fbpx

Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim Dari Sahabat

Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim Dari Sahabat

Syi’ah mengatakan: “cobalah jawab, mana yg harusnya lebih tahu tentang Islam yang dibawa Nabi, keluarga beliau, ataukah para sahabat beliau?! Bukankah seharusnya keluarga beliau adalah orang yang paling banyak tahu tentang Islam?!

Kita katakan:

  1. Kalau kaidah ini memang benar, tentunya tidak ada kerabat Nabi –shallalahu alaihi wasallam– yg masuk neraka, namun ternyata ada, diantaranya paman beliau: Abu lahab dan yang lainnya.
  2. Orang yang paling banyak tahu tentang Islam adalah orang yg paling banyak bersama beliau dan paling banyak mengambil ilmu dari beliau, baik dia itu dari keluarga beliau atau yang lainnya.

    Ketika di rumah, maka keluarga yang sedang bersama beliau yang lebih tahu. Ketika di luar rumah, maka orang yang sedang bersama beliau yang lebih tahu.

  3. Keluarga beliau mencakup isteri beliau, hampir setiap hari beliau bersama isterinya, lalu mengapa mereka dicampakkan oleh kaum syiah?
  4. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– tdk membedakan dlm menyampaikan Risalah Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan Sahabat Ali radhiallahu anhu: “Tidak ada kitab (khusus) yg kami baca, selain kitabullah dan apa yang ada dlm lembaran ini, di dalamnya ada aturan hukum qishash dan (ketentuan) umur-umur onta“, lalu beliau menyebutkan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhori)
  5. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– lebih banyak menyampaikan Islam di luar rumah, baik di masjid beliau ataupun di tempat lain, sehingga tidak otomatis keluarga beliau lebih tahu ilmu daripada orang lain.
  6. Sebagaimana telah biasa terjadi, orang yang paling tahu tentang ilmu seseorang adalah orang yang paling banyak mengambil ilmu dari orang tersebut, dan itu tidak mengharuskan dari keluarganya.

    Bahkan seringkali seorang murid kesayangan atau teman akrab seseorang lebih banyak tahu tentang ilmu orang tersebut daripada keluarganya sendiri.

  7. Ajaran yang murni dari para Ahlul Bait tidak bertentangan dengan ajaran para Sahabat Nabi, ajaran mereka sama dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Sungguh ‘mencintai Ahlul Bait’ adalah tuntutan iman kita. Tapi mencintai mereka tidak mengharuskan kita meninggalkan atau membenci atau merendahkan para sahabat Nabi lainnya. Karena mereka adalah satu generasi yang saling melengkapi dan tidak mungkin dipisahkan.

Jika mereka mengaku bermadzhab Ahlul Bait, maka bolehlah kita mengaku bermadzhab Ahlul Bait dan Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Wallahu a’lam.

Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

🔍 Penulisan Masya Allah, Hukum Sunat Bayi Perempuan, Keras Hati, Tanya Jawab Masalah Agama Islam, 2 Kalimah Syahadat

Print Friendly, PDF & Email

About Author

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Alumnus S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Fakultas Syari’ah. S2 di Universitas yang sama, jurusan Ushul Fikih. S3 di universitas dan jurusan yang sama.

View all posts by Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A. »

One Comment

Leave a Reply