Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Hadis: Ketika Seseorang Meninggal dalam Kondisi Ihram

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
1 Agustus 2023
di Hadis
Meninggal dalam Kondisi Ihram
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Faedah pertama
  • Faedah kedua
  • Faedah ketiga
  • Faedah keempat
  • Faedah kelima
  • Faedah keenam
  • Faedah ketujuh

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَجُلًا كَانَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ وَلَا تَمَسُّوهُ بِطِيبٍ وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا

“Ada seorang laki-laki ketika sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dijatuhkan oleh untanya dalam keadaan sedang berihram hingga meninggal dunia. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Mandikanlah dia dengan air dan air yang dicampur daun bidara, kafanilah dengan dua helai kain, janganlah diberi wewangian, dan jangan pula diberi tutup kepala (serban). Karena dia nanti dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan ber-talbiyyah.’” (HR. Bukhari no. 1851 dan Muslim no. 99, 1206)

Terdapat beberapa faedah yang bisa diambil dari hadis di atas, di antaranya:

Faedah pertama

Hadis ini merupakan dalil wajibnya memandikan jenazah. Hikmah dari diwajibkannya memandikan jenazah ini tidaklah diketahui secara pasti, apakah karena thaharah, atau karena kebersihan, atau semata-mata karena ibadah (ta’abbudiyah). Rincian tentang masalah ini telah dibahas pada artikel yang lainnya.

Tata Cara Memandikan Jenazah dan Mengkafani Sesuai Sunnah

Faedah kedua

Para ulama berdalil dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Kafanilah dengan dua helai kain” untuk mengatakan bahwa membeli kain kafan dengan harta peninggalan si mayit itu lebih didahulukan dari pembagian warisan dan membayar utang si mayit. Artinya, harta peninggalan si mayit digunakan terlebih dahulu untuk membeli kain kafan, baru kemudian sisanya untuk membayar utang dan pembagian warisan. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal itu dan tidak bertanya terlebih dahulu apakah orang yang meninggal tersebut memiliki utang ataukah tidak. Demikian pula biaya pengurusan jenazah sampai dimakamkan, misalnya jika harus membayar orang untuk memandikan, menggali makam, dan membawa jenazah ke pemakaman, juga didahulukan daripada melunasi utang orang tersebut ketika masih hidup.

Faedah ketiga

Hadis ini merupakan dalil bolehnya hanya menggunakan dua kain dalam mengkafani jenazah, yaitu berupa izar (kain atasan) dan rida’ (kain bawahan/sarung). Sedangkan mengkafani jenazah dengan tiga helai kain hukumnya sunah (dianjurkan). (Lihat Zadul Ma’ad, 2: 240-241)

Faedah keempat

Hadis ini merupakan dalil bahwa jika jenazah tersebut meninggal dalam keadaan ihram, maka diperlakukan sama dengan jenazah yang meninggal dalam kondisi tidak ihram, yaitu sama-sama dimandikan dan dikafani. Yang membedakan adalah pada jenazah yang meninggal dalam kondisi ihram, maka tidak boleh diberi wangi-wangian dan ditutupi bagian kepalanya. Dan disyariatkan untuk mengkafani dengan dua kain ihramnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Kafanilah dengan dua helai kain”. Tidak ditambah lebih dari itu, sebagai bentuk penghormatan (pemuliaan) untuknya.

Baca juga: Kain Ihram Mengingatkanmu

Faedah kelima

Dianjurkannya mencampur air yang digunakan untuk memandikan jenazah dengan daun sidr (daun bidara). Teknisnya, daun bidara tersebut ditumbuk dan dicampur dengan air, sampai muncul busanya. Busanya kemudian diambil untuk menggosok rambut kepala, jenggot, dan seluruh badan jenazah. Hal ini karena daun bidara itu lebih bagus untuk membersihkan jasad si mayit. Jika daun bidara tidak tersedia, boleh diganti dengan sabun atau sampo. Akan tetapi, jika memungkinkan dan tersedia, menggunakan daun bidara itu lebih utama, karena itulah yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Faedah keenam

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menutupi wajah orang yang ihram ketika meninggal dunia, menjadi dua pendapat.

Pendapat pertama, menutup wajah bukanlah termasuk perkara yang dilarang ketika ihram. Ini adalah mazhab Hanabilah, pendapat Imam Asy-Syafi’i, dan disandarkan oleh Ibnu Hajar sebagai pendapat jumhur ulama. (Lihat Al-Umm, 7: 255; Al-Mughni, 5: 153; Al-Majmu’, 7: 268; Syarh Al-‘Umdah li Ibni Taimiyyah, 2: 52; Fathul Bari, 4: 54; dan Al-Inshaf, 3: 463)

Pendapat pertama ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm dan Ibnul Qayyim. (Lihat Al-Muhalla, 7: 91-92; I’lamul Muwaqi’in, 1: 223 dan 2: 198; dan Zadul Ma’ad, 2: 244)

Pendapat kedua, menutup wajah termasuk dalam perkara yang dilarang dalam ihram. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik (Al-Kafi, 1: 388; Al-Mughni, 5: 153; dan Al-Mabsuth, 4: 7), salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dipilih oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz (Al-Fatawa, 17: 117), dan Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (Adhwa’ul Bayan, 5: 358). Mereka berdalil dengan salah satu riwayat yang menyebutkan,

ولا تخمروا رأسه ولا وجهه

“Dan janganlah kalian tutupi kepala dan wajahnya.”

Sebab perbedaan pendapat tersebut adalah perbedaan dalam menilai apakah tambahan (ولا وجهه) itu sahih ataukah tidak. Ulama yang menilai bahwa tambahan lafaz tersebut sahih, maka akan mengambil pendapat kedua. Sedangkan ulama yang menilai bahwa tambahan lafaz tersebut tidak sahih, maka akan membolehkannya (mengambil pendapat pertama). Sehingga mereka mengatakan bahwa diperbolehkan bagi orang yang ihram untuk menutup wajah dan hidung, atau boleh memakai semacam masker yang menutup mulut dan hidung. Hal ini karena orang yang ihram itu terkadang butuh menutup wajah ketika tidur agar tidak terkena cahaya secara langsung atau terkena gangguan lainnya. (Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’, 7: 188)

Para ulama yang membolehkan juga berdalil dengan mafhum perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ولا تخمروا رأسه

“Dan janganlah kalian tutupi kepalanya.”

Seandainya menutup wajah itu tidak diperbolehkan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan melarangnya seketika itu juga. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak boleh menunda penjelasan suatu hukum syariat apabila hal itu dituntut seketika itu juga. Demikian pula, terdapat riwayat dari sebagian sahabat, misalnya dari ‘Utsman bin ‘Affan, Jabir, Zaid bin Tsabit, dan juga Ibnuz Zubair radhiyallahu ‘anhum. (Lihat takhrij riwayat-riwayat dari para sahabat tersebut di kitab Minhatul ‘Allam, 4: 256)

Faedah ketujuh

Hadis ini adalah dalil bahwa ihram itu tidaklah batal dengan sebab kematian. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk diberi wangi-wangian dan ditutupi bagian kepalanya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Karena dia nanti dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan ber-talbiyyah.”

Berdasarkan zahir hadis ini, seseorang yang meninggal dalam kondisi ihram, maka tidak perlu digantikan (dilanjutkan) rangkaian manasiknya oleh orang lain. Hal ini karena orang yang meninggal tersebut tetap berada dalam kondisi ihram, meskipun telah meninggal dunia. Inilah yang menjadi pendapat jumhur ulama. Sebagian ahli fikih berpendapat bahwa manasik orang tersebut hendaknya diteruskan (disempurnakan) oleh orang lain. Pendapat ini tentu saja menyelisihi zahir hadis di atas.

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.

Baca juga: Mengenakan Kaos dan Celana Dalam Saat Berihram

***

@Rumah Kasongan, 1 Muharram 1445/ 19 Juli 2023

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 253-257) dan Tashilul Ilmam bi Fiqhi Al-Ahadits min Bulughil Maram (3: 22-24).

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Derajat Hadis Membaca Doa Melihat Kakbah

oleh Muhammad Insan Fathin
19 Maret 2026
0

Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan impian setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari agama Islam adalah ibadah haji. Sebagian ulama...

Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

oleh Muhammad Insan Fathin
6 Februari 2026
0

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran yang sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran kelompok yang keluar...

Hadis Arbain An-Nawawiyah

Penjelasan Hadis Arba’in An-Nawawiyah (Bag. 3): Hadis 2, Iman, Islam, dan Ihsan

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
17 November 2025
1

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ...

Artikel Selanjutnya
Bersama Orang Jujur

Bersama Orang Jujur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 5   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah