Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Apakah Sains Bertentangan dengan Agama? (Bag. 3)

Faadhil Fikrian Nugroho oleh Faadhil Fikrian Nugroho
28 April 2024
di Akidah
Apakah Sains Bertentangan dengan Agama
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Bagaimana jika dalil agama menyatakan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara saintifik?
  • Apakah berarti seorang Muslim tidak bisa menjadi ilmuwan?
  • Kesimpulan

Bagaimana jika dalil agama menyatakan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara saintifik?

Misalnya, dalam hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

العَيْنُ حَقٌّ

“Pandangan jahat (‘ain) itu benar adanya.” [1]

‘Ain sebagaimana didefinisikan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah rasa kagum seseorang terhadap sesuatu. Kekaguman itu ia ikuti dengan niat buruk untuk mencelakakan pemiliknya dengan cara melihat orang tersebut.[2]

Beberapa orang menyatakan bahwa hadis ini bertentangan dengan sains, dengan mengatakan, “Kepercayaan terhadap ‘ain tidak dapat diuji dengan kacamata sains modern.” Lalu, mereka menolak hadis ini atau meragukan eksistensi ‘ain. Ini merupakan sikap yang tidak tepat.

Kedua hal tersebut tidak dapat dibandingkan. Memang benar, hadis tersebut adalah hadis sahih, namun sains tidak memberi komentar apapun, tidak mengonfirmasi, maupun menegasikan isi hadis tersebut. Sedangkan tidak adanya komentar sains terhadap sesuatu, tidak berarti menegasikannya. Ini sesuai dengan kaidah,

عدم العلم بشيء ليس علمًا بالعدم

“Ketiadaan pengetahuan tentang sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak ada.”

Maka, terdapat perbedaan yang jauh antara ‘‘menyatakan isi hadis tersebut tidak benar” dengan ‘‘sains tidak dapat mengonfirmasi atau menegasikan isi hadis tersebut’’. Oleh karena itu, tidak tepat dalam kasus seperti ini untuk menolak hadis dengan klaim adanya kontradiksi, padahal kenyataannya tidak ada. Hal itu dikarenakan sains hanya dapat bekerja pada hal-hal materiel.

Salah satu prinsip sains adalah objek kajian harus bersifat materiel, artinya dapat diobservasi, sedangkan ‘ain tidak dapat diobservasi dari kacamata sains. Akan tetapi, ketidakmampuan ‘ain untuk diobservasi secara materiel tidak menunjukkan ketiadaan wujudnya. Demikianlah pula, pada hal-hal gaib lain yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis, semacam: jin, malaikat, roh, surga, neraka, sihir, mukjizat, dan selainnya. Ketidakmampuan sains untuk mengobservasi hal-hal gaib tersebut, tidak menunjukkan ketiadaan hal-hal gaib tersebut. Kaidah demikian juga disampaikan Ibnu Taymiyyah rahimahullah,

فإن الرسل صلوات الله عليهم وسلامه قد يخبرون بمحارات العقول وهو ما تعجز العقول عن معرفته ولا يخبرون بمحالات العقول

“Para rasul ﷺ terkadang mengabarkan hal-hal yang membuat akal bingung, yaitu hal-hal yang pengetahuannya tidak dapat dijangkau akal. Akan tetapi, mereka tidak mengabarkan hal-hal yang mustahil secara akal.” [3]

Bahkan, jika anggapan tersebut ditujukan kepada Allah, maka apakah keberadaan Allah dapat dinegasikan hanya karena tidak dapat diobservasi melalui metode saintifik? Tentu saja tidak. Bukti keberadaan Allah tidak terbatas hanya pada keberterimaan-Nya terhadap observasi sains, tetapi dapat dibuktikan dengan metode lainnya, semacam prinsip sebab akibat, fitrah manusia, kesempurnaan alam semesta, dan sebagainya. Apabila kita telah meyakini bukti keberadaan-Nya, maka secara otomatis kabar-kabar gaib yang Allah beri tahu adalah nyata dan benar adanya, meskipun tidak dapat diobservasi secara saintifik. Hal itu dikarenakan Allah adalah Al- ‘Alīm (Maha Mengetahui) dan Lā yukhlifu Allāhu al-mī‘ād (Allah tidak menyelisihi janji-Nya).

Apakah berarti seorang Muslim tidak bisa menjadi ilmuwan?

Jika hal-hal gaib di dalam agama tidak dapat dibuktikan secara saintifik, apakah hal ini berarti seorang muslim tidak bisa menjadi ilmuwan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membedakan dua konsep penting, yaitu naturalisme filosofis dan naturalisme metodologis. Naturalisme filosofis adalah kepercayaan bahwa alam semesta merupakan sistem tertutup, tidak ada sesuatu di luar alam semesta yang dapat mengintervensi, termasuk tidak ada Tuhan atau hal-hal yang gaib lainnya. Ini adalah aliran filsafat yang diyakini oleh mayoritas penganut ateisme. Prinsip utamanya adalah segala fenomena dapat dijelaskan melalui proses fisika. Sedangkan naturalisme metodologis adalah prinsip sains yang menyatakan bahwa agar sesuatu dapat disebut saintifik, maka tidak bisa dikaitkan dengan kekuatan dan perbuatan Tuhan.

Naturalisme filosofis atau terkadang disebut materialisme adalah sebuah kepercayaan bahwa semua alam semesta ini hanya terdiri dari benda-benda materiel, tidak ada benda nonmateriel. Aliran kepercayaan demikian tentu saja berlawanan dengan Islam. Sebab, banyak hal yang tidak bisa dijelaskan apabila kita hanya mengandalkan penafsiran materiel saja. Contohnya, permasalahan sulit kesadaran (the hard problem of conciousness), yaitu dari mana kesadaran manusia berasal dan bagaimana ia bekerja. Contoh lainnya yaitu, keberadaan moralitas objektif yang membahas mengapa kita menganggap suatu hal sebagai baik atau buruk. Hal-hal tersebut tidak dapat dijelaskan melalui proses fisik.

Sedangkan naturalisme metodologis adalah bagian dari metode penelitian. Maknanya, agar suatu penelitian dapat dikatakan ilmiah dan empiris, seluruh proses sebab akibat antara hal satu dengan yang lainnya harus merujuk kepada hal-hal materiel, bukan hal-hal nonmateriel seperti kekuatan gaib. Hal yang demikian tidak masalah bagi seorang muslim, karena kita mempercayai bahwa Allah Ta’ala menciptakan sebab akibat secara fisik di alam semesta ini.

Prinsip sebab akibat adalah manifestasi dari kehendak Allah. Maka, suatu anggapan keliru jika mengatakan kesimpulan atau teori sains tidak dapat dikaitkan dengan kekuatan gaib, berarti kekuatan gaib tidak ada. Dengan kata lain, meskipun kehendak Allah tidak dapat diobservasi dengan kacamata sains, bukan berarti kehendak Allah tidak ada. Oleh karena itu, secara personal, seorang ilmuwan bebas untuk mempercayai atau mengimani sesuatu yang berada di luar hal-hal materiel, sehingga istilah ilmuwan muslim adalah istilah yang dapat diterima. Seseorang dapat menjadi seorang muslim dan dapat menjadi ilmuwan pada saat yang sama.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka seorang muslim tidak memiliki masalah sama sekali antara agama yang ia anut dengan sains. Sains adalah metodologi penelitian yang telah memberikan kontribusi besar bagi manusia. Akan tetapi, kesimpulannya bukan harga mati. Sains dapat berubah-ubah sesuai dengan penemuan data terbaru menggunakan alat yang lebih mutakhir. Sebagai suatu metode, sains memiliki keterbatasan, ia tidak bisa mengobservasi hal-hal gaib, tetapi ketidakmampuan tersebut tidak menafikan keberadaan hal-hal gaib yang disebutkan di dalam  Al-Qur’an dan hadis yang sahih.

Kembali ke bagian 2: Apakah Sains Bertentangan dengan Agama? (Bag. 2)

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

 

Sumber:

Disarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul bab 8 berjudul Hāẓa Mukhālifun lil-‘Ilmi dan The Divine Reality Chapter 12 berjudul Has Science Disproved God?

 

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 5740.

[2] Zād Al-Ma‘ād, hal. 239.

[3] Bayān Talbīs Al-Jahmiyyah fī Ta’sīs Bida‘ihim Al-Kalāmiyyah, hal. 361, jilid 2. Majma‘ Al-Malik Fahd li Ṭibā‘ati Al-Muṣḥaf Asy-Syarīf.

ShareTweetPin
Faadhil Fikrian Nugroho

Faadhil Fikrian Nugroho

- Alumnus Sastra Arab UGM (2020) - Alumnus Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta (2021)

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya
Mutiara Faedah dari Ayat Murtad

Mutiara Faedah dari Ayat Murtad

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah