Nasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)

Nasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Siapakah ahli tauhid itu?

Setiap muslim dan muslimah yang sah keislamannya adalah ahli tauhid (muwahhid). Karena setiap muslim dan muslimah pastilah memiliki dasar tauhid yang menjadi syarat sah keislamannya. Hanya saja, kadar tauhid pada diri setiap muslim dan muslimah itu bertingkat-tingkat. Ada yang sempurna, ada pula yang tidak. Dan setiap dosa itu bisa mengotori tauhid seseorang, bahkan bisa sampai meniadakannya sehingga dasar tauhidnya musnah dan pelakunya keluar dari Islam.

Semoga Allah melindungi kita dari segala bentuk dosa, kecil maupun besar, baik dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam maupun yang tidak demikian.

Apakah tauhid itu?

 Definisi tauhid adalah,

إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات

“Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan-Nya, yaitu perbuatan Allah (rububiyyah), hak Allah untuk diibadahi (uluhiyyah), dan nama dan sifat Allah (al-asma’ was shifat).”

Maksud “mengesakan Allah” di sini adalah meyakini keesaan Allah dalam kekhususan-Nya dan melaksanakan tuntutan atau konsekuensinya dalam ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.

Baca Juga: Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan

Nasib ahli tauhid di akhirat

Ada beberapa dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya dari sahabat ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al ‘Ajlan Al-Anshori, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya dia mencari pahala melihat wajah Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud  “mengharamkan neraka” adalah Allah Ta’ala mencegah seorang hamba yang mengucapkan laa ilaha illallah dari masuk ke dalam neraka.

Sedangkan maksud dari “mengucapkan laa ilaha illallah” adalah ucapan laa ilaaha illallah yang memenuhi syarat dan rukunnya, menghindari pembatal-pembatalnya, serta melaksanakan tuntutannya.

Pembagian pencegahan dari masuk neraka

Pertama, pencegahan (dari masuk neraka) yang sempurna.

Pencegahan yang sempurna (tahrim muthlaq) adalah seorang hamba tidak masuk neraka sama sekali. Ada tiga golongan ahli tauhid yang mendapatkan pencegahan dari masuk neraka dengan sempurna ini, sehingga langsung masuk surga, yaitu:

1) Ahli tauhid yang meninggal tanpa membawa dosa, langsung masuk surga, tanpa hisab dan tanpa azab sama sekali.

2) Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa, namun diampuni oleh Allah Ta’ala di akhirat, dan dihisab dengan hisab yang ringan.

3) Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa dan di akhirat tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, namun timbangan tauhid dan kebaikannya lebih berat dari timbangan dosa-dosanya, dan dihisab dengan hisab ringan [2].

Catatan penting:

– Maksud “ahli tauhid meninggal” adalah seorang muslim dan muslimah yang meninggal dalam keadaan sah keislamannya.

– Maksud “masih membawa dosa” adalah mati dalam keadaan masih terdapat dosa yang belum ditaubati, tidak terlebur dengan pelebur dosa, serta belum diampuni oleh Allah Ta’ala.

– Maksud “hisab ringan (hisab yasir)” adalah sebatas hisab menunjukkan dosa dan pengakuan pribadi (tidak diketahui dan tidak didengar makhluk lainnya), yaitu menunjukkan amalan dan dosa-dosa seorang hamba, lalu diampuni oleh Allah Ta’ala sehingga dia mengakui dosa dan merasakan nikmat ampunan-Nya.

Kedua, pencegahan (dari masuk neraka) yang tidak sempurna.

Pencegahan dari masuk neraka yang tidak sempurna (muthlaq tahrim) adalah seorang hamba dicegah (bebas) dari kekekalan di neraka, jadi seorang muslim atau muslimah yang sempat masuk neraka, namun tidak kekal di dalamnya.

Kelompok yang mendapatkan pencegahan tidak sempurna ini adalah:

Ahli tauhid yang meninggal masih membawa dosa, dan di akhirat tidak diampuni dosanya oleh Allah Ta’ala. Bahkan timbangan dosa-dosanya lebih berat dari timbangan tauhid dan kebaikannya. Dan golongan ini nantinya akan dihisab dengan hisab interogatif, berat, dan rinci dengan tuntutan dan alasan (hisab munaqosyah) [3].

[Bersambung]

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

Artikel: Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Fadhlut Tauhid, Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah [2] Fathul Baari (Islamport.com/w/srh/Web/2747/6643.htm), https://www.dorar.net/hadith/sharh/7305 & Al-Minhal Al-‘Adzbu Al-Maurud Syarhu Sunan Abi Dawud (https://al-maktaba.org/book/32995/2628) [3] Al-Minhal Al-‘Adzbu Al-Maurud Syarhu Sunan Abi Dawud (https://al-maktaba.org/book/32995/2628)

 

🔍 Robbana Atina, Madinah International University, Cara Memanggil Roh Orang Yang Masih Hidup, Dalil Tentang Cinta Tanah Air, Doa Agar Selalu Istiqomah

About Author

Sa'id Abu Ukkasyah

Pengajar Ma'had Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta (hingga 1436H), Pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, Pengajar Islamic Center Baitul Muhsinin (ICBM) Medari Yogyakarta

View all posts by Sa'id Abu Ukkasyah »

Leave a Reply