadh
  • 5. Adh-Dhahak
  • 6. Yazid bin Al-Walid
  • 7. Asy-Sya’bi
  • 8. Imam Abu Hanifah
  • 9. Imam Malik bin Anas
  • 10. Imam Asy-Syafi’i
  • 11. Imam Ahmad bin Hambal
  • 12. Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari
  • 13. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  • 14. Ibnul Qayyim

1. Sa’id bin Musayyib

Beliau berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar membenci nyanyian dan menyukai rojaz (sejenis sya’ir).” (Riwayat Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, 11: 6: 19743 dengan sanad shahih. Dinukil dari Tahrim Alat Tharb, hal. 101)

2. Al-Qasim bin Muhammad

Seorang lelaki bertanya kepada beliau tentang nyanyian. Beliau menjawab, ‘Aku melarangmu darinya, aku membencinya untukmu.’ Lelaki itu bertanya lagi, ‘Apakah nyanyian itu haram?’ Beiiau menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, perhatikanlah! Jika Allah memisahkan antara al-haq dengan al-bathil, maka pada bagian mana Dia akan menghukumi nyanyian?’ (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 306)

3. Umar bin Abdil Aziz

Beliau menulis surat kepada guru anaknya, “Hendaklah pertama kali yang diyakini anak-anakku dari tata-kramamu adalah membenci nyanyian. Yang awalnya dari setan, akhirnya kemurkaan dari Ar-Rahman Jalla wa ‘Ala. Karena sesungguhnya telah sampai kepadaku dari para ulama yang terpercaya bahwa menghadiri alat-alat musik dan mendengarkan nyanyian-nyanyian serta menyukainya akan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air akan menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, sesungguhnya menjaga hal itu dengan tidak mendatangi tempat-tempat tersebut, lebih mudah bagi orang yang berakal, daripada bercokolnya kemunafikan di dalam hati.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 306)

4. Fudhail bin ‘Iyadh

Beliau berkata, “Nyanyian adalah mantra setan.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 307)

5. Adh-Dhahak

Beliau berkata, “Nyanyian akan merusak hati dan menjadikan Allah murka.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 307)

6. Yazid bin Al-Walid

Beliau berkata, “Wahai Bani Umayyah, jauhilah nyanyian sesugguhnya ia akan menambah syahwat dan merusak kesopanan. Sesungguhnya nyanyian itu benar-benar mewakili khamr, pelakunya akan melakukan apa yang dilakukan pemabuk.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 307)

7. Asy-Sya’bi

Isma’il bin Abi Khalid meriwayatkan bahwa Asy-Sya’bi membenci upah penyanyi wanita, dan berkata, “Aku tidak suka memakannya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 7: 9: 2203 dengan sanad yang shahih. Dinukil dari Tahrim Alat Tharb, hal. 10)

Beliau juga berkata, “Penyanyi dan orang yang menikmati nyanyian itu dilaknat.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 306)

8. Imam Abu Hanifah

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata, “Abu Hanifah membenci nyanyian, walaupun beliau membolehkan minum nabidz (sari buah yang diminum). Beliau menganggap mendengarkan nyanyian termasuk dosa. Demikian juga pendapat suruh penduduk Kufah (yakni para ulamanya): Ibrahim, Asy-Sya’bi, Hammad, Sufyan Ats-Tsauri, dan lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka dalam hal itu. Dan di antara penduduk Bashrah (yakni para ulamanya), tidak dikenal adanya perbedaan pendapat tentang kebencian dan larangan nyanyian, kecuali yang diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin Al-Hasan Al-Anbari.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 300-301)

9. Imam Malik bin Anas

Beliau ditanya tentang nyanyian, beliau menjawab, “Sesungguhnya yang melakukannya di kalangan kita hanya orang-orang fasik.” (Riwayat Al-Khallal di dalam Al-Amru bil Ma’ruf dan Ibnul Jauzi di dalam Talbis Iblis. Dinukil dari Tahrim Alat Tharb, hal. 99-100)

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata, “Adapun Malik bin Anas, maka beliau melarang nyanyian dan mendengarkannya. Dan beliau berkata, ‘Jika seseorang membeli budak wanita, lalu dia mendapatinya sebagai penaynyi, maka dia berhak mengembalikannya dengan alasan cacat.’ Dan ini merupakan pendapat seluruh penduduk Madinah, kecuali Ibrahim bin Sa’ad saja.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 300)

10. Imam Asy-Syafi’i

Beliau berkata, “Nyanyian merupakan perkara melalaikan yang dibenci, menyerupai kebatilan. Barangsiapa memperbanyaknya, maka dia seorang yang bodoh. Persaksiannya ditolak.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 301)

11. Imam Ahmad bin Hambal

Nyanyian di zaman beliau adalah dengan melantunkan qasidah-qasidah zuhud, namun setelah orang-orang melagukannya, riwayat dari beliau berbeda-beda. Abdullah bin Ahmad, putra beliau meriwayatkan perkataan beliau, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, aku tidak menyukainya.”

Isma’il bin Ishaq meriwayatkan bahwa beliau ditanya tentang mendengar qasidah-qasidah, maka beliau menjawab, “Aku membencinya, itu bid’ah, janganlah bergaul dengan mereka.”

Abul Harits meriwayatkan bahwa beliau berkata, “Taghbir itu bid’ah.” Ada orang yang berkata kepada beliau, “Hal itu dapat melembutkan hati.” Beliau berkata, “Itu bid’ah.”

Selain itu ada riwayat-riwayat dari beliau bahwa nyanyian tidak mengapa. (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 297-299)

Ibnul Jauzi berkata, “Dari semua itu menjadi jelas bahwa dua riwayat dari Imam Ahmad tentang kebencian terhadap nyanyian atau tidak berkaitan dengan qasidah-qasidah zuhud yang dinyanyikan. Adapun nyanyian yang dikenal di zaman ini (yaitu zaman Ibnul Qayyim, maka hal itu terlarang menurut beliau.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 300)

12. Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari

Beliau berkata, “Ulama seluruh negeri telah sepakat atas kebencian terhadap nyanyian, dan melarangnya. Dan yang menyelisihi al-jama’ah hanyalah Ibrahim bin Sa’id dan ‘Ubaidullah Al-Anbari.” (Muntaqa Nafis min Talbis Iblis, hal. 301)

13. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Beliau berkata, “Sesungguhnya imam madzhab yang empat bersepakat tentang keharaman al-ma’azif, yaitu alat-alat hiburan, seperti ‘ud (banjo), dan semacamnya. Seandainya seseorang merusaknya, maka menurut mereka (imam madzhab yang empat) orang tersebut tidak diharuskan mengganti bentuk kerusakan. Bahkan menurut mereka, haram memilikinya.” (Minhajus Sunnah, 3: 439. Dinukil dari Tahruim alat Tharb, hal. 99)

14. Ibnul Qayyim

Beliau berkata, “Sisi penunjukkan dalil keharaman alat-alat musik bahwa al-ma’azif adalah alat-alat hiburan semuanya, tidak ada perselisihan di antara ahli bahasa di dalam hal ini. Seandainya hal itu halal, niscaya Nabi tidak mencela mereka terhadap penghalalannya. Dan ketika beliau merangkaikan penghalalan al-ma’azif dengan penghalalan khamr dan zina. Dan beliau telah mengancam orang-orang yang menghalalkan al-ma’azif dengan dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi, dan mengubah mereka menjadi kera dan babi. Walaupun ancaman ini terhadap seluruh perbuatan-perbuatan ini, tetapi pada masing-masing terdapat celaan dan ancaman.” (Ighatsatul Lahfan, 1: 260-261, dinukil dari Tahrim alat Tharb, hal. 95)

***

Penulis: Muslim Atsary

Artikel Muslim.or.id

 

Sumber: Disalin dari buku “Adakah Musik Islami?“, karya Ustadz Muslim Atsary, hal. 35-41.

ShareTweetPin1
Muslim Atsary

Muslim Atsary

Artikel Terkait

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
30 Juni 2026
0

Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus...

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Artikel Selanjutnya
Hukum Musik

Perkataan Para Ulama Tentang Nyanyian dan Musik (2)

Komentar 1

  1. Syarif Rangkuti says:
    11 tahun yang lalu

    izin copas

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah