Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Merindukan Ramadan

Ari Wahyudi, S.Si. oleh Ari Wahyudi, S.Si.
23 Maret 2022
di Akhlak dan Nasihat
Rindu ramadhan
Share on FacebookShare on Twitter

Hari demi hari terus berlalu. Bulan Sya’ban terus melaju dan Ramadan semakin mendekat. Bulan yang penuh dengan berkah dan keutamaan. Betapa menyedihkan apabila kita tidak diberi taufik untuk bertemu dengan bulan itu dan beramal saleh di dalamnya.

Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Waktu demi waktu berlalu dan Allah terus saja membuka pintu taubat. Allah bentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari. Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat di malam hari. Wahai saudaraku, apakah Allah kurang pemurah dan pemaaf terhadap kita?!

Demi Allah, tidaklah Allah bakhil dari mencurahkan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas kepada dirinya sendiri, agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa bagi siapa saja yang mau kembali dan bertaubat dengan tulus kepada-Nya.

Sadarlah, bahwa kesempatan untuk bertaubat itu masih terbuka selama nyawa masih belum berada di tenggorokan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapankah saatnya malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita. Bisa jadi kematian datang dan Ramadan belum jua datang menghampiri kita. Ya, taubat harus kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu bulan puasa. Tidak perlu menunggu semerbak shaum menyelimuti manusia.

Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kesempatan itu masih terbuka lebar untuk kita. Apakah Engkau ragu akan luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya?! Bukankah Allah menerima taubat si pembunuh seratus nyawa? Bukankah Allah menerima taubat orang-orang musyrik penyembah berhala yang berubah menjadi pengikut setia nabi akhir zaman Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik dan teman-temannya Radhiyallahu ’anhum ajma’in? Bukankah Allah menerima taubat Adam dan istrinya ‘Alaihimassalam yang telah melanggar aturan Rabb mereka?!

Katakanlah saudaraku, apa yang membuat kita terhalang dari taubat kalau bukan berhala hawa nafsu yang bercokol di dalam dada kita?

Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah, melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah/menghamba kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147).

Syekh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan Hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah ‘berhala’. Setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya, Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala, dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah Subhanahu wa ta’ala adalah hancurnya berhala secara fisik, sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi, yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari ‘berhala’ di dalam hati, bahkan inilah cakupan paling awal” (lihat al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, hal. 41).

Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.

Baca Juga: Ramadhan Berbagi Kebaikan

Hikmah ibadah puasa

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah diragukan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mulia. Allah wajibkan ibadah puasa kepada kita agar kita bertakwa kepada-Nya. Berikut ini kami sajikan ringkasan faedah mengenai hikmah puasa yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dan Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahumallah.

Syekh Abdurrazzaq Hafizhahullah memaparkan bahwa puasa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan membebaskan jiwa dari kotoran dan perusak-perusaknya. Puasa akan menyucikan jiwa dari kecenderungan untuk selalu memuaskan nafsu dan syahwatnya. Sesungguhnya puasa melatih jiwa untuk bersabar menahan diri dari hal-hal yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu dan telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.

Apabila jiwa telah ditempa dengan puasa, maka niscaya dirinya akan terlatih untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Ketakwaan tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Puasa ini akan menjadi perisai bagi hamba dari bergelimang di dalam dosa-dosa dan perisai baginya dari kemurkaan Rabbnya.

Barang siapa yang diberikan taufik oleh Allah untuk menunaikan puasa sebagaimana mestinya, niscaya hal itu akan bisa menjadi bekal untuknya selama setahun berikutnya. Berpuasa satu bulan bisa memberikan faedah dan dampak positif baginya selama satu tahun lamanya dengan izin Allah. Demikianlah ringkasan faedah yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr Hafizhahullah dalam kitab Syarh ad-Durus al-Muhimmah (hal. 49).

Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa puasa adalah jalan untuk menggapai takwa. Seseorang yang berpuasa sedang menempa dirinya untuk beribadah dan berlatih menghadapi kesulitan dan rintangan. Dia akan berlatih untuk meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kesenangan dan hal yang disukai oleh hawa nafsunya. Orang yang berpuasa sedang berjuang untuk menaklukkan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Dia pun berjuang keras agar terjauhkan dari berbagai godaan dan tipu daya setan.

Ketakwaan itu akan digapai dengan cara berpuasa. Maksudnya, dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Dia mengharapkan curahan pahala dari Allah dan takut akan hukuman-Nya. Inilah salah satu keistimewaan puasa yang paling agung, yaitu ia akan membuahkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah kurang lebih kandungan dari salah satu faedah berharga yang disampaikan oleh Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam Majmu’ Fatawa (2: 383).

Dari keterangan kedua ulama di atas, tampaklah bagi kita bahwa takwa bukan perkara sepele dan remeh yang bisa diperoleh hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan. Sesungguhnya takwa kepada Allah butuh perjuangan keras untuk menundukkan hawa nafsu, yang seringkali mengajak kepada keburukan. Takwa kepada Allah butuh kesadaran hati dan ketundukan akal kepada perintah dan larangan Allah. Takwa pun harus berakar dari dalam hati. Bukan semata-mata perbuatan anggota badan dan ucapan dengan lisan.

Kita dilatih dan ditempa untuk menjadi hamba Allah yang sejati dengan ibadah puasa. Bukan hamba hawa nafsu dan pemuja kenikmatan-kenikmatan semu. Seorang hamba tidak bisa dengan hanya bersandar kepada kemampuan dirinya untuk mewujudkan puasa dan ketakwaan itu. Akan tetapi, dia harus bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Hanya Allah lah yang bisa membantu dan memudahkan dirinya dalam menempuh jalan menuju takwa. Semoga nasihat yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul musta’aan.

Baca Juga:

  • Doa Sepanjang Ramadhan
  • Hukum Tadarusan di Bulan Ramadhan

***
Penulis: Ari Wahyudi, S.Si

Artikel: Muslim.or.id

ShareTweetPin2
Ari Wahyudi, S.Si.

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".

Artikel Terkait

Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

oleh Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd
6 Juli 2026
0

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan...

Mengingat Kembali Keutamaan Muharam, Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

oleh Chrisna Tri Hartadi, A. Md.
26 Juni 2026
0

Dalam Islam, bulan Muharam memiliki kedudukan yang sangat agung dan istimewa. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram...

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Artikel Selanjutnya
hikmah puasa syaban

Hikmah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya'ban

Komentar 1

  1. azna moenawar says:
    4 tahun yang lalu

    very2 nice i like so much

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 6   +   6   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah