Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Takwil Terhadap Ayat Tentang Sifat Allah

dr. Adika Mianoki, Sp.S. oleh dr. Adika Mianoki, Sp.S.
13 Februari 2015
di Akidah
ta'wil sifat Allah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz
    • Pertanyaan:
    • Jawaban:

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:

Kami mendengar dari sebagian ulama bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah melakukan takwil terhadap sebagian ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah. Apakah benar bahwa madzhab mereka demikian? Mohon beri petunjuk kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Jawaban:

Yang benar adalah yang telah ditetapkan oleh ulama Ahlussunnah wal jama’ah bahwasanya mereka tidak melakukan ta’wil (penyelewengan makna) terhadap ayat maupun hadits tentang sifat-sifat Allah.  Yang melakukan ta’wil adalah kelompok Jahmiyah dan Mu’tazilah. Demikian pula kelompok ‘Asyairah yang melakukan ta’wil terhadap sebagian sifat Allah. Adapun Ahlussunnah wal jamaah  dikenal bahwasanya akidah mereka meyakini dengan benar dan tidak melakukan ta’wil. Mereka meyakini terhadap ayat dan hadits tentang sifat sebagaimana adanya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, dan tidak pula takyif maupun tamtsil. Hal itu semua tidak pernah dilakukan terhadap sifat-sifat Allah seperti sifat al istiwa’, al qadam (telapak kaki), al yad (tangan), al ashabi’ (jari-jamari), ad dhahak (tertawa), ar ridha (ridha), al ghadhab (marah). Sifat-sifat tersebut mereka yakini sebagaimana adanya dengan iman yang benar bahwasanya itu semua dalah sifat Allah Ta’ala, wajib ditetapkan untuk Allah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Baca juga: Penyimpangan Terhadap Al Asma Al Husna

Sebagian manusia melakukan ta’wil terhadap sifat tertawa dengan sifat ridha, sifat mahabbah (cinta) dengan iradah (berkehendak) untuk memberi pahala, begitu pula dengan sifat rahmat. Ahlussunnah tidak meridhai perbuatan semacam itu. Kewajiban seorang muslim adalah tetap mengimaninya seperti apa yang ada dalam Al Quran dan hadits, dan meyakini bahwa itu semua benar. Allah Ta’ala mencintai dengan kecintaan yang hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tidak seperti rasa cinta yang ada pada makhluknya. Demikian pula sifat Allah yang lainnya seperti sifat ridha, marah, dan benci. Itu semua adalah sifat yang hakiki yang Allah telah sifatkan untuk diri-Nya sesuai dengan keagungan Allah dan sama sekali tidak serupa dengan sifat yang ada pada makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. Dia Zat Yang Maha mendengar lagi Maha Melihat” (Asy Syuura:11).

Demikian pula sifat tertawa dan istiwa’ bagi Allah yang terdapat dalam nash merupakan sifat tertawa dan istiwa’ yang hakiki sesuai dengan keagungan-Nya, tidak  serupa dengan satupun dari sifat makhluknya.

Tidak boleh melakukan ta’wil menurut Ahlussunnah wal jama’ah. Seorang muslim wajib membiarkan ayat dan hadits tentang sifat sesuai makna yang ada, disertai keimanan bahwasanya sifat tersebut benar merupakan sifat bagi Alah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Adapun melakukan tafwidh maka juga tidak boleh. Imam Ahmad berkata tentang ahlu tafwidh (orang yang melakukan tafwidh):

إنهم شر من الجهمية

“Ahlu tafwidh lebih rusak daripada Jahmiyyah”

Yang dimaksud tafwidh adalah seseorang mengatakan, “Makna ayat dan hadits tentang sifat Allahu ‘alam (Allah yang lebih tahu) “. Yang demikian ini tidak boleh, karena makna tentang ayat dan hadits sifat sudah jelas diketahui oleh para ulama.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata:

الاستواء معلوم، والكيف مجهول

“Sifat istiwa’ sudah maklum (jelas diketahui maknanya), dan kaifiyahnya majhul (tidak diketahui bagaimana caranya).”

Perkataan serupa juga diriwayatkan dari Imam Rabi’ah bin Abdirrahman dan yang lain dari para ulama. Makna tentang sifat istiwa’ sudah jelas diketahui. Ahlussunah mengetahui maknanya, demikian juga sifat ridha, marah, mahabbah, istiwa’, tertawa, dan sifat yang lain. Maknanya sudah diketahui dan tidak mengandung makna yang lain. Makna tertawa bukanlah ridha, makna ridha bukan marah, makna marah bukan mahabbah, makna melihat bukan mendengar. Seluruh sifat-sifat tersebut sudah jelas maknanya bagi Allah Ta’ala, akan tetapi tidak sama dengan sifat para makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ

“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (An Nahl:74).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat“ (Asy Syuura :11).

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Al Ikhlas:4).

Inilah keyakinan yang benar yang diyakini oleh Ahlussunnah wal jama’ah dari kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka yang mengikuti mereka dengan baik. Barangsiapa yang melakukan ta’wil maka telah menyelisihi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Baca juga: Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag. 1)

***

Sumber : http://www.ibnbaz.org.sa/mat/4744

Penerjemah : dr. Adika Mianoki

Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin4
dr. Adika Mianoki, Sp.S.

dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku "Jawaban 3 Pertanyaan Kubur"

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Waahid” dan “Al-Ahad”

oleh Muhammad Insan Fathin
22 Oktober 2026
0

Di antara hakikat paling agung yang menjadi poros ketenteraman jiwa manusia adalah kesadaran bahwa alam semesta beserta seluruh isinya tunduk...

Jika Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita, Mengapa Kita Diperintahkan Beribadah?

oleh Mochammad Wibisono
19 Oktober 2026
0

Azan sudah terdengar, tetapi tubuh masih enggan beranjak. Pekerjaan terasa belum selesai, badan lelah, atau hati sedang penuh masalah. Kita...

Kesyirikan yang Mengancam Akal

oleh Glenshah Fauzi
14 Oktober 2026
0

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori...

Artikel Selanjutnya
belajar kitab ulama

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (3)

Komentar 5

  1. sukamjo says:
    7 tahun yang lalu

    Bagaimana anda ttg doa TA’WIL Nabi kepada Sahabat Ibnu Abbas, agar diberi ilmu TA’WIL.

  2. Yulian Purnama, S.Kom. says:
    7 tahun yang lalu

    Ta’wil di situ maksudnya tafsir al Qur’an

  3. Abu Ilyasa says:
    6 tahun yang lalu

    إنهم شر من الجهمية

    Afwan ustadz, keterangan al-Imam Ahmad diatas bisa didapatkan textnya dalam kitab apa ya?.. Jaazakallaahu khair

  4. Deden nepiana says:
    5 tahun yang lalu

    Salafi sekarang ngaku Ahlusunnah waljama’ah, ya?

  5. Abu Jaja says:
    4 tahun yang lalu

    Ga dijawab, atau memang ga ada teksnya ya..hehe

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah