Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ’Arabi (Bag. 2)

Muhammad Zia Abdurrofi oleh Muhammad Zia Abdurrofi
27 Agustus 2026
di Biografi
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pemahaman dan keyakinan yang keliru
  • Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi

Perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi mengantarkan kita untuk mengetahui perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. Dengan mengetahui keduanya, akan dapat dipahami bagaimana perhatian para ulama dalam menjelaskan kesalahan dan penyimpangan dalam keyakinan dan pemikiran tanpa melihat person tertentu.

Penyimpangan dijelaskan agar terbedakan antara yang haq dengan yang bathil, sehingga kalaupun dalam penjelasan tersebut terdapat isytibah (keserupaan) nama misalnya, maka tentu kekeliruan dan penyimpangan tersebut harus dijelaskan dari person tersebut, agar penyimpangan tidak berkembang biak di antara kaum muslimin.

Pemahaman dan keyakinan yang keliru

Di antara pemahaman keliru bahkan cenderung fatal, yang bersumber dari pemahaman dan keyakinan Ibnu ‘Arabi adalah,

– Pemahaman wihdatul wujud. Pemahaman ini merupakan pemahaman ilhadiyah (kufur) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul, yaitu bersatunya makhluk dengan Tuhan pada sebagian makhluk, tidak ada keterpisahan di antara keduanya.

Tentunya ini merupakan pemahaman yang kufur. Di antara penggalan sya’ir yang ditulis oleh Ibnu ‘Arabi adalah,

الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ   يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ

Hamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba.

Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.

عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ   وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُ

Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan.

Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. [1]

Tentu pemahaman ini merupakan pemahaman yang menyimpang dan pemahaman yang kufur. Tatkala menerangkan pemahaman ini, Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah mengatakan,

وَقَدِ اتَّفَقَ سَلَفُ الأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا، عَلَى أَنَّ الخَالِقَ تَعَالَى  بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ: لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوْقَاتِهِ، وَلَا فِي مَخْلُوْقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ

“Dan sungguh, generasi Salaf umat ini beserta para imamnya telah bersepakat bahwa Al-Khaliq (Sang Pencipta) itu Maha Tinggi, terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk-Nya yang berada pada Zat-Nya, dan tidak ada sedikit pun dari Zat-Nya yang berada pada makhluk-makhluk-Nya.” [2]

Syekh ’Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah berkata ketika mengomentari penjelasan dari perkataan Imam Taqiyuddin di atas, ”Ini merupakan penafsiran yang tepat dan benar terhadap kata ”ba’in”, yang mana sebagian (orang) kesulitan dalam menafsirkannya.” [3]

– Di antara pemahaman dan keyakinan yang keliru, beliau mengklaim karya tulisnya -yang kemudian ia sebarkan- bahwa hal itu berdasarkan izin dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam melalui mimpi yang diklaim telah dialaminya. Padahal, sebagian besar isi dari bukunya itu bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah Ta’ala.

– Meyakini Nabi Adam ’alaihissalam dinamakan dengan insan (manusia) dikarenakan kedudukannya bagi Al-Haq (Allah) sepertin insan al-’ain (pupil mata) bagi mata, yang dengannya penglihatan terjadi. Artinya, Nabi Adam merupakan bagian dari Allah Ta’ala. Tentu kalimat seperti ini adalah kalimat kufur. Na’udzubillahi min dzalik.

– Beliau berkata tentang kaum Nabi Nuh ’alaihissalam, ”Sesungguhnya jika mereka meninggalkan penyembahan terhadap Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Ya’uq, niscaya mereka akan menjadi lebih bodoh tentang Allah Ta’ala.”

– Syekhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata, “Cukuplah bagimu sebagai bukti kekufuran mereka bahwa di antara ucapan mereka yang paling ringan adalah pernyataan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan bersih dari dosa-dosa. –Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi-.

Dan Nabi Musa menjadi penyejuk mata (qurrata ‘ain) bagi Firaun dengan keimanan yang Allah berikan kepadanya ketika ia tenggelam. Maka Allah mencabut nyawanya dalam keadaan suci dan disucikan, tidak ada sedikit pun kotoran pada dirinya, sebelum dicatat atasnya suatu dosa pun, sedangkan Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.’

Padahal, telah diketahui secara mendasar/pasti (ma’lum bid dharurah) dalam ajaran agama-agama—baik kaum Muslimin, Yahudi, maupun Nasrani—bahwa Firaun adalah termasuk makhluk yang paling kafir.” [4]

Di antara penyebabnya adalah beberapa hal, sebagaimana dinukil oleh Adz-Dzahabi rahimahullah, Ibnu Rafi’ menukilkan kepadaku dengan tulisannya Abul Fath, beliau mengatakan, “Menurutku Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) tidak bermaksud sengaja berbohong, melainkan khalwat (menyendiri) dan rasa lapar (yang berlebihan) telah mempengaruhinya, sehingga menimbulkan kerusakan, halusinasi, dan sejenis kegilaan.” [5]

Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi

Sikap para ulama terhadap Ibnu ‘Arabi terbagi menjadi beberapa sikap, di antaranya:

– Meyakini kewalian Ibnu ‘Arabi, di antaranya Asy-Syaikh Tajuddin bin ‘Athaillah (di antara ulama Maliki), Asy-Syaikh ‘Afifuddin Al-Yafi’i (di antara ulama Syafi’i), dan ulama lainnya. [6]

– Meyakini kesesatan Ibnu ‘Arabi, dan terang-terangan dalam membantahnya. Di antaranya adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Badruddin bin Jama’ah (penulis kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Jamaluddin Al-Mizzi, dan para ulama lainnya rahimahullah.

Adapun Adz-Dzahabi rahimahullah, sikap beliau terhadap Ibnu ‘Arabi sangatlah kritis dalam mengkritik penyimpangan-penyimpangannya, terutama yang bersifat ketuhanan. Beliau menyampaikan dengan penuh kehati-hatian.

وَقَوْلِي أَنَا فِيهِ: إِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الَّذِينَ اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ إِلَى جَنَابِهِ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَخُتِمَ لَهُ بِالْحُسْنَى. فَأَمَّا كَلَامُهُ، فَمَنْ فَهِمَهُ وَعَرَفَهُ عَلَى قَوَاعِدِ الِاتِّحَادِيَّةِ وَعَلِمَ مَحَطَّ الْقَوْمِ، وَجَمَعَ بَيْنَ أَطْرَافِ عِبَارَاتِهِمْ — تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فِي خِلَافِ قَوْلِهِمْ

“Adapun pendapatku tentang dirinya (Ibnu ‘Arabi), bahwasanya boleh jadi (kemungkinan) dia termasuk di antara wali-wali Allah yang ditarik oleh Al-Haq (Allah) ke sisi-Nya saat menjelang ajal, dan ditutup usianya dengan kebaikan (husnul khatimah). Adapun perkataannya (karya Ibnu ‘Arabi), maka barangsiapa yang memahami dan mengetahuinya berdasarkan kaidah-kaidah paham ittihadiyah (paham penyatuan/wihdatul wujud), mengetahui muara pemikiran kelompok tersebut, serta mengumpulkan seluruh sudut ungkapan-ungkapan mereka, niscaya akan jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada posisi yang bersebrangan dengan ucapan mereka.” [7]

Beberapa orang kurang tepat dalam memahami ucapan Adz-Dzahabi rahimahullah dari perkataan beliau,

اجْتَذَبَهُمُ الْحَقُّ

“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)….”

Dipahami oleh sebagian orang bahwasanya Adz-Dzahabi meyakini bahwa Ibnu ‘Arabi termasuk wali majdzub, yaitu seseorang yang dikultuskan menjadi wali di mana akalnya ditarik oleh Allah sehingga menjadi gila, sebagaimana yang diiyakini oleh kaum Sufi. Padahal, ini merupakan sifat inshaf (pertengahan) dari beliau, yaitu beliau meyakini kesesatan pemikiran dari Ibnu ‘Arabi, namun di sisi lain beliau tetap mengharapkan hidayah untuk Ibnu ‘Arabi.

Maksud dari perkataan beliau di atas (“Ditarik oleh Al-Haq (Allah)”), bukanlah ditarik akalnya sebagaimana yang diyakini oleh kaum Sufi. Namun maksudnya, Adz-Dzahabi berharap barangkali di akhir hayatnya Allah menarik kesesatan dari hatinya dan memberikan hidayah kepadanya di akhir hayat sebagaimana wali-wali Allah yang lainnya dan akhir hayatnya ditutup dengan husnul khatimah.

قُلْتُ: إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ

“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Andaikata yang digelari dengan Muhyiddin (Ibnu ’Arabi) ingin rujuk (kembali) dari pendapat-pendapatnya sebelum mati, maka beruntunglah ia. Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [8]

Di akhir pembahasan Ibnu ’Arabi, Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam kitabnya, Mizaanul ’Itidal, menutup pembahasan dengan perkataannya,

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَعِيشَ الْمُسْلِمُ جَاهِلًا خَلْفَ الْبَقَرِ لَا يَعْرِفُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا سِوَى سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ يُصَلِّي بِهَا الصَّلَوَاتِ وَيُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ – خَيْرٌ لَهُ بِكَثِيرٍ مِنْ هَذَا الْعِرْفَانِ وَهَذِهِ الْحَقَائِقِ، وَلَوْ قَرَأَ مِائَةَ كِتَابٍ أَوْ عَمِلَ مِائَةَ خَلْوَةٍ

“Demi Allah, sungguh jika seorang muslim hidup dalam keadaan awam (tanpa pengetahuan rumit) di belakang penggembalaan sapi, tidak mengetahui ilmu apa pun selain beberapa surah Al-Qur’an yang ia gunakan untuk mendirikan salat, serta beriman kepada Allah dan hari akhir, itu jauh lebih baik baginya daripada sufisme/kearifan dan hakikat-hakikat ini, meskipun ia telah membaca seratus buku atau melakukan seratus kali khalwat (menyendiri untuk ibadah).” [9]

Demikianlah sikap dari seorang ulama yang mulia, Adz-Dzahabi rahimahullah. Berangkat dari hal ini, ulama berikutnya menyematkan bahwasanya Adz-Dzahabi bersikap pertengahan terhadap Ibnu ‘Arabi. Di antara yang berkata demikian adalah As-Suyuthi rahimahullah di dalam karyanya, Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.

Pelajaran yang sangat berharga dari Adz-Dzahabi rahimahullah, bahwa bersamaan dengan kesesatan dan penyimpangan dari Ibnu ‘Arabi, beliau tetap mengharapkan hidayah kepada Ibnu ‘Arabi. Bahkan setiap membahas tokoh-tokoh menyimpang di dalam kitab-kitabnya, beliau senantiasa menutup pembahasan tersebut dengan doa agar terhindar dari segala macam bentuk kesesatan. Wallahu a’lam.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Fushushul Hikam, hal. 345; dinukil dari Da’watut Taqrib, 1: 386.

[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.

[3] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19; di footnote.

[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 19.

[5] Mizaanul ‘Itidal, 3: 659.

[6] Tanbi’atul Ghabiy, hal. 2.

[7] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.

[8] Siyar A’lamin Nubala, 23: 49.

[9] Mizaanul ‘Itidal, 3: 660.

 

Referensi:

Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)

Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)

Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.

Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.

As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanbi’atul Ghabi bi Tabri’ati Ibnu ‘Arabi.

ShareTweetPin
Muhammad Zia Abdurrofi

Muhammad Zia Abdurrofi

- Alumni Ma'had Aly Ulun Nuha Medan Jurusan Bahasa Arab - Alumni Ma'had Minhajus Sunnah Bogor Jurusan Ulumus Syar'i

Artikel Terkait

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
4 Agustus 2026
0

Ibadah Al-Hasan Al-Bashri Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah. As-Sarri bin...

Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
1 Agustus 2026
0

Nama dan nasab Beliau adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri. Nama ayahnya adalah Yasar, seorang maula (bekas budak yang telah...

Biografi Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
12 Juli 2026
0

Akidah beliau Salah satu hal yang sangat menonjol dari pelajaran Syekh (rahimahullah), baik yang didengar langsung maupun yang dibaca dari...

Artikel Selanjutnya

Memilih Hobi yang Bermanfaat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah