Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 2)

Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 1)

Mempelajari dari Yang Paling Dasar dan Paling Mudah

Sebagian orang memiliki semangat yang tinggi dalam mempelajari ilmu agama (ilmu syar’i). Ia pun memulai belajarnya dengan “kitab-kitab besar” seperti Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Majmu’ Fataawa karya Ibnu Taimiyyah, atau Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dia menyangka bahwa dengan membaca kitab-kitab tersebut dalam satu-dua bulan, dia akan dapat menjadi seseorang yang pandai dalam berbagai masalah agama.

Namun, baru satu-dua hari dia membaca kitab tersebut, dia sudah mendapatkan istilah atau pembahasan yang sulit dia pahami dan tidak dapat menangkap maksudnya. Dia juga merasa tidak ada yang dia pahami dari apa yang telah dia baca. Akhirnya, dia meninggalkan belajar dan mungkin tidak ingin belajar lagi selamanya.

Ini adalah kesalahan yang besar ketika seseorang itu hendak belajar. Dia ingin menjadi orang yang pandai dalam “sekali loncatan” saja. Padahal seharusnya, dia menapaki anak tangga satu demi satu, dari anak tangga yang paling dasar, kemudian meningkat lagi ke anak tangga di atasnya, dan akhirnya tentu dia akan sampai juga di anak tangga paling atas. Demikianlah, dia seharusnya belajar dari kitab-kitab kecil yang ringkas, kemudian berpindah ke kitab-kitab pertengahan, dan pada akhirnya dia akan sampai pada kitab-kitab yang besar. Barangsiapa yang tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum masanya, maka dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Baca Juga: Inilah 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu

Hal ini sebagaimana perkataan para ulama,

مَنْ حَرَمَ الْأُصُوْل، حَرَمَ الْوُصُوْل

“Barangsiapa yang tercegah dari mempelajari ilmu ushul (ilmu-ilmu dasar), niscaya dia tidak akan pernah sampai (mendapatkan ilmu).”

Hal ini perlu mendapat perhatian, karena terkadang kita dapati seseorang yang ingin langsung mendapatkan sesuatu yang besar. Dia memiliki semangat pada awal menuntut ilmu, bagaikan semangat untuk menghancurkan gunung dan membelah lautan.

Sehingga ketika ditanya,Apa yang ingin engkau pelajari?”

Dia menjawab,”Saya ingin menghafal kutubus sittah.

Atau dia berkata, ”Kitab ‘Aqidah Al-Wasithiyyah itu kitab yang ringkas, saya ingin menghapal kitab Tadmuriyyah.”

Atau dia berkata, ”Saya tidak ingin menghapal kitab Bulughul Marom. Kitab Bulughul Marom itu terlalu ringan. Saya ingin menghafal kitab Muntaqa Al-Akhbar, karena di dalamnya terdapat 6000 hadits.”

Atau yang semisal dengan perkataan tersebut misalnya, ”Aku tidak ingin menghapal kitab Zaadul Mustaqni’, karena kitab ini terlalu ringkas. Aku ingin menghapal ijma’ dan khilaf yang terdapat di kitab Al Mughni.”

Baca Juga: Inilah Penyebab Tidak Berkahnya Ilmu

Hal-hal yang telah disebutkan di atas memang terjadi di sebagian generasi muda saat ini. Memang benar bahwa mereka harus memiliki semangat yang besar. Dan hendaknya mereka juga bersyukur karena dikaruniai semangat tersebut. Akan tetapi, semangat seperti ini tidaklah berlangsung terus-menerus, dan hanya sedikit saja yang bisa terus-menerus konsisten.

Oleh karena itu, salah satu sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu adalah seseorang memaksakan dirinya ketika sedang bersemangat dan merasa bahwa dia mampu mempelajari kitab-kitab yang sulit, padahal ketika itu dirinya sebenarnya tidak mampu karena belum memiliki dasar yang kuat. Semangat seperti itu justru menjadikan dirinya lemah dan menyebabkannya terputus dari menuntut ilmu.

Setiap amal perbuatan memiliki masa-masa semangat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih,

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

”Sesungguhnya setiap amal ada masa-masa semangatnya. Dan dalam setiap semangat ada masa-masa kelelahan. Barangsiapa yang lelahnya untuk sunnahku, maka sungguh dia beruntung. Dan barangsiapa yang lelahnya untuk bermaksiat, maka dia merugi dan binasa.” (HR. Ahmad no. 6764. Syaikh Syu’aib Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Seperti Apa Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama?

Setiap amal ada masa-masa semangat, sampai-sampai menuntut ilmu juga memiliki masa semangat, misalnya ketika masih muda. Seakan-akan dia ingin membaca ratusan jilid, menghapalnya, dan mengamalkannya. Akan tetapi, dalam semangat ini pasti ada masa-masa lelahnya.

”Sesungguhnya setiap amal ada masa-masa semangatnya”, semangat itu misalnya karena masih muda dan kuat. Dan dalam setiap semangat ada masa-masa kelelahan, sampai-sampai ketika beribadah. Kita dapati diri seseorang yang rajin dan bersemangat, kita dapati dia serius beribadah, memperbanyak amal ketaatan, dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Namun terkadang, kita dapati dia malas beramal. Maka, masa-masa lelah itu pasti ada. Akan tetapi, yang penting adalah janganlah masa-masa itu membawa kepada kemunduran. Setiap orang yang sedang bersemangat, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Allah tidak membuat kita bersandar kepada diri kita sendiri meskipun hanya dalam sekejap mata.

Bagaimana sebaiknya ketika kita mendapati diri kita sedang bersemangat? Pelajarilah maksimal apa yang kita mampu, dan jangan mengambil sesuatu yang hendaknya kita pelajari ketika sedang lelah atau malas.

Misalnya, jika kita sedang semangat, hapalkanlah Al Qur’an, Bulughul Maraam, atau ’Umdatul Ahkaam sesuai dengan yang mudah bagi kita. Jika merasa memiliki kemampuan, kita dapat menghafalkan Kitab Tauhid, Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, dan semisalnya. Sedangkan ketika sedang merasa lelah, hafalkanlah misalnya matan hadits Arba’in An-Nawawiyyah.

Jika hal ini dapat kita raih di masa lelah dan di masa semangat, maka kita akan mendapatkan kebaikan yang besar. Kenyataannya, orang-orang yang semangat atau merasa masih mampu dan masih muda, tidaklah mereka mampu untuk menyelesaikan kitab-kitab tersebut kecuali hanya sedikit saja. Bahkan kitab-kitab yang menurut sebagian orang ringkas pun, mereka tidak mampu untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, hendaklah kita beramal sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Baca Juga:

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik untuk kontinyu mempelajari ilmu agama.

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 18 Dzulqa’dah 1440/15 Juli 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) dan S3 (PhD) Erasmus University Medical Center Rotterdam dalam bidang Virologi dan Imunologi (2011-2013 dan 2014-2018).

View all posts by dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. »

Leave a Reply