Kajian Ramadhan 38: Bersungguh-sungguh dalam Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir

Kajian Ramadhan 38: Bersungguh-sungguh dalam Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir

Biasanya ketika di akhir-akhir bulan Ramadhan, semangat ibadah semakin turun. Itulah yang kita lihat dari kondisi kaum muslimin di akhir-akhir Ramadhan. Ada apa gerangan? Padahal keutamaan Ramadhan yang paling besar adalah di sepuluh hari terakhirnya. Karena pada malam-malam akhir terdapat malam Lailatul Qadar.

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).

Hadits di atas menunjukkan perintah untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Hadits tersebut menunjukkan pula bahwa sudah semestinya seseorang perhatian dalam ibadah pada waktu-waktu yang mulia.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Ini adalah dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan seluruhnya. Untuk malam-malam lainnya tidak beliau praktekkan seperti itu. Untuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini, beliau menghidupkannya hingga Shubuh. Tujuannya adalah untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Lebih-lebih lagi pada tujuh hari yang terakhir. Pada malam lailatul qadar ditetapkan takdir untuk setahun. Pada malam tersebut pula disebut lebih baik daripada 1000 bulan. Dan siapa yang menghidupkan malam tersebut kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 75).

Semoga Allah berkahi hari-hari terakhir kita di bulan Ramadhan.

Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

View all posts by Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. »