Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Berhala Kelima di Muka Bumi: Kisah Kaum Madyan

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juni 2023
di Akidah
Kisah Kaum Madyan
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Kemungkaran Kaum Madyan
  • Nabi Syu’aib dan gelar Khathibul Anbiya’ 
  • Tiga azab kaum Madyan

Tulisan ini merupakan lanjutan dari kisah-kisah penyembahan berhala dalam Al-Qur’an. Pada kesempatan yang telah lalu (Berhala Keempat di Muka Bumi bagian 2: Kisah Nabi Ibrahim dan Kaum Harran), telah dibahas bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdakwah kepada dua kaum (Babil dan Harran). Kedua kaum tersebut menyembah berhala yang berbeda. Kaum Babil menyembah berhala makhluk bumi, sedangkan kaum Harran menyembah benda langit.

Pada artikel kali ini, akan dibahas mengenai salah satu Nabi yang Allah perintahkan untuk kita ikuti petunjuknya.  Allah Ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)

Dalam firman-Nya yang lain,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” (QS. Yusuf: 176)

Nabi yang Allah utus selanjutnya setelah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth adalah Nabi Syu’aib.  Disebutkan bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihis salam tinggal di suatu daerah bernama Mu’an (suatu daerah di ujung Syam-Syria dan berbatasan dengan Hijaz-Arab Saudi). Adapun penyebutan Madyan sebagai tempat Nabi Syu’aib karena nasab beliau kembali kepada kabilah (suku) Madyan. (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 247-275)

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا

“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf: 85)

Dilihat dari zamannya, Nabi Syu’aib diutus setelah Nabi Luth. Sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib kepada kaumnya,

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

“Dan wahai kaumku! Janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu berbuat dosa, sehingga kamu ditimpa siksaan seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak jauh dari kalian.” (QS. Hud: 89)

Kemungkaran Kaum Madyan

Ada tiga kerusakan dan keburukan yang dilakukan oleh kaum Madyan. Kemungkaran tersebut adalah kesyirikan, kecurangan dalam timbangan (berat) dan takaran (volume), dan merugikan orang lain dengan penarikan pajak 10% tanpa ada timbal balik.

Kesyirikan yang mereka lakukan, yaitu dengan menyembah sebuah pohon yang bernama Al-Aikah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ، إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ

“Penyembah (pohon) Al-Aikah telah mendustakan para rasul, ketika Syu’aib berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ (QS. Asy-Syu’ara: 176-177)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara mereka sendiri, Syu’aib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu orang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 85)

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim dan Kaum Babil

Nabi Syu’aib dan gelar Khathibul Anbiya’ 

Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama bahwa Nabi Syu’aib ‘alaihis salam dijuluki sebagai Khathibul Anbiya’ atau  ahli khotbah (pidato) di kalangan para nabi karena beliau sangat fasih dalam berbicara. (Lihat Tafsir Al-Qurthuby, 7: 248)

Mari kita lihat keahlian beliau saat berkhotbah di hadapan kaumnya dalam beberapa ayat yang akan disampaikan. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam berkata,

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا

“Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya.” (QS. Al-A’raf: 86)

Ketika Nabi Syu’aib mendakwahi kaumnya dari sukunya sendiri, ternyata ada suku lain yang beriman kepada beliau. Kemudian ada sekelompok orang yang menghalangi mereka saat ingin pergi ke majelis Nabi Syu’aib dan menakut-nakuti mereka agar tidak beriman. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 7: 248)

Dalam kelanjutan ayat di atas, Nabi Syu’aib juga berkata,

وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu (agar kamu bersyukur, penj.). Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf: 86)

Nasihat Nabi Syu’aib dalam ayat tersebut menggabungkan antara Targhib (motivasi) dan Tarhib (ancaman). Beliau memotivasi untuk mendapatkan tambahan nikmat dengan bertakwa, dan memberikan peringatan mengenai kebinasaan kaum-kaum terdahulu karena kemungkaran mereka, seperti halnya kaum Nabi Luth.

Beliau melanjutkan perkataannya,

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

“Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada (ajaran) yang aku diutus menyampaikannya, dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dialah hakim yang terbaik.” (QS. Al-A’raf: 87)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bagaimana Nabi Syu’aib berkata-kata dengan indah disertai hujah. Bahkan, karena halusnya, seolah-olah beliau mengatakan ‘Kalau kalian tidak juga beriman, maka tunggulah apa yang akan terjadi!’ Padahal sudah jelas bahwa orang yang tidak beriman akan diazab dan dibinasakan oleh Allah.

Kaumnya membalas perkataan Nabi Syu’aib,

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syu’aib berkata, ‘Wahai Syu’aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.’” (QS. Al-A’raf: 88)

Nabi Syu’aib pun berkata,

قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ، قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا

“Meskipun kami tidak suka? Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar atas nama Allah jika kami kembali kepada agamamu setelah Allah melepaskan kami darinya.” (QS. Al-A’raf: 88-89)

وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.” (QS. Al-A’raf: 90)

Beliau mengatakan demikian tidak untuk mengatasnamakan dirinya, akan tetapi yang beliau maksud adalah kaumnya yang beriman setelah dahulunya musyrik. Hal ini ditandai dengan perkataan beliau yang menggunakan dhamir nahnu (kami), dan bukan menggunakan dhamir ana (aku).

Baca juga: Kisah Kaum Tsamud

Tiga azab kaum Madyan

Ketika kaumnya tidak juga beriman, pemuka kaum Madyan juga memprovokasi kaum Nabi Syu’aib yang beriman agar tidak mengikuti agama beliau (Lihat QS. Al-A’raf: 90). Lalu, Allah kirimkan azab kepada kaum Madyan. Ada tiga azab yang Allah timpakan kepada kaum Madyan yang ingkar, yaitu berupa gempa, hawa panas selama berhari-hari, dan awan hitam yang membawa api (petir) dengan suara yang keras.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Lalu, datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati di dalam reruntuhan rumah mereka dalam kondisi tersungkur.” (QS. Al-A’raf : 91)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ٱلصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دِيَٰرِهِمْ جَٰثِمِينَ

“Dan tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami. Dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS. Hud: 94)

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ ٱلظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan yang gelap. Sesungguhnya itulah adalah azab pada hari yang dahsyat.” (QS. Asy-Syuara: 189)

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ketika Allah menurunkan azab kepada kaum Madyan, mereka ditimpa kepanasan tanpa angin (yang menyejukkan) sama sekali. Dan disebutkan bahwa mereka mengalami kepanasan yang sangat parah selama tujuh hari. Saat (sebagian) mereka keluar dari rumah, mereka senang karena melihat awan yang dikira akan memberikan kesejukan, padahal awan tersebut adalah azab bagi mereka. Tatkala mereka telah berada di bawah awan tersebut, maka bergetarlah bumi yang mengguncang mereka, kemudian datanglah petir-petir yang menyambar mereka, serta keluar suara yang menggelegar, sehingga akhirnya mereka mati. (Lihat Qashas Al-Anbiya’, 1: 286-287)

Selepas kejadian itu, pergilah Nabi Syu’aib bersama kaumnya. Allah Ta’ala berfirman,

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ

“Maka, Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Maka, bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?’” (QS. Al-A’raf: 93)

Semoga kisah ini dapat diambil hikmah dan pelajaranya.

Baca juga: Kisah Kaum ‘Ad

***

Penulis: Muhammad Arif Wijaya, S.Pd.

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

oleh Muhammad Insan Fathin
22 Oktober 2026
0

Di antara hakikat paling agung yang menjadi poros ketenteraman jiwa manusia adalah kesadaran bahwa alam semesta beserta seluruh isinya tunduk...

Jika Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita, Mengapa Kita Diperintahkan Beribadah?

oleh Mochammad Wibisono
19 Oktober 2026
0

Azan sudah terdengar, tetapi tubuh masih enggan beranjak. Pekerjaan terasa belum selesai, badan lelah, atau hati sedang penuh masalah. Kita...

Kesyirikan yang Mengancam Akal

oleh Glenshah Fauzi
14 Oktober 2026
0

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori...

Artikel Selanjutnya
Bekal Menerjemahkan Bahasa Arab

Bekal Menerjemahkan Bahasa Arab (Bag. 1)

Komentar 2

  1. Mustafa says:
    2 tahun yang lalu

    Masya Allah, smoga Allah berkahi ilmunya dan rezekinya, aamiin… terus lah menulis, semoga jadi amal jariyah.aamiin

  2. Deen says:
    8 bulan yang lalu

    Assalamualaikum.wr.wb
    Bismillahirrahmanirrahim
    Masyaallah tabarakallah terimakasih penjelasannya ana kira dari Ustadz Khalid Syari’e Hafidzakallah ta’ala, sebab ana hendak mencari tulisan beliau disini sebagaimana biasanya.
    Jami’, penjelasannya mudah dipahami. Bagai mendapatkan oase susu (baca: karena asal sanad adzan penulis dari Boyolali) di Gurun Pasir.
    Sedikit ganjalan bab curang bahwa pernah diperdengarkan bahwa Al Muthafifin Ayat 1 saja sudah jelas bunyinya, sebagai ancaman untuk orang yang curang, ada pun ayat lanjutan di surah lain melengkapi tanpa mengurangi makna bahwa tetaplah celaka orang yang curang. Wallahu alam bishowab, wa naudzubillah mindzalik.
    Jazakumullah khairan atas penjelasan kisah Nabi Syuaib AS semoga kita mendapatkan hikmahnya.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah