Antara Roja’ dan Khouf (Bag. 2)

Antara Roja’ dan Khouf (Bag. 2)

Simak pembahasan sebelumnya: Antara Roja’ dan Khouf (Bag. 1)

Bentuk-bentuk ketertipuan/ghurur

Salah satu sumber kebodohan dan ketertipuan mereka itu adalah ketika mereka mengandalkan sebagian amal perbuatan yang utama seperti yang tercantum dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang mengucapkan subhaanallaahi wa bihamdihi 100 kali setiap hari niscaya dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun banyak sekali seperti buih di lautan.” (Muttafaq ‘alaih). Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah ‘Azza wa Jalla mengenai seorang yang berbuat dosa lalu beristighfar, “Hamba-Ku tahu bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya, Aku telah ampuni hamba-Ku dan hendaklah dia berbuat apa saja yang dikehendakinya.” (Muttafaq ‘alaih). Dan juga seperti ketertipuan sebagian dari mereka yang mengandalkan amalan puasa ‘Asyuraa’ atau hari Arafah sampai-sampai ada di antara mereka yang berkata, “Puasa hari ‘Asyuraa’ menghapuskan dosa setahun seluruhnya maka tinggallah puasa arafah sebagai tambahan pahala.” Orang yang tertipu ini tidak menyadari bahwa puasa Ramadhan dan shalat lima waktu yang jelas lebih agung dan lebih mulia daripada puasa hari ‘Arafah dan puasa hari ‘Asyuraa’ tidak akan dapat menghapuskan dosa-dosa kecil kecuali apabila dosa-dosa besar ditinggalkan! Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat lima waktu yang satu dengan lainnya, ibadah Jumat menuju Jumat yang lain, Ramadhan menuju Ramadhan sesudahnya, menjadi penghapus dosa-dosa selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Maka Ramadhan menuju Ramadhan sesudahnya dan shalat Jumat yang satu menuju Jumat berikutnya tidaklah mampu menghapuskan dosa-dosa kecil kecuali disertai dengan meninggalkan dosa besar seluruhnya, sehingga kedua perkara ini bisa saling menguatkan satu dengan yang lain. Lalu bagaimana mungkin puasa sunnah atau ucapan subhaanallaahi wa bihamdihi 100 kali yang dikerjakan bisa menghapus dosa-dosa besar yang dilakukan hamba sedangkan dia tetap melanjutkan kemaksiatannya tanpa pernah bertaubat kepada-Nya? Ini sesuatu yang amat mustahil. Terus menerus melakukan dosa-dosa besar menghalangi penghapusan dosa, dan karena itulah tidak ada alasan bagi orang yang mengatakan, “Aku akan berbuat dosa semauku, kemudian aku ucapkan subhaanallaahi wa bihamdihi 100 kali sehingga lenyaplah seluruh dosa yang telah kuperbuat.” Atau dengan mengatakan, “Aku akan melakukan dosa lantas pergi ke Mekkah dan menunaikan umrah sehingga hilanglah semua dosa yang ada pada diriku.” Ini termasuk sikap ghurur/tertipu, dan hal itu sebenarnya merupakan tindakan lancang kepada Allah ta’ala.

Husnuzhan adalah membaguskan amal

Sebagian di antara mereka terkadang mengatakan, “Sesungguhnya kita ini bersangka baik kepada Rabb kita, sebab Allah telah berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, “Sesungguhnya Aku menurut persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku.” (Muttafaq ‘alaih). Padahal tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya persangkaan baik itu seharusnya melahirkan amal yang baik pula.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bersangka baik terhadap Allah pada hakikatnya adalah dengan memperbaiki amal itu sendiri, karena sesungguhnya hamba terdorong membaguskan amalnya apabila dia memiliki husnuzhan kepada Rabbnya dan dia yakin Allah akan membalas amal-amalnya serta memberikannya pahala atas itu semua dan menerima amal itu darinya, semakin baik persangkaannya terhadap Allah maka semakin bagus pula amalnya, kalau tidak demikian maka husnuzhan saja dengan disertai mengikuti hawa nafsu adalah kelemahan… dan kebanyakan orang yang jahil menyandarkan dirinya kepada rahmat Allah, ampunan dan kemurahan-Nya dan melupakan bahwasanya Dia Maha keras hukumannya, dan mereka lupa kalau “Tidak ada yang bisa menolak siksa-Nya terhadap kaum yang berbuat dosa” dan barang siapa yang bersandar kepada ampunan Allah sementara dia masih terus menerus di dalam dosanya maka dia itu telah berani menobatkan diri sebagai penentang kebijakan Allah.

Terperdaya dengan curahan nikmat

Banyak manusia yang mengira dirinya berada di atas kebaikan dan dia termasuk orang yang selamat dan pemilik kebahagiaan pada hari kiamat disebabkan apa yang dilihatnya berupa nikmat-nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya selama di dunia sehingga dia mengatakan, “Seandainya bukan karena Allah ‘azza wa jalla ridha kepadaku niscaya Dia tidak akan menganugerahkan nikmat-nikmat ini.” Si miskin ini meyakini kalau nikmat-nikmat ini datang dengan sebab kecintaan Allah kepadanya, dan dia merasa akan mendapat pemberian di akhirat yang lebih baik dari itu semua, padahal dia senantiasa bergelimang dalam kemaksiatan terhadap Allah, terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan Allah dan ini merupakan sikap terperdaya/ghurur yang banyak manusia terjatuh ke dalamnya, bahkan kebanyakan masyarakat. Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila kamu melihat Allah ‘Azza wa Jalla melimpahkan kepada seorang hamba segala sesuatu yang disukainya di dunia sementara dia bergelimang kemaksiatan maka sesungguhnya itu adalah istidraaj” kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. al-An’aam: 44) (Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani)

Sebagian salaf mengatakan, “Apabila kamu melihat Allah terus menurunkan nikmat-Nya kepadamu sementara kamu bergelimang kemaksiatan kepada-Nya maka waspadalah, karena sesungguhnya itu adalah istidraaj yang ditimpakan kepadamu” Allah ta’ala telah membantah orang yang menyimpan persangkaan seperti ini dengan firman-Nya yang artinya, “Adapun manusia jika Rabbnya mengujinya dengan memuliakannya dan memberikan nikmat kepadanya dia berkata Rabbku telah memuliakanku, adapun jika Rabbnya mengujinya dengan membatasi rizkinya dia berkata Rabbku telah menghinakan aku, sekali-kali tidak demikian.” (QS. al-Fajr: 15-17) artinya tidak semua orang yang Ku-karuniai nikmat (dunia) dan Ku-lapangkan rizkinya pasti orang yang Ku-muliakan, dan tidak setiap orang yang Ku-uji dan Ku-sempitkan rizkinya pasti orang yang Ku-hinakan, bahkan sebenarnya Aku menguji orang yang satu ini dengan nikmat-nikmat dan memuliakan yang satunya dengan adanya ujian. (Pembahasan ‘Waspadai pemahaman Murji’ah’ dst. diambil dari Kutaib ‘Isyruuna ‘Uqbatan fii Thoriiqil Muslim, dengan sedikit perubahan)

Sebab-sebab bertambahnya keimanan

Di antara hal-hal yang akan menumbuhsuburkan keimanan dan membuat batangnya kokoh serta menyebabkan tunas-tunasnya bersemi adalah:

  1. Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena apabila pengetahuan hamba terhadap Tuhannya semakin dalam dan berhasil membuahkan berbagai konsekuensi yang diharapkan maka pastilah keimanan, rasa cinta dan pengagungan dirinya kepada Allah juga akan semakin meningkat dan menguat.
  2. Merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun ayat syar’iyah. Karena apabila seorang hamba terus menerus memperhatikan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah beserta kemahakuasaan-Nya dan hikmah-Nya yang sangat elok itu maka tidak syak lagi niscaya keimanan dan keyakinannya akan semakin bertambah kuat.
  3. Senantiasa berbuat ketaatan demi mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Karena sesungguhnya pasang surut keimanan itu juga tergantung pada kebaikan, jenis dan jumlah amalan. Apabila suatu amal memiliki nilai lebih baik di sisi Allah maka peningkatan iman yang dihasilkan darinya juga akan semakin besar. Sedangkan standar kebaikan amal itu diukur dengan keikhlasan dan konsistensi untuk mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila dilihat dari sisi jenis amalan, maka amal itu terbagi menjadi amal yang wajib dan amal sunnah. Sedangkan amal wajib tentu lebih utama daripada amal sunnah apabila ditinjau dari jenisnya. Begitu pula ada sebagian amal ketaatan lebih ditekankan daripada amal yang lainnya. Sehingga apabila suatu ketaatan termasuk jenis ketaatan yang lebih utama maka niscaya pertambahan iman yang diperoleh darinya juga semakin besar. Demikian pula iman akan mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah/kuantitas amalan. Karena amal itu adalah bagian dari iman maka bertambahnya amal tentu saja akan berakibat bertambahnya keimanan.
  4. Meninggalkan kemaksiatan karena merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila keinginan dan faktor pendukung untuk melakukan suatu perbuatan atau ucapan maksiat semakin kuat pada diri seseorang maka meninggalkannya ketika itu akan memiliki dampak yang sangat besar dalam memperkuat dan meningkatkan kualitas iman di dalam dirinya. Karena kemampuannya untuk meninggalkan maksiat itu menunjukkan kekuatan iman serta ketegaran hatinya untuk tetap mengedepankan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya daripada keinginan hawa nafsunya. (disadur dari Fathu Rabbil Bariyah, hal. 104-105)

Sebab-sebab berkurangnya keimanan

Di antara sebab-sebab yang bisa menyebabkan keimanan seorang hamba menjadi turun dan surut atau bahkan menjadi hilang dan lenyap adalah sebagai berikut:

  1. Bodoh tentang Allah ta’ala, tidak mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya
  2. Lalai dan memalingkan diri dari rambu-rambu agama, tidak memperhatikan ayat-ayat Allah dan hukum-hukum-Nya, baik yang bersifat kauni maupun syar’i. Sesungguhnya kelalaian dan sikap tidak mau tahu semacam itu pasti akan membuat hati menjadi sakit atau bahkan mati karena belitan syubhat dan jeratan syahwat yang merasuki hati dan sekujur tubuhnya.
  3. Berbuat atau mengutarakan ucapan maksiat. Oleh karena itulah iman akan turun, melemah dan surut sebanding dengan tingkatan maksiat, jenisnya, kondisi hati orang yang melakukannya serta kekuatan faktor pendorongnya. Iman akan banyak sekali berkurang dan menjadi sangat lemah apabila seorang hamba terjerumus dalam dosa besar, jauh lebih parah dan lebih mengenaskan daripada apabila dia terjerembab dalam dosa kecil. Berkurangnya keimanan karena kejahatan membunuh tentu lebih besar daripada akibat mengambil harta orang. Sebagaimana iman akan lebih banyak berkurang dan lebih lemah karena dua buah maksiat daripada akibat melakukan satu maksiat. Demikianlah seterusnya. Dan apabila seorang hamba yang bermaksiat menyimpan perasaan meremehkan atau menyepelekan dosa di dalam hatinya serta diiringi rasa takut kepada Allah yang sangat minim maka tentu saja pengurangan dan keruntuhan iman yang ditimbulkan juga semakin besar dan semakin berbahaya apabila dibandingkan dengan maksiat yang dilakukan oleh orang yang masih menyimpan rasa takut kepada Allah tetapi tidak mampu menguasai diri untuk tidak melakukan maksiat. Dan apabila dilihat dari sisi kekuatan faktor pendorong yang dimiliki orang maka penyusutan iman yang terjadipun berbeda. Apabila suatu maksiat terjadi pada diri orang yang faktor pendorongnya semakin lemah atau semakin kecil maka penurunan iman yang ditimbulkannya juga akan semakin besar, semakin parah dan lebih tercela daripada orang yang bermaksiat tapi memang padanya terdapat faktor pendorong yang lebih kuat dan lebih besar. Oleh sebab itulah orang miskin yang sombong dan orang tua bangka yang berzina dosanya lebih besar daripada dosa orang kaya yang sombong dan perbuatan zina seorang yang masih muda. Hal itu sebagaimana dikisahkan di dalam hadits, “Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah dan tidak akan diperhatikan oleh-Nya pada hari kiamat.” Dan di antara mereka itu adalah orang tua beruban yang berzina dan orang miskin yang sombong. Meninggalkan ketaatan, baik berupa keyakinan, ucapan maupun amalan fisik. Sebab iman akan semakin banyak berkurang apabila ketaatan yang ditinggalkan juga semakin besar. Apabila nilai suatu ketaatan semakin penting dan semakin prinsip maka meninggalkannya pun akan mengakibatkan penyusutan dan keruntuhan iman yang semakin besar dan mengerikan. Bahkan terkadang dengan meninggalkannya bisa membuat pelakunya kehilangan iman secara total, sebagaimana orang yang meninggalkan shalat sama sekali. Perlu diperhatikan pula bahwa meninggalkan ketaatan itu terbagi menjadi dua. Pertama, ada yang menyebabkan hukuman atau siksa yaitu apabila yang ditinggalkan adalah berupa kewajiban dan tidak ada alasan yang hak untuk meninggalkannya. Kedua, sesuatu yang tidak akan mendatangkan hukuman dan siksa karena meninggalkannya, seperti: meninggalkan kewajiban karena uzur syar’i (berdasarkan ketentuan agama) atau hissi (berdasarkan sebab yang terindera), atau tidak melakukan amal yang hukumnya mustahab/sunnah. Contoh untuk orang yang meninggalkan kewajiban karena uzur syar’i atau hissi adalah perempuan yang tidak shalat karena haidh. Sedangkan contoh orang yang meninggalkan amal mustahab/sunnah adalah orang yang tidak mengerjakan shalat Dhuha (disadur dari Fathu Rabbil Bariyah, hal. 105-106)

Demikianlah, iman itu laksana sebuah pohon yang rindang. Dia memiliki benih dan akar yang tertanam di dalam tanah, batang yang kokoh menjulang, ranting serta dedaunan yang semakin menambah elok penampilan. Benih keimanan itu adalah pembenaran (terhadap wahyu) dan ketulusan hati. Dengan benih itulah hati akan hidup dan bertahan. Sementara cabang-cabangnya adalah amal. Dengan sebab amal itulah keimanan di dalam hati akan bertambah subur, kokoh terhunjam dan terus bertahan hidup. Setiap kali cabangnya bertambah banyak maka semakin elok dan sempurnalah pohon keimanan dalam diri seseorang. Akan tetapi apabila cabang-cabang itu telah patah dan berjatuhan satu demi satu, ranting dan dedaunannya juga ikut rontok dan layu maka pohon itu semakin tampak jelek dan tidak sedap dipandang, bahkan sudah hilanglah ciri-ciri kehidupan darinya. Sehingga apabila sudah tidak tersisa satu batang pun maka pohon itu pun kehilangan jati dirinya. Dan apabila benih itu tidak kunjung menumbuhkan batang baru dan cabang harapan, dan pasokan energi dari cahaya matahari tak lagi dia dapatkan. Maka diapun mengering dan terkubur di dalam timbunan tanah. Maka seperti itulah kurang lebih permisalan tentang kemaksiatan yang akan merusak citra dan jati diri sebuah pohon rindang yang bernama keimanan. Lalu siapakah yang mau, siapakah yang rela kehilangan citra dan jati diri bahkan kehilangan nafas dan ruh kehidupannya? (disadur dari At Tauhid li shaffits tsaani ‘aali, hal. 28)

Menyambut ajal

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat menemui seorang pemuda yang sedang dalam kondisi menjelang maut. Beliau bertanya: “Bagaimana kau dapatkan dirimu?” Dia menjawab: “Aku berharap kepada Allah wahai Rasulullah. Dan aku takut akan dosa-dosaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua hal ini terkumpul dalam hati seorang hamba dalam kesempatan semacam ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan akan menyelamatkannya dari bahaya yang ditakutkannya.” (HR. Tirimidzi (983), Ibnu Majah (4261) dinilai hasan oleh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 2/420, lihat Hushulul Ma’muul, hal. 81-82)

Alhamdulillaahilladziibini’matihi tatimmushshalihaat

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. InsyaAllah, setiap artikel yang dibaca, bisa menjadi pahala untuk kita semua. Donasi sekarang.

About Author

Ari Wahyudi, S.Si.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma'had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil", pembina Ma'had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, S.Si. »

Leave a Reply