Donasi Web Donasi Web

Polemik Pelafalan Niat Dalam Ibadah

Oleh: Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah

 

Mengeraskan bacaan niat tidaklah wajib dan tidak pula sunnah dengan kesepakatan seluruh ulama. Bahkan hal tersebut adalah bid’ah yang bertentangan dengan syari’at. Jika seseorang berkeyakinan bahwa perbuatan ini adalah bagian dari ajaran syariat, maka ia orang yang jahil, menyimpang, dan berhak mendapatkan hukuman ta’zir jika ia tetap bersikeras dengan keyakinannya, dan tentu saja setelah diberikan pengertian dan penjelasan. Lebih parah lagi jika perbuatannya itu mengganggu orang yang ada di sebelahnya, atau ia mengulang-ulang bacaan niatnya. Hal ini difatwakan oleh lebih dari seorang ulama. Di antaranya Al Qodhi Abu Ar Rabi Sulaiman Ibnu As Syafi’i, ia berkata:

الجهر بالنّية وبالقراءة خلف الإمام ليس من السنّة، بل مكروه، فإن حصل به تشويش على المصلّين فحرام، ومن قال بإن الجهر بلفظ النيّة من السنّة فهو مخطئ، ولا يحلّ له ولا لغيره أن يقول في دين الله تعالى بغير علم

“Mengeraskan bacaan niat atau mengeraskan bacaan Qur’an di belakang imam, bukan termasuk sunnah. Bahkan makruh hukumnya. Jika membuat berisik jama’ah yang lain, maka haram. Yang berpendapat bahwa mengeraskan niat itu hukumnya sunnah, itu salah. Tidak halal baginya atau bagi yang lain berbicara tentang agama Allah Ta’ala tanpa ilmu (dalil)”

Di antaranya juga, Abu Abdillah Muhammad bin Al Qasim At Tunisi Al Maliki, ia berkata:

النيّة من أعمال القلوب، فالجهر بها بدعة، مع ما في ذلك من التشويش على الناس

“Niat itu termasuk amalan hati. Mengeraskannya bid’ah. Lebih lagi jika perbuatan itu membuat berisik orang lain”

Di antaranya juga, Asy Syaikh ‘Alauddin bin ‘Athar, ia berkata:

ورفع الصّوت بالنيّة مع التشويش على المصلّين حرام إجماعاً، ومع عدمه بدعة قبيحة، فإن قصد به الرّياء كان حراماً من وجهين، كبيرة من الكبائر، والمنْكِرُ على مَنْ قال بأن ذلك من السنّة مصيب، ومصوّبة مخطئ، ونسبته إلي دين الله اعتقاداً كفر، وغير اعتقاد معصية.

ويجب على كل مؤمن تمكَّن مِن زجره، ومنعه وردعه، ولم ينقل هذا النقل عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، ولاعن أحدٍ من أصحابه، ولا عن أحد ممن يقتدى به من علماء الإسلام

“Meninggikan suara untuk membaca niat sehingga membuat berisik di antara jama’ah hukumnya haram secara ijma’ (consensus para ulama). Jika tidak membuat berisik, ia adalah perbuatan bid’ah yang jelek. Jika ia melakukan hal tersebut dalam rangka riya, maka haramnya ganda. Ia juga merupakan dosa besar. Yang mengingkari bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia berbuat benar. Yang membenarkan bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia salah. Menisbatkan perbuatan ini pada agama Allah adalah keyakinan yang kufur. Jika tidak sampai meyakini hal tersebut, maka termasuk maksiat. Setiap muslim wajib dengan serius mewaspadai perbuatan ini, melarangnya dan membantahnya. Tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang hal ini, tidak pula dari satupun sahabatnya, tidak pula dari para ulama Islam yang meneladani mereka”. (Semua nukilan di atas dapat ditemukan di Majmu’ah Ar Rasail Al Kubra, 1/254-257)

Demikian juga, melafalkan niat secara sirr (samar) tidak wajib menurut para imam madzhab yang empat juga para imam yang lain. Tidak ada seorang pun yang berpendapat hal itu wajib. Baik dalam shalat, thaharah ataupun puasa. Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad:

بقول المصلّي قبل التكبير شيئاً؟ قال: لا

“Apakah orang yang shalat mengucapkan sesuatu sebelum takbir? Imam Ahmad menjawab: tidak ada” (Masa-il Al Imam Ahmad, 31)

As Suyuthi berkata,

ومن البدع أيضاً: الوسوسة في نيّة الصّلاة، ولم يكن ذلك من فعل النبي – صلى الله عليه وسلم – ولا أصحابة، كانوا لا ينطقون بشيء من نية الصلاة بسوى التكبير. وقد قال تعالى: لقد كان لكم في رسول الله أُسوة حسنة

“Termasuk bid’ah, was-was dalam niat shalat. Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat beliau tidak pernah begitu. Mereka tidak pernah sedikitpun mengucapkan lafal niat shalat selain takbir. Dan Allah telah berfirman:

لقد كان لكم في رسول الله أُسوة حسنة

Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik‘ (QS. Al Ahzab: 21).

Imam Asy Syafi’i berkata,

الوسوسة في النية الصلاة و الطهارة من جهل بالشرع أو خبل بالعقل

“Was-was dalam niat shalat dan thaharah itu adalah kebodohan terhadap syariat atau kekurang-warasan dalam akal” (Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, 28)

Melafalkan niat itu menimbulkan banyak efek negatif. Anda lihat sendiri orang yang melafalkan niat dengan jelas dan rinci, lalu baru mencoba bertakbir. Ia menyangka pelafalan niatnya itu adalah usaha untuk menghadirkan niat. Ibnu Jauzi berkata:

ومن ذلك تلبيسه عليهم فِي نية الصلاة ، فمنهم من يَقُول : أصلى صلاة كذا ، ثم يعيد هَذَا ظنا مِنْهُ أنه قد نقض النية والنية لا تنقض ، وأن لم يرض اللفظ ومنهم من يكبر ، ثم ينقض ثم يكبر ثم ينقض ، فَإِذَا ركع الإمام كبر الموسوس وركع معه فليت شعري مَا الذي أحضر النية حينئذ ، وما ذاك إلا لأن إبليس أراد أن يفوته الفضيلة ، وفي الموسوسين من يحلف بالله لا كبرت غير هذه المرة ، وفيهم من يحلف بالله بالخروج من ماله أَوْ بالطلاق ، وهذه كلها تلبيسات إبليس ، والشريعة سمحة سهلة سليمة من هذه الآفات ، وما جرى لرسول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ولا لأصحابة شيء من هَذَا

“Di antara bisikan Iblis yaitu dalam niat shalat. Di antara mereka ada yang berkata ushalli shalata kadza (saya berniat shalat ini dan itu), lalu diulang-ulang lagi karena ia menyangka niatnya batal. Padahal niat itu tidak batal walaupun tidak diucapkan. Ada juga yang bertakbir, lalu tidak jadi, lalu takbir lagi, lalu tidak jadi lagi. Tapi ketika imam keburu ruku’, ia serta-merta bertakbir walaupun agak was-was demi mendapatkan ruku bersama imam. Mengapa begini?? Lalu niat apa yang ia hadirkan ketika itu?? Tidaklah ini terjadi kecuali karena iblis ingin membuat dia melewatkan berbagai keutamaan. Diantara mereka juga ada yang besumpah atas nama Allah untuk bertakbir lebih dari sekali. Ada juga yang bersumpah dengan nama Allah untuk mengeluarkan harta mereka atau dengan talak. Semua ini adalah bisikan iblis. Syariat Islam yang mudah dan lapang ini selamat dari semua penyakit ini. Tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam tidak juga para sahabatnya melakukan hal demikian” (Talbis Iblis, 138)

Penyebab Adanya Yang Membolehkan Pelafalan Niat

Penyebab timbulnya was-was adalah karena niat terkadang hadir di hati si orang ini dengan keyakinan bahwa niat itu tidak ada di hatinya. Maka ia pun berusaha menghadirkannya dengan lisannya. Sehingga terjadi apa yang terjadi. Abu Abdillah Az Zubairi, ulama Syafi’iyah, telah salah dalam memahami perkataan Imam Asy Syafi’i rahimahullahu ta’ala yaitu ketika menyimpulkan bahwa wajib melafalkan niat dalam shalat dari perkataan beliau. Ini disebabkan oleh buruknya pemahaman terhadap ungkapan imam Asy Syafi’i berikut:

إذا نوى حجّاً وعمرة أجزأ، وإنْ لم يتلفّظ وليس كالصّلاة لا تصح إلا بالنّطق

“Jika seseorang berniat haji atau umrah maka itu sah walaupun tidak diucapkan. Berbeda dengan shalat, shalat tidak sah kecuali dengan pengucapan”

Imam An Nawawi berkata:

قال أصحابنا: غلط هذا القائل، وليس مراد الشافعي بالنّطق في الصّلاة هذا، بل مراده التكبير

“Para ulama madzhab kami berkata, yang berkata demikian telah salah. Bukanlah maksud Imam Asy Syafi’i itu melafalkan niat dalam shalat, namun maksudnya adalah takbir” (Al Majmu’, 3/243)

Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi berkata:

لم يقل أحد من الأئمة الأربعة، لا الشّافعيّ ولا غيره باشتراط التلفّظ بالنيّة، وإنما النيّة محلّها القلب باتّفاقهم، إلا أن بعض المتأخرين أوجب التلفّظ بها، وخرج وجهاً في مذهب الشافعي! قال النووي رحمه الله: وهو غلط، انتهى. وهو مسبوق بالإجماع قبله

“Tidak ada seorang imam pun, baik itu Asy Syafi’i atau selain beliau, yang mensyaratkan pelafalan niat. Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para imam). Hanya segelintir orang-orang belakangan saja yang mewajibkan pelafalan niat dan berdalih dengan salah satu pendapat dari madzhab Syafi’i. Imam An Nawawi rahimahullah berkata itu sebuah kesalahan. Selain itu, sudah ada ijma dalam masalah ini” (Al Ittiba’, 62)

Ibnul Qayyim berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya ketika memulai shalat beliau mengucapkan الله أكبر dan tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya. Beliau juga tidak pernah sama sekali melafalkan niat. Beliau tidak pernah mengucapkan ushallli lillah shalata kadza mustaqbilal qiblah arba’a raka’atin imaaman atau ma’muuman (saya meniatkan shalat ini untuk Allah, menghadap qiblat, empat raka’at, sebagai imam atau sebagai makmum). Beliau juga tidak pernah mengucapkan ada-an atau qadha-an juga tidak mengucapkan fardhal waqti. Ini semua adalah bid’ah. Dan sama sekali tidak ada satu pun riwayat yang memuat ucapan demikian, baik riwayat yang shahih, maupun yang dhaif, musnad, ataupun mursal. Juga tidak ada dari para sahabat. Juga tidak ada istihsan dari seorang tabi’in pun, atau dari ulama madzhab yang empat. Ucapan demikian hanya berasal dari orang-orang belakangan yang menyalah-gunakan perkataan imam Asy Syafi’i tentang shalat:

إنها ليست كالصّيام ولا يدخل فيها أحدُ إلا بذكر

‘Shalat itu tidak seperti puasa, memulainya harus dengan dzikir’

Mereka menyangka bahwa dzikir di sini adalah melafalkan niat. Padahal yang dimaksud Asy Syafi’i adalah takbiratul ihram. Tidak mungkin tidak. Bagaimana mungkin Asy Syafi’i menganjurkan hal yang tidak pernah sekalipun dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam dalam shalat? Juga tidak pernah dilakukan sahabatnya juga para khalifah. Demikianlah petunjuk dan kebiasaan mereka. Andai kita menemukan satu huruf saja dari mereka, maka tentu akan kita terima. Bahkan kita terima dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang paling sempurna selain dari mereka. Dan tidak ada sunnah kecuali apa yang datang dari sang pembawa syari’at, Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam” (Zaadul Ma’ad, 1/201)

Melafalkan Niat, Bertentangan Dengan Dalil

Ringkasnya, para ulama dari berbagai negeri dan berbagai generasi telah menyatakan bahwa melafalkan niat itu bid’ah. Pendapat yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut disunnahkan adalah pendapat yang salah, tidak sesuai dengan pendapat Imam Asy Syafi’i dan tidak sesuai dengan dalil-dalil sunnah nabawi,

Diantaranya riwayat dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:
كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يستفتح الصَّلاة بالتّكبير
Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir” (HR. Muslim, no.498)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam terhadap orang yang shalatnya jelek, ketika orang tersebut berkata: ‘kalau begitu ajarkan saya shalat yang benar‘, beliau bersabda:

إذا قمت إلى الصّلاة فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة، فكبّر، ثم اقرأ بما تيسر معك من القرآن

“Jika engkau berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadap kiblat. Lalu bertakbirlah, lalu bacalah ayat Qur’an yang mudah bagimu”

Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhuma ia berkata:

رأيت النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه

Aku melihat Nabi Shallallahu’alahi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya” (HR. Bukhari no.738)

Nash-nash ini dan juga yang lain yang begitu banyak dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menunjukan bahwa memulai shalat adalah dengan takbir dan tidak mengucapkan apapun sebelumnya. Hal itu juga dikuatkan dengan ijma para ulama bahwa :

إذا خالف اللسان القلب، فالعبرة بما في القلب

Jika ucapan lisan berbeda dengan apa yang ada di hati, maka yang dianggap adalah apa yang ada di hati

Jika demikian, lalu apa faidahnya mengucapkan niat? Jika telah sepakat dan diyakini secara pasti bahwa apa yang diucapkan itu tidak ada gunanya jika bertentangan dengan apa yang ada di dalam hati.

Lalu hal ini pun menunjukkan adanya kegoncangan dalam pendapat orang yang mewajibkan menggandengan niat dengan takbiratul ihram dan mewajibkan atau menganjurkan niatnya dilafalkan. Bagaimana bisa melafalkan niat ketika lisan seseorang sibuk mengucapkan takbir? Dalam hal ini Ibnu Abil Izz Al Hanafi berkata: “Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

لايجوز ما لم يكن الذّكر اللساني مقارناً للقلبي. وأكثر النّاس عاجزون عن ذلك باعترافهم. والذي يدّعي المقارنة، يدّعي ما يردّه صريح العقل. وذلك أن اللسان ترجمان ما يحضر بالقلب، والمترجم عنه سابق قطعاً على أن الحروف الملفوظ بها في النيّة، منطبقة إلى آخر الزّمان، وهي منقضية منصرمة، لا تتصور المقارنة بين أنفسها، فكيف تتصور مقارنتها لما يكون قبلها؟!)

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang ucapan lisannya berbeda dengan ucapan hatinya secara bersamaan. Dan kebanyakan manusia mengakui mereka tidak bisa melakukan hal itu. Orang yang mengaku bisa melakukannya pun, ia telah mengakui hal yang ditolak oleh akal sehat. Karena lisan itu penerjemah apa yang hadir di dalam hati. Dan sesuatu yang diterjemahkan itu pasti ada lebih dahulu, karena setiap huruf yang diucapkan itu pasti dilandasi niat. Demikian seterusnya hingga selesai. Yang setelahnya adalah kelaziman dari sebelumnya. Tidak tergambar menggandengkan keduanya jika bersamaan, lalu bagaimana lagi menggabungkan sesuatu yang ada sebelumnya?”

 

Referensi: Al Qaulul Mubin Fii Akhta-il Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, Dar Ibnul Qayyim, hal. 91-96.

 

Penyusun: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Print Friendly, PDF & Email
App Muslim.or.id

About Author

Yulian Purnama

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

View all posts by Yulian Purnama »
  • Yudistyra

    Bismillah

    Assalammu’alaikum

    Bagaimana dengan pengertian iman itu adalah membenarkan dalam hati, di ucapkan dengan lisan, dan di amalkan dengan perbuatan?
    Mohon bimbingannya akh.

    Syukron,
    Jazakallahu khoiran

    • #Yudistira
      Wa’alaikumussalam, ya memang benar itulah pengertian iman. Namun tidak berhubungan dengan masalah ini. Apakah maksudnya iman = niat? Tentu tidak sama. Ataukah maksudnya niat diqiyaskan dengan iman? Ini qiyas yang tidak benar.

  • Lukman

    Assalamu’alaikum ustad ijin bertanya.
    Bgaimana jika yg melafalkan niat adalah imam dan dilafalkan dngan keras???? Shga trkadang jika shlat dg imam tersebut jdi kurang sreg.

    • #Lukman
      Wa’alaikumussalam, tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Namun jika ada masjid yang lebih sesuai sunnah itu lebih baik.

  • fahmi zein

    Assalamm’alaikum. . .
    Afwan akhi , saya mseh bingung ,
    Jd niat itu dr hati ,bkn dr lisan ya.
    Yg penting hati kita. ,dan tdk ada bacaan2 niat.
    Kecuali takbir

  • widy

    aswrb, yg benar itu tidak melafadzkan niat sama sekali baik di lisan maupun di dalam hati atau tetap melafadzkan niat tapi di dalam hati saja? wassalam

    • #widy
      Niat itu tempatnya di dalam hati, tapi tidak ada pelafalan khusus. Dan niat itu adalah keinginan, ketika dalam hati anda ada keinginan ke masjid untuk shalat, maka itu sudah niat.

  • Mochamad Firman

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Ustadz, berarti yang membedakan antara shalat zuhur, asar dan lainnya dan juga antara shalat wajib dan sunnah. cukup yg hadir didalam hati.

    misal: sudah terdengar azan zuhur, maka saya hanya perlu menghadirkan didalam hati saya saya mau shalat zuhur. dan juga pada shalat lainnya atau ibadah lainnya.

    begitukah Ustadz..?

    Jazakumulloh Khoiron Katsiron

    • #Mochamad Firman
      Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, ya benar

  • Sugi Mulyono

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
    Ustadz, bagaimana membedakah antara niat dengan kebiasaan?, misalnya karena sudah terbiasa sholat di masjid, ketika terdengar suara adzan, langsung berangkat ke masjid, tanpa menghadirkan niat, bagaimana hukumnya?
    Jazakumulloh Khoiron Katsiron.

    • #Sugi Mulyono
      Setiap perbuatan, walau sudah biasa, ketika melakukannya pasti tidak lepas dari niat.

  • ryo

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    ustadz, saya mau tanya bagaimana dengan niat wudhu dan mandi wajib, apakah diucapkan dg lisan atau sama hanya diniatkan dalam hati saja?
    dan apakah sama hukumnya jika membaca doa sebelum makan dan tidur.
    agama saya masih dangkal ustadz, mohon pencerahannya
    Jazakumulloh Khoiron Katsiron

  • Pingback: Fikih Puasa (2): Rukun dan Niat Puasa | Istiqomah di Atas Manhaj Salaf()

  • Pingback: Fikih Puasa (2): Rukun dan Niat Puasa | Blog()

  • Irman

    Assalamualaikum..

    Bagaimana dengan pembacaan taawudz dan basmalah ketika hendak melakukan sholat. Sementara Rasulullah hanya membaca takbir? Apakah boleh? Atau itu juga merupakan amalan yang tidak ada tuntunannya. Terima kasih Ustadz atas pencerahannya.

    • #Irman
      Wa’alaikumussalam. Rasulullah juga membaca ta’awudz dan basmalah.

      • Ipung BKS

        Afwan ustadz …

        Mohon dalilnya kalau sebelum sholat Rasulullah juga membaca ta’awudz dan basmalah.
        Syukron ..

          • Ipung BKS

            Afwan ustadz ..
            Sudah ana baca link yg diberikan, cuma itu praktek baca ta’awudz dan basmalah dalam sholat (bukan sebelum sholat/takbiratul ihram) ..
            Masalahnya, ustadz menjawab pertanyaan akhi Irman yang menanyakan apakah boleh pembacaan taawudz dan basmalah ketika HENDAK melakukan sholat (hal tsb sesuai tuntunan atau tidak) ?
            Nah ustadz menjawab Rasulullah juga membaca ta’awudz dan basmalah (persepsi ana jawaban ustadz ini membolehkan baca ta’awudz dan basmalah sebelum sholat/takbiratul ihram …
            Gimana menurut ustadz …?

          • Kami tidak katakan basmalah dan ta’awudz itu dibaca sebelum takbir atau sebelum shalat.

            Saudara Irman di atas mengatakan: “Bagaimana dengan pembacaan taawudz dan basmalah ketika hendak melakukan sholat. Sementara Rasulullah hanya membaca takbir?”

            Maka kami ingin menafikan bahwa Rasulullah hanya membaca takbir. Namun, Rasulullah juga membaca basmalah dan ta’awudz. Adapun tata caranya, ta’awudz setelah baca istiftah dan setelah itu basmalah.

            Demikian semoga dapat dipahami.

          • Arie Dwi Sulthoni

            Ustadz, berarti kesimpulannya : Takbir-Istiftah-Ta’awudz-Basmallah-Al-Fatihah… bener gak?

          • Sa’id Abu Ukkasyah

            Ya, benar

  • Pingback: Fiqh Puasa (2) : Rukun dan Niat Puasa | Abu Zahra Hanifa()

  • Pingback: Fiqih Puasa Dari Matan Abi Syuja’ | Bagian 2 : Rukun Puasa | GEMA ISLAM()

  • Dimiheadfield

    1. Bagaimana dengan niat2 sholat dengan bahasa arab seperti ” usholli fardhol maghribi…,dll” apakah niat dengan rangkaian kata2 ini ada dalilnya?, jika tidak ada, sebaiknya seperti apa niat saya?
    2. Teman saya berniat dalam hati dengan bahasa indonesia ” saya niat sholat maghrib, 3 rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala” , apakah ini boleh?
    3. Jika berniat sholat tanpa kata2 seperti diatas, apakah boleh?
    Mohon bimbingannya. Terima Kasih.

  • Wa’alaikumussalam. Jk sdh ada kehendak untuk melakukan ibadah -dalam hati- maka itu disebut berniat.

    2014-08-26 13:30 GMT+07:00 Disqus :

    • hendra

      saya pernah mendengar ustadz, dari sebuah video di yufid tv tentang masalah niat, dikatakan bahwa memang betul kehendak kita untuk melaksanakan shalat maka itu sudah terhitung niat, tapi dikatakan juga kalau tidak khilaf disebutkan agar menyebutkan di hati bahwa kita melaksanakan shalat karena mengikuti perintah Allah, dan tetap menyebutkan juga dihati shalat apa yang kita laksanakan, misal akan melaksanakan shalat dzuhur, maka di hati kita menyebut shalat dzuhur ? ini bagaimana ustadz, jika benar berarti tetap harus ada pelafalan di hati ?

      saya bingung ustad..

      • Niat = keinginan dalam hati, simpel.

        Sent from my iPad Air

        • hendra

          bagaimana mengatasi keraguan yg muncul ustadz, karena akhir-akhir ini jika langsung bertakbir saja saya merasa seolah-olah belum berniat., sangat susah rasanya meyakinkan hati sehingga membuat takbir saya berulang-ulang..

  • Pingback: Tergantung Niat.. | Siti Fatimah Aisyah()

  • fikri jalalluddin

    Asssalamu’alaykum ustadz. lalu bagaimana dengan niat zakat, mandi junub, dan lainnya. apakah sama layaknya shalat, tidak perlu dilafalkan ?

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam, setiap ibadah itu harus berdalil, jika tidak ada dalilnya , maka tidak boleh diamalkan

  • Pingback: Hukum Melafalkan Niat Shalat | Komda FSH Syahid()

  • Pingback: Tata Cara Mengqadha Shalat Yang Terlewat | Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah()

  • Arie Dwi Sulthoni

    assalamu’alaykum ustadz… manakah pendapat yang lebih kuat? basmallah termasuk Al-Fatihah atau tidak termasuk?

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikmus salam, Tidak termasuk.