Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Fikih Salat di Masjid Quba

Prasetyo Abu Ka'ab oleh Prasetyo Abu Ka'ab
18 Mei 2025
di Fikih Ibadah
Fikih Salat di Masjid Quba
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Hadis-hadis tentang salat di masjid Quba
  • Keutamaan salat di masjid Quba
  • Tata cara salat di masjid Quba
    • Pertama: Berwudu dari rumah atau tempat asal
    • Kedua: Salat yang dilakukan boleh fardu maupun sunah
    • Ketiga: Hari yang paling dianjurkan adalah hari Sabtu
    • Apakah bersuci dari rumah merupakan syarat?
  • Bolehkah melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihāl) khusus untuk mengunjungi masjid Quba?
  • Doa dan zikir yang dibaca

Salat merupakan tiang agama, dan amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Keutamaan salat tidak hanya ditentukan oleh waktu pelaksanaannya, tetapi juga oleh tempat di mana salat itu ditunaikan. Di antara tempat yang paling utama untuk mendirikan salat setelah tiga masjid utama (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha) adalah masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hijrah ke Madinah. Disunahkan untuk mengunjungi masjid Quba dan melaksanakan salat di dalamnya. Allah Ta‘ala berfirman,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

“Sesungguhnya, masjid yang didirikan atas dasar takwa (yaitu masjid Quba) sejak hari pertama lebih berhak untuk kamu salat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108) [1]

Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara ringkas hadis-hadis tentang salat di masjid Quba, keutamaannya, tata cara pelaksanaannya, serta doa dan zikir yang dianjurkan untuk dibaca.

Hadis-hadis tentang salat di masjid Quba

Terdapat sejumlah hadis yang membicarakan tentang salat di masjid Quba. Di antara yang paling penting adalah sebagai berikut,

Pertama: Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ‌تَطَهَّرَ ‌فِي ‌بَيْتِهِ، ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke masjid Quba, lalu salat di dalamnya satu salat, maka baginya pahala seperti umrah.” (HR. Ibnu Majah 320, disahihkan oleh al-Albani)

Kedua: Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي مسجد قباء، راكباً وماشياً، فيصلي فيه ركعتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa datang ke masjid Quba dalam keadaan berkendara dan berjalan kaki, lalu beliau salat di dalamnya dua rakaat.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

رأيت النبي يأتيه كل سبت

“Aku melihat Nabi datang ke masjid itu setiap hari Sabtu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]

Keutamaan salat di masjid Quba

Salat di masjid Quba memiliki keistimewaan yang sangat agung. Di antaranya adalah:

Pertama: Pahalanya setara dengan umrah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di atas.

Kedua: Merupakan masjid yang didirikan di atas dasar takwa sejak hari pertama, Allah mendorong dan memotivasi kita untuk menunaikan salat di situ.

Ketiga: Bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keempat: Menjadi tempat pemersatu kaum mukminin.

Kelima: Berfungsi sebagai benteng dan perlindungan bagi Islam dan kaum muslimin.

Keempat poin di atas (poin kedua sampai kelima), disarikan dari perkataan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap surah At-Taubah ayat 108. Beliau mengatakan,

ثُمَّ حَثَّهُ عَلَى الصَّلَاةِ فِي مَسْجِدِ قُباء الَّذِي أُسِّسَ مِنْ أَوَّلِ يَوْمِ بِنَائِهِ عَلَى التَّقْوَى، وَهِيَ طَاعَةُ اللَّهِ، وَطَاعَةُ رَسُولِهِ، وَجَمْعًا لِكَلِمَةِ الْمُؤْمِنِينَ ومَعقلا وَمَوْئِلًا لِلْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ؛ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: {لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ} وَالسِّيَاقُ إِنَّمَا هُوَ فِي مَعْرِضِ مسجد قباء

“Kemudian Allah mendorong (Nabi dan umatnya) untuk menunaikan salat di masjid Quba, yaitu masjid yang sejak hari pertama pembangunannya telah didirikan di atas dasar takwa. Salat di dalamnya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya, serta sebagai sarana untuk mempersatukan kalimat kaum mukminin, sekaligus menjadi benteng dan tempat perlindungan bagi Islam dan pemeluknya. Oleh karena itu, Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya), ‘Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, lebih berhak untuk kamu salat di dalamnya‘ (QS. At-Taubah: 108).” [3]

Tata cara salat di masjid Quba

Pertama: Berwudu dari rumah atau tempat asal

Disunahkan bagi seorang muslim untuk bersuci (berwudu) terlebih dahulu di tempat tinggalnya (atau hotel tempat menginap), kemudian berangkat menuju masjid Quba. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Ibnu Majah di atas. Sebagian ulama menganggap sunah ini merupakan syarat untuk mendapatkan keutamaan berupa pahala umrah, sebagaimana yang akan kami singgung dalam sub-bab berikutnya.

Kedua: Salat yang dilakukan boleh fardu maupun sunah

Tidak ada pembatasan khusus; salat yang dilakukan di masjid Quba bisa berupa salat fardu jika waktunya bersamaan, atau salat sunah dua rakaat sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini juga berdasarkan hadis Ibnu Majah di atas.

Ketiga: Hari yang paling dianjurkan adalah hari Sabtu

Berdasarkan hadis sahih dari Ibnu Umar, sebagaimana telah disebutkan di atas. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

يستحب ‌استحبابا ‌متأكدا أن يأتي مسجد قباء وهو في يوم السبت آكد ناويا التقرب بزيارته والصلاة فيه …

“Disunahkan dengan penekanan yang kuat untuk mendatangi masjid Quba, terutama pada hari Sabtu, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah melalui kunjungan dan salat di dalamnya.” (kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil atasnya) [4]

Apakah bersuci dari rumah merupakan syarat?

Para ulama berselisih pendapat, apakah bersuci dari rumah merupakan syarat untuk mendapatkan keutamaan berupa pahala umrah? Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu merupakan syarat (untuk mendapatkan keutamaan pahala seperti umrah) [5], dan sebagian lain menyatakan bahwa itu bukan syarat. As-Sindi rahimahullah dalam Hasyiyah-nya atas Sunan Ibnu Majah menjelaskan,

قَوْلُهُ: (مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ) ‌لَعَلَّ ‌هَذَا ‌الْقَيْدَ ‌لَمْ ‌يَكُنْ ‌مُعْتَبَرًا ‌فِي ‌نَيْلِ ‌هَذَا الثَّوَابِ بَلْ ذَكَرَهُ لِمُجَرَّدِ التَّنْبِيهِ عَلَى أَنَّ الذَّهَابَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَيْسَ إِلَّا لِمَنْ كَانَ قَرِيبَ الدَّارِ مِنْهُ …

“Ucapan Nabi, ‘Barangsiapa bersuci di rumahnya‘, kemungkinan syarat ini bukanlah sesuatu yang mutlak untuk memperoleh pahala tersebut, melainkan hanya sekadar penjelasan bahwa orang yang dimaksud adalah penduduk sekitar … ” [6]

Namun tidak diragukan bahwa sikap yang paling hati-hati (al-aḥwaṭ) untuk mendapatkan keutamaan tersebut adalah bersuci terlebih dahulu sebelum berangkat menuju masjid Quba, sebagai pengamalan terhadap zahir hadis. Wallaahu a’lam. [7]

Bolehkah melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihāl) khusus untuk mengunjungi masjid Quba?

Seseorang tidak boleh melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihāl) dengan tujuan khusus untuk salat di masjid Quba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: المسجد الحرام، ومسجد الرسول صلى الله عليه وسلم، ومسجد الأقصى.

“Tidak boleh melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihāl) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Syekh Bin Baaz rahimahullah pernah ditanya permasalahan tersebut, dan beliau menjawab,

لا، شَدُّ الرحال إلى ثلاثة مساجد بس، ومسجد قباء اللي في المدينة يروح بالسيارة ما يخالف، أما يأتي من خارج المدينة فلا، الرسول ﷺ كان يزوره من المدينة راكبًا أو ماشيًا عليه الصلاة والسلام، أما شد الرحل إليه من بلد أخرى لا، إلا الثلاثة مساجد.

“Tidak, karena perjalanan jauh (syaddur-rihāl) hanya dibolehkan menuju tiga masjid saja, yaitu: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Adapun Masjid Quba yang berada di Madinah, boleh dikunjungi oleh penduduk Madinah atau yang sedang berada di dalamnya, baik dengan berjalan kaki maupun berkendaraan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa mengunjungi masjid Quba dari Madinah, dalam keadaan berkendaraan atau berjalan kaki. Namun, seseorang tidak boleh melakukan perjalanan jauh dari negeri lain, dengan tujuan khusus untuk salat di masjid Quba, karena yang dibolehkan syaddur-rihāl hanyalah ke tiga masjid utama.” [8]

Doa dan zikir yang dibaca

Terkait dengan doa dan zikir yang dibaca khusus dalam salat di masjid Quba ini, kami belum menemukan adanya doa dan zikir khusus tersebut. Wallaahu a’lam.

Demikian, semoga Allah Ta‘ala memberikan kita taufik untuk mengamalkannya dengan niat yang ikhlas dan mengikuti sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca juga: Sejarah dan Keutamaan Masjid Quba

***

Rumdin PPIA Sragen, 1 Zulqadah 1446

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi utama:

Bazmul, Muhammad Umar. Bughyatu al-Mutathawwi’ fi Shalati at-Tathawwu’. Kairo: Darul Imam Ahmad, cetakan ke-1, 2006.

Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Cetakan ke-2. Kairo: Dar ‘Alamiyah, 2012 M. 4 jilid.

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Al-Fiqh al-Muyassar, 4: 101; dan Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 2: 557.

[2] Lihat Bughyat al-Mutathawwi‘ fi Salat at-Tathawwu‘, hal. 154.

[3] Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, 2: 557.

[4] Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 8: 276.

[5] Lihat fatwa Syekh Ibn Bāz tersebut di: https://binbaz.org.sa/fatwas/11618

[6] Hasyiyah As-Sindiy ‘ala Sunan Ibn Majah, 1: 431.

[7] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/132290/

[8] https://binbaz.org.sa/fatwas/21477/

ShareTweetPin
Prasetyo Abu Ka'ab

Prasetyo Abu Ka'ab

- Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta 2008, - Alumni S1 Ilmu Komputer UGM 2008, - Alumni S2 Ilmu Al-Quran IUM (Minnessota) 2024, - Pengajar di Ponpes Ibnu Abbas Assalafy SragenSelengkapnya : http://abukaab.blogspot.co.id/p/tentang-kami.html

Artikel Terkait

Fikih Akikah (Bag. 2): Waktu, Tempat, dan Pihak yang Menanggung Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
29 Juni 2026
0

Waktu pelaksanaan akikah Waktu akikah disunahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh setelah bayi tersebut lahir. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Sunahnya...

Fikih Akikah (Bag. 1): Hukum dan Makna di Balik Akikah

oleh Luqman Hasan Nahari
28 Juni 2026
0

Pengertian akikah adalah kurban yang disembelih atas nama bayi yang baru lahir. Al-Mawardi rahimahullah berkata bahwa akikah adalah domba yang...

Beberapa Kesalahan Terkait Wukuf di Arafah

oleh Luqman Hasan Nahari
25 Mei 2026
0

Ibadah haji bagi kebanyakan kaum muslimin mungkin hanya dapat dilaksanakan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap jemaah...

Artikel Selanjutnya
Tolok Ukur Kesuksesan

Mengapa Kecerdasan Semata Bukanlah Tolok Ukur Kesuksesan?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 1   +   4   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah