Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fatwa Ulama: Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam Pernah Disihir Dan Diracun?

Prasetyo Abu Ka'ab oleh Prasetyo Abu Ka'ab
12 Juli 2013
di Fatwa Ulama
Rasullullah Pernah Disihir Dan Diracun
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Di antara hikmah tersihirnya Rasulullah
  • Sihir tidak berpengaruh terhadap penyampaian risalah
  • Sebagian ahlul kalam mengingkari hadis tersebut
  • Wanita yahudi meracuni Rasulullah
  • Terkumpulnya Nubuwwah dan Syahadah

Fatwa Syekh Abdurrahman bin Abdullah As-Suhaim

Soal:

Dua hari yang lalu, saya mendengar salah seorang syekh mengatakan bahwasanya menjelang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya ini merupakan pengaruh dari racun yang diberikan oleh seorang wanita Yahudi”. Syekh tersebut berdalil dengan hadis itu bahwa merekalah (yaitu orang-orang Yahudi) yang telah membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bisakah Anda, wahai Syekh yang mulia, menjelaskan perkara ini dengan baik; bersamaan dengan perkara sihir yang menimpa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam? Dan apakah hadis-hadis tersebut sahih?

Jawab:

Sihir merupakan barang dagangan orang-orang yahudi. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ}

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia …” (QS. Al-Baqarah : 102)

Orang-orang Yahudi telah berusaha menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka seorang laki-laki Yahudi pun menyihir beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamaan dengan itu, beliau sabar sampai-sampai beliau merasa telah melakukan sesuatu, padahal beliau belum melakukannya.

Di antara hikmah tersihirnya Rasulullah

Hal itu ialah supaya dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri tauladan bagi umatnya. Jika salah seorang dari umatnya terkena sihir, maka sungguh orang yang lebih baik darinya (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pun juga pernah terkena sihir. Bersamaan dengan itu, beliau tidak meminta pertolongan kepada tukang sihir, atau dukun, atau dajjal (untuk melawan sihir yang menimpa beliau -pent). Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.

Jika salah seorang dari umatnya ditimpa kefakiran, maka sungguh orang yang lebih baik darinya (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pun pernah mengikatkan batu di perutnya (untuk menahan rasa lapar -pent). Jika salah seorang dari umatnya ditimpa cobaan (dengan musibah -pent), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga pernah ditimpa cobaan. Jika salah seorang dari umatnya diganggu atau disiksa, maka pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri tauladan (yaitu pernah diganggu dan disiksa -pent).

Sihir tidak berpengaruh terhadap penyampaian risalah

Hanya saja, sihir yang menimpa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut tidak berpengaruh terhadap penyampaian risalah berupa agama Allah Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ فَقَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ قَالَ وَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا اسْتَخْرَجْتَهُ قَالَ قَدْ عَافَانِي اللَّهُ فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ.

“Seseorang dari Bani Zuraiq, yang bernama Labid bin Al-A’sham, menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau merasa melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Sampai pada suatu hari atau pada suatu malam ketika beliau berada di sisiku, beliau terus berdo’a dan berdo’a. Kemudian beliau bersabda,

“Wahai ‘Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah telah memperkenankan do’aku tentang apa yang aku tanyakan kepada-Nya? Ada dua orang yang mendatangiku, satu di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang satunya lagi berada di dekat kakiku.

Lalu salah seorang diantara keduanya berkata kepada temannya, ”Sakit apa orang ini?”

“Terkena sihir,” sahut temannya.

“Siapa yang telah menyihirnya?” tanya temannya lagi.

Temannya menjawab, “Labid bin al-A’sham.”

“Dengan apa?”

Dia menjawab, “Dengan sisir dan rontokan rambut ketika disisir, dan mayang kurma jantan.”

“Lalu dimana semuanya itu berada?” tanya temannya.

Dia menjawab, “Disumur Dzarwan”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau. Setelah kembali, beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, seakan-akan airnya berwarna merah seperti perasan daun pacar, dan ujung dahan pohon kurma (yang berada di dekatnya) seakan-akan seperti kepala setan”.

Lalu ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau meminta dikeluarkan?” Beliau menjawab, “Allah telah menyembuhkanku, sehingga aku tidak ingin memberi pengaruh buruk kepada umat manusia dalam hal itu”. Kemudian beliau memerintahkan untuk menimbunnya, maka semuanya pun ditimbun dengan segera (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Urgensi Mengenal Allah

Sebagian ahlul kalam mengingkari hadis tersebut

Sebagian ahlul kalam mengingkari hadis tersebut. Mereka menyangka bahwasanya hal ini bertentangan dengan ke-ma’shum-an beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (yakni menetapkan bahwasanya beliau pernah tersihir, mengharuskan adanya aib bagi risalah yang beliau sampaikan -pent).

Mereka telah salah dalam perkara ini. Sebagaimana telah berlalu, bahwasanya sihir tersebut tidak berpengaruh terhadap penyampaian risalah (sehingga menetapkan bahwasanya beliau pernah tersihir, tidak bertentangan dengan ke-ma’shum-an beliau -pent) [1].

Wanita yahudi meracuni Rasulullah

Sedangkan racun, seorang wanita yahudi telah menaruhnya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

ان النبي صلى الله عليه وسلم يقول ثَمَّ في مرضه الذي مات فيه: “يا عائشة ما أزال أجد أَلَمَ الطعام الذي أكلته بخيبر فهذا أوان وجدت انقطاع أبهري من ذلك السم” (رواه البخاري مُعلّقاً)

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika menderita penyakit yang akhirnya beliau meninggal dunia karenanya, “Wahai ‘Aisyah, aku senantiasa merasakan nyeri akibat makanan yang aku makan ketika aku berada di daerah Khaibar, dan sekarang ini adalah saatnya urat nadiku terputus karena pengaruh racun itu” (HR. Bukhari secara mu’allaq)

Anas radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan,

أن امرأة يهودية أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم بشاة مسمومة، فأكل منها، فجيء بها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألها عن ذلك فقالت: أردت لأقتلك! قال: “ما كان الله ليسلطك على ذاك” أو قال: “عليّ”، قالوا: ألا نقتلها؟ قال: “لا”، قال أنس: فما زلت أعرفها في لهوات رسول الله صلى الله عليه وسلم (متفق عليه).

Bahwa ada seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seekor kambing (bakar) yang telah diracuni. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan sebagian darinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera bertanya kepadanya tentang hal itu.

Wanita itu menjawab, “Saya ingin membunuhmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menguasakanmu untuk atas hal itu”, atau beliau bersabda “ … atasku (yakni membunuhku -pent)”.

Para sahabat berkata, “Perlukah kita membunuh wanita ini?”

“Jangan!” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya melihat bekas racun itu senantiasa berada di langit-langit mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Muttafaqun ‘alaihi)

Maksudnya, bekas racun tersebut tetap ada hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. [2]

Terkumpulnya Nubuwwah dan Syahadah

Oleh karena itu, berkata sebagian ulama, “Allah telah mengumpulkan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kesempurnaan, diantaranya ialah terkumpulnya nubuwwah (kenabian) dan syahadah (mati syahid), di mana beliau wafat dengan membawa bekas racun”.

Dan hal ini menguatkan fakta yang penting yaitu: Sesungguhnya Yahudi tidak akan lepas dari usaha membunuh para nabi. Kalau seandainya ada seseorang yang dapat selamat dari kejelekan mereka yang tersebar, tentu akan dapat selamat makhluk-makhluk pilihan Allah, yaitu “Para Nabi”.

Allahu Ta’ala Maha tinggi lagi maha mengetahui.

Baca juga: Bangga Menjadi Muslim

—

Catatan kaki:

[1] Untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang masalah ini, silahkan merujuk ke : http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2011/11/ternyata-nabi-pernah-tersihir-bag-1.html

[2] Untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang masalah ini, silahkan merujuk ke : http://majalah-assunnah.com/index.php/kajian/dalail-nubuwwah/103-perang-khaibar-dan-daging-kambing-beracun

Diterjemahkan dari: http://ar.islamway.net/fatwa/12800 (Sub judul adalah dari penerjemah)

Penerjemah: Abu Kaab Prasetyo

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin1
Prasetyo Abu Ka'ab

Prasetyo Abu Ka'ab

- Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta 2008, - Alumni S1 Ilmu Komputer UGM 2008, - Alumni S2 Ilmu Al-Quran IUM (Minnessota) 2024, - Pengajar di Ponpes Ibnu Abbas Assalafy SragenSelengkapnya : http://abukaab.blogspot.co.id/p/tentang-kami.html

Artikel Terkait

Fatwa Ulama: Keutamaan Amal Perbuatan Berbeda-Beda, Tergantung Pada Orang dan Keadaannya

oleh Fauzan Hidayat
8 Juli 2026
0

Pertanyaan: Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah)...

Fatwa Ulama: Hukum Menangis Dalam Salat Karena Musibah

oleh Fauzan Hidayat
4 Juli 2026
0

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus   Pertanyaan: Kami sebelumnya mengira bahwa imam yang memimpin salat kami di masjid menangis saat...

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

oleh Reza Mahendra
12 Juni 2026
1

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah   Pertanyaan: Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar...

Artikel Selanjutnya

Shalat, Pintu Meraih Ampunan (2)

Komentar 7

  1. Pen Quran says:
    13 tahun yang lalu

    artikel yang bagus, sangat bermaaf untuk menambah keilmuan kami

    Reply
  2. Audio Haji says:
    13 tahun yang lalu

    Syukran Jazakallah khair untuk artikel yang menarik ini, semoga bermanfaat bagi kami

    Reply
  3. Audio Sholat says:
    13 tahun yang lalu

    Syukran Jazakallah khair untuk artikel yang menarik ini, semoga bermanfaat bagi kami, ilmu mangkin bertambah

    Reply
  4. Malik Ibrahim says:
    13 tahun yang lalu

    Assalamu a’laqum warohmatullohi wabarokatuh, asaudara2 yang seiman, dengan nama ALLAH mohon bimbingan Do’a yang musatazab, untuk menghadapi kesulitan yang sangat berat. Terimakasih atas kebaikan ikhwan. semoga ALLAH selalu melindungi kita. Amiin Yaa Robbal A’lamin. WASSALAM

    Reply
  5. abdullah says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum, tanya ustadz, artikel yang ada isinya tentang HR. Shahih Bukhari Vol. 5 Buku 59 Nomor 713: Dikisahkan oleh Aisha:
    Pada waktu sakitnya sebelum dia mati, sang Nabi sering mengatakan, “Wahai Aisha! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu.”

    kalo hadits itu shahih, nanti cocok sama Al-Qur’an Surah Al-Haqqah : 44-47
    Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

    bagaimana penjelasannya? jazakumullahu khayran

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, sangat jauh perbedaan makna antara Ayat tersebut dengan riwayat tersebut. Karena makna Ayat tersebut pengandaian ,yaitu seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam mengadakan sebagian ucapan dusta atas nama Allah, dan itu tidak terjadi pada diri beliau dan mustahil terjadi. Dengan demikian siksaan yg diancamkan disini tidak terjadi pula.

      Reply
  6. Fahrizal Fasalama says:
    9 bulan yang lalu

    Alhamdulillah

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah