fbpx

Sanggahan Terhadap Perkataan: “Yang Penting Ada Imamnya”

Sanggahan Terhadap Perkataan: “Yang Penting Ada Imamnya”

Seringkali kita dengar perkataan: “dalam masalah agama, yg penting kita punya imam dalam pendapat ini, sehingga di akhirat nanti, apabila pendapat ini salah, maka imam itulah yg akan menanggung salahnya, sehingga dengan begitu kita akan aman“.

Orang seperti ini, hakikatnya hanya ingin enaknya saja. Soal pahala ia ingin dapat juga. Adapun soal dosa, ia lempar kepada orang lain, padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Orang yg berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Al Faathir: 18)

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ

Ketika para PEMIMPIN yg diikuti itu BERLEPAS DIRI dari para PENGIKUTNYA, (ketika) mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali, berkatalah para pengikut itu: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan BERLEPAS DIRI dari mereka, sebagaimana BERLEPAS DIRI dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi SESALAN bagi mereka” (QS. Al Baqarah: 166-167).

Allah Ta’ala juga berfirman:

حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Sehingga apabila mereka masuk (ke neraka) semuanya, berkatalah mereka yg masuk belakangan kepada mereka yg masuk lebih dulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yg berlipat ganda dari neraka”. Allah menjawab: “MASING-MASING akan mendapat SIKSAAN yg berlipat ganda, namun kalian tidak mengetahui”. (QS Al A’raf: 38).

Dan masih banyak lagi ayat senada dengan hal ini, yang intinya kitalah nanti yang akan mempertanggung jawabkan amalan kita sendiri, bukan orang lain. Maka hendaklah kita berhati-hati, dan ikutlah dalil kemana pun ia menuntunmu!

Semoga Allah menunjuki kita jalan yang lurus, dan memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk meraih ridha dan firdausNya… amin.

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.
Artikel Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
artikel corona
MPD Banner

About Author

Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Alumnus S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Fakultas Syari’ah. S2 di Universitas yang sama, jurusan Ushul Fikih. S3 di universitas dan jurusan yang sama.

View all posts by Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A. »

3 Comments

  1. Yak, memang begitu ustadz beberapa orang mengatakan.

  2. hamas sekayu

    Assalammualaikum,

    Ustadz. Mohon bimbingannya. Bagaimanakah dengan “dosa” orang yang berpegang pada suatu pendapat pada permasalahan ikhtilaf, jika ternyata dikemudian hari ternyata pendapatnya atau orang lain ternyata salah?

    Contoh : Ana sempat berdiskusi mencari kebenaran (dengan segala keterbatasan ilmu) dalam hal ikhtilaf Puasa Arafah dan Idul Adha 1435 H, apakah ikut Arab Saudi atau ikut Pemerintah?
    Ana sendiri ikut pemerintah yakni Idul Adha pd 5 Okt 2014 M dengan mengikuti dalil-dalil Al-Qur’an dan As-sunnah yang ada, yang dipilih oleh Para Ustadz Salafy yang merujuk pada fatwa Syaikh Utsaimin dan wajibnya taat kepada pemimpin sebagai Aqidah Ahlus Sunnah Wal jamaah (ushul sunnah – imam ahmad) ; sedangkan teman ana 4 Okt 2014 ikut Arab Saudi dengan dalil-dalil yang juga mendukungnya serta fatwa2 Syaikh bin Baz, Lajnah Daimah dan ulama2 yg mendukung.

    Pada akhir diskusi, ana sempat melontarkan, “….akh, kalau ana ikut pemerintah lebih aman, kalaupun nanti ternyata salah, biarlah pemerintah (amirul mukminin) yang menanggung dosa.” Kemudian teman ana bilang, mohon antum bawakan dalil kalau dosa bisa ditanggung oleh orang lain. Ana jadi bingung ustadz.

    Bagaimana keterangan ketika harus taat kepada pemimpin merupakan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yg bukan hanya ana saja yang mengikuti tapi juga Ulama-ulama Salafy, Nu dan lainnya yang mengikuti keputusan Idul Adha 5 Okt 2014 walaupun ternyata mereka bersalah, tapi semua orang jadi ikut berdosa ? Kalau memang begitu, buat apa kita berikhtilaf masalah ini. Tinggal ikut Arab Saudi saja, kan selesai ikhtilaf. Kita terlepas dari dosa. Tapi apakah segampang itu kita menimbang permasalahan ini? mohon penjelasan yang rinci Ustadz, agar jelas bagi kami.

    Jazakallahu khoiron katsiron.

    Abu Muhammad / Hamas Sekayu

Leave a Reply