Kasih sayang ibu: Cinta paling tulus di dunia
Kasih sayang ibu adalah salah satu bentuk cinta paling tulus yang ada di dunia ini. Seorang ibu merawat, melindungi, dan mencintai anaknya tanpa syarat, bahkan sebelum anak itu lahir. Seorang ibu rela berkorban demi anaknya, baik secara fisik maupun emosional. Sejak mengandung, melahirkan, hingga membesarkan, ibu selalu mengutamakan kebahagiaan dan keselamatan anaknya. Bahkan, ketika anak melakukan kesalahan, ibu tetap mencintai dan mendoakannya.
Bayangkan seorang ibu yang menggendong bayinya dengan penuh cinta. Ia rela begadang sepanjang malam, menahan lelah dan letih demi memastikan anaknya tidur dengan nyaman. Jika sang anak menangis, ia segera menenangkannya. Jika sang anak lapar, ia mendahulukan makannya. Begitu besar kasih sayang seorang ibu, tetapi tahukah kita bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya?
Allah mencintai kita bahkan sebelum kita mengenal-Nya. Dia memberi kita kehidupan, udara untuk bernapas, makanan untuk bertahan hidup, dan perlindungan dalam setiap langkah. Bahkan saat kita berbuat dosa dan menjauh dari-Nya, Allah tetap membuka pintu kasih sayang-Nya, menunggu kita kembali dengan penuh ampunan.
Kasih sayang Allah: Tidak terbatas dan sempurna
Meskipun kasih sayang ibu begitu tulus dan penuh pengorbanan, kasih sayang Allah Azza wa Jalla melampaui batasan yang bisa kita bayangkan. Allah tidak hanya mencintai hamba-Nya tanpa syarat, tetapi juga memberikan rahmat yang luas, pengampunan yang tak terbatas, dan petunjuk bagi kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
قَالَ عَذَابِىۤ اُصِيبُ بِه مَن اَشَاءُ وَرَحمَتِى وَسِعَت كُلَّ شَىءٍ
“(Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu …” [1]
Terdapat sebuah hadis yang menunjukkan bahwa kasih sayang Allah lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyampaikan,
ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu, ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” [2]
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, kita harus selalu berharap kepada-Nya, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan.
Bukti kasih sayang Allah
Kasih sayang Allah Azza wa Jalla begitu luas dan tidak terbatas. Ia mencakup seluruh makhluk-Nya, tanpa memandang status, perbuatan, atau kedudukan mereka. Setiap hembusan napas, setiap rezeki yang kita peroleh, dan setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah bukti nyata dari kasih sayang-Nya. Di antara bukti kasih sayang Allah antara lain,
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [3]
Allah memberi rezeki tanpa henti
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡنٍ
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [4]
Allah mengampuni semua dosa
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا اِنَّه هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [5]
Allah memberikan hidayah dan petunjuk
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا يُخۡرِجُهُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوۡرِ
“Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).” [6]
Rasa tenang dalam ibadah dan mengingat Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [7]
Jangan pernah ragu dengan kasih sayang Allah
Kasih sayang ibu adalah cinta yang luar biasa, tetapi kasih sayang Allah jauh lebih besar dan tidak terbatas. Allah selalu memberi, mengampuni, dan mencintai hamba-Nya, bahkan ketika mereka berdosa.
Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Tidak peduli seberapa jauh kita tersesat, selalu ada jalan untuk kembali kepada-Nya.
Saat hati terasa hancur, ingatlah: Allah mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini.
Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya. Aamiin.
[Bersambung]
Kembali ke bagian 6 Lanjut ke bagian 8
***
Ditulis di Jember, 2 Ramadan 1446/2 Maret 2025
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] QS. Al-A’raf: 156
[2] HR. Bukhari dan Muslim
[3] QS. Al-Baqarah: 186
[4] QS. Hud: 6
[5] QS. Az-Zumar: 53
[6] QS. Al-Baqarah: 257
[7] QS. Ar-Ra’d: 28




