Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fikih Jual Beli Kredit (Bag. 8): Syarat-Syarat Jual Beli Kredit (Lanjutan)

Muhammad Zia Abdurrofi oleh Muhammad Zia Abdurrofi
24 Juni 2025
di Fikih Muamalah
Fikih Jual Beli Kredit
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Syarat-syarat jual beli kredit (lanjutan)
    • Syarat keempat: Barang harus diserahkan di awal [1]

Syarat-syarat jual beli kredit (lanjutan)

Masih pada syarat-syarat yang berkaitan dengan ‘iwadh (nilai dan barang) pada transaksi jual beli kredit.

Syarat keempat: Barang harus diserahkan di awal [1]

Di antara syarat dalam jual beli kredit yaitu barang harus diserahkan di awal dan bukan diberikan di akhir. Ini termasuk syarat yang sangat penting. Karena jika barang diserahkan di akhir, hal ini termasuk dalam jual beli utang dengan utang.

Setidaknya ada beberapa kategori dalam jual beli,

DeksripsiKategoriHukum
Uang diberikan di awalBarang diberikan di awalJual beli pada umumnyaBoleh
Uang diberikan di awalBarang diberikan di akhirJual beli dengan akad SalamBoleh

(dengan syarat uang diberikan di awal secara tunai dan tidak boleh dicicil/utang)

Uang diberikan di akhirBarang diberikan di awalJual beli kreditBoleh

(dengan syarat barang tidak boleh diakhirkan)

Uang diberikan di akhirBarang diberikan di akhirJual beli utang dengan utangTidak diperbolehkan

*Maksud diberikan di awal adalah uang/barang diberikan secara kontan pada saat transaksi, sedangkan maksud diberikan di akhir adalah uang/barang ditunda pemberiannya.

Dari tabel di atas, dapat dipahami bahwa dalam jual beli, uang dan barang tidak boleh diakhirkan. Karena ini termasuk dalam jual beli utang dengan utang. Dalam transaksi akad salam misalnya, ketika sudah akad, maka uang harus diserahkan di awal oleh pembeli dan tidak boleh ditunda pembayarannya. Setelah itu, pembeli menunggu barangnya diberikan di kemudian hari sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak.

Begitupun dengan jual beli kredit, tidak boleh jika uang diberikan secara dicicil (kredit). kemudian barang pun ditunda pemberiannya. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menuturkan,

لا يجوز بيع النسيئة بنسيئة بأن يقال : بعني ثوباً في ذمتك بصفته كذا إلى شهر كذا بدينار مؤجل إلى وقت كذا، فيقول : قبلت، وهذا فاسد بلا خلاف.

“Tidak diperbolehkan jual beli yang tertunda (utang) dengan yang tertunda (utang). Seperti misalnya seseorang mengatakan, ’Jual lah sehelai pakaian yang ada padamu dengan model begini dan begitu dan diserahkan pada bulan sekian, yang akan saya bayar dengan satu dinar (utang) pada waktu yang akan datang.’ Kemudian ia (pihak yang ditawari) mengatakan, ’Saya terima’. Maka transaksi ini fasid (rusak) tanpa ada perselisihan para ulama.” [2]

Kembali lagi, ini termasuk jual beli utang dengan utang yang terlarang. Dari sahabat Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

نَهَى عَنْ بَيْعِ ‌الْكَالِئِ ‌بِالْكَالِئِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli yang tertunda (utang) dengan yang tertunda.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan lainnya)

Abu ‘Ubaid berkata, yang dimaksud dengan “Al-Kaali’ bil Kaali’” adalah menjual yang tertunda dengan pembelian yang tertunda (dicicil). [3]

Hadis di atas dinilai sebagai hadis yang dha’if (lemah) oleh para ulama. Di antaranya, Imam Ahmad rahimahullah berkata,

لَيْسَ فِي هَذَا حَدِيْثٌ يَصِحُّ

“Tidak ada hadis sahih dalam hal ini.” [4]

Kendati hadis ini adalah hadis yang dha’if, namun ijma’ (sepakat) para ulama menerima hadis ini dikarenakan maknanya adalah makna yang benar. [5] Di antara yang membenarkan makna ini adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. [6]

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

والكالئ هو المؤخر الذي لم يقبض بالمؤخر الذي لم يقبض وهذا كما لو أسلم شيئا في شيء في الذمة وكلاهما مؤخر فهذا لا يجوز بالاتفاق وهو بيع كالئ بكالئ.

“Al-Kaali’ adalah jual beli (barang) yang ditunda penyerahannya dan belum diterima dengan (uang) yang ditunda penyerahannya dan belum diterima. Hal ini seperti seseorang menunda penyerahan (suatu barang) dengan (uang) yang tertunda pula. Kedua-duanya tertund. Sehingga ini tidak diperbolehkan menurut kesepakatan para ulama. Inilah yang dinamakan jual beli Al-Kaali’ bil Kaali’.” [7]

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan,

فإن المنهي عنه قد اشتغلت فيه الذمتان بغير فائدة، فإنه لم يتعجَّل أحدهما ما يأخذه، فينتفع بتعجُّله، وينتفع صاحب المؤخَّر بربحه، ‌بل ‌كلاهما ‌اشتغلت ذمته بغير فائدة.

“Sebab sesungguhnya yang dilarang dalam (jual beli Al-Kaali’ bil Kaali’) adalah dikarenakan padanya terdapat dua pihak yang terikat tanpa ada manfaat (yang segera diterima). Tidak ada di antara kedua belah pihak yang bersegera untuk mengambil manfaatnya, baik dari penerima ataupun yang menyerahkan. Sehingga keduanya dapat merasakan manfaat dari penerimaannya yang segera (di awal akad). Yang ada, keduanya sama-sama terikat tanggunannya tanpa ada manfaat yang diterima.” [8]

Terdapat perselisihan para ulama dalam memahami makna Al-Kaali’ bil Kaali’ dalam riwayat di atas. Namun, pendapat yang terkuat adalah pendapat yang diutarakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahumallah.

Sehingga dapat diketahui bahwasanya dalam jual beli kredit, tidak diperbolehkan barang diserahkan di akhir atau ditunda penyerahannya. Karena termasuk jual beli utang dengan utang. Jika memang barang tidak bisa diserahkan di awal akad, maka silahkan pilih opsi yang lain, yaitu dengan menggunakan akad salam, tentunya dengan syarat pembayaran harus diberikan secara cash di awal.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

[Bersambung]

Kembali ke bagian 7  Lanjut ke bagian 9

***

Depok, 15 Zulhijah 1446/ 10 Juni 2025

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

  • Al-Bay’u bit Taqsith Ahkaamuhu wa Atsaaruhu fil Fiqhil Islamiy, karya Dr. Abdunnur Farih Ali.
  • Al-Mumti’ Fi Syarhil Muqni’, karya Abul Barakat Ibnul Munajja.
  • Majallah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islamiy.
  • Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, karya Syekh bin Baz rahimahullah.
  • Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
  • I’laamul Muwaqqi’in, karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.

 

Catatan kaki:

[1] Al-Bay’u bit Taqsith Ahkaamuhu, hal. 134.

[2] Al-Bay’u bit Taqsith Ahkaamuhu, hal. 135; dinukil dari Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab.

[3] Al-Mumti’ fi Syarhil Muqni’, 2: 500.

[4] Majallah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islamiy, 11: 117; dinukil dari Naylul Author, karya Asy-Syaukani.

[5] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 19: 43.

[6] Majallah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islamiy, 11: 117.

[7] Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 20: 512.

[8] I’laamul Muwaqqi’in, 2: 243.

ShareTweetPin
Muhammad Zia Abdurrofi

Muhammad Zia Abdurrofi

- Alumni Ma'had Aly Ulun Nuha Medan Jurusan Bahasa Arab - Alumni Ma'had Minhajus Sunnah Bogor Jurusan Ulumus Syar'i

Artikel Terkait

Fikih Riba (Bag. 15): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (3)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
7 Juli 2026
0

Ketentuan selanjutnya adalah taqabudh (serah terima). Ketentuan ini wajib hukumnya apabila transaksi jual beli barang ribawi berbentuk: Satu jenis dan...

Fikih Riba (Bag. 14): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (2)

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
30 Juni 2026
0

Di antara ketentuan pada riba buyu’ (jual beli) adalah wajibnya sama rata (tamatsul) dalam takaran dan timbangan. Hal ini khusus...

Fikih “DP” (Uang Muka): Mengenal Hukum Bay’ Al-‘Urbun dalam Jual Beli

oleh Muhammad Zia Abdurrofi
19 Juni 2026
0

Di antara pembahasan-pembahasan dalam bidang fikih muamalah, terdapat satu masalah yang sangat penting untuk diketahui. Transaksi ini sangat sering dilaksanakan...

Artikel Selanjutnya
Menyembelih Hewan dengan Cara yang Ihsan

Bagaimana Menyembelih Hewan dengan Cara yang Ihsan? (Bag. 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 9   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah