Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim Dari Sahabat

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A. oleh Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.
26 Agustus 2014
di Manhaj
Syubhat Syi’ah

Syubhat Syi’ah

Share on FacebookShare on Twitter

Syi’ah mengatakan: “cobalah jawab, mana yg harusnya lebih tahu tentang Islam yang dibawa Nabi, keluarga beliau, ataukah para sahabat beliau?! Bukankah seharusnya keluarga beliau adalah orang yang paling banyak tahu tentang Islam?!”

Kita katakan:

  1. Kalau kaidah ini memang benar, tentunya tidak ada kerabat Nabi –shallalahu alaihi wasallam– yg masuk neraka, namun ternyata ada, diantaranya paman beliau: Abu lahab dan yang lainnya.
  2. Orang yang paling banyak tahu tentang Islam adalah orang yg paling banyak bersama beliau dan paling banyak mengambil ilmu dari beliau, baik dia itu dari keluarga beliau atau yang lainnya.Ketika di rumah, maka keluarga yang sedang bersama beliau yang lebih tahu. Ketika di luar rumah, maka orang yang sedang bersama beliau yang lebih tahu.
  3. Keluarga beliau mencakup isteri beliau, hampir setiap hari beliau bersama isterinya, lalu mengapa mereka dicampakkan oleh kaum syiah?
  4. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– tdk membedakan dlm menyampaikan Risalah Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan Sahabat Ali radhiallahu anhu: “Tidak ada kitab (khusus) yg kami baca, selain kitabullah dan apa yang ada dlm lembaran ini, di dalamnya ada aturan hukum qishash dan (ketentuan) umur-umur onta“, lalu beliau menyebutkan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhori)
  5. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– lebih banyak menyampaikan Islam di luar rumah, baik di masjid beliau ataupun di tempat lain, sehingga tidak otomatis keluarga beliau lebih tahu ilmu daripada orang lain.
  6. Sebagaimana telah biasa terjadi, orang yang paling tahu tentang ilmu seseorang adalah orang yang paling banyak mengambil ilmu dari orang tersebut, dan itu tidak mengharuskan dari keluarganya.Bahkan seringkali seorang murid kesayangan atau teman akrab seseorang lebih banyak tahu tentang ilmu orang tersebut daripada keluarganya sendiri.
  7. Ajaran yang murni dari para Ahlul Bait tidak bertentangan dengan ajaran para Sahabat Nabi, ajaran mereka sama dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Sungguh ‘mencintai Ahlul Bait’ adalah tuntutan iman kita. Tapi mencintai mereka tidak mengharuskan kita meninggalkan atau membenci atau merendahkan para sahabat Nabi lainnya. Karena mereka adalah satu generasi yang saling melengkapi dan tidak mungkin dipisahkan.

Jika mereka mengaku bermadzhab Ahlul Bait, maka bolehlah kita mengaku bermadzhab Ahlul Bait dan Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Wallahu a’lam.

—

Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin
Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Alumnus S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Fakultas Syari’ah. S2 di Universitas yang sama, jurusan Ushul Fikih. S3 di universitas dan jurusan yang sama.

Artikel Terkait

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
9 Juli 2026
0

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim...

Benarkah Kaidah: “Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan”?

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
18 Mei 2026
0

Tersebar di tengah masyarakat perkataan: “Semakin banyak ilmu, akan semakin sedikit menyalahkan.” Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi: مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ...

Menjawab Syubhat: “Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil”

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
17 Mei 2026
0

Terkadang ketika kita menasihati seseorang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunah, biasanya...

Artikel Selanjutnya
Rukun Islam

Penjelasan Lengkap Hadis Rukun Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah