Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengenal Nama dan Sifat Allah

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
27 Mei 2008
di Akidah
nama dan sifat allah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Ilmu tentang Allah adalah pokok dari segala ilmu
  • Hampir setiap ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan nama dan sifat Allah
  • Yang paling takut kepada Allah adalah yang paling mengenal Allah
  • Kebodohan akan keagungan Allah adalah induk kemaksiatan
  • Nama Allah semuanya husna
  • Nama dan sifat Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu

Sudahkah anda mengenal nama dan sifat Allah? Jika belum, simak pembahasan singkatnya di artikel berikut ini.

Pembaca yang budiman, ilmu tentang mengenal Allah dan Rasul-Nya merupakan ilmu yang paling mulia. Ibnul Qayyim rahimahulloh mengatakan, “Kemuliaan sebuah ilmu mengikuti kemuliaan objek yang dipelajarinya.” Dan tentunya, tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia, paling agung dan paling utama adalah pengetahuan tentang Allah di mana tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Dia semata, Rabb semesta alam.

Ilmu tentang Allah adalah pokok dari segala ilmu

Ilmu tentang Allah adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Allah, dia akan mengenal yang selain-Nya. Dan barangsiapa yang jahil tentang Rabb-nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya daripadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah seorang yang beribadah kepada Allah dengan semua nama dan sifat-sifat Allah yang diketahui oleh manusia”. Beliau juga berkata, “Yang jelas, bahwa ilmu tentang Allah adalah pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.” (Miftaah Daaris Sa’aadah)

Hampir setiap ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan nama dan sifat Allah

Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Allah (yang artinya), “…Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 5); dan juga firman-Nya (yang artinya), “…Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 17)

Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia selalu merasa terawasi oleh Allah dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Allah.

Yang paling takut kepada Allah adalah yang paling mengenal Allah

Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Rabb-nya, maka ia akan semakin takut kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Faathir: 28)

Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Allah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan durhaka terhadap Rabb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Allah telah memerintahkannya untuk mengatakan, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku’.” (QS. Al-An’aam: 15)

Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Allah memandang bahwa kemaksiatan itu, meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia.

Kebodohan akan keagungan Allah adalah induk kemaksiatan

Dari Abul ‘Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Sahabat Rasulullah mengatakan, “Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Allah. Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya. Kalau saja rasa takutnya kepada Allah sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.”

Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh ‘alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Allah. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuuh: 13).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan)

Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Allah dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya?

Nama Allah semuanya husna

Nama-nama Allah semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya. Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (QS. Al-A’raf: 180)

Kewajiban kita terhadap nama-nama Allah ada tiga, yaitu: 1) beriman dengan nama tersebut, 2) beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut, dan 3) beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Allah adalah Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya.

Nama dan sifat Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, sahih).

Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Allah dan menjadi perkara yang gaib.

Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim); tidaklah menunjukkan pembatasan nama-nama Allah dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Allah yang 99 itu, mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menghafal dan memahaminya, niscaya dia akan masuk surga.

Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan dan mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita dari berbuat syirik kepada-Nya.

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya
makar makar misionaris

Waspadai Makar Misionaris Dalam Menyesatkan Ummat

Komentar 26

  1. muhammad amin al fikri says:
    18 tahun yang lalu

    apakah kurangnya pendidikan agama di waktu kecil berpengaruh di waktu dewasa?

    Reply
  2. agitha says:
    18 tahun yang lalu

    semua itu sangat berpengaruh karena kurangnya pendidikan islam diwaktu kecil akan berpengaruh terhadap sifat kedewasaannya, begitu!!!!

    Reply
  3. purwanie says:
    18 tahun yang lalu

    hidayah Alloh itu 2 (menurut saya*lagi*)
    1.hidayah benda yaitu Al Qur’an yg memuat tuntunan, hukum, pengetahuan dsb.
    2.hidayah hati.
    dan dlm kehidupan pelaksanaannya bisa saling melengkapi (seperti pertanyaan duluan mana telur sama ayam)
    ada sebagian org yg “berpegang pada Al Qur’an untuk mencari hidayah hati(pendidikan terlebih dahulu)” dan ada yg “mendapatkan hidayah hati terlebih dahulu dan menyempurnakannya dgn tuntunan Al Qur’an”

    Reply
  4. nanang says:
    17 tahun yang lalu

    ….sesunguhnya Alloh maha pengampun lagi maha penyayang (at Taubah :5). pencantuman ‘ maha’ tak pantas terhadap Alloh. mari kita evaluasi : 1. kata maha menunjukan adanya keterbatasan, karena setelah kata maha ada lagi yang lebih tinggi contoh Siswa SD, lalu siswa SMP, lalu Siswa SMA selanjutnya setelah siswa SMA disebut maha siswa (S1), terus Pasca Sarjana (S2), terus Doktor(S3), jadi tidak layak kita memberikan suatu pengagungan tehadap Alloh dengan kata maha tersebut karena Alloh adalah pemilik-Nya jadi seharusnya….Alloh yang Pengampun lagi yang penyayang.

    Reply
  5. abu muhammad says:
    17 tahun yang lalu

    @nanang

    rahimakallah,semoga Allah Ta’ala merahmatimu

    kata “maha” jika di sandarkan kepada Allah Ta’ala bermakna sepaling-paling..jadi tidak bisa kita samakan suatu kata yang disandarkan kepada makhluk (misal:siswa) dengan kata yang disandarkan kepada Allah Ta’ala..

    jika anda hanya mengatakan Allah pengampun dan penyayang maka tidak menafikan(menolak) ada yang sama dengan Allah, karena makhluk juga ada yang penyayang..padahal jelas Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk

    “tidak ada yang semisal dengan Allah,dan DIA-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-syuro:11)

    maka di dalam bahasa arab ada istilah “mubalaghoh” yang maksudnya adalah sepaling-paling..
    maka pada bahasa indonesia dengan menggunakan kata “maha”

    jadi maksudnya adalah Allah Ta’ala sepaling-paling pengampun dan sepaling-paling penyayang..

    wallahu Ta’ala A’lam

    Reply
  6. abu aliyah says:
    17 tahun yang lalu

    Aoakah ini termasuk sifat Allah yang tedapat di Hadits Muslim:

    dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : “Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ‘Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

    Mohon penjelasan..

    Reply
  7. abu aliyah says:
    17 tahun yang lalu

    syukron atas jawabannya akhi aswad.

    Sebenarnya hadits diatas merupakan dalil dari teman saya yang mengatakan bolehnya takwil terhadap berita-berita shahih tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang sampai kepada kita.

    Sedangkan saya beranggapan bahwa tidak boleh sama sekali takwil terhadap dalil shahih tentang sifat Allah yang sampai kepada kita. Cukup menerima apa adanya sesuai dengan bahasa dan mensifatinya sesuai dengan kemuliaan Allah Ta’ala.

    Apakah ada sikap pengecualian bagi kita untuk sifat Allah yang menunjukkan kelemahan secara zhahir?

    Mohon penjelasannya karena saya agak bingung disini.

    Reply
  8. Aswad says:
    17 tahun yang lalu

    Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Dar’u Ta’arudh Al Aql Wan Naql bahwa istilah ta’wil bisa dibenarkan jika yang dimaksud adalah:
    1. Tafsir (menjelaskan makna)
    2. Haqiqotus syai’i (arti yang hakiki dari sesuatu)
    3. Shorful ma’na ar rajih ilal marjuh bid dalil (Memalingkan makna yang zhahir ke makna yang agak jauh dengan dukungan dalil)

    Dan istilah ta’wil di kalangan para ulama salaf, ma’ruf dengan makna yang ke 1 dan 2. Adapun makna ke 3 baru muncul di kalangan mutaakhirin. (demikian ringkasan penjelasan beliau)

    Berbeda dengan ta’wil yang dilakukan ahlul bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif. Yaitu menyimpangkan makna zhahir ke makna yang jauh tanpa dalil. Dan inilah yang dilarang.

    Adapun pada kasus hadits di atas, penjelasan Imam Nawawi bukan termasuk ta’wil yang dilarang, karena itu termasuk TAFSIR.

    Bahkan dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah- bahwa jelas-jelas yang menafsirkan hadits tersebut adalah Allah Ta’ala sendiri di akhir hadits. Berikut kami bawakan penjelasan beliau tentang hadits ini di kitab beliau Qowa’idul Mutsla:

    “Para ulama salaf memaknai hadits ini sebagaimana adanya dan tidak menyimpangkan makna dengan melakukan tahrif sekehendak hawa nafsu mereka. Para ulama salaf menafsirkan hadits ini sebagaimana ditafsirkan oleh Dzat yang mengucapkannya (yaitu Allah Ta’ala). Firman Allah dalam hadits tersebut: ‘Aku sakit… Aku meminta makan… Aku meminta minum‘ ditafsirkan sendiri oleh Allah di akhir hadits: ‘Bukankah engkau tahu ada hambaku Si Fulan yang sedang sakit…Bukankah engkau tahu ada hambaku Si Fulan yang meminta makan…Bukankah engkau tahu ada hambaku Si Fulan yang meminta minum…‘.

    Dan ini jelas sekali bahwa maksudnya adalah sakitnya salah seorang hamba Allah, minta makannya salah seorang hamba Allah, dan minta minumnya salah seorang hamba Allah. Yang menafsirkan adalah Allah Ta’ala sendiri, Dzat yang mengucapkan firmanNya tersebt. Dan tentu Ia lebih mengetahui maknanya.

    Jika kita menafsirkan bahwa sakitnya Allah, minta makannya Allah, minta minumnya Allah dengan makna sakitnya hamba, minta makannya hamba, dan minta minumnya hamba, BUKANLAH MERUPAKAN PERBUATAN MENYIMPANGKAN MAKNA DARI MAKNA ZHAHIR. Karena hal ini adalah tafsir dari Dzat yang berbicaranya sendiri, sama seperti jika makna tersebut diucapkan terlebih dahulu…..dst ” (Qowa’idul Mutsla, Bab Qowa’idu Adillatil Asma Wa Shifat)

    Dan memang Syaikh Ibnu Utsaimin di lanjutan penjelasannya juga mengatakan hadits ini adalah salah satu hujjah pamungkas yang sering dipakai ahlut ta’wil, dan alhamdulillah telah dijelaskan bantahannya oleh beliau.

    Wallahu’alam.

    Reply
  9. abu 'Aliyah says:
    17 tahun yang lalu

    Syukron akhy atas jawabannya.

    Sepertinya penjelasan dari Syaikh Utsaimin sudah cukup memuaskan.

    Reply
  10. ima says:
    17 tahun yang lalu

    kenapa gak sekalian disebutkan apa saja sekaligus arti dan maksud..dari setiap kata sifat2 Alloh,jadi membacanya tidak setengah2?

    Reply
  11. chichi says:
    17 tahun yang lalu

    assalamu’alaikum..
    ikud gabung ya..
    iya..
    bnr tuh kata ima..
    sifat2 Allah yg wajib kan ada 20..
    aq mnta pnjelasan nya dunk..
    ada tugaz.hehehehe

    Reply
  12. abang says:
    17 tahun yang lalu

    sifat wajib 20 ? he he, kurikulum jaman sekolah dasar. Kalo ada ujian soalnya ada brp sifat wajib Allah ? Ya, jawabnya menurut standard siapa dulu ? memang, Abul Hasan Al Asyari pernah punya pendapat 20 sifat wajib Allah.

    padahal kita wajib imani setiap sifat yg Allah beritakan dalam Al Quran sesuai dgn ketinggian Allah yg berbeda dgn makhluknya

    Alhamdulillah, penjelasan masalah ini gamblang dan terangggg

    bagi yg mau belajar

    Reply
  13. irvi says:
    17 tahun yang lalu

    setelah saya membaca artikel ini ,saya mendapatkan sebuah pertanyaan,yang dimaksud orang bdoh itu seperti apa c……….atau mungkin orang-oang yang tidak bisa baca ,tulis?karena pada kenyataannya banyak dari mereka yang melakukan sesuatu yang menyimpang dari ajaran Allah orang-orang yang dpat berpikir secara logis.
    Untuk itu mohon di terangkan seara rinci atau jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahan presepsi dari kami.

    Reply
  14. mohd rifaie says:
    17 tahun yang lalu

    Saya ingin mendapatkan penjelasan lbih lanjut tentang sift 20.
    Sifat 20 di klasifikasi kepada 4 sifat lagi iaitu sifat nafsi, salbiah, ma’ani dan maknawiah.
    soalan saya, di klafikasikan sifat2 tersebut?
    Saya harap dapat penjelasan. Wallahu A’lam.

    Reply
    • Muslim.Or.Id says:
      16 tahun yang lalu

      @ Mohd Rifaie
      Yg tepat sifat Allah tidak dibatasi dengan 20. Sifat Allah itu teramat banyak.

      Reply
  15. andreas says:
    16 tahun yang lalu

    Assalamualaikum,
    Saya pernah membaca dalam tulisan seseorang tentang doa yang diucapkan seseorang bisa menggetarkan arsy. Dan ketika saya konfirmasikan ke yang bersangkutan ini bukan dimaksudkan sebagai kalimat hiperbolik.

    Mohon penjelasan.
    jazakumullah

    Reply
  16. antibanbocor says:
    16 tahun yang lalu

    akhi, aq bertanya pd seseorang yg ngaji bab tauhid katanya dia tidak memikirkan dzat allah, tetapi sedang mengkaji sifat2 wajib allah”

    “Dalam sebuah hadis disebutkan, “Berpikirlah mengenai makhluk Allah dan jangan berpikir mengenai Allah (Zatnya), sebab kamu semua tidak dapat mencapai kadar perkiraannya.”

    bgamana dengan pendapat seperti itu?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #antibanbocor
      Pembagian sifat menjadi wajib dan jaiz adalah tidak berdasar, semua sifat Allah yang berdasarkan dalil wajib untuk kita imani.
      Kita tidak boleh takyif, mendeskripsikan dzat Allah, selain tidak memungkinkan juga dapat membuka pintu bagi syaithan.
      Wallahu’alam.

      Reply
  17. abdulloh says:
    16 tahun yang lalu

    Alloh melakukan apapun yang di kehendaki NYA…
    Yang Mungkin ataupun ynag Tidak mungkin.

    Reply
  18. joko k says:
    16 tahun yang lalu

    ass wr wb, mau tanya bolehkah berdzikir dengan mengucapkan Ya Allah saja. trm ksh wassalam.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      16 tahun yang lalu

      #joko k
      “Ya Allah” artinya “wahai Allah..” , kalimat ini bukanlah kalimat sempurna. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selalu mengajarkan lafadz-ladadz dzikir dengan kalimat sempurna. Semisal Subhanallah “Maha suci Allah”, Allahu Akbar “Allah Maha Besar”, dll. Maka hendaknya anda pun demikian.

      Reply
  19. Muhammad Yususf says:
    15 tahun yang lalu

    Assalaamu’alaikum warohmatullah

    adakah yg mau memberikan penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala?

    terima kasih

    Reply
  20. @theonlynelly says:
    13 tahun yang lalu

    Ustadz, jazakallah khair atas artikelnya. Hanya ingin memberi koreksi pada salah satu ayat di dalam postingan. “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (Al-A’roof: 18) seharusnya tertulis ayat 180, hanya kurang 0-nya. Afwan.

    Reply
  21. hope says:
    13 tahun yang lalu

    aamiin

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   8   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah