Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Takbiran Hari Raya

Ammi Nur Baits, S.T., B.A. oleh Ammi Nur Baits, S.T., B.A.
1 September 2010
di Fikih Ibadah
Lafadz Takbiran
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Waktu Mulai & Berakhir Takbiran
    • Takbiran Idul Fitri
    • Takbiran Idul Adha
      • Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)
      • Takbiran yang terikat waktu
  • Lafadz Takbiran
  • Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran
    • Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan
    • Takbir dengan menggunakan pengeras suara
    • Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah
    • Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan
    • Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang

Bismillah, pada kesempatan kali ini kami akan coba membahas terkait dalil takbiran, waktu takbiran dan lafadz takbiran sesuai sunnah. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

Waktu Mulai & Berakhir Takbiran

Takbiran Idul Fitri

Takbiran pada saat idul fitri dimulai sejak maghrib malam tanggal 1 syawal sampai selesai shalat ‘id.

Hal ini berdasarkan dalil berikut:

  • Allah berfirman, yang artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir.

  • Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai shalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)

Keterangan:

  1. Takbiran idul fitri dilakukan dimana saja dan kapan saja. Artinya tidak harus di masjid.
  2. Sangat dianjurkan untuk memeperbanyak takbir ketika menuju lapangan. Karena ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Berikut diantara dalilnya:
    • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)
    • Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)
    • Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi’in), beliau mengatakan: “Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)

Takbiran Idul Adha

Takbiran Idul Adha ada dua:

Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)

Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalil takbiran yang tidak terikat waktu adalah:

  • Allah berfirman, yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Allah juga berfirman, yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Tafsirnya:

    1. Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran
    2. Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1-10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969)
    3. Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1-9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih)
  • Hadis dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad & Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
  • Imam Al Bukhari mengatakan: “Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969)
  • Disebutkan Imam Bukhari: “Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970)
  • Disebutkan oleh Ibn Hajar bahwa Ad Daruqutni meriwayatkan: “Dulu Abu Ja’far Al Baqir (cucu Ali bin Abi Thalib) bertakbir setiap selesai shalat sunnah di Mina.” (Fathul Bari 3/389)

Takbiran yang terikat waktu

Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil takbiran yang terikat waktu:

  • Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)
  • Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)
  • Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)
  • Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)

Lafadz Takbiran

Tidak terdapat riwayat lafadz takbiran tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbiran. Diantara riwayat tersebut adalah:

Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Keterangan:
Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.

Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ

اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Keterangan:
Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.

Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.

Catatan Penting

As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”

Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbiran yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadis. Allahu A’lam.

Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran

Ada beberapa kebiasaan yang salah ketika melakukan takbiran di hari raya, diantaranya:

Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan

Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca laa ilaaha illa Allah, dan satu sama lain tidak saling menyalahkan… (Musnad Imam Syafi’i 909)

Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.

Takbir dengan menggunakan pengeras suara

Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.

Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.

Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.

Ibnul Mulaqin mengatakan: “Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitri maka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat.” (Al I’lam bi Fawaid Umadatil Ahkam: 4/259)

Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.

Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan

Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.

Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang

Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:

الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…

Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya. Allahu a’lam.

Baca juga: Kumpulan Artikel Zakat Fitri, Lebaran Dan Puasa Syawwal

—

Penulis: Ammi Nur Baits

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Ammi Nur Baits, S.T., B.A.

Ammi Nur Baits, S.T., B.A.

S1 Jurusan Teknik Nuklir UGM, S1 Jurusan Fikih dan Ushul Fikih Al Madinah International University, pengasuh situs konsultasisyariah.com, kontributor di Yufid.TV

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 4): Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
18 Juli 2026
0

Hukum akikah untuk janin yang mengalami keguguran Jika keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 4 bulan, maka akikah tidak perlu dilakukan...

Fikih Akikah (Bag. 3): Karakteristik, Syarat-Syarat Hewan Akikah, dan Pembagian

oleh Luqman Hasan Nahari
17 Juli 2026
0

Karakteristik hewan akikah Sunahnya adalah menyembelih 2 ekor domba untuk bayi laki-laki dan 1 ekor domba untuk bayi perempuan. Hal...

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Artikel Selanjutnya
jalan yang lurus

Jalan yang Lurus

Komentar 81

  1. Abu Salman says:
    17 tahun yang lalu

    Tata cara takbiran yan sesuai sunah sudah hampir hilang maka marilah kita hidupkan kembali sunah ini.

    Reply
  2. kacong says:
    17 tahun yang lalu

    terimakasih bnyak pak ustad atas penjelasannya.

    Reply
  3. abu salma says:
    17 tahun yang lalu

    Assalaamu’alaikum

    ustad mau tanya, krn ada sedikit bingung.
    dalam artikel diatas tentang kesalahan takbiran disebutkan tidak boleh lafaz takbiran yg terlalu panjang itu (yg biasa kita dengar di Indonesia), tapi ada ucapan As Shan’ani, yg membolehkan lafaz takbir bermacam-macam, krn ada kelonggaran dalam hal takbiran ini. Apakah ini tidak saling bertentangan ?
    mohon penjelasannya,

    makasih

    Reply
    • Ron says:
      7 tahun yang lalu

      Maksud longgar disana harus berdasarkan (dalil) pernah dibaca oleh para sahabat

      Reply
      • Edirman says:
        4 tahun yang lalu

        Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Itu diatas saya baca “bahkan ada ulama yang melafazkan takbir yg tidak pernah ada riwayat nya. Dikarenakan hukum bertakbir longgar. Ko pak ustadz bilang harus sesuai yg pernah dibaca sama sahabat. Artikel sama jawabannya tidak sinkron saya rasa. Jazakallahu khoiran ustadz

        Reply
    • Abu shafiyyah says:
      6 tahun yang lalu

      Assalamuallaikum ustadz. Jazakallahu khairon atas penjelasannya. Izin copy ustadz.

      Reply
    • Syafruddin says:
      1 tahun yang lalu

      Alhamdulillah

      Reply
  4. abu hanifah alim says:
    17 tahun yang lalu

    assalamu ‘alaikum wa rahmatullah,
    ‘afwan cuman mau minta idzin copy aja,
    syukran, jazakumullahu khairan.

    Reply
  5. Abu Qadib says:
    17 tahun yang lalu

    Ana minta ijin sebarin di facebook

    Reply
  6. ibnu says:
    17 tahun yang lalu

    syukron tulisannya bagus…oya ana cmn minta izin bwt d copy…

    Reply
  7. iwan says:
    17 tahun yang lalu

    saya hanya mau menanyakan hal yang sama seperti pertanyaannya Abu Salma….
    makasih.

    Reply
  8. Sutarno says:
    17 tahun yang lalu

    terima kasih keterangan di atas.

    Reply
  9. phyton says:
    17 tahun yang lalu

    bgaimana kita menghidupkan sunah, jika para pengurus dimasjid saja jika diajak amal sunah selalu menjawab ” wes biasane ngene yo ngene”
    sudah, biasanya seperti ini ya gini.
    kadang jadi males untuk berdakwah, mohon bantuan dukungan dan doanya kepada penegak sunah.

    Reply
    • Hamba Alloh says:
      4 tahun yang lalu

      Nahhh….pertanyaan dan jawaban yang sering ana dengar,terutama di tempat ana bahkan kadang juga bilang saya juga punya dalil,akan tetapi di saat di mintai dalil,ndak di kasih.makanya kadang jadi malas kalau mau negur dan meluruskan.

      Reply
  10. Nuryawan says:
    17 tahun yang lalu

    Ass. Wr. Wbr.
    Mohon referensi hadits yang lebih kuat tentang jumlah lafadz takbir, karena ditempat saya, yang bertakbir tiga kali disalahkan, dan selalu harus dua kali terus menerus (Allahu akbar-Allahu akbar, laa ila ha illallah huwalloh huakbar. Allohu akbar walilahilhamd.)Terimakasih. Wass.Wr. Wbr.

    Reply
  11. jasri says:
    17 tahun yang lalu

    assalammu’alaikum..wr…wb..ustad…pertanyaan yg sma dengan sodara abu salma, lafaz takbir yg terlalu panjang…mksudNya dsini ucapan takbir yg tidak boleh terlalu panjang yg mana, apakah pada saat mengerjakan sholat atau smua ucapan takbir termasuk takbiran untuk merayakan hari raya idul fitri dan idul adha. krn yg sering kita dengar takbiran itu ada yg mengucapkan dengan nyanyian, dan pada umumNya kl dengan nyanyian pasti panjang2…mhon penjelasanNya ustad…wassalam…wr…wb

    Reply
  12. muniburahman says:
    17 tahun yang lalu

    askum.apakah bener saat kita mengucapkan lafald takbir arwah arwah pada kembali..ke ruymah masding masig itu benar ngk ya..dan juga apa perbedaan antara lafald annas denagn lafald al insan makasih

    Reply
    • I Gde Surya Utama Mantra says:
      5 tahun yang lalu

      Assalamu’alaikum ahi,
      Biasakan mengucapkan assalamu’alaikum.
      Bukan ASKUM
      Apakah tidak diajarkan oleh ulama disekitar antum?

      Reply
      • usman says:
        4 tahun yang lalu

        Afwan…Akhi juga ana sarankan sebaiknya pakai arabnya saja daripada terjemahnya kurang tepat
        السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
        ini tulisan akhi: Assalamu’alaikum
        ASSALAAMU’ALAIKUM…
        hanya saling mengingatkan, jangan berbicara kasar terhadap saudara kita

        Reply
        • usman says:
          4 tahun yang lalu

          terjemahan antum kurang a

          Reply
  13. muniburahman says:
    17 tahun yang lalu

    yang ketiga apakah boleh kita berwudu dengan keadaan telanjang dan apa hukumnya air wudlu itu jika di usap dengan handuk makasih

    Reply
  14. jijim says:
    17 tahun yang lalu

    Mencoba share:

    Dalam artikel di atas tidak dikatakan tidak boleh membaca takbir yang panjang, hanya disebutkan bahwa bacaan takbir tersebut tidak ada dalilnya.
    Begitu mungkin maksudnya.
    Afwan..

    Reply
  15. abu abdillah says:
    17 tahun yang lalu

    alhamdulillah, dapat ilmu baru.
    jazakumulloh khoyron.

    Reply
  16. Abdurrahman al malanji says:
    17 tahun yang lalu

    Ana minta ijin sebarin di facebook

    Reply
  17. Fauzi Oji Oz says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum,good artikel,izin share di facebook ya.

    Reply
  18. abu royyan says:
    17 tahun yang lalu

    Bismillah,
    Dari keterangan diatas kenapa disyariatkan takbir iedul fithri dimulai maghrib malam 1syawal?..sedangkan dari dalil yang dikemukakan diatas semuanya menunjukkan takbir dimulai subuh atau saat mau berangkat ke lapangan sampai selesai sholat ied..
    Mohon penjelasan

    Barokallohu fiik
    Abu royyan

    Reply
    • Muhammad Lathif Dzulfikar says:
      1 tahun yang lalu

      Maaf Mim sama penulis, dalil yang takbiran yang dianggap salah itu ada hadisnya, riwayat Muslim.

      Reply
      • M. Saifudin Hakim says:
        1 tahun yang lalu

        Yang ada di dalam riwayat Muslim tidak sepanjang itu.

        قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

        (HR. Muslim no. 594)

        Reply
  19. tian says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamu’alaykum

    pertanyaan saya sama dengan yang ditanyakan abu salma..

    mohon penjelasannya

    Reply
  20. agung says:
    17 tahun yang lalu

    saya minta ijin untuambil artikel ini untuk buat tugas.
    terima kasih

    Reply
    • Muhammad Lathif Dzulfikar says:
      1 tahun yang lalu

      yang takbiran panjang itu ada dalilnya

      Reply
  21. MOHAMMAD YUSUF says:
    17 tahun yang lalu

    Takbir yang panjang seperti yang ditulis di atas,saya baca dalam terjemah kitab al-adzkar menurut Imam Syafii ra. itu dibolehkan, menurut hemat saya, kalau bacaan takbir itu boleh2 saja, asalkan ada dalilnya memang, nah dalilnya adalah ijma jumhur ulama termasuk licensi dari Imam syafii tsb. begitu kan ustadz?

    Reply
  22. Fajar Nashrullah Tresna says:
    17 tahun yang lalu

    iia betul sunah-sunah jgn sampai dihilangkan …

    Reply
  23. Revaldo Zen says:
    17 tahun yang lalu

    Alhamdulillah memang syariat Islam adalah syariat yang paling sempurna. Kebiasaan orang Indonesia adalah takbir yang menganggu orang lain, tidak hanya kafir saja, saya sebagai muslim sering merasa terganggu, dengan kerasnya suara takbir dan berjamaah pula. semoga dengan tulisan ini orang-orang yang membacanya semakin sadar bahwa agama Islam bukan agama yang Rusuh

    Reply
  24. Novi R. says:
    17 tahun yang lalu

    Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh..
    Walaupun saya telat membaca tulisan di atas, tapi saya sangat berterima kasih sekali sudah memdapat tambahan ilmu. Syukran, jazakallahu khairan.

    Reply
  25. budi says:
    16 tahun yang lalu

    Syukran, jazakallahu khairan…di tunggu di Al Hidayah, Krajan…..kehadirannya ustadz..selalu…

    Reply
  26. Ammi says:
    16 tahun yang lalu

    Untuk Saudara Muhammad Yusuf hafidlahullah, ana sampaikan ungkapan terima kasih, jazaakumullah khairan atas tambahan informasi yang saudara sampaikan. dan saya telah mendapatkan keterangan itu di kitab Al Adzkar karya An Nawawi. Saya meralat apa yang saya tulis di atas. Semoga Allah membimbing kita bersama menuju jalan yang lurus…

    Reply
  27. Rizal says:
    16 tahun yang lalu

    Ass. Wr. Wb.

    Saya ingin bertanya apakah benar kita dilarang bertakbir atau mendengarkan takbir sebelum Lebaran Idul Fitri tiba.?

    Terima kasih

    Reply
    • Abduh Tuasikal says:
      16 tahun yang lalu

      @ Rizal
      Untuk takbir idul fithri paling baik adl saat berangkat ke lapangan sampai shalat dilaksanakan.

      Reply
  28. abu syahwa says:
    16 tahun yang lalu

    syukron pa ustad,atas artikel yg ditulis.dan berharap lebih banyak lagi yang menebar ilmu dengan dalil hadist yang shohih ke dalam artikel berikutnya.terutama masalah bid’ah agama yang dimana-mana meraja lela.yang datang dgn dalil dhoif atau dalil hawa saja,bukannya ikut syariat yg dicontohkan rasulullah dan para sahabat.smoga ALLAH membimbing kita ke agama nya yg lurus dan tidak sesat dan menyesatkan orang lain.wallahu a’lam

    Reply
  29. imam.rochdin says:
    16 tahun yang lalu

    saya sangat senang dengan radio muslim jogjakarta

    Reply
  30. Dwi Rezky says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamu’alaykum WarohmatuLloh

    Ust…ana mau tanya,,,waktu ana bertakbir diluar bulan ramadhan tiba2 ada salah seorang sahabat yang mengatakan bahwa “tidak boleh bertakbir selain hari raya nanti para penghunu kubur bersedih…” ana agak gak ngerti maksudnya apa ya…??? apa benar seperti itu..??? mohon penjelasannya…
    Jazakallah

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #Dwi Rezky
      Wa’alaikumussalam Warahmatullah. Silakan ditanyakan kepada teman anda tersebut apa yang dimaksud. Karena setiap shalat wajib pun kita bertakbir.

      Reply
  31. M.soleh says:
    16 tahun yang lalu

    Subhanalloh….ingin sekali ana sampaikan ke jamaah di tempat ana…cuman sayang setiap kali dikasih tahu yg sebenarnya yg sblmnya tdk mereka lakukan dikiranya aliran sesat.disini penting nya ilmu utk beramal.semoga amal kita berdasar ilmu dan tdk sia”…Allohumaamin

    Reply
  32. hermansyah says:
    16 tahun yang lalu

    Afwan ustaz… apa tidak sebaiknya kalau ada ralat untuk postingannya… langsung diedit juga postingannya… soalnya banyak yang sudah ijin copas buat disebarin ke jamaah masing-masing yah… biar yang disampaikan ke jamaah mereka tidak salah…
    Saya perhatikan di masjid-masjid masih banyak yang memakai lafaz takbir yang panjang tersebut…
    Syukron…

    Reply
  33. haque krw says:
    16 tahun yang lalu

    Terima kasih atas pengetahuan yg tlh disampaikan dg jelas.

    Reply
  34. hermansyah says:
    16 tahun yang lalu

    afwan ustaz..
    untuk lafaz takbir yang berikut

    الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…

    menanggapi pernyataan dari akhy muhammad yusuf…
    ana tadi iseng-iseng buka kitab al adzkar ana yang terbitan kairo… dalam baab
    باب الأذكار المشروعة في العيدين

    memang disebutkan bahwa imam safii dan beberapa ulama lain membolehkan takbir demikian… dan ada sedikit lanjutannya yaitu tambahan

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ

    setelah kalimat وَحْدَهُ pada lafaz takbir di atas…

    tapi sayangnya dalam kitab al azkar punya ana hanya disebutkan bahwa itu adalah perkataan imam asysyafi’i dan beberapa ulama saja.

    selanjutnya di kitab ana tidak disebutkan dalil kenapa menggunakan lafazd takbir tersebut…

    sedangkan kita pernah tau kalau imam syafi’i sendiri melarang kita mengambil kata-kata beliau kalau tidak berdasarkan hadits shohih…

    jadi mohon nasehatnya ya ustaz…
    bisa jadi kitab al azkar ana ada kesalahan cetak, atau kemampuan bahasa arab ane masih kurang… sehingga bisa jadi ada kesalahpahaman dalam pemahaman ana.

    Mohon kejelasannya ustaz…

    semoga Allooh memberikan banyak rahmatNYa kepada kita.

    Syukron

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #hermansyah
      Sebagaimana perkataan Imam Ash Shan’ani di atas, masalah bacaan takbir itu longgar, bacaan yang panjang ini pun boleh saja dipakai jika ingin. Namun tentu lafadz ini terlalu panjang sehingga menyulitkan sebagian orang yang mau mengamalkan sunnah takbiran, terutama orang-orang awam. Kesalahan lain, biasanya lafadz ini hanya dibaca oleh ‘pemimpin’ takbiran. Padahal takbiran tidak perlu dipimpin dan dikoordinir, serta orang-orang tidak perlu menunggu ‘pemimpin’ takbiran selesai membaca lafadz yang panjang ini baru melanjutkan takbiran.

      Reply
      • Roni says:
        7 tahun yang lalu

        Longgar disana maksudnya yang pas adalah berdasarkan dalil yaitu bacaan bacaan takbiran yang pernah dilakukan para sahabat . betulkan ustadz

        Reply
    • sulaiman says:
      2 bulan yang lalu

      https://www.youtube.com/watch?v=-xja7VqQwis

      dalam video itu, Ust. Ammi menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melafadzkan takbir yang panjang ketika berada di bukit.

      Reply
  35. ramzi says:
    16 tahun yang lalu

    tp maaf ustadz yg dilakukan Rasulullah kan ketka kluar k lpngn bukan mulai malam hari,,, trus adakah hadits atw riwayat atau tafsir yang menerangkan tentang ayat di atas di jdkn dasar, bahwa d mulainya takbir adalah malam ied?

    Reply
  36. ABu ABdillah says:
    16 tahun yang lalu

    Buat pembanding diambil dari kitab Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, sebagai berikut:
    حكم التكبير في العيدين:
    اتفق الفقهاء على مشروعية التكبير في العيدين في الغدو إلى الصلاة، وفي إدبار الصلوات أيام الحج. أما التكبير في الغدو إلى صلاة العيد: فقال أبو حنيفة (1) : يندب التكبير سراً في عيد الفطر في الخروج إلى المصلى لحديث «خير الذكر الخفي، وخير الرزق ما يكفي» (2) ، ويقطعه إذا انتهى إلى المصلى في رواية، وفي رواية: إلى الصلاة. وقال الصاحبان: يكبر جهراً، واتفقوا على التكبير جهراً في عيد الأضحى في الطريق.
    وقال الجمهور (3) : يكبر في المنازل والمساجد والأسوق والطرق أي عند الغدو إلى الصلاة جهراً، إلى أن تبدأ الصلاة، وعند الحنابلة: إلى فراغ الخطبة، وهو في الفطر آكد من تكبير ليلة الأضحى لقوله تعالى: {ولتكملوا العدة، ولتكبروا الله على ما هداكم، ولعلكم تشكرون} [البقرة:185/2] ولما فيه من إظهار شعائر الإسلام، وتذكير الغير.
    ويندب التكبير المطلق (وهو ما لا يكون عقب الصلاة) عند الشافعية والحنابلة: من غروب شمس ليلة عيد الفطر، لا ما قبلها: ولا يسن التكبير المقيد (وهو المفعول عقب الصلاة) ليلة الفطر عند الحنابلة وفي الأصح عند الشافعية، لعدم وروده.
    وصيغة التكبير:
    عند الحنفية والحنابلة شفعاً: ( الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله ، والله أكبر،الله أكبر (ثنتين)، ولله الحمد ) عملاً بخبر جابر عن النبي صلّى الله عليه وسلم الآتي، وهو قول الخليفتين الراشدين، وقول ابن مسعود.
    وصيغته عند المالكية والشافعية في الجديد ثلاثاً: ( الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر )، وهذا هو الأحسن عند المالكية، فإن زاد ( لا إله إلا الله ، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد ) فهو حسن، عملاً بما ورد عن جابر وابن عباس رضي الله عنهم، ويستحب أن يزيد عند الشافعية بعد التكبيرة الثالثة:( الله أكبر كبيراً، والحمد لله كثيراً، وسبحان الله بكرة وأصيلاً ) كما قاله النبي صلّى الله عليه وسلم على الصفا. ويسن أن يقول أيضاً بعد هذا: ( لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ، ولو كره الكافرون، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله والله أكبر). وهذه الزيادة إن شاءها عند الحنفية، ويختمها بقوله: ( اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد، وعلى أصحاب محمد، وعلى أزواج محمد، وسلم تسليماً كثيراً .
    Hukum Takbiran Pada Dua Hari Raya
    Semua ahli fiqih sepakat disyariatkannya bertakbir pada dua hari Id, pada pagi hari menuju shalat (Id), dan setelah shalat pada hari-hari haji. Ada pun tentang bertakbir pada pagi hari menuju shalat, berkata Abu Hanifah : Disunahkan bertakbir secara sir (pelan) pada hari Idul Fitri, ketika menuju lapangan, alasannya adalah hadits: (sebaik-baiknya dzikir adalah yang khafi (tersembunyi), dan sebaik-baiknya rezeki adalah yang mencukupi) , dan menghentikannya ketika sampai di mushalla (lapangan tempat shalat), dalam satu riwayat, dan dalam riwayat lain berhentinya ketika mau shalat. Sedangkan dua orang sahabatnya mengatakan: bertakbir secara jahr (keras). Mereka sepakat bertakbir secara dikeraskan di jalan-jalan pada Idul Adha.
    Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama mengatakan : hendaknya bertakbir di rumah-rumah, di masjid, di pasar-pasar, dan di jalan-jalan, yaitu sejak pagi (subuh) hingga shalat secara jahr (keras), hingga dimulainya shalat. Menurut Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) hingga selesainya khutbah, hal ini ketika idul fitri, dan ditekankan bertakbir pada malam idul adha, karena Allah Ta’ala berfirman: dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al Baqarah (2): 185), karena padanya menampakkan syiar-syiar Islam, dan dapat mengingatkan yang lain.
    Disunahkan ber- takbir muthlaq (yaitu takbir yang tidak dilakukan setelah usai shalat) menurut Syafi’iyah dan Hanabilah: sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri (istilah di Indonesia malam takbiran, pen), tidak dilakukan sebelumnya. Dan, tidaklah disunahkan takbir muqayyad (yaitu takbir yang dilakukan setelah usai shalat) pada malam Idul Fitri menurut Hanabilah, dan yang shahih menurut Syafi’iyah, karena tidak ada dalil tentang itu.

    Shighat Takbir (Bentuk Kalimat Takbir) :
    Menurut Hanafiyah dan Hanabilah: (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, wallahu Akbar, Allahu Akbar (diulang 2 X), walillahil hamd). Amalan ini berdasarkan riwayat dari Jabir , dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini, juga pendapat dua khalifah rasyidin, dan Abdullah bn Mas’ud.
    Kalimat takbir menurut Malikiyah dan Syafi’iyah dalam Qaul Jadid (pendapat baru)nya adalah tiga kali: (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar), menurut Malikiyah inilah yang terbaik. Jika ditambahkan (Laa Ilaha Illallahu, wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil hamd) maka ini juga bagus diamalkan, sebagaimana riwayat dari Jabir dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhum. Dan, menurut Syafi’iyah disunnahkan setelah takbir tiga kali dengan menambahkan: (Allahu Akbar kabira wal Hamdulillahi bukratan wa ashila) sebagaimana yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ucapkan di atas Shafa.
    Disunnahkan juga setelah mengucapkan kalimat tersebut menambahkan dengan: (Laa ilaha illa iyyah mukhlishina lahuddina wa lau karihal kafirun, laa ilaha illallahu wahdah shadaqa wa’dah wa nashara ‘abdah wa a’azza jundah wa hazamal ahzaba wa’dah, laa ilaha illallah wallahu akbar), menurut Hanafiyah tambahan ini bagi yang mau saja, lalu ditutup dengan: (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad wa ‘Ala ash-habi Muhammad wa ‘ala azwaaji Muhammad wa Sallam tasliman katsiran)

    ————————-

    Lihat Fathul Qadir, 1/423. Al Fatawa Al Hindiyah, 1/142. Al Maraqi Al Falah, Hal. 90. Al Lubab, 1/117. Ad Durul Mukhtar, 1/784-785

    HR. Ahmad No. 1477, Abu Ya’la No. 731, Ibnu Hibban No. 809, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 553, dan lain-lain. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif –isnadnya lemah. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 1477.
    Dua orang sahabat Imam Abu Hanifah yang dimaksud adalah Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. (Pen)

    Syarhush Shaghir, 1/529. Al Qawanin Al Fiqhiyah, Hal. 86. Al Majmu’, 5/36-37. Mughni Al Muhtaj, 1/314. Kasysyaf Al Qina’, 2/63-64. Al Mughni, 2/368-369, 372-374, 393-395.

    Takbir Muthlaq adalah ucapan Allahu Akbar, yang diucapkan kapan saja kita mau tanpa dibatasi waktu, sebab, dan peristiwa. Sedangkan takbir muqayyad adalah lafaz takbir yang spesifik dengan waku, sebab, dan peristiwa spesifik pula, seperti takbir saat hari raya.

    Reply
    • Abdurrahman assavaraz says:
      3 tahun yang lalu

      izin copy akhi

      Reply
    • Iwa says:
      1 tahun yang lalu

      Nah betul sy juga diajarkannya bacaan takbiran dipanjangkan setelah bacaan takbir 3x. inilah pendapat para ulama syafi’iyah dgn dalil hadits yg disebutkan. Makanya sy jg heran kenapa bacaan takbiran panjang dibilang tdk ada dasarnya. Apakah yg diajarkan imam syafi’i dan pengikutnya ke kita salah??? Tolong dijelaskan ustadz kl memang salah. Tapi kl tdk salah mohon redaksinya diperbaiki dan dibenarkan.

      Reply
  37. Abu Tsabit says:
    16 tahun yang lalu

    jazakumullohu khoiron

    Reply
  38. agus mencari tuhan says:
    16 tahun yang lalu

    gak tahu tuh

    Reply
  39. Falah says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamu ‘alaikum .Terima kasih ya atas ilmunya. Dengan penjelasan di atas saya mendapat ilmu tentang dalil takbir dan adab yang salah saat bertakbir. Semoga yg menulis ilmu ini mendapat kebaikan. Wassalamu ‘alaikum.

    Reply
  40. star says:
    15 tahun yang lalu

    assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. ijin copaz ya uztadz.

    Reply
  41. Rita says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamualaikum wr. wb.
    Kalau boleh saya mau bertanya, apakah takbir ini boleh dilakukan setiap saat selain pada waktu idul fitri dan idul adha?

    Reply
    • Aris Munandar says:
      15 tahun yang lalu

      #Rita
      Wa’alaikumussalam, jika anda ingin bertakbir di luar dua hari raya ucapkanlah ‘allahu akbar‘.

      Reply
  42. yahya says:
    15 tahun yang lalu

    Ada tulisan yang bagus tentang kapan memulai takbir i’ed ?

    di http://www.sahab.net/forums/index.php?s=a2b8c5f5cdf7df5ca3de181417ca452b&showtopic=122544

    Kesimpulannya : mungkin tidak sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel ini

    Terimakasih

    Reply
  43. محمد سهلان رشيدي says:
    15 tahun yang lalu

    Pembanding dari Al Umm
    الأم للشافعي (1/ 276)
    [كَيْفَة التَّكْبِيرُ فِي الْعِيد]
    كَيْفَ التَّكْبِيرُ؟ (قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) : وَالتَّكْبِيرُ كَمَا كَبَّرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الصَّلَاةِ ” اللَّهُ أَكْبَرُ ” فَيَبْدَأُ الْإِمَامُ فَيَقُولُ: ” اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ” حَتَّى يَقُولَهَا ثَلَاثًا، وَإِنْ زَادَ تَكْبِيرًا فَحَسَنٌ، وَإِنْ زَادَ فَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ ” فَحَسَنٌ وَمَا زَادَ مَعَ هَذَا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أَحْبَبْتُهُ، غَيْرَ أَنِّي أُحِبُّ أَنْ يَبْدَأَ بِثَلَاثِ تَكْبِيرَاتٍ نَسْقًا، وَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَى وَاحِدَةٍ أَجْزَأَتْهُ، وَإِنْ بَدَأَ بِشَيْءٍ مِنْ الذِّكْرِ قَبْلَ التَّكْبِيرِ أَوْ لَمْ يَأْتِ بِالتَّكْبِيرِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ
    Di situ Al Syafi’i menyatakan dan bila ditambahi maka hasan (bagus)… Sepengetahuan saya pendapat ulama bukan hujjah. Lalu bagaimana menyikapi pendapat beliau. Husnuzh zhann saya apa mungkin ada hadits tentang itu yang bisa jadi tidak sampai ke kita atau bagaimana memahami dan mendudukkan pendapat beliau ini.

    Reply
  44. J4K says:
    14 tahun yang lalu

    Ustad Izin Share Ulang

    Reply
  45. firman says:
    14 tahun yang lalu

    Assalamualaikum Wr Wb…

    Subhanallaah Walhamdulillaah Walaa Illaaha Ilallaahu Allahu Akbar…

    Alhamdulillaah artikelnya :)
    Isi dari penjabarannya Inzya Allah bermanfaat dan saya mohon izin agar diizinkan untuk saya copy paste beberpa bagian yang di tujukan untuk grup saya di facebook dengan nama grup KONSULTASI.

    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih ^_^ dan semoga Allah melimpahkan RahmatNya untuk Saudara/i beserta keluarga, Aamiin

    Wassalam,

    Firman C

    Reply
  46. firman says:
    14 tahun yang lalu

    Oh ya saya lupa, saya pun akan menuliskan dibawahnya sumber artikel ini

    Reply
  47. Abu Ahmad says:
    14 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, artikel yang bisa menambah ilmu, hari ini pas tgl 9 Zulhijjah, jadi bisa langsung diamalkan…
    Alangkah lebih ahsan kalau ustadz menjawab bbrp pertanyaan dari saudara2 kita yang haus ilmu diatas, bahkan Rasulullah SAW pernah ditegur dalam surat ‘Abasa, maaf kalau ada yang salah, jazakumullah khairan katsira

    Reply
  48. Akmal says:
    14 tahun yang lalu

    Assalamu alaikum, ustadz. Pertanyaan ana, bagaimana hukum seorang imam yang langsung mengomandoi takbir setiap selesai sholat fardhu? Kalau memang ini tidak ada contohnya dari salafus shaleh, lalu seperti apa yang sesuai sunnahnya. Syukran atas jawabnya.

    Reply
    • Aris Munandar says:
      14 tahun yang lalu

      #Akmal
      Wa’alaikumussalam, seharusnya biarkan makmum dzikir sendiri sendiri.

      Reply
  49. Fiko says:
    13 tahun yang lalu

    Bismillah. Izin Copas Ustadz

    Reply
  50. Abu Hafsh says:
    11 tahun yang lalu

    Bismillah,
    Ustadz ana mau tanya, jika dikatakan bahwa lafadz takbir tidak ada dalil khusus yang berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apakah dengan itu seseorang bisa bertakbir dengan lafadz yang disukai? Jika iya bukankah lafadz takbir yang panjang pada poin “e” juga termasuk hal tersebut, yakni tidak bisa disalahkan? Bukankah ulama terkadang bertakbir dengan lafadz yang tidak ada dalam dalil?

    Demikian ustadz, ana mohon penjelasannya karena dua hal tersebut terlihat bertentangan di dalam penjelasan ustadz.

    Jazakallahu khairan

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      11 tahun yang lalu

      Sesuatu yang luas jika dipersempit maka itu sebuah kesalahan.

      Misalnya, doa yang dibaca ketika hari Jum’at itu bebas. Ketika ada yang membuat doa khusus hari Jum’at, maka ini mempersempit yang luas dan ini keliru.

      Demikian juga lafadz takbiran itu luas, namun jika ada yang merangkai lafadz takbir sendiri dan menganggap itu lebih afdhal dan terus dirutinkan, maka lafadz takbiran jadi sempit dan itu kekeliruan.

      Reply
  51. abu ayra (ayrashop) says:
    11 tahun yang lalu

    الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
    كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
    وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ
    الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ
    عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…

    Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya. Allahu a’lam.

    lalu bagaimana dengan pernyataan :

    As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat
    banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk
    takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga
    menuntut demikian.”

    Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar,
    tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia
    suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada
    keterangan dalam riwayat hadis. Allahu A’lam.

    Reply
  52. Milzam says:
    7 tahun yang lalu

    Ustadz, barakallahu fiik
    Saya izin share di line

    Reply
  53. Syarif says:
    7 tahun yang lalu

    Referensi nya kok gak dicantumkan, misalnya dari kitab siapa, halaman, dll. Mohon sebutkan referensi nya. Terima kasih.

    Reply
  54. Islam ajaran says:
    6 tahun yang lalu

    Kalau lafal takbir diatas dikumandangkan pada hari2 biasa, atau diluar hari yg disebutkan diatas, apa hukumnya ya? Terimakasih

    Reply
    • Erwin Arnanda says:
      4 tahun yang lalu

      Jika ada pertanyaan, bisa gabung grup tanya jawab

      KHUSUS IKHWAN
      https://t.me/tanyamuslimorid

      KHUSUS AKHWAT
      https://t.me/tanyamuslimahorid

      Barakallahu fiikum

      Reply
  55. Guntur Bayu says:
    4 tahun yang lalu

    https://rumaysho.com/25407-inilah-lafaz-takbir-hari-raya-tinjauan-madzhab-syafii.html

    Bagus juga buat pembanding. Barakallahu fiikum

    Reply
  56. Hamba Allah says:
    4 tahun yang lalu

    Imam Syafii rahimahullah berkata jika takbir di atas sudah diucapkan tiga kali, maka ada tambahan: ALLAHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHAANALLAHI BUKROTAW-WA-ASHIILAA. LAA ILAHA ILLALLAH. WA LAA NA’BUDU ILLAA IYYAH, MUKHLISHIINAA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAH, SHODAQO WA’DAH, WA NASHORO ‘ABDAH, WA HAZAMAL AHZAABA WAHDAH. LAA ILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR. Ada riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca bacaan tadi saat berada di bukit Shafa.

    Sumber https://rumaysho.com/25407-inilah-lafaz-takbir-hari-raya-tinjauan-madzhab-syafii.html

    Reply
  57. lihahug says:
    4 tahun yang lalu

    hukum mengumandangkan takbir untuk para jamaah haji pada hari raya idul adha, apakah wajib atau sunnah?

    Reply
  58. Hanif Irfansyah says:
    1 tahun yang lalu

    Assalamualaikum
    izin copy ilmunya ustad

    Reply
    • M. Saifudin Hakim says:
      1 tahun yang lalu

      Silakan, baarakallahu fiikum.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   5   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah