Fatwa Ulama: Lamaran dari Orang yang Meninggalkan Shalat

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Soal:

Apa hukum syar’i jika seseorang laki-laki muslim melamar (melakukan khitbah) padahal wanitanya telah dilamar pula oleh laki-laki lain namun sayangnya ia meninggalkan shalat?

Jawab:

Tidak masalah apa yang dilakukan laki-laki tersebut karena lamaran dari orang yang meninggalkan shalat -di mana meninggalkan shalat dihukumi kafir- tidaklah sah. Wanita yang dilamar juga tidak boleh menerima lamaran dari laki-laki yang tidak shalat. Lamaran tersebut wajib ditolak, dijauhi, serta tidak diterima. Jika diyakini benar bahwa yang melamar adalah kafir, sedangkan wanita yang dilamar adalah wanita muslimah, maka laki-laki lain yang muslim boleh melamar meski telah didahului oleh laki-laki yang kafir tadi. Ini dilakukan jika laki-laki yang pertama melamar tidak mau menerima nasehat untuk bertaubat agar kembali shalat.

Intinya, yang dilakukan oleh laki-laki kedua tadi di mana ia melamar wanita padahal sudah dilamar oleh laki-laki sebelumnya yang sayangnya kafir, maka itu dibolehkan dalam rangka ishlah (perbaikan) dan bentuk ihsan (berbuat baik) kepada wanita yang dilamar.

[Fatawa Nur ‘alad Darb, 20: 161]

* Beliau adalah ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia dan pernah menjabat sebagai Ketua Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Dalil yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

@ Pesantren Darush Sholihin, 1 Jumadal Akhir 1434 H

Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
Travel Haji dan Umrah
App Muslim.or.id

About Author

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.

Pengasuh Rumaysho.Com dan RemajaIslam.Com. Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta (2003-2005). S1 Teknik Kimia UGM (2002-2007). S2 Chemical Engineering (Spesialis Polymer Engineering), King Saud University, Riyadh, KSA (2010-2013). Murid Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsriy, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrak, Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi dan ulama lainnya. Sekarang memiliki pesantren di desa yang membina masyarakat, Pesantren Darush Sholihin di Panggang, Gunungkidul.

View all posts by Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. »