Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Cara Menumbuhkan Syukur: Tujuh Hal yang Membantu untuk Bersyukur (Bag. 1)

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
9 Februari 2025
di Tazkiyatun Nufus
Cara Menumbuhkan Syukur
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pertama, melihat kepada orang-orang yang di bawah atau tidak seberuntung kita
  • Kedua, melihat segala hal dari kedua sisi
  • Ketiga, membaca riwayat dan kisah tentang orang-orang saleh terdahulu

Syukur adalah salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Syukur bukan hanya sekadar ucapan di bibir, tetapi juga harus meresap dalam hati dan tercermin pada perilaku.

Suatu amalan itu perlu dilatih dan dibiasakan untuk melakukannya. Salah satunya adalah amalan hati, yaitu syukur. Bagaimana cara melatihnya? Berikut beberapa poin yang dapat membantu seseorang agar bisa lebih bersyukur.

Pertama, melihat kepada orang-orang yang di bawah atau tidak seberuntung kita

Melihat kepada orang-orang yang berada di bawah atau tidak seberuntung kita adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk membantu kita dalam melatih rasa syukur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan (merendahkan) nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa), maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkadang, kita terlalu fokus pada apa yang kita belum miliki, padahal di luar sana banyak orang yang lebih membutuhkan dan hidupnya jauh lebih sulit daripada kita. Menyadari hal ini bisa membuka hati kita untuk lebih bersyukur atas apa yang telah kita miliki.

Ketika melihat orang-orang yang kurang beruntung, kita akan menyadari bahwa banyak nikmat yang selama ini kita anggap biasa, ternyata sangat berarti bagi kehidupan orang lain. Misalnya, kita mengeluh dengan pekerjaan yang melelahkan, namun ada banyak orang yang masih mencari pekerjaan atau tidak memiliki pekerjaan yang layak.

Baca juga: Mensyukuri Nikmat Keamanan Bangsa

Kedua, melihat segala hal dari kedua sisi

Melihat suatu hal dari kedua sisi dapat mendorong seseorang untuk bersyukur. Dalam kehidupan, setiap keadaan yang baik atau buruk memiliki hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Allah Ta’ala memberikan pedoman dalam keluarga untuk melihat dari kedua sisi sebagaimana firman-Nya,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya, maka (bisa jadi) ia rida (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadis di atas, Islam pun mengajarkan kita untuk melihat pasangan dari kedua sisi. Jika ada hal yang kurang disukai atau kekurangan yang nampak, maka pasti ada sisi kelebihan yang dimilikinya. Begitu pula dalam hal lainnya, baik dalam menghadapi kebaikan atau keburukan, kebahagiaan atau penderitaan, kenikmatan maupun kesulitan. Kedua sisi tersebut adalah bagian dari ujian dan nikmat yang diberikan Allah.

Ketika ada orang yang lebih dari kita di beberapa aspek, mungkin ada sisi lain yang ia korbankan. Jika seseorang terbiasa melihat dari kedua sisi, maka ia akan terdorong untuk lebih bersyukur atas segala kejadian yang menimpanya dengan melihat dari sisi positifnya.

Dengan melihat segala sesuatu dari kedua sisi ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih bijaksana, menerima takdir dengan lapang dada, dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Ketiga, membaca riwayat dan kisah tentang orang-orang saleh terdahulu

Sebagian dari kita terkadang mengeluh tentang rumah yang sempit, makanan yang kurang enak atau pekerjaan yang melelahkan. Maka, renungkanlah kisah-kisah tentang orang-orang saleh terdahulu, khususnya kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana sedari kecil beliau ditinggal wafat oleh orang-orang tercinta, rumah dan tempat tidur beliau yang sederhana, kondisi ketika beliau diboikot, bahkan beliau tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya dan hanya sekadar terpenuhi kebutuhan pokoknya saja sehingga tidak kelaparan sebagaimana riwayat berikut.

Dari Malik bin Dinar radhiyallahu ’anhu, beliau mengatakan,

مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang).” (HR. Tirmidzi dalam Asy-Syama’il no. 70, lihat Mukhtashar Asy-Syama’il Al-Muhammadiyah no. 109)

Dalam riwayat lain,

ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ

“Keluarga Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan,

قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ يا عائشةُ ! هل عندكم شيٌء ؟ قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء قال فإني صائمٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku pada suatu hari, ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini)?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatu pun (untuk dimakan).’ Beliau lalu bersabda, ‘Kalau begitu, aku akan puasa.’ ” (HR. Muslim no. 1154)

[Bersambung]

Lanjut ke bagian 2

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

Artikel: Muslim.or.id

 

Referensi:

A’malul Qulub, karya Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah, hal. 301.

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Artikel Selanjutnya
Salat sambil Duduk

Bolehkah Salat sambil Duduk? Inilah Beberapa Batasan Bolehnya Salat sambil Duduk

Komentar 4

  1. Saefudin says:
    1 tahun yang lalu

    Alhamdulillah

    Reply
  2. Oki sanjaya says:
    1 tahun yang lalu

    jika kamu merasa bersyukur .brapa pun yang engkau dpat kan maka akan terasa nikmat .

    Reply
  3. NANDA FIRDAUS ADI LAKSANA says:
    1 tahun yang lalu

    subhanalloh sangat membantu kajiannya

    Reply
  4. Nabila Choiriyah says:
    1 tahun yang lalu

    kita umat manusia harus memiliki rasa penuh bersyukur kepada Tuhan yang maha esa atas kenikmatan yang sangat besar

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah