Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 2)

Glenshah Fauzi oleh Glenshah Fauzi
12 Agustus 2026
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taat
  • Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalas
  • Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannya
  • Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezaliman

Dalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.

Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taat

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,

كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ

“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)

Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ

“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”

Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:

1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)

2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)

3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)

4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)

Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.

Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”

Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,

تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ

“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”

Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalas

Hikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.

Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.

Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.

Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannya

Para salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.

Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezaliman

Sebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)

“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)

Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,

أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)

“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)

Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.

Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:

1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;

2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.

Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.

Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
Glenshah Fauzi

Glenshah Fauzi

- Alumnus Ma'had Al Ilmi 2023-2024 - Alumni Kimia UGM '20

Artikel Terkait

Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah

oleh Mochammad Wibisono
9 September 2026
0

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri. Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat...

Buah dari Iman kepada Malaikat: Tetap Jujur Saat Tidak Dilihat Manusia

oleh Mochammad Wibisono
6 September 2026
0

Kesadaran terhadap alam gaib yang menumbuhkan integritas dalam kehidupan nyata. Kita hidup pada masa ketika seseorang dapat membangun citra publik...

Mengenal Nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

oleh Muhammad Insan Fathin
4 September 2026
0

Di antara perkara yang paling menenteramkan hati seorang mukmin saat mengarungi ujian kehidupan adalah keyakinan bahwa tidak ada satu pun...

Artikel Selanjutnya

Membaca Al-Qur'an Berhadiah Khamr (Bir) 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah