Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Bahaya Salah Niat dalam Menuntut Ilmu

dr. Adika Mianoki, Sp.S. oleh dr. Adika Mianoki, Sp.S.
29 Juni 2022
di Akhlak dan Nasihat
salah niat
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pentingnya ikhlas dalam belajar agama
  • Bahaya salah niat dalam belajar agama
  • Hati-hati dengan syirik niat

Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Kemuliaan ilmu janganlah dinodai dengan niat yang salah ketika mempelajarinya. Di antara penghalang penuntut ilmu adalah salah niat, yaitu menuntut ilmu karena selain Allah. Salah niat dalam belajar akan menyebabkan seorang terhalang dari mendapatkan ilmu, bahkan bisa menyebabkan dosa dan kerugian bagi dirinya di dunia dan di akhirat.

Pentingnya ikhlas dalam belajar agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti tentang pentingnya niat yang ikhlas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك

“Seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu dan memberikannya kepada yang berhak, maka niscaya mereka akan berkuasa pada waktu tersebut dengan ilmu mereka. Akan tetapi, mereka telah memberikannya kepada pecinta dunia untuk mendapatkan dunia mereka, maka mereka menjadi hina di hadapan para pecinta dunia tersebut. Aku telah mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa.’“  (HR. Ibnu Majah, shahih)

Baca Juga: Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan Kebodohan

Bahaya salah niat dalam belajar agama

Sesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan para penuntut ilmu adalah perkara niat serta berusaha untuk terus memperbaikinya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak niat. Hal ini karena ilmu hanyalah menjadi mulia ketika niat mempelajarinya ditujukan ikhlas karena Allah. Adapun ketika ditujukan untuk selain-Nya, maka tidak ada lagi keutamaan di dalamnya, bahkan akan menjadi fitnah dan malapetaka, serta akan berakibat buruk bagi pelakunya. Telah kita ketahui bersama bahwa diterimanya amal adalah sesuai dengan keikhlasan dan benarnya amal sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. “ (QS. Al Bayyinah: 5)

Apabila penuntut ilmu menuntut ilmu untuk tujuan mendapat dunia, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, merusak dirinya sendiri, mendapatkan dosa, dan tidak akan mendapatkan bagian dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه

“Barangsiapa mencari ilmu karena akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Sedangkan barangsiapa mencari ilmu karena ingin mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapat jatah dunianya saja.“

Lebih jelas dalam masalah ini adalah penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, shahih)

Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku mendengar Dzun Nuun Al-Mishri berkata, ‘Dahulu para ulama saling nasihat-menasihati di antara mereka mengenai tiga perkara:

Pertama: Barangsiapa berbuat baik ketika sendirian, maka Allah akan menjadikan dirinya baik di hadapan manusia.

Kedua: Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Ketiga: Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.'”

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر

“Permulaan ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, dan kemudian menyebarkan.”

Niat adalah perkara yang hendaknya menjadi perhatian. Banyak para ulama salaf mengatakan,

كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إلى الآخرة

“Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, namun ia menuntun kami kepada akhirat.”

Sebagian yang lain mengucapkan,

طلبنا هذا الأمر وليس فيه نية ثم جاءت النية بعد

“Kami menuntut ilmu tanpa disertai niat yang benar, kemudian niat datang setelah kami mempelajarinya.“

Ada juga yang mengatakan,

و من طلب العلم لغير اللّه يأ بى عليه حتى يصيره إلى اللّه

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk selain Allah, maka niscaya ilmu akan enggan, sampai (niatnya) menuju Allah.“

Dan ungkapan yang semisal ini sangatlah banyak, yang menunjukkan pentingnya niat dalam mempelajari ilmu.

Demikian juga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita yang memiliki nasab baik dan cantik jelita. Wanita itu menolak karena lelaki tersebut miskin dan kurang baik nasabnya. Lelaki tersebut memikirkan dua di antara yang akan dia raih apakah harta ataukah kemuliaan. Maka, dia memilih kemuliaan, sehingga dia menuntut ilmu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kemudian wanita tersebut mengirim utusan kepada lelaki tersebut dalam rangka untuk menawarkan dirinya agar dinikahi. Maka lelaki tersebut kemudian mengatakan, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu di atas apapun.“ Demikianlah, ilmu menjadi petunjuk baginya untuk membenarkan niat dan amal saleh, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fathir: 28)

Maka, dia bersikap wara’ dengan meninggalkan wanita tersebut karena dulu dia menuntut ilmu karena dirinya. Hal ini dilakukan sebagai tanda jujur niatnya dan lurus tujuannya dalam menuntut ilmu.

Baca Juga: Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama

Hati-hati dengan syirik niat

Berhati-hatilah dengan syirik dalam niat, karena Allah Ta’ala mengingatkan dalam sebuah hadis qudsi,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tidaklah butuh adanya persekutuan dalam bentuk apapun. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya tersebut.” (HR. Muslim)

Kebinasaan akan terjadi jika kondisi jiwa seseorang kosong dan tidak terjalin hubungan antara dirinya dengan Allah. Dalam kondisi demikian, maka setan akan mengisi kekosongan tersebut dan membuka cabang menuju jalan kesesatan sehingga mengantarkannya ke jalan neraka.

Hamdan bin Salamah rahimahullah berkata ,

مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ

“Barangsiapa yang mencari hadis bukan karena Allah, maka akan dibuat makar kepadanya.”

Jika seseorang benar niatnya dalam menuntut ilmu, maka akan semakin besar pertolongan untuk mendapatkannya sebagaimana perkataan Abu ‘Abdillah Ar-Rudabari,

العلم موقوف على العمل والعمل موقوف على الإخلاص والإخلاص لله يورث الفهم عن الله تعالى

“Ilmu itu terhenti pada amal, amal itu terhenti pada ikhlas, dan ikhlas itu mewariskan pemahaman dari Allah Ta’ala.”

Disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa dia berkata,

من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه

“Barangsiapa yang mencari ilmu dalam rangka mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan ilmu baginya.“

Semoga menjadi renungan bagi kita untuk terus menata niat dalam belajar agama.

Baca Juga:

  • Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu
  • 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu

***

Penulis: Adika Mianoki

Artikel: www.muslim.or.id

 

Referensi:

‘Awaaiqu At-Thalib karya Syekh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim rahimahullah.

ShareTweetPin3
dr. Adika Mianoki, Sp.S.

dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi, S1 Kedokteran Umum UGM, penulis buku "Jawaban 3 Pertanyaan Kubur"

Artikel Terkait

Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
16 Juli 2026
0

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada...

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Artikel Selanjutnya
bicara agama

Khotbah Jumat: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Komentar 1

  1. Sunardi Abdul Ghofar says:
    4 tahun yang lalu

    maasyaa Alloh sangat bermanfaat tadz,mohon uzin utk menyampaikan ke orang lain nggih

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah