Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Muhasabah: Apakah Kita Pantas Disebut Aktivis Dakwah?

Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos. oleh Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.
15 November 2023
di Akhlak dan Nasihat
Apakah Kita Pantas Disebut Aktivis Dakwah
Share on FacebookShare on Twitter

Kita hanyalah makhluk yang teramat dan acapkali khilaf serta salah. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan yang ada, seharusnya tidak menjadikan kita besar kepala seraya membusungkan dada atas setiap ikhtiar perjuangan dakwah kita. Dengan segala kekurangan kita pula, tidak menjadikan kita memiliki seribu alasan untuk tidak memberikan segala yang terbaik bagi perjuangan dakwah ini. Hanya kepada Tuhan yang Maha Esalah segala perkara dikembalikan. Hal inilah yang semestinya menjadi sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan bagi segenap aktivis dakwah. Kesadaran ini menuai pertanyaan, “Apa pantas kita disebut sebagai aktivis dakwah?”

Maka, kita pikirkan kembali dengan berhenti sejenak untuk muhasabah dan memikirkan apa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Hal ini dilakukan agar kita kembali meluruskan tujuan dan niat kita untuk menguatkan gerak langkah yang benar sebagai aktivis dakwah yang terarah atas capaiannya. Kesadaran ini sangat penting bagi aktivis dakwah atas kehadirannya di ruang lingkup kehidupan, baik lingkungan akademik, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini dilakukan agar jangan sampai aktivis dakwah setelah melewati masa dinamika di dalam aktivitas kehidupan kesehariannya, tidak memperoleh kebermanfaatan dari dakwah itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang aktivis dakwah sunah pada khususnya, yang berikhtiar mengamalkan sunah-sunah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam untuk merenungi kembali urgensi, “Apa pantas disebut sebagai aktivis dakwah?”

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa niat dalam diri pasti mudah berubah-ubah. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi setiap aktivis kebaikan “muhasabah diri” dan senantiasa meluruskan niat dalam mengisi aktivitas diri, baik dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja. Dinamika dan regenerasi dalam masyarakat, apalagi di dalam negara Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dinamisnya suasana dalam pergantian struktural adalah keharusan. Dalam kondisi kritis ini, bisa menjadi sebuah peluang untuk bagaimana kita ambil menjadi salah satu langkah dan motif kebaikan dakwah sunah bagi setiap aktivis penggiat dakwah. Sehingga, keistikamahan dan kolaborasi dakwah sunah semakin masif dan menjadi satu hal penting yang perlu dicari dan diterapkan dalam kehidupan keseharian.

Apabila setiap aktivis dakwah sebagian ataupun keseluruhan menanamkan hati yang istikamah, maka aktivitas dakwah ini pada satu kondisi akan menemui satu kondisi saling menguatkan dan mengingatkan untuk saling mengisi kekosongan dalam setiap ruang hampa problematika dakwah dan ibadah dalam masyarakat, untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi dalam kebaikan dan perjuangan agar dakwah sunah semakin nyaman dan mudah diikuti oleh masyarakat awam pada umumnya.

Maka, yang harus dicari, dikejar, dan diperbaiki dengan sabar dan sadar oleh setiap aktivis dakwah sunah bahwa dirinya berada di dalam langkah gerak aktivitas dakwah masyarakat yang majemuk yang perlu mengenalkan dakwah sunah dengan perilaku akhlaqul karimah dan mampu memberi contoh dengan sikap yang santun. Sebab, bagi aktivis dakwah tidak cukup apabila hanya mengandalkan ilmu agama dan pengetahuan saja. Karena aktivis  dakwah sunah itu adalah simbol akhlak dalam bermuamalah di lingkungan sekitar, yang menjadi wasilah (perantara) dalam tegaknya tauhid di kalangan masyarakat umum dengan berbagai ujian dan langkah yang tidak selalu mulus.

Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ

”Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)

Hal wajib lainnya yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah dalam lingkungan masyarakat ialah dengan menjadikan kehidupan bermasyarakat sebagai sebuah wadah untuk tempat berlatih menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan peka terhadap permasalahan yang ada di kehidupan kita baik dalam lingkup keluarga, bertetangga, dan sebagai warga negara, untuk mampu menumbuhkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Sudah semestinya aktivis dakwah sunah menjadikan teladan dan wasilah dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerjanya sebagai pintu gerbang untuk menanamkan prinsip-prinsip pribadi yang memiliki pengetahuan agama yang syar’i, sesuai sunah dan Qur’an. Oleh karena itu, output-nya adalah wise dalam bersikap dan outcome–nya adalah kebijaksanaan dalam bermuamalah. Selain itu, hal mutlak yang mesti dilakukan oleh aktivis dakwah sunah ialah mengasah diri untuk memiliki budi pekerti yang tinggi. Budi pekerti yang tinggi akan terwujud dengan akhlaqul karimah yang baik dan benar sesuai tuntunan sunah, respect terhadap orang lain, sifat yang lembut, dan sikap tegas dalam bertindak.

Dengan demikian, sudah seharusnya pola dan corak pemikiran yang terbangun dalam aktivis dakwah masyarakat ialah sebuah keseimbangan dan kebersamaan dalam memperoleh kesepemahaman yang menjadi wadah untuk menjawab apa yang dicari dan dibutuhkan bagi masyarakat sesuai tuntunan sunah. Semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga hidayah dan keistikamahan kita, mengaruniakan keberkahan dan keikhlasan dalam setiap amal yang kita perbuat. Dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah agar kita terhindar dari fitnah dan syubhat akhir zaman yang marak hadir di sekitar lingkungan, terutama maksiat yang diumbar dan dosa-dosa yang ditampakkan. Semoga kita dimudahkan dan dimampukan dalam menjaga niat diri, ikhlas menjadi insan yang semakin bertakwa dan mengimani setiap syariat dan sunah Nabi.

Hasbunallahu wani’mal-wakil, ni’mal-maula wani’man-nashir.

Allahu’alam bish-shawab.

Baca juga: Merasa Punya Jasa dalam Dakwah

***

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin
Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.

Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos.

- Pendidikan MADIA L-Data (2014-2015) - Pendidikan S1 Agribisnis (Sosek) F. Pertanian UGM (2015 - 2018) - Pendidikan S1 PSDK (Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan) FISIPOL UGM (2016 - 2020) - Penggiat Dakwah & Pengurus YPIA

Artikel Terkait

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 2)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
22 Juli 2026
0

Privilege popularitas dan pengaruh Di era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan,...

Menggunakan ‘Privilege’ untuk Ketaatan (Bag. 1)

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
21 Juli 2026
0

Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh...

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Artikel Selanjutnya
Ikut Berperan dalam Dakwah

Ikut Berperan dalam Dakwah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 4   +   3   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah