Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Tahapan Dalam Menuntut Ilmu

Yulian Purnama, S.Kom. oleh Yulian Purnama, S.Kom.
2 Mei 2012
di Akhlak dan Nasihat
Share on FacebookShare on Twitter

Fadhilatus Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah ditanya pertanyaan berikut:

“Bagaimana metode yang benar dalam belajar agama secara bertahap? Dan bagaimana metode yang benar dalam belajar ilmu aqidah, tafsir, fiqih dan hadits. Dari mana kita memulainya?”

Beliau lalu menjawab:

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa penanya sedang mencari metode yang benar untuk mendapatkan ilmu agama. Namun yang benar, pertama-tama, seorang penuntut ilmu hendaknya mencari dulu guru yang menguasai ilmu syar’i yang berjalan di atas manhaj salafus shalih. Karena memilih guru dan memilih kitab yang tepat adalah metode yang benar untuk menuntut ilmu syar’i.

Memilih mata pelajaran dalam ilmu syar’i baik aqidah, tafsir, hadits, fiqih, ilmu bahasa, sirah, semuanya ini tidak diragukan lagi butuh tahapan dan butuh pula kebijaksanaan dalam berpindah dari satu tahapan ke tahapan yang lain atau dari satu kitab ke kitab yang lain.

Ketika belajar aqidah dan ingin melalui tahapan yang benar, maka seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dengan belajar kitab Al Ushul Ats Tsalatsah milik Imam Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (wafat 1206 H) rahimahullah. Dalam kitab ini terdapat ilmu yang melimpah dalam permasalahan aqidah yang tidak akan membuat penuntut ilmu menyimpang dari manhaj salafus shalih dalam memahami agama.

Setelah itu lanjutkan mempelajari Al Qawaid Al Arba’, Kasyfus Syubhat dan Risalah Ushulil Iman. Tulisan-tulisan ini merupakan panduan dalam bidang aqidah dan merupakan pelajaran pokok dalam mempelajari ilmu-ilmu syariah yang lain. Ketika seseorang telah mempelajari kitab-kitab ini, ia akan memiliki akidah yang benar dan berjalan di atas manhaj salafiy, serta mendapatkan pencerahan darinya. Kemudian setelah mempelajari kitab-kitab ini, hendaknya berpindah ke tahapan yang lebih tinggi semisal Kitab At Tauhid, lalu setelah menyelesaikan kitab ini berpindah lagi ke kitab Al Aqidah Al Washithiyyah milik Imam Mujaddin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728H) rahimahullah. Lalu melanjutkan ke kitab Al Hamawiyyah dan At Tadmuriyyah lalu Al Aqidah Ath Thahawiyyah.

Setelah itu, dapat melanjutkan membaca kitab-kitab Sunan yang berkaitan dengan pembahasan sunnah dan tahdzir terhadap bid’ah. Yang terkenal diantaranya Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah milik Al Laalikaa-i (wafat 418H), Kitab As Sunnah milik Al Khallal (wafat 311H), Kitab As Sunnah milik Abdullah bin Ahmad bin Hambal (wafat 290H), Al Ibanah milik Ibnu Bathah Al’Akbari (wafat 387H), dan Kitab At Tauhid milik Ibnu Khuzaimah (wafat 311H) dan kitab-kitab lain yang termasuk dalam bidang ini.

Adapun yang berkaitan dengan ilmu tafsir, yang aku pilih untuk para penuntut ilmu adalah kitab Tafsir Ibni Katsir (774H) rahimahullah, dan Kitab Tafsir As Sa’di (1376H) rahimahullah. Lebih khusus lagi, aku menyarankan Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir milik Muhammad Nasib Ar Rafi’i karena -sepengetahuan kami- beliau telah meringkas Tafsir Ibni Katsir hingga sejalan dengan manhaj salaf. Jika mampu menyelesaikan kitab-kitab tadi, maka pelajarilah Tafsir Al Baghawi (516H) juga kitab-kitab tafsir selain yang disebutkan yang bila seorang penuntut ilmu membacanya lalu menelaahnya ia bisa menyadari jika menemukan ta’wil-ta’wil yang tercela, semisal kitab Tafsir Al Qurthubi (wafat 671H). Dan dapat juga mempelajari kitab tafsir lainnya seperti Tafsir Ibnul Jauzi (wafat 597H), dan Tafsir Asy Syaukani (wafat 1250H).

Namun dengan catatan, dalam sebagian kitab-kitab tafsir yang bagus dan mengandung limpahan ilmu tersebut, penulisnya –rahimahullah ‘alaihim– terkadang men-ta’wil ayat-ayat tentang sifat Allah. Tapi sedikit sekali ta’wil yang disepakati oleh mereka yang men-ta’wil nash Qur’an dan Sunnah dengan ta’wilan yang tercela. Penyebab terjadinya hal tersebut, -sepengatahuan kami- ada tiga:

  1. Pengaruh lingkungan tempat sang mufassir hidup
  2. Pengaruh guru tempat sang mufassir menuntut ilmu
  3. Pengaruh telaah kitab-kitab. Sebagian mufassir menelaah kitab-kitab yang memuat berbagai pemikiran manusia, lalu ia terpengaruh

Sedangkan dalam ilmu hadits, seorang penuntut ilmu hendaknya memulai dari Al Arba’in An Nawawiyah untuk dihafal dan dipahami, juga membaca penjelasan yang terkandung di dalamnya. Lalu hendaknya secara bertahap mempelajari Umdatul Ahkam kemudian Bulughul Maram, juga dengan syarah-nya. Kemudian, setelah itu barulah ia mampu untuk mempelajari Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan Kutubus Sittah. Akal dan keilmuan manusia itu senantiasa berkembang sejalan dengan kelurusan niatnya serta keberlanjutannya dalam menuntut ilmu tanpa terputus.

Begitu juga dalam ilmu fiqih. Andai seorang penuntut ilmu sekedar membaca hadits-hadits saja ia akan mendapat banyak pemahaman dari apa yang ia baca. Namun hendaknya mereka juga mempelajari kitab-kitab fiqih seperti Umdatul Fiqhi yang merinci permasalahan-permasalahan furu’ atau juga kitab Zaadul Mustaqni. Allah telah memuliakan umat ini dengan adanya banyak kitab syarah dari Zaadul Mustaqni, baik dari ulama terdahulu maupun ulama di masa ini. Di antara syarah yang mudah dipelajari adalah yang ditulis oleh ulama masa ini, Syaikh Al Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, dalam kitab As Syarh Al Mumthi’. Kitab ini memang benar-benar memuaskan (mumthi’) karena di dalamnya terdapat bahasan-bahasan yang bermanfaat dan penjelasan-penjelasan yang langka. Semoga Allah memberikan ganjaran kepada beliau, menjadikan manfaat yang besar dari ilmu beliau, dan menambah keutamaan beliau.

Sedangkan dalam Sirah Nabawiyyah, mulailah dengan mempelajari Mukhtashar Sirah Nabawiyyah karya Imam Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Kemudian setelah itu mempelajari Sirah Nabawiyyah miliki Ibnu Hisyam (wafat 183H). Dan di zaman ini, walhamdulillah, kitab-kitab sirah sudah banyak yang diringkas.

Namun juga, semua ilmu ini dalam mempelajarinya membutuhkan ilmu-ilmu alat seperti ilmu ushul fiqih, qawa’id, musthalah, serta butuh perhatian terhadap ilmu bahasa arab dan qawaidul fiqhiyyah. Sehingga barulah seseorang memiliki kemampuan untuk mengambil ilmu dari dalil-dalil Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Semua ini, tidak cukup hanya dengan membaca kitab secara otodidak, bahkan jika perlu seseorang menempuh perjalanan untuk mencari guru ke daerah lain jika memang di daerahnya tidak ada, sebagaimana yang dilakukan para salafus shalih dalam menuntut ilmu. Ini jika memang mampu untuk menempuh perjalanan tersebut. Jika tidak mampu menempuh perjalanan tersebut, maka bacalah kitab-kitab lalu kumpulkan hal-hal yang membingungkanmu, kemudian tempuhlah sekedar perjalanan pendek (untuk menanyakanya kepada ulama, pent). Apalagi di zaman ini berhubungan dengan ulama melalui telepon telah mencukupi kebutuhan tersebut tanpa harus bersusah payah. Walhamdulillah.

Wallahu’alam.

Sumber: http://www.ajurry.com/taseel.htm

Catatan:

Urutan dan jenis kitab dalam menuntut ilmu sebagaimana yang disebutkan di atas bukanlah suatu yang saklek harus demikian. Setiap orang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda sehingga sangat mungkin berbeda pula tahapan belajarnya. Dan akan sangat mungkin berbeda jawabannya jika ditanyakan kepada ulama yang lain. Namun yang pasti, seorang penuntut ilmu hendaknya belajar kepada seorang guru yang mapan ilmunya, sehingga sang guru dapat mengarahkan tahapan belajar yang cocok baginya.

—

Penyusun: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

ShareTweetPin1
Yulian Purnama, S.Kom.

Yulian Purnama, S.Kom.

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web Muslim.or.id dan Muslimah.or.id

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya
narkoba dalam pandangan islam

Narkoba dalam Pandangan Islam

Komentar 22

  1. h3r1g4ul says:
    14 tahun yang lalu

    Bagus, tolong diperbanyak artikelnya biar menjadi sarana dakwah

    Reply
  2. babil says:
    14 tahun yang lalu

    Bagus tuh sistem on line ini memungkinkan org yg tinggal jauh dr kota bisa belajar agama islam

    Reply
  3. sudarto says:
    14 tahun yang lalu

    izin copy utadz…

    Reply
  4. paparayyan says:
    14 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ustad,,, izin tag and copy ya ustad…….
    syukron ustad..

    Reply
  5. yusufsadan says:
    14 tahun yang lalu

    ​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. BaPak Ustadzbagaimana cara mendapatkan buku2 tersebut? Mohon bantuan.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #yusufsadan
      Kami sarankan untuk menggunakan kitab-kitab tersebut yang berbahasa arab, dapat dibeli di toko-toko kitab di kota anda atau di beberapa toko kitab online di internet.

      Reply
  6. muhammad ibn Abdul Wahhab says:
    14 tahun yang lalu

    bagaimana hukumnya mempelajari ilmu selain ilmu agama ya akhi?

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #muhammad ibn Abdul Wahhab
      Kalau ilmu itu hukumnya mubah maka mempelajarinya mubah. Kalau ilmu itu bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam, maka mempelajarinya sunnah. Kalau ilmu itu haram atau kecil manfaatnya, maka mempelajarinya haram.

      Reply
  7. yanuar says:
    14 tahun yang lalu

    Ustad, apakah ada terjemahan bahasa Indonesia dari buku-buku tsb. Jika tidak, apakah kita harus belajar bahasa arab terlebih dahulu untuk memahaminya.

    Reply
    • Yulian Purnama says:
      14 tahun yang lalu

      #yanuar
      Sebagian memang sudah diterjemahkan, namun sebagian ilmu tidak mungkin memahaminya tanpa menguasai bahasa arab.

      Reply
  8. wismu says:
    14 tahun yang lalu

    Subhanallah, bagus sekali pembahasannya, ana mau tanya, ana tinggal di daerah Ungaran, dmana sekirannya ana bisa dpet bku bku tsb? syukron

    Reply
  9. mahreza says:
    13 tahun yang lalu

    Masya Allah,, trimakasih atas pmbahannya..
    Jazakallahu khoiron

    Reply
  10. fahmi says:
    11 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum ana mau tanya ustad, apa situs yang menyediakan kajian para ulama’ diatas dan dimana bisa didpt transkripx? ana kesusahn dlm mencarix

    Reply
    • Sa'id Abu Ukkasyah says:
      11 tahun yang lalu

      Wa’alaikumus salam, buka situs2nya Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin, Syaikh Al-Albani Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Syaikh Abdul Karim Al-Khudhoir (shkhudheir.com), dll. memang belum mencakup semua kajian di atas, tapi sdh sgt membantu

      Reply
  11. Rudiana says:
    7 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, dengan adanya artikel ini, saya bisa tahu buku atau kitab mana saja yang harus dimiliki untuk memulai menuntut ilmu. Terima kasih banyak.

    Reply
  12. AlvinKurniawan says:
    7 tahun yang lalu

    assalamualaikum

    saya mau bertanya kalau mau beli buku tentang pembahasan di atas bagusnya dimanaya??

    Reply
  13. Denji Tiansani Akhmalia says:
    6 tahun yang lalu

    Jazakallahu Khoir, izin Share

    Reply
  14. Ari says:
    6 tahun yang lalu

    Bismillah izin save, sungguh bermanfaat

    Reply
  15. Bara Abu Ezra says:
    5 tahun yang lalu

    Bismillah..afwan izin bertanya..apakah membaca2 kitab tauhid yg disebut diatas kita perlu dlm bimbingan ustadz,misalnya mengikuti kajian dll atau cukup kita baca sendiri saja?jazakumullah khayran

    Reply
  16. Tomi Abu Ahmad says:
    4 tahun yang lalu

    Masyaallah,
    Jazaakallaahu khaiyr ustadz materinya insyaallah sangat bermanfaat.
    Idzin bertanya:
    Manakah yang teknis terbaik, apakah mempelajari satu bidang ilmu terlebih dahulu dr tahap dasar sampai lanjutan baru kemudian bidang ilmu yg lain dr tahap awal sampai tahap lanjutan?
    Ataukan beberapa bidang ilmu dg terjadwal bidang ilmu yg berbeda setiap hari dr tahap awal sampai lanjutan?

    Reply
  17. Poerwanto says:
    3 tahun yang lalu

    Mau tanya, apakahembeli kitab tsb di baca sendiri dan diamalkan( tanpa belajar langsung ke guru), amalannya menjadi dah. Mohon penjelasan…

    Reply
  18. Abu Nusaybah says:
    3 tahun yang lalu

    Assalamualaikum admin, ana izin share artikelnya ya…Jazakumullahu khairan katsiran

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 8   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah