Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bukan Sembarang Dzikir

Abdullah Zaen, Lc., MA. oleh Abdullah Zaen, Lc., MA.
27 Mei 2012
di Tazkiyatun Nufus
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Dzikir yang banyak
  • Dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati
  • Dzikir yang mengiringi seluruh amalan hamba
  • Dzikir yang sesuai dengan tuntunan syariat

Dzikir merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya: akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya. Sebagaimana ditegaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28)

Namun, yang kerap menjadi pertanyaan, sudahkah dzikir yang kita lantunkan mendatangkan ketenangan batin? Jika belum, barangkali dikarenakan kita baru asal berdzikir. Berikut beberapa kriteria dzikir sempurna yang diharapkan akan membuahkan ketentraman hati:1

Dzikir yang banyak

Dalil kriteria ini, antara lain: QS. Al-Ahzab: 41. Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah2. Adapun batas maksimalnya: lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan, sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191.3

Dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati

Maksudnya, dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.4

Dzikir yang mengiringi seluruh amalan hamba

Dzikir bukanlah suatu amalan tidak mungkin digabungkan dengan amalan lainnya5. Bahkan dzikir bisa memasuki ranah seluruh amalan; shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahi mungkar dan ibadah lainnya. Justru manakala amalan tersebut dipadukan dengan dzikir, maka amalan tersebut akan melesat menuju puncak kualitasnya yang tertinggi6.

Maksud kriteria ketiga ini: manakala seorang hamba melakukan amal ibadah apapun ia tidak lupa untuk berdzikir alias mengingat Allah, dan menghadirkan keikhlasan niat di dalamnya.

Dzikir yang sesuai dengan tuntunan syariat

Alangkah mengherankan praktek sebagian kalangan yang dengan rutin membaca wirid dan hizib yang sama sekali tidak ada dalilnya dari al-Qur’an dan Sunnah, padahal masih banyak dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya belum mereka amalkan.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim, 3: 1344 no. 1718)

***

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, MA.

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari beberapa referensi, antara lain: Fath al-Bâry karya Imam Ibnu Rajab (3: 48), Fath al-Bâry karya al-Hafizh Ibnu Hajar (11: 251-252) dan Tajrîd al-Ittibâ’ fî Bayân Asbâb Tafâdhul al-A’mâl karya Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaily (hal. 31-32).

[2] Lihat Tafsîr as-Sa’dy (hal. 614).

[3] Cermati: Ibid (hal. 614 dan 128) dan Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’an karya al-Îjî (hal. 176).

[4] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibnu al-Qayyim (2: 431).

[5] Fath al-Bâry karya Imam Ibnu Rajab (3: 48).

[6] Fath al-Bâry karya al-Hafizh Ibnu Hajar (11: 252).

ShareTweetPin
Abdullah Zaen, Lc., MA.

Abdullah Zaen, Lc., MA.

alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur, alumni Fakultas Syari’ah Institut Studi Islam Darussalam Gontor, S1 Fakultas Hadits dan Dirasat Islamiyah, S2 Jurusan Aqidah Universitas Islam Madinah. Dosen di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi'i Jember.

Artikel Terkait

Perbedaan Makna Tobat dan Istigfar

oleh Glenshah Fauzi
13 Juli 2026
0

Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan sebab tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman...

Ketika Orang Lain Memuji Kita: Menundukkan Hati di Tengah Sanjungan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
5 Juli 2026
0

Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa bahagia saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, atau pengakuan dari orang...

Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
31 Mei 2026
0

Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta'ala. Seorang muslim...

Artikel Selanjutnya

Budaya Hawa Nafsu

Komentar 18

  1. rusmanjay says:
    14 tahun yang lalu

    assalamualaikum.
    bagaimana hukumnya jika dzikir hanya dilakukan didalam hati dengan membaca tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #rusmanjay
      wa’alaikumussalam, dzikir dalam hati tidak mendapat pahala dzikir.

      Reply
  2. yani says:
    14 tahun yang lalu

    mgapa dzikir dlm hati tidk mndpat pahala?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #yani
      Silakan simak: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/

      Reply
  3. putra says:
    14 tahun yang lalu

    yang tersayang saudaraku, Yulian. apalah artinya lisan bila hati tak berucap ?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #putra
      Dzikir adalah amalan lahir, sebagaimana gerakan-gerakan shalat. Orang yang tidak bersuara dan tidak menggerakkan lisan tidak dinamakan sedang berdzikir.
      Sebagaimana shalat, orang yang melakukan gerakan-gerakan shalat, barulah ia disebut sudah shalat.
      Adapun hati, tentu saja kita dituntut untuk senantiasa ihsan, merasa diawasi oleh Allah dalam tiap ibadah kita.

      Reply
  4. ahmad says:
    14 tahun yang lalu

    terus bagaimana dgn org yg sakit yg tdk bisa bersuara tp ingin berzikir tuk mengingat Allah.tolong dijelaskan..makasih.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #ahmad
      Cukup dengan gerak bibir

      Reply
  5. ade says:
    14 tahun yang lalu

    menurut saya yang masih awam, yang berhak menentukan dapat pahala/tidaknya suatu amalan hanyalah Allah SWT.
    apalah artinya lisan/gerakan bibir jika tidak berlandaskan dari hati.

    jangankan cuma gerakan bibir… baru niat dalam hati saja AALLAH sudah TAHU..
    Bukankah Allah itu MAHA TAHU dan MAHA MENDENGAR..????

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #ade
      Jika baru sekedar niat, maka pahalanya adalah pahala atas niatnya.

      Reply
  6. hanif says:
    14 tahun yang lalu

    Assalamualaikum..
    jadi kalau ana istighfar dalam hati, hal itu tidak akan mendatangkan pahala istighfar?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #hanif
      Wa’alaikumussalam, dapat pahala dzikir hati, namun bukan pahala istighfar.

      Reply
  7. abdul manaf says:
    14 tahun yang lalu

    cara mempelajarin al-quran tampa seorg guru agama atua kia’i itu gimana ? karena saya kurang tau dengan kitab” yang menterjama’ahkan nya.,.,.
    aku takut salah mengartikan karena islam itu indah dan tak ada agama yang begitu sempurna.,.,.,.
    dari ilmu pengetahuan dan ilmu yang lain juga kata guru aku smp dan sma semua ilmu itu ada di al-quran.

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      14 tahun yang lalu

      @ Abdul Manaf

      Belajar Al Qur’an terutama, maka harus dengan guru, biar bacaan dan ucapannya dibetulkan oleh sang guru. Wallahul muwaffiq.

      Reply
  8. Edi Sugianto says:
    14 tahun yang lalu

    Mantabz…

    Reply
  9. rudy ardiansyah says:
    13 tahun yang lalu

    bagaimanakah caranaya sholat kita khusuk,sehingga dari takbir sampai salam,sedetikpun kita tidak lupa kepada Allah,krn Allah berfirman yg artinya tegakkanlah shalat untuk mengingat aku.mohon penjelasanya,wssalam

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah