Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Antara Tawa dan Tangis (Bag. 1)

Reza Mahendra oleh Reza Mahendra
23 Desember 2024
di Akhlak dan Nasihat
Tawa dan Tangis
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Tawa dan tangis akan selalu datang silih berganti
  • Mengapa aku harus menangis?

Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Pencipta. Tidak hanya menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, Ia juga menciptakan manusia dengan berbagai perasaan dan emosi yang dirasakannya, termasuk di antaranya ialah tawa dan tangis. Allah Ta’ala berfirman,

وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى

“Dan sesungguhnya Dialah (Allah) yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan mengatakan,

هو الذي أوجد أسباب الضحك والبكاء، وهو الخير والشر، والفرح والسرور والهم [والحزن]، وهو سبحانه له الحكمة البالغة في ذلك

“Dialah yang membuat sebab-sebab tertawa dan menangis, yaitu kebaikan, keburukan, kesenangan, kebahagiaan, duka, dan kesedihan. Dan Allah memiliki hikmah yang tinggi akan hal itu.” [1]

Tawa jangan sekadar tawa, tangis bukan sekadar tangis. Tulisan berseri ini akan membahas beberapa pelajaran atas setiap tawa dan tangis yang kita lalui di sepanjang episode kehidupan dunia ini.

Tawa dan tangis akan selalu datang silih berganti

Tawa dan tangis akan terus silih berganti mengiringi setiap momen hidup kita. Tatkala kita membaca firman Allah Ta’ala bahwa Ia menjadikan manusia tertawa dan menangis, maka kita semua akan mengalami keduanya tanpa terkecuali. Seorang ahli hikmah pernah berkata,

دوام الحال من المحال

“Tetapnya suatu keadaan merupakan sebuah kemustahilan.”

Tawa dan tangis di dunia seluruhnya sementara, tidak ada yang kekal. Maka, teruntuk kita yang masih mendambakan dan berusaha keras untuk mewujudkan hidup tanpa tangis dan kesedihan sedikit pun, alangkah baiknya kita mulai berdamai dengan kenyataan bahwa kita tak akan bisa sepenuhnya menghindar dari tangis dan kesedihan di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling sempurna nan paling dicintai Allah pun pernah menangis dan bersedih. Salah satu momennya adalah ketika anak beliau, yaitu Ibrahim wafat, momen ketika beliau bersabda,

إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، والقَلْبَ يَحْزَنُ، ولَا نَقُولُ إلَّا ما يَرْضَى رَبُّنَا، وإنَّا بفِرَاقِكَ يا إبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sungguh mata menangis dan hati bersedih. Akan tetapi, kita tidak mengucapkan, kecuali yang diridai oleh Allah, dan sungguh kami amat bersedih berpisah denganmu, wahai Ibrahim.” [2]

Begitu juga, untukmu yang dalam hidup banyak dirundung pilu, perlu kita sadari bahwa tangis maupun kesedihan akan berlalu dan tidak akan bertahan selamanya. Karenanya, jangan berputus asa dari tawa dan bahagia.

Baca juga: Tuntunan Islam dalam Menjaga Perasaan

Mengapa aku harus menangis?

Barangkali ada yang bertanya, mengapa dalam hidup ini kita perlu menangis dan bersedih? Salah satu jawabannya adalah karena Allah ingin menguji kejujuran iman kita melalui beragam ujian, di antaranya adalah kesedihan. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Boleh jadi, Allah jadikan kita menangis dan bersedih dalam rangka menghapus dosa-dosa kita yang begitu amat jarang memohon ampunan-Nya, tidak merasa membutuhkan Allah, tidak mempertimbangkan aturan Allah ketika membuat berbagai keputusan hidup, tidak tulus ketika meminta maaf kepada Allah, atau bahkan tidak merasa salah kala berbuat dosa. Karena kondisi tersebut, adakalanya kita perlu “ditegur” agar dapat kembali kepada-Nya, atau agar kita tidak dihukum dengan berat di negeri keabadian kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, atau bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” [3]

Boleh jadi, Allah Ta’ala jadikan kita menangis dan bersedih karena Ia mencintai kita, sehingga Ia berikan cobaan yang besar untuk memberikan hadiah yang besar pula tatkala kita mampu menyikapinya dengan bijak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

عِظَمُ الجزاءِ معَ عِظَمِ البلاءِ وإنَّ اللَّهَ إذا أحبَّ قومًا ابتلاَهم فمن رضيَ فلَهُ الرِّضا ومن سخِطَ فلَهُ السُّخط

“Besarnya ganjaran sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sungguh jika Allah mencintai sebuah kaum, Ia akan menguji mereka. Siapa saja yang rida (atas cobaan tersebut), ia mendapat keridaan Allah. Dan siapa saja yang murka, ia mendapat kemurkaan-Nya.” [4]

Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang tidak mengalami ujian, baik makhluk hidup, bahkan benda mati sekali pun. Dihikayatkan bahwa Luqman pernah berujar pada buah hatinya,

يابني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء

“Nak, emas dan perak itu diuji dengan api, sedang manusia yang punya iman itu diuji dengan musibah.” [5]

Demikianlah tanda cinta Allah Ta’ala, Ia tidak selalu memberikan apa yang kita senangi karena Ia lebih mengetahui mana yang lebih baik dan lebih kita butuhkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kemudian, sebagaimana Allah karuniakan rasa takut untuk membantu kita bertahan hidup dan menghindari mara bahaya, Dia juga menganugerahi kemampuan untuk menangis sehingga kita dapat mencurahkan perasaan serta meringankan beban pikiran dan emosional yang kita alami. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa masalah, dan tidak semua masalah bisa langsung ditemukan solusinya. Akhirnya, tangisan menjadi jalur cepat untuk melegakan hati dan menurunkan kadar stres. Demikianlah bukti bahwa pada dasarnya Allah menakdirkan musibah kepada hamba-Nya bukan semata untuk menghancurkan mereka, karena Ia juga menciptakan hal yang dapat membantu kita agar tetap mampu bertahan kala musibah datang melanda.

Lagipula, dari tangis dan kesedihan dalam hidup, kita bisa memahami bahwa memang beginilah adanya dunia. Allah jadikan dunia ini diisi berbagai musibah dan kesedihan sebagai bukti bahwa dunia ini hanya persinggahan yang penuh kekurangan, bahwa dunia ini bukanlah kampung halaman ideal kita. Hanyalah surga, kampung halaman yang dipenuhi kegembiraan tanpa sedikit pun duka di dalamnya, kampung yang layak untuk dicita-citakan dan diusahakan sekuat daya dan upaya.

[Bersambung]

Lanjut ke bagian 2

***

Penulis: Reza Mahendra

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Taisirul Karim Ar-Rahman, hal. 977.

[2] HR. Bukhari no. 1303.

[3] HR. Bukhari no. 5641.

[4] HR. Ibnu Majah no. 4031, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3272.

[5] Faidhul Qadir, 2: 459.

ShareTweetPin
Reza Mahendra

Reza Mahendra

- Alumnus Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta - Kontributor Buletin At-Tauhid - Pengajar Ma’had Umar bin Khattab YPIA - S1 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya
Menjadi Muslim Seutuhnya

Renungan Akhir Tahun: Bagaimana Menjadi Muslim Seutuhnya?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah