Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)

Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc. oleh Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.
14 Februari 2022
di Akhlak dan Nasihat
Mewujudkan perbaikan
Share on FacebookShare on Twitter

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kebaikan dalam diri kita sendiri dan perbaikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Rabb-mu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117)

Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman وأهلها صالحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan), akan tetapi Allah berfirman وأهلها مصلحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan). Itulah perbedaan antara shalah (kebaikan) dengan ishlah (perbaikan). Jika seseorang adalah orang yang berbuat kebaikan, maka dia adalah seorang yang shalih. Akan tetapi, jika dia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga berbuat perbaikan terhadap orang lain dan lingkungannya, maka dia tidak hanya seorang yang shalih, tetapi juga seorang yang mushlih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa suatu negeri tidak akan dibinasakan oleh Allah selama penduduknya berbuat perbaikan, yaitu selama mereka tidak hanya menyimpan amalan kebaikan untuk diri mereka sendiri. (Lihat At-Ta’liq ‘Ala Al-Qawa’id Al-Hisan, karya Syekh Muhammad ibn Shalih Al-’Utsaimin, kaidah ke-45, hlm. 196.)

Bisa jadi seseorang bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)?”

Secara zahir, ayat ini seolah mengatakan kepada kita bahwa kesesatan orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kita, sehingga dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, ini adalah pemahaman yang salah, berdasarkan hadis berikut ini.

Dari Qais ibn Abi Hazim rahimahullah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,

يا أيها الناس إنكم تقرءون هذه الآية وتضعونها على غير مواضعها: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منه)

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan meletakkannya pada tempat yang bukan semestinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma’idah: 105) Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya manusia jika melihat seseorang yang berbuat kezaliman lalu tidak mencegahnya, maka ‘adzab Allah akan menimpa mereka semua.’” [Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4338) dan At-Tirmidziy (no. 2168)]

Demikian pula, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 105 di atas, perhatikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إذا اهتديتم (jika kamu telah mendapat petunjuk). Termasuk dalam hidayah atau petunjuk ini adalah mewujudkan ishlah atau perbaikan, yaitu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mendakwahkan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, padahal dia sebenarnya mampu untuk melakukan hal tersebut, maka itu berarti dia bukanlah orang yang mendapat petunjuk. Adapun jika dia tidak mampu mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, tetapi dia telah berusaha mengubahnya dengan lisannya, yaitu dengan dakwah yang hak dan nasihat yang baik, maka barulah pada saat itu amalan kesesatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain tersebut tidak akan membahayakannya. (Lihat Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, karya As-Sindiy, 1: 13)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk bisa menjadi orang yang tidak hanya shalih, tetapi juga mushlih, tidak hanya mewujudkan shalah, tetapi juga mewujudkan ishlah.

Baca Juga:

  • Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?
  • Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Artikel: www.muslim.or.id

ShareTweetPin2
Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

S1 Universitas Indonesia, S2 Maryland of College Park, United States, S3 Univ. of Birmingham, UK. Belajar bahasa Arab di Tooba University, sempat juga belajar Hadits, Aqidah dan Tajwid kepada ulama Amerika lulusan Arab Saudi seperti Syaikh Taha Adesun, Syaikh Ali Roach dan Syaikh Abu Salman.

Artikel Terkait

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

oleh Fauzan Hidayat
14 Juni 2026
0

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang...

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

oleh Gazzeta Raka Putra Setyawan
9 Juni 2026
0

Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin...

Nafsu, Kekayaan, dan Kehancuran Moral Manusia

oleh Fauzan Hidayat
6 Juni 2026
0

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika...

Artikel Selanjutnya
perusak iman

Faktor Eksternal Perusak Iman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 3   +   2   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah