Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Buah Syukur

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
23 Mei 2023
di Akhlak dan Nasihat
Buah syukur
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Selamat dari azab (siksa) Allah
  • Mendapatkan rida Allah
  • Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayah
  • Terpelihara dan terjaganya nikmat
  • Ditambahkannya nikmat
  • Balasan syukur tidak terikat kehendak Allah
  • Dikabulkannya doa

Syukur merupakan salah satu sifat seorang mukmin. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda tentang keadaan seorang mukmin, “Sungguh menakjubkan keadaan (urusan) seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu tidak terjadi, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)

Syukur mempunyai banyak buah (faedah) yang dapat dipetik. Semuanya kembali kepada hamba dan tiada satu pun yang kembali kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri.

Sebaliknya, apabila seorang hamba kufur (mengingkari) nikmat, maka kekufurannya itu akan merugikan dirinya sendiri pula. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah berkata sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an,

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS. An-Naml: 40)

Buah-buah dari syukur antara lain adalah sebagai berikut:

Selamat dari azab (siksa) Allah

Allah tidak akan mengazab seseorang selama ia mau beriman dan bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147)

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, ”Sesungguhnya Allah Jalla Tsanaauhu tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir Ath-Thabari, 4: 338)

Mendapatkan rida Allah

Buah syukur yang kedua sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa akan mendapatkan rida dari Allah Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sungguh Allah benar-benar rida kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan, lalu mengucapkan alhamdulillah atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman, lalu mengucapkan alhamdulillah atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)

Dikhususkan dengan nikmat dan anugerah hidayah

Sungguh Allah telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan dikhususkan sebagai hamba yang mendapat hidayah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah (hidayah) Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’” (QS. Al-An’am: 53)

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Allah lebih mengetahui mana di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur maupun kufur. Dan nikmat hidayah diberikan kepada mereka yang senantiasa bersyukur.” (Tafsir Ath-Thabari, 5: 204)

Baca juga: Makna Dan Hakikat Hidayah Allah

Terpelihara dan terjaganya nikmat

Syukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat sehingga tidak lepas dan kabur.

Umar bin Abdul Azis rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)

Ditambahkannya nikmat

Allah Ta’ala telah menjanjikan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa Allah akan memberikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang usahanya tidak sekeras kita, namun Allah berikan nikmat yang banyak kepadanya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena besarnya rasa syukurnya kepada Allah.

Balasan syukur tidak terikat kehendak Allah

Allah Ta’ala menggantungkan banyak balasan (pahala) suatu amal dengan kehendak, seperti firman Allah,

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ

“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” (QS. Al-An’am: 41)

يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ

“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran: 129)

وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212)

وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ

“Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Taubah: 15)

Adapun syukur, maka Allah tidak gandengkan dengan kehendak, tetapi langsung Allah balas. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).

Dikabulkannya doa

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh tabi’in pernah ditanya, “Mengapa kami berdoa, namun tidak dikabulkan?” Dia menjawab,

“Karena kalian mengenal Allah, tetapi tidak menaati-Nya.”

“Kalian mengenal Rasulullah, tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya.”

“Kalian mengetahui Al-Quran, tetapi tidak mengamalkannya.”

“Kalian memakan nikmat-nikmat Allah, namun kalian tidak mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.”

“Kalian mengetahui surga, namun tidak memburunya. Dan kalian mengetahui neraka, namun tidak berlari darinya.”

“Kalian mengetahui setan, namun tidak memeranginya malah menyepakatinya.”

“Kalian mengetahui kematian, namun tidak bersiap untuknya dan kalian menguburkan orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dan kalian meninggalkan aib-aib kalian sendiri, namun sibuk dengan aib-aib orang lain.” (Tafsir Ath-Thabari, 2: 303)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.

Baca juga: Doa-Doa Dari Al Qur’an

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Arikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari A’malul Qulub bab As-Syukur, hal. 306-308 karya Syekh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah.

ShareTweetPin
Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd

- S1 Jurusan Kewarganegaraan dan Hukum UNY - Ketua Hijrah Dakwah (@hijrahdakwah.id) - Pernah belajar di: PPTQ Harun Syafi’i, Markas Riwayah Ibnu Qudamah, Markas Takallam Duri - Pernah mengambil sanad Azan ke asatidz Markas Ibnu Syubah Boyolali

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
Masihkah Terbuka Pintu Tobat

Masihkah Terbuka Pintu Tobat?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 7   +   9   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah