Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Dosa Menyontek Saat Ujian

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. oleh Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
12 April 2014
di Akhlak dan Nasihat
menyontek
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Islam Melarang Berbuat Curang dan Berbohong
  • Akibat Berbuat Curang Saat Ujian
  • Berakibat Buruk pada Ijazah dari Hasil Contekan
  • Mending Nilai Pas-Pasan Tetapi Jujur

Sebentar lagi adik-adik kita yang duduk di bangku SMA akan menjalani Ujian Nasional (UN). Budaya jelek yang masih laris di tengah-tengah mereka adalah menyontek atau membawa “kepekan” kertas berisi rangkuman saat masuk ke ruang ujian.

[lwptoc]

Islam Melarang Berbuat Curang dan Berbohong

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas ada kisahnya ketika seorang pedagang mengelabui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak jujur dalam jual belinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)

Ini berarti setiap orang yang menipu, berbohong, berbuat curang, mengelabui dikatakan oleh Nabi bukanlah termasuk golongan beliau. Artinya, diancam melakukan dosa besar. Menyontek pun demikian.

Baca Juga: Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Akibat Berbuat Curang Saat Ujian

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Dalam hadits lainnya disebutkan tiga tanda munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47).

Akibat mencontek pun dapat dirasakan jangka pendek. Siswa menjadi tidak pede dengan jawabannya. Padahal barangkali jawabannya lebih benar daripada milik temannya.

Menyontek juga membahayakan diri sendiri karena bila ketahuan guru, bisa dipastikan nilai 0. Bagi yang dicontek, tidak menyesalkah bila yang menyontek mendapat hasil ujian yang lebih tinggi daripada Anda yang dicontek? Artinya, kerjasama saat di ‘medan perang’ ujian adalah kesia-siaan, karena teman Anda hanya memanfaatkan diri Anda, dan Anda tidak sadar telah dimanfaatkan.

Hal ini sering terjadi. Yang namanya kompetisi, maka setiap peserta harus bersaing, bukannya malah bekerja sama. Karena yang namanya juara itu hanya dimiliki oleh satu orang, bukan tim / kolektif.

Adapun bahaya jangka panjang seperti kata pepatah, “Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya kelak.” Kalau itu adalah kejelekan yang ditanam, maka tunggu hasil jeleknya kelak. Bila seorang siswa terbiasa menyontek, maka kebiasaan itulah yang akan membentuk diri.

Beberapa karakter yang dapat ‘dihasilkan’ dari kegiatan menyontek antara lain: mengambil milik orang lain tanpa ijin, menyepelekan, senang jalan pintas dan malas berusaha keras, dan kehalalan pekerjaan dipertanyakan.

Bisa dipastikan, saat siswa sudah dewasa dan hidup sendiri, tabiat-tabiat hasil perilaku menyontek mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencuri, korupsi, manajemen buruk, pemalas tapi ingin jabatan dan pedapatan tinggi.

Baca Juga: Bercanda Tetapi Berbohong

Berakibat Buruk pada Ijazah dari Hasil Contekan

Akibat menyontek itu sendiri yaitu jika pekerjaan diperoleh dari ijazah hasil menyontek, maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Seorang hamba boleh jadi terhalang rizki untuknya karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ahmad 5: 282, sanadnya dhoif sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Syaikh Sholeh Al Munajjid ditanya, “Ada orang yang bekerja dengan sebab ijazah sarjana yang palsu. Ada juga yang memiliki ijazah sarjana yang asli namun pernah menyontek pada salah satu ujian semesteran. Ada juga yang melengkapi persyaratan kerja berupa ijazah ketrampilan atau profesi palsu. Mereka semua telah bekerja dan menguasai pekerjaannya dengan baik. Apa yang harus dilakukan mereka bertiga setelah mereka bertaubat? Perlu diketahui bahwa sebagian di antara mereka PNS namun ada juga yang bekerja di perusahaan swasta.”

Pertanyaan di atas telah kami sampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan jawaban beliau adalah sebagai berikut, “Jika pondasi rusak maka bangunannya tentu rusak. Kewajiban tiga jenis orang di atas adalah mengulang ujian untuk mendapatkan ijazah yang dengan sebab ijazah tersebut mereka bisa mendapatkan gaji. Namun seandainya saat ujian semester terakhir orang tersebut tidak menyontek dan menyontek hanya dilakukan pada semester-semester sebelumnya maka aku berharap orang tersebut tidak berdosa disebabkan gaji yang didapatkan dengan ijazah semacam itu”.

Pertanyaan, “Namun nilai yang diberikan di ijazah atau di transkip nilai adalah nilai untuk semua mata kuliah yang diajarkan selama masa belajar”.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Jika demikian orang tersebut tidak boleh menerima gajinya sehingga dia mengulang semua ujian tanpa contekkan”.

Pertanyaan, “Namun realitanya, andai orang tersebut menghadap ke pihak universitas dan menyampaikan keinginannya untuk melakukan ujian ulang maka pihak universitas akan mengatakan bahwa sistem pembelajaran yang ada tidak mengizinkan hal semacam itu”.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Jika demikian hendaknya orang tersebut keluar dari tempat kerjanya kemudian mencari pekerjaan baru sesuai dengan ijazah sekolah yang tidak tercemar dengan menyontek atau melakukan kecurangan ketika ujian semisal ijazah SMA-nya”.

Pertanyaan, “Bagaimana jika pegawai tersebut mengatakan bahwa dia telah menguasai pekerjaan dengan baik dan kemampuannya dalam bekerja menyebabkan dia berhak untuk bekerja meski tidak memiliki ijazah?”

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Jika demikian, hendaknya dia melapor ke bagian personalia tempat dia bekerja dan menyampaikan bahwa realita senyatanya dari ijazahnya adalah demikian dan demikian. Jika pihak tempat dia bekerja mengizinkan orang tersebut untuk tetap bekerja di tempat tersebut dengan pertimbangan bahwa dia telah menguasai pekerjaan dengan baik maka aku berharap moga dia tidak berdosa jika tetap bekerja di tempat tersebut”. (Sumber: Ustadzaris.com yang diterjemahkan dari Saaid.Net)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya, “Ada seseorang yang bekerja dengan ijazah namun saat ujian ia telah berbuat curang (bohong) dan berhasil meraih ijazah tersebut. Adapun saat ini ia bekerja dengan baik karena hasil dari ijazah tersebut. Apakah gajinya itu halal atau haram?”

Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Tidak mengapa gajinya tersebut insya Allah. Namun ia punya kewajiban untuk bertaubat karena dahulu telah berbuat curang saat ujian. Pekerjaan yang ia tempuh saat ini tidaklah bermasalah. Namun ia telah berdosa karena melakukan kecurangan di masa silam. Kewajibannya adalah bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 31: 19).

[su_note note_color=”#deeeff”]Namun pengasuh Fatwa Islamweb mengatakan setelah menyebutkan fatwa di atas, “Hal ini berbeda jika pekerjaan tersebut disyaratkan harus dengan ijazah yang sah (yang benar-benar valid dari hasil usaha sendiri, bukan berbuat curang). Jika dipersyaratkan ijazah seperti itu, maka ia tidak boleh mengajukan lamaran pada pekerjaan seperti tadi. Karena setiap muslim harus memenuhi perjanjian yang telah ia sepakati. (Sumber: Fatwa.Islamweb)[/su_note]

Baca Juga: Sudah Jujurkah Kita?

Mending Nilai Pas-Pasan Tetapi Jujur

Mending nilai pas-pasan daripada berbuat curang dan berbohong dengan menyontek. Prinsip inilah yang harus ditanamkan oleh orang tua pada anak-anaknya. Harusnya orang tua mengajarkan kepada anak-anak supaya jujur dan mencari ridho Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari ridho Allah sedangkan manusia murka ketika itu, maka Allah akan bereskan urusannya dengan manusia yang murka tersebut. Akan tetapi barangsiapa mencari ridho manusia, namun membuat Allah murka, maka Dia akan serahkan orang tersebut kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Begitu pula anak harus pahami bahwa membahagiakan orang tua dengan lulus dalam ujian tidak mesti dengan jalan yang diharamkan, tempuhlah jalan yang Allah ridhoi.

Semoga Allah memudahkan adik-adik kita yang sebentar lagi menempuh ujian nasional. Moga Allah mendatangkan kemudahan dan juga memberikan taufik kepada mereka untuk berlaku jujur dan menjauhi kecurangan.

Baca Juga: April Mop, Hari Melegalkan Dusta

—

@ Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Sabtu, 12 Jumadats Tsaniyah 1435 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

- Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). - S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). - S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). - Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin 'Abdullah bin Hamad Al 'Ushoimi dan ulama lainnya. - Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
Jilatan Anjing

Fatwa Ulama: Jika Anjing Menjilat Selain Bejana, Apakah Dicuci 7 Kali?

Komentar 38

  1. Ilman says:
    11 tahun yang lalu

    Salam, mau nanya. Apakah sama berlakunya penjelasan diatas dengan munculnya bocoran kunci jawaban yg oknumnya sendiri mrpkn pihak sekolah? Pasalnya ada gosip disekolah saya ada oknum jual kunci jawaban. Dan parahnya lagi katanya pihak sekolah sendiri jg ikut campur tangan? Itu bgmn ya akh?

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      11 tahun yang lalu

      Pihak sekolah turut berdosa.

      Reply
    • TomyGirl(Nama samaran) says:
      7 tahun yang lalu

      Assalamualaikum.

      Maaf mengganggu ya. Karena saya ada masalah. Begini, dulu saya peringkat 1 pada saat semester 1. Tapi pada saat semester 2 temanku semua suka menyontek. Tapi saya sdh kasih tau, kalo menyontek itu tidak boleh. Nanti ibu/bapak guru marah.

      Tapi sayang. Mereka ngak mau dengar. Dan saya memiliki 1 masalah lagi. Yaitu ada temanku yg pemalas menulis. Dia agama islam dan dia perempuan. Saya benci dia karna sikapnya. Sikapnya suka mengganggu orang. Suka beribut di kelas. Dan satu hal lagi. Dia keras kepala.

      Tolong bantuan. Gimana cara agar temanku tidak suka menyontek dan keras kepala?

      Terima kasih. Mohon di jawab.

      Assalamualaikum.

      Reply
      • Yulian Purnama says:
        7 tahun yang lalu

        Wa’alaikumussalam, sampaikan saja artikel di atas

        Reply
  2. Raihana says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum,

    Subhanallah, artikel ini sangat bagus sekali…menambah pengetahuan saya. Terimakasih

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, Barakallahu fikum

      Reply
  3. Muhammad Maulana Ahsan says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum wr wb

    Mau tanya pak,, misalnya ni kalau saya dulu pernah melakukan kecurangan baik dalam diri sendiri atau kepada orang lain,dan saya telah mengetahui bahwa itu salah,apa yang harus saya lakukan :o
    Apalagi kalau kecurangan terhadap orang lain :(

    Terima kasih sebelumnya
    Wassalamu’alaikum wr wb

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Minta maaf dan banyak taubat.

      Reply
  4. Vita Lastriana Candrawati says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum Wr.Wb..
    Saya mau tanya pak,seandainya saat ujian saya tidak mencontek…namun teman” saya bertanya ke saya tentang jawaban soal ujian..
    hal yg seharusnya saya lakukan bagaimana pak,jika saya memberitahu jawaban saya takut dosa…namun jika saya tidak memberitahu mereka pasti mengatai saya sombong atau pelit soal jwban lah…
    mohon solusinya pak mengenai hal ini,,,terima kasih

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh, sikap yg benar tetap tidak memberitahu jawabannya, namun tolaklah dg sopan dan iringi dg akhlak baik yg lainnya : suka membantu dlm yg baik, suka shadaqah, ramah dan sopan, suka mendo’akan dan suka kerjasama dlm kebaikan, in sya Allah mereka akan paham bahwa Anda bukan sombong dan pelit, namun tdk mau dimurkai Allah, buktinya Anda suka membantu jika dalam urusan yg baik. Jgn lupa do’akan mereka. Jgn dirisaukan penilaian manusia yg salah, yg penting penilaian Allah.

      Reply
      • Vita Lastriana Candrawati says:
        11 tahun yang lalu

        Syukron Ustadz….Jazakallahu
        khairan

        Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumussalam. Tidak boleh membantu dalam dosa.

      Sent from my iPad Air

      Reply
  5. Jannah says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamualaikum ustad.

    Bagaimana jika kita yg bertanya pada orang lain jawabannya?

    Trimakasih sebelumnya. Wassalam

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, seluruh hasil pengerjaan ujian yg ada unsur penipuan, tidak asli hasil kerjaan sendiri, maka ini haram

      Reply
      • Jannah says:
        11 tahun yang lalu

        Syukron .. jazakallahu khairan ustad.

        Reply
  6. Nanda says:
    7 tahun yang lalu

    Assalamualaikum ustadz
    Mau bertanya apabila dulu kita pernah berbuat curang untuk mendapatkan nilai, kemudian dia ingin melanjutkan studi. Apa kah boleh menggunakan ijazah nya terdahulu?

    Reply
  7. XXX says:
    7 tahun yang lalu

    Izin ngepost

    Reply
  8. Djulianoor says:
    6 tahun yang lalu

    Saya sendiri sering melihat teman-teman saya meyontek, membuka buku saat ulangan dan bekerja sama saat ulangan. Yang lucunya lagi orang-orang yang curang saat ulangan malah medapatkan nilai yang bagus dan peringkat yang bagus. Saya hanya bisa bersabar menghadapinya.

    Reply
  9. name says:
    6 tahun yang lalu

    apakah ijazah hasil contekan haram ??

    Reply
  10. name says:
    6 tahun yang lalu

    bagaimana jika dulu saat ujian kita pernah menyontek , apakah dengan bertaubat sudah cukup ? atau harus mengulang ujiannya ? mohon penjelasannya, syukron

    Reply
    • Erwin Arnanda says:
      4 tahun yang lalu

      Jika ada pertanyaan, bisa gabung grup tanya jawab

      KHUSUS IKHWAN
      https://t.me/tanyamuslimorid

      KHUSUS AKHWAT
      https://t.me/tanyamuslimahorid

      Barakallahu fiikum

      Reply
  11. anggi nur hidayat says:
    6 tahun yang lalu

    apakah harus mengembalikan gaji yang pernah di terima karena menggunakan ijazah hasil mencotek ini?

    Reply
    • anggi nur hidayat says:
      6 tahun yang lalu

      dan apakah berdosa jika melamar hanya dengan menggunakan surat keterangan lulus hasil nyontek tersebut

      Reply
    • Erwin Arnanda says:
      4 tahun yang lalu

      Jika ada pertanyaan, bisa gabung grup tanya jawab

      KHUSUS IKHWAN
      https://t.me/tanyamuslimorid

      KHUSUS AKHWAT
      https://t.me/tanyamuslimahorid

      Barakallahu fiikum

      Reply
  12. Chairul Umam says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamu ‘alaikum ustadz.. kalau mencontek dalam keadaan tidak tahu hukum seperti itu ustadz (waktu sd,mts..), ?apakah masih berpengaruh dengan gaji dan hal lainnya (mendaftar kuliah dst)..
    Bagaimana jika ijazah tersebut digunakan untuk mendaftar ke jenjang pendidikan berikutnya, apakah masih terus berlaku keharamannya walapun kita mendaftar di jenjang pendidikan berikutnya namun kita sdh tidak menyontek lagi -bi idznillah- ?

    Reply
  13. Khair says:
    6 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum. Saya mau bertanya. Pernah beberapa kali dalam ujian atau ulangan harian, beberapa guru membolehkan mencontek asalkan tidak meribut. Apakah siswa yang mencontek karena dibolehkan gurunya akan berdosa?

    Reply
  14. Ahmad says:
    6 tahun yang lalu

    Kalau misalnya saya latihan soal dari internet, tetapi saat ulangan ternyata soalnya sama persis apakah itu sama menyontek juga?

    Reply
  15. Sulis says:
    6 tahun yang lalu

    Jadi untuk dimasa pandemi gini, ujian dilaksanakan online dan saya mulai menyontek, dan nilainya direkap dengam nilai tugas yang saya kerjakan sendiri, dan tentu jadi nilai diraport. Apakah ilmu saya masih barokah atau tidak ustadz, karena tugas saya insyaAllah jujur namun ujian saya mencontek ???
    Terimakasihh

    Reply
  16. Unknown says:
    5 tahun yang lalu

    Ustadz saya mau bertanya, saya menyontek sejak smp, sekarang saya kelas 12 SMA semester terakhir, saya belum ujian nasional dan ujian sebagainya tapi mulai hari ini saya tidak ingin menyontek. Apakah boleh ustadz kalo kita bertanya cara mengerjakan nya tapi tidak menyontek secara keseluruhan?. Misalnya saya lulus dari sma ini dan saya berusaha agar ujian nasional atau ujian lainnya tidak menyontek, apakah pekerjaan saya nanti tetap haram, saya takut ustadz, apakah cukup bertobat atau ada yg lain agar dosa menyontek diampuni sama allah swt.? Oh iya saya jg mau daftar ptn nah jalurnya itu pake nilai raport sedangkan nilai raport saya hasil dari contekan jadi gimana itu ustadz? Maaf banyak bertanya ustadz semoga dijawab

    Reply
  17. name says:
    5 tahun yang lalu

    Terima kasih sudah mengingatkan saya kembali untuk tetap jujur. sekarang lagi ujian online dan kebanyakan temen menyontek. Terima kasih.

    Reply
  18. V says:
    5 tahun yang lalu

    Izin bertanya ustadz

    Saya seorang pelajar SMA. Sekolah saya menerapkan peraturan, jika salah satu nilai ujian di bawah 60, maka dinyatakan tidak lulus

    Pertanyaannya, apakah saya harus tetap jujur, meskipun nantinya saya tidak lulus? Karena saya sendiri mengetahui bahwa kemampuan saya sangat kurang di mata pelajaran tertentu

    Terima kasih

    Reply
  19. an says:
    5 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz

    Izin bertanya, dulu saat ujian sekolah terakhir SMA yang menentukan kelulusan, saya menyontek pada beberapa mata pelajaran ujian yang jika salah satu nilai di bawah 60, tidak lulus. Setelah itu, ternyata nilai saya tidak ada yang di bawah 60 termasuk mata pelajaran yang dari hasil menyontek.

    Pertanyaannya, apakah kelulusan saya sah? Dan apakah saya boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, mengingat salah satu persyaratan pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi harus ada ijazah SMA (walaupun yang menentukan diterima atau tidaknya adalah nilai/ hasil ujian masuk perguruan tinggi-nya)?

    Mohon jawabannya ustadz, karena saat ini saya sangat gelisah.
    Jazakallahu khairan

    Reply
  20. Irma says:
    5 tahun yang lalu

    Jazaakallahu khairan atas ilmunya ustadz

    Reply
  21. Forto says:
    2 tahun yang lalu

    Allhamdulilah walaupun nilai saya pas-pasan tapi setidaknya saya tidak merasa terbebani dengan hal itu, saya yakin Allah SWT akan membantu umat Nya yang jujur

    Reply
  22. Halim Syuhada says:
    1 tahun yang lalu

    insya aallahh

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   7   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah