Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Ini Dalilnya (15): Keliru dalam Memahami Tawassul

Sufyan Basweidan oleh Sufyan Basweidan
30 November 2011
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Masalah Ketiga: Tawassul              
    • Pemahaman yang kacau balau tentang tawassul

Masalah Ketiga: Tawassul              

Pemahaman yang kacau balau tentang tawassul

Novel mengatakan: “Tawassul dengan orang lain artinya wasilah (perantara) yang kita sebutkan di dalam doa yang kita panjatkan bukanlah amal kita, tetapi nama seseorang. Contohnya adalah doa berikut: “Ya Allah, berkat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam…”, “Ya Allah, berkat Imam Syafi’i…”, “Ya Allah, berkat para Rasul dan Wali-Mu…””.

Beberapa baris kemudian ia mengatakan: “Saudaraku, perlu kita ketahui bahwa seseorang yang bertawassul dengan orang lain sebenarnya ia sedang bertawassul dengan amal salehnya sendiri. Bagaimana bisa? Kami akan menjelaskannya secara ringkas.

Ketika seseorang bertawassul dengan orang lain, pada saat itu ia berprasangka baik kepadanya dan meyakini bahwa orang tersebut adalah seorang saleh yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Ia menjadikan orang tersebut sebagai wasilah (perantara) karena ia mencintainya. Dengan demikian sebenarnya ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada orang tersebut. Ketika seseorang mengucapkan, “Ya Allah, demi kebesaran Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam…” berarti ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau orang yang berkata, “Ya Allah, berkat Imam Syafi’i…” berarti ia sedang bertawassul dengan cintanya kepada Imam Syafi’i. Kita semua tahu bahwa cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul-Nya serta kepada orang-orang yang saleh merupakan amal yang sangat mulia… dst”.[1]

Saya katakan; ucapan Novel di sini mengandung kontradiksi. Di awal pembahasan ia mendefinisikan bahwa tawassul dengan orang lain maknanya ialah bahwa perantara yang kita sebutkan dalam doa yang kita panjatkan bukanlah amal kita, tetapi nama seseorang. Kemudian dia menyebutkan bahwa ketika seseorang bertawassul dengan orang lain sebenarnya ia sedang bertawassul dengan amal salehnya sendiri?!

Dalam hal ini ia hendak menyamakan antara seseorang yang mengatakan: “Ya Allah, demi cintaku kepada Nabi-Mu… atau demi cintaku kepada Imam Syafi’i…” dan semisalnya; dengan orang yang mengatakan: “Ya Allah, demi kebesaran Nabi Muhammad… atau berkat Imam Syafi’i…”. Padahal setiap orang yang paham bahasa Indonesia pasti mengatakan bahwa makna kedua ucapan di atas jelas berbeda. Yang pertama ialah tawassul dengan menyebut amal saleh yang dia perbuat -dan hal ini dianjurkan-, sedang yang kedua ialah tawassul dengan menyebut amal seseorang yang hal tersebut adalah milik orang lain, bukan milik si pendoa. Lantas bagaimana keduanya bisa disamakan?

Lepas dari ini semua, cara berdoa semacam ini adalah bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para salaf. Dan sebagaimana telah pembaca ketahui, bahwa seandainya cara berdoa semacam ini adalah hal yang dianjurkan dalam agama, pastilah mereka lebih dahulu melakukannya daripada kita.

Bila kita perhatikan dalil-dalil yang berbicara mengenai tata cara berdoa, kita akan dapati bahwa Islam bukanlah agama birokrasi yang sedikit-sedikit harus pakai perantara. Cara seperti ini justeru identik dengan praktek orang jahiliyah yang menjadikan berhala-berhala mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah (lihat surat Az Zumar: 3 dan Yunus: 18).

Karenanya, kalau saudara perhatikan ayat-ayat yang menjawab sejumlah pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saudara akan dapati bahwa semua jawabannya dimulai dengan perintah: “Katakanlah (hai Muhammad)…”. Contohnya sebagai berikut:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia…” (Al Baqarah: 189).

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat,… dst” (Al Baqarah: 215).

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…. dst” (Al Baqarah: 217).

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia…” (Al Baqarah: 219).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu [2]. Namun ketika pertanyaannya tentang bagaimana cara berdoa kepada Allah? maka jawabannya sungguh berbeda! Simaklah ayat berikut:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai-Ku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat. Aku akan kabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku….” (Al Baqarah: 186).

Perhatikan, dalam ayat di atas Allah tidak menggunakan kata ‘katakanlah’ -alias menjadikan Nabi sebagai perantara-, akan tetapi Dia sendiri yang langsung menjawab pertanyaan ini. Kemudian mengatakan bahwa diri-Nya lah yang akan mengabulkan doa hambanya secara langsung, tanpa menyebut-nyebut perantara dalam hal ini. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak butuh perantara dalam doa, bahkan Dia lebih menyukai doa yang langsung dipanjatkan kepada-Nya tanpa perantara, sebab Dia maha dekat terhadap hamba-Nya.

Lebih dari itu, jika kita meyakini kebesaran Allah dan sifat-Nya yang Maha lembut, Pengasih, Penyayang, Mengabulkan doa hambanya, dan sebagainya; maka aneh sekali jika kita lebih suka berhubungan dengan-Nya melalui perantara.

Kalaulah seseorang yang ingin menghadap Raja atau Presiden telah mendapat izin langsung untuk menghadapnya, kemudian dia enggan dan justru mencari perantara, bukankah ini namanya menyia-nyiakan kesempatan emas?? Lantas bagaimana jika Raja atau Presiden tadi menyatakan bahwa dirinya lebih suka kalau yang bersangkutan menghadap langsung kepadanya, namun orang tersebut justru menjauh dan tetap pakai perantara? Bukankah ini termasuk pembangkangan terhadap keinginannya?

Demikian pula dengan ayat di atas, Allah secara langsung menjawab pertanyaan tersebut tanpa menjadikan Nabi sebagai perantara, dan secara tegas menyatakan bahwa diri-Nya maha dekat dengan kita, lantas mengapa kita tidak mau langsung meminta kepada-Nya?

-bersambung insya Allah-

 ***

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id

 


[1] Mana Dalilnya 1, hal 116-117.

[2]  Lihat QS Al Baqarah: 220, 222; Al Maidah: 4; Al A’raf: 187; Al  Anfal: 1; Al Isra’: 85; Al Kahfi: 83; dan Thaha: 105.

ShareTweetPin
Sufyan Basweidan

Sufyan Basweidan

Alumni Pascasarjana Jurusan Ulumul Hadits Universitas Islam Madinah

Artikel Terkait

Allah Mengganti yang Hilang

oleh Fauzan Hidayat
14 Juli 2026
0

Kehilangan adalah salah satu ujian paling berat dalam hidup manusia. Tidak ada yang benar-benar siap apabila diuji dengan musibah kehilangan...

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
2

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Artikel Selanjutnya

Keutamaan Shaf Pertama

Komentar 4

  1. santosa says:
    15 tahun yang lalu

    Sangat bermanfaat sekali :)

    Reply
  2. Abuaishaamira says:
    15 tahun yang lalu

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,

    Subhanallohu, sangat bermanfaat…mohon ijin copy untuk pribadi

    Jazakumullohu khoyron katsir

    Reply
  3. Abu Maaya says:
    15 tahun yang lalu

    Alhamdulillah, sangat jelas dan tepat sasaran. Saya kumpulkan dalam bentuk pdf dan ePub (untuk iPad), Insya Allah diupdate kalau ada sambungannya:
    http://islam.ibooks.tk/index.php?dir=/%21iPad%20iBooks

    Reply
    • Muhammad Abduh Tuasikal says:
      15 tahun yang lalu

      @ Abu Maaya

      Jazakumullah khoiron atas bantuan akhi. Nantikan saja lanjutan artikelnya yg tinggal beberapa postingan lagi. Moga bisa disebarkan via iphone, ipad dan smartphone lainnya sehingga tersebar manfaat bagi seluruh kaum muslimin.

      Semoga Allah membalas amalan antum dengan jannah-Nya.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah