Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?

Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?

Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.

Terkadang muncul celetukan di antara mereka, “Kalian ini ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”. Atau yang lebih halus lagi berkata, “Agenda kita sekarang bukan lagi masalah TBC -takhayul, bid’ah dan churafat-, sekarang kita harus lebih perhatian terhadap agenda kemanusiaan.” Atau yang lebih cerdik lagi berkata, “Kalau kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka, yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”. Allahul musta’aan

Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?

Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepada mereka, bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)

Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, apabila kamu berbuat syirik maka benar-benar semua amalanmu akan terhapus, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Lebih daripada itu, kemusyrikan -sebagai lawan dari tauhid- menjadi sebab seorang hamba terhalang  masuk surga untuk selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, seluruhnya adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama kali pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163).

Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka sepanjang hayat masih dikandung badan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.” (QS. al-Hijr: 99). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu). Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?

Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!

Seruan semacam ini sering kita dengar. Dan banyak sekali kalangan yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah ta’ala, yaitu jalan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).

Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!

Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan hak Allah ta’ala, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad raya. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang lainnya. Beliau  bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu). Namun, jangan disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama sekali tidak!

Jangan Bicara Masalah Bid’ah!

Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka, bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit. Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin, dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu  akan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan oleh agama.

Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha). Sebagian ulama salaf juga berkata, “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih ada kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah, maka sulit diharapkan taubat darinya.” Selain itu, sebagaimana kita yakini pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak boleh serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.

Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan yang berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam khutbatul hajah di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap bahwa orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan mujahid!

Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan perjuangan serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus mereka tanggung di jalan dakwah ini. Maka apabila kita telah mengetahui itu semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak menempuh jalan ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu maknanya dia telah berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena ‘pengkhianatannya’ itulah statusnya akan berubah dari seorang da’i ilallah -orang yang mengajak kepada Allah- menjadi da’i ila ghairillah -orang yang mengajak kepada selain Allah-! Nas’alullahas salamah

Jangan Merasa Paling Benar!

Sebagian orang ketika ditegur dan diingatkan untuk meninggalkan atau menjauhi perkara-perkara yang menyimpang dari agama -karena bertentangan dengan al-Qur’an ataupun as-Sunnah- dengan ringannya mengucapkan perkataan semacam itu. Entah penyimpangan itu terkait dengan aqidah, ibadah, ataupun masalah yang lainnya. Entah itu termasuk dalam kategori syirik, kekafiran, kebid’ahan ataupun kemaksiatan yang lainnya. Belum lagi, jika orang tersebut memiliki sedikit ‘ilmu’ dan wawasan, maka dengan sigapnya dia akan ‘memperkosa’ dalil demi melanggengkan tindakannya yang keliru. Keras kepala, itulah sifat yang melekat dalam dirinya. Kalau dicermati lebih dalam, justru ternyata sikapnya yang tidak mau menerima nasehat dan teguran itu merupakan bentuk kesombongan dan ekspresi perasaan diri yang paling benar [!], Wal ‘iyadzu billah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. an-Nisaa’: 59). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu -Muhammad- sebagai hakim atas segala perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’: 65). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat, untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu’anhu).

 

Tauhid Sudah Ada di Dada-Dada Manusia!

Sebagian orang mengucapkan perkataan semacam ini, sehingga secara sadar ataupun tidak dia telah menjauhkan manusia dari dakwah tauhid. Berangkat dari asumsi yang salah itulah maka mereka tidak lagi memberikan porsi besar bagi dakwah tauhid. Mereka pun beralih ke kancah perpolitikan ala Yahudi dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang menyeret mereka dalam kehinaan. Apabila dikaji sebabnya, maka hanya ada dua kesimpulan; mungkin karena ketidaktahuannya sehingga dengan mudahnya dia berkata demikian, atau karena dia mengetahui kebenaran namun sengaja berpaling darinya. Dan keduanya ini apabila menimpa seorang yang digelari sebagai da’i, ustadz ataupun murabbi merupakan realita yang sangat pahit sekali. Oleh sebab itu, kita perlu meluruskannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid bukan sekedar ucapan la ilaha illallah yang tidak diiringi dengan konsekuensinya. Orang-orang munafikin di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan la ilaha illallah, akan tetapi mereka divonis akan menempati kerak neraka yang paling bawah. Hal itu tidak lain karena mereka tidak jujur dalam mengucapkannya. Tauhid juga bukanlah sekedar keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan serta yang melimpahkan rezki, bukan itu saja! Sebab apabila memang itu tauhid yang dimaksud oleh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya beliau tidak perlu mengobarkan peperangan kepada kaum kuffar Quraisy yang telah mengimani perkara-perkara itu.

Jangan Runtuhkan Persatuan!

Apabila para da’i berbicara tentang tauhid dan membantah berbagai macam bentuk kemusyrikan yang ada serta menjelaskan sunnah dan membongkar berbagai macam bentuk bid’ah yang merajalela, maka bangkitlah sebagian orang dengan semangat bak pahlawan seraya berteriak, “Mengapa kalian sibukkan umat dengan urusan semacam ini? Umat akan terpecah belah akibat dakwah kalian.” Inilah komentar-komentar sinis yang mereka lontarkan. Padahal, kita telah mengetahui bersama bahwa persatuan kaum muslimin yang hakiki -yang dengannya mereka akan selamat di hadapan Rabbnya- adalah persatuan di atas tauhid dan sunnah, bukan persatuan di atas syirik dan bid’ah! Orang-orang yang gemar menebar syirik dan bid’ah -dengan dipoles berbagai macam hiasan- maka mereka itulah sesungguhnya gerombolan pemecah belah dan pengacau persatuan!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka niscaya Kami akan biarkan dia terombang-ambing di atas kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidak akan bermanfaat harta dan keturunan, melainkan bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- orang-orang yang -dahulu ketika di dunia- saling berkasih sayang berubah menjadi saling memusuhi, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67). Allah ta’ala juga berfirman mengenai seruan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, Dialah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia -saja-. Inilah jalan yang lurus.” (QS. az-Zukhruf: 64). Allah ta’ala berfirman tentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain itu, karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia perintahkan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-An’aam: 153)

Khilafah, Itu Solusinya!

Sebagian gerakan Islam yang telah kehilangan arah dan lalai dari misi dakwah para rasul sangat getol mendengung-dengungkan slogan ini. Menurut mereka, tanpa khilafah berarti tiada syari’ah. Tanpa khilafah, kaum muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah khilafah sebagai target perjuangan dan misi utama dakwah mereka. Tidak ada satupun problema di masyarakat atau negara melainkan  mereka sangkut-sangkutkan dengan khilafah dan politik kekuasaan. Mereka menuding para da’i tauhid sebagai da’i kampungan yang tidak bisa bicara kecuali masalah-masalah sepele. Tidak bisa mengatasi masalah bangsa, tidak punya visi ke depan demi kejayaan umat, dan lain sebagainya.

Padahal, kita semua tahu bahwa bangunan umat ini tidak akan tegak dan kokoh kecuali di atas aqidah yang kuat dan murni. Seorang muslim dengan aqidah yang kokoh akan dengan sukarela menerapkan syari’ah dalam kehidupannya sekuat kemampuannya, meskipun misalnya ternyata khilafah belum mampu mereka wujudkan karena kondisi umat yang masih berlumuran dengan kotoran-kotoran keyakinan dan bid’ah yang sedemikian luas menjangkiti anak bangsa dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan melindas lembaran sejarah sedemikian lama.

Perubahan ini membutuhkan proses yang bertahap, tidak bisa terjadi secara tiba-tiba seperti membalikkan telapak tangan begitu saja. Hal ini dapat kita saksikan dalam individu-individu kaum muslimin. Yang mana perubahan menjadi baik itu memerlukan proses dan tahap yang tidak sebentar. Nah, bagaimana lagi dengan sekelompok orang yang memiliki beragam problema, sebuah negara, apalagi kumpulan negara dengan jutaan masalah yang menghimpit warga negara mereka masing-masing? Tentu merubahnya tidak cukup dengan teriakan dan slogan semata. Kembali kepada syari’ah tidak seratus persen bergantung pada khilafah. Betapa banyak syari’at yang bisa diterapkan oleh seorang individu umat ini, sebuah keluarga atau sekumpulan orang tanpa perlu menunggu tegaknya khilafah. Tidak ada yang salah dalam merindukan khilafah, akan tetapi tatkala khilafah menjadi tujuan dan cita-cita dakwah maka silahkan anda jawab sendiri pertanyaan ini; Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah menegakkan tauhid?

Dari situlah perlu kita camkan wahai saudaraku, bahwa tidak akan berhasil upaya apapun yang ditempuh oleh gerakan mana saja selama mereka lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti jejak para pendahulu mereka. Imam Malik rahimahullah telah mengingatkan, “Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan hal itu gara-gara mengikuti pendapat seseorang.” Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan sebab Kitab ini -al-Qur’an- dan akan menghinakan sebagian kaum yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Sungguh benar ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak berhasil mendapatkannya.” Betapa banyak orang yang mengira dirinya pejuang Islam, mujahid dakwah, da’i kebenaran, namun ternyata mereka salah jalan dan justru menjadi musuh Islam dari dalam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya; yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam kehidupan dunia akan tetapi mereka mengira bahwa mereka telah melakukan kebaikan yang sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)

Saudaraku, betapa banyak rumah yang roboh bukan karena tiupan angin kencang ataupun terpaan banjir bandang. Akan tetapi ia roboh karena pondasinya yang tidak kokoh, karena pilar-pilarnya yang begitu lemah, tidak kuat menopang dinding dan atap serta barang-barang berat yang ada di dalamnya, sehingga tatkala getaran kecil gempa menyapa maka luluh lantaklah seluruh sendi-sendinya dan runtuhlah rumah itu menimpa pemiliknya! Maka demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengimpikan kekuasaan dan khilafah namun menyingkirkan agenda terbesar umat Islam yang sesungguhnya. Jadi, sepenting apakah tauhid itu? Kini anda telah bisa menjawabnya.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Ari Wahyudi, Ssi.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma'had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil", pembina Ma'had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, Ssi. »

56 Comments

  1. Afwan Ustd! ana mohon ijin mengkopi ini artikel

    untuk disampaikan ke yang lain.

    syukron,jazakallah khairan.

  2. assalamu’alaikum kepada ustadz dan admin muslim.or.id, ana mohon izin save page ini dan copy semua artikel yang ada di muslim.or.id

  3. assalamu’alaikum kepada ustadz dan admin muslim.or.id, ana mohon izin save page dan copy semua artikel yang ada di muslim.or.id

  4. izin bwat share di fb….

  5. assalamu alaikum
    ustadz ana izin copy artikelnya,,,,syukron

  6. assalamu alaikum ustadz ana chairi..ana izin copy y tadz,,syukron

  7. As’salamualaykum warahmatullahi wa barakaatuh. usatad dan Admin Muslim.or.id.ana minta izin tuk meng copy artikel’yang ada di Muslim or id.Tuk di sampaikan ke pada yang lain,karena semua Artikel yang antum tulis,Insya Allah sangat bermanfaat buat kamu semua yang sedang haus akan Ilmu Dien,(ilmu sar’y).
    Jazakumullahu khairon..

  8. Assalam mu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
    Ustadz, tulisan yang bagus dan diperkuat dengan Dalil yang kuat.
    Izin untuk meng-saved.
    Syukron………Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

  9. ijin save and share ustad..

    jzk.

  10. assalamu’alaikum ustadz dan admin muslim.or.id, saya juga minta izin copy semua artikel yang ada di muslim.or.id dan share ke teman-teman.
    Terima kasih
    Wassalamu’alaikum

  11. Assalammu’alaikum, mhn maaf ustadz & admin berdosakan ana bila men-copy artikel2 tanpa seizin terlebih dahulu, walaupun tujuannya baik, untuk di baca di rumah dan di share ke yg lain. Jika berdosa, ana mhn ijin untuk meng-copy, artikel2 yg ada di muslim.or.id syukron

  12. abu harits

    afwan, masya Allah.. begitu indah kata2nya..
    izin copy ustadz

  13. Assalamu’alaikum, mohon izin copy artikel2nya pak ustadz dan admin untuk dishare
    Jazakumullahu khairon

  14. izin share ustadz

  15. Salam Ustaz , Ana mohon copy artikal . Jazakallah Khoiron Kasiron

  16. assalamu alikum ustadz, anam mo ijin copy artikelnya..

  17. Fathanullah Salafy

    Artikel yang sangat menarik dan penting. karena dakwah para Nabi dan Rasul adalah mentauhidkan Allah Taala. jalan keselamatan itu adalah islam dengan pemahaman Salafushshalih dengan cara yang terpenting adalah tauhid dan bukan dengan cara-cara yang lain. terlampau banyak yang tidak mengetahui bahwa tauhid itu terbagi atas tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma washifat. semoga dengan kehadiran Muslim.or.id semakin banyak saudara kita yang paham hakikat dakwah salafiyah. teruskan berdakwah saudaraku yang semoga Allah Subhanahu wataala meridhoi dan ilmu antum berkah.

  18. jazakallahu khair ya akhi atas maqolah tauhid dalam format penyajian yang baru, sedikit masukan alangkah lebih indah kalau antum beri penguatan lebih dalam pada pemaparan tauhid ibadah…sudah disinggung namun bagi orang awam takutnya menjadi bias karena terlalu umum.

  19. izin share ustdz jazakalloh

  20. abdurRahman

    Assalamu’alaykum warohmatulLoh wabarokatuh…
    BismilLah…
    Ana minta ijin untuk mengkopi dan menyebarkan artikel yang ada di web ini, dengan tetap memegang amanat untuk menyertakan sumber. Syukron wajazakalLohu khoeron.

  21. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah menegakkan tauhid?

    Tauhid jawabannya.

    Maaf ustadz,seorang kawan saya yang mungkin ikut salah satu organisasi yang bertujuan mendirikan khilafah memberikan pernyataan berikut;

    Segala sesuatu yang menjadi prasyarat bagi sesuatu yang wajib itu hukumnya menjadi wajib pula.

    mohon penjelasan pernyataan tsb,apakah dari hadis/tidak ada dasarnya?Syukron

    • #romy
      Itu salah satu kaidah syar’iyyah, ‘hukmul masail hukmul maqashid’, hukum sarana sama seperti hukum tujuan.
      Namun para ulama menjelaskan kaidah ini berlaku jika sarana tersebut adalah satu-satunya sarana. Misal, jalan kaki adalah sarana menuju shalat wajib di masjid. Apakah jalan kaki hukumnya wajib? Jawabannya, hanya menjadi wajib jika hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Jika bisa naik motor, naik sepeda, maka tidak wajib.

      Maka, pertanyaan bagi mereka:
      – Apakah untuk menegakkan tauhid hanya satu-satunya dapat melalui khilafah?
      – Jika mereka mengakui tauhid adalah tujuan mengapa realitanya mereka tidak perhatian dan jahil dalam bab tauhid?

  22. alhamdulillah inilah artikel yang sangat pas dengan keadaan ana saat ini…ketika ana menyampaikan sunnah selalu dibenturkan dengan persatuan ummat,merasa paling benar dll.
    barakallhu fikh

  23. Izin Copy Ustadz…
    Mo baca di rumah…
    jazakalloh…

  24. Assalamu’alaikum

    Afwan ust dan juga admin muslim.or.id kalau diizinkan mau meminta pendapat ust.

    Saya sangat setuju sekali dengan tulisan ust di atas, bahwa aqidah pondasi awal dan utama dalam kita memeluk dinnul Islam ini. Bahkan pondasi awal pemerintah Islam kalau boleh menggunakan istilah Khilafah juga berdasarkan Islam. Jadi untuk mendakwahkan Islam ketengah-tengah masyarakat yang paling pertama adalah meluruskan aqidah mereka terlebih dahulu.

    Afwan ust, saya tidak bermaksud berdebat, sependek sepengetahuan saya entah apapun harokah mereka ketika mereka menyerukan Khilafah mereka tidak serta merta langsung berbicara tentang Khilafah karena akan percuma juga ketika kita “berkoar-koar” tentang khilafah tapi aqidah Islam mereka meleceng. Mungkin bisa jadi mereka menenyerukan itu hanya sebagai media opini, tetapi ketika mereka melakukan kajian internal atau sejenisnya mereka memulai dari mengkaji aqidah Islam.

    Kemudian dari informasi yang pernah saya dengar, apapun harokah mereka tentang mendirikan Khilafah itu bukan tujuan mereka. Akan tetapi tujuan mereka adalah melanjutkan kembali kehidupan Islam. Jadi, Khilafah adalah salah satu bagian dari proses melanjutkan kembali ke kehidupan Islam, termasuk di dalamnya meluruskan aqidah umat.

    Mohon maaf tidak bermaksud berdebat atau mengkritik, hanya mau sedikit sharing. Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan, dan juga mohon koreksinya kalau ada kekeliruan.

    Jazakallah khoiron katsiron
    Wassalamu’alaikum wr wb
    Abdullah al-faqiir

    • #Tafkir
      Wa’alaikumussalam,
      – Realita mengatakan bahwa mereka jahil terhadap ilmu tauhid atau aqidah yang benar.
      – Aqidah yang benar tidak hanya sekedar dikaji secara internal (jika memang benar), namun mesti dipraktekkan dan dijadikan agenda dakwah utama.

  25. Izin copas yaa Ustadz…Sukron..

  26. subhanallah..ana menyukai semua artikel disini..jika berkenan ana mau masukan linknya ke blog ana.salam santunku.

  27. Assalamu’alaikum…’afwan..izn copas ya ust

  28. Dakwah tauhid wajib dan tak perlu menunggu tegaknya khilafah. tak akan tegak khilafah tanpa tauhid.

  29. Abu Almira

    Bismillah. Ana tempel catatan buat di FB ana ya pak ustadz. Syukron. Barokallohu fiik.

  30. Assalammuaikum..
    Ustadz ana minta Ijin Copas di FB ana…
    Jazakumullahu khairon

  31. Assalammu’alaikum
    ana mhn ijin untuk meng-copy, artikel2 yg ada di muslim.or.id…syukran
    Wassalamu’alaikum

  32. Assalamualaikum ustdz. ane minta izin copy, jazzk

  33. adi akhmadi

    jazakumullah khair fadilatul akh … barakallahu fi ahsanil hayah … hafidzhallahu alaikum … di jalan dakwah artikel ini menyadarkan kembali … ke mana seruan di arahkan … tapi panjang banget y mas … sampe di tengah pikiran sy langsung mikir koq kayaknya gak abis-abis y … ternyata pembahsan komentar … yah menarik jadinya

  34. assalaamu’alaykum…..
    ijin share di fb…

  35. ummu humaira

    assalamu’alaykum ustadz..
    ana ijin share.

    Jazaakallohu khoyr

  36. zaenab yunus

    Ijin share Ustd
    syukro

  37. assalamualaikum…
    jazakALLOHulkhoir atas ilmunya…
    ijin mengcopy tuk d sebar d fb ana…sukron…

  38. Indah sekali jawaban Syaikh Al-Albani dalam hal ini :
    http://www.islamhouse.com/tp/76270

  39. Assalammu’alaikum, afwan ustadz & admin ? berdosakan ana bila mengcopas artikel2 tanpa seizin terlebih dahulu, walaupun tujuannya baik, untuk di baca dan di share ke yg lain, ana mhn ijin untuk meng-copy, artikel2 yg ada di muslim.or.id…syukron

  40. yang penting pelaksanaan di kehidupan …! jangan cuma text book aja?

  41. SALAM ‘ALAIKUM,

    izin copast dg menyebutkan sumbernya. syukron.

  42. ibnu marzuq

    izin copas ya… barokallohu fiykum

  43. Assalamu’alaykum. saya idem dengan teman2 diatas. terimakasih.

  44. Assalamu’alaikum,ijin copy ustadz.Semoga semua yang terlibat dalam dakwah ini selalu mendapat Ridho dari Allah Ta’ala…..

  45. saya masih melihat tidak sedikit umat yg masih percaya dukun, masih ada yg melakukan santet, dll perbuatan yg nyata syirik maupun yg dapat menjerumuskan kpd kesyirikan. Ada beberapa tetangga yg bila mendengar atau bhkan ikuti kajian yg disana dijelskan macam2 perb. syirik mengatakan stl usai kajian, “ngaji kok nyindirin org melulu” katanya. Jadi kalo dikatakan tauhid sdh ada didada manusia maka itu hanya tahu kata tauhid tapi tdk tahu arti tauhid yg dimaksud dlm al-qur’an.
    Dmk mohon maaf atas kebodohan saya kalo salah jangan dimuat. Syukron.

  46. Izin Share dan mengcopy ya Ustadz, Terimakasih

  47. Orang yg mengatakan bhw tauhid sdh ada di dada2 manusia, maka itu hanya karangan saja. Sebab ketika saya baca artikel ttg ajaran tashawuf disana tdp ajaran2 yg menyimpang dari al-qur’an dan as-sunnah dlm masalah tauhid.
    Sedangkan kalo kita lihat banyak diantara kaum muslimin yg mengikuti ajaran ini baik yg tua maupun yg muda. Dan saya pernah mendengar ceramah disebuah radio yg kiainya mengatakan “…kitab tasawuf yg AGUNG ini…”
    Oleh krn itu sy tetap berpendapat bhw dakwah tauhid harus diperluas semoga banyak umat yg sadar bhw pengertian tauhidnya belum sesuai dg al-qur’an dan as-sunnah.
    Dan sy mohon kpd Allah semoga diri dan keluarga saya diberi pemahaman yg mendalam ttg tauhid yg benar, serta mohon ampun dan bimbingan-Nya unt td mengulangi perbuatan yg pernah sy lakukan tapi menyimpang dari tauhid. Krn sy belum lama mengikuti manhaj-salaf dan masih dlm taraf belajar, dan krn kelemahan saya terkadang masih berbuat salah dalm memahami islam yg benar.
    Demikianlah komentar saya, sy mohon maaf kpd pak ustadz dan mohon diperbaiki jika tdp kesalahan.

  48. #tafkir dan semua yang masih penasaran dengan khilafah, pengalaman saya sendiri selama aktif dalam menegakkan khilafah, subhanallah jauh sekali dari pemahaman tauhid, kita belajar tauhid ketika di fase2 awal harakah atau liqo’itupun tidak mendalam, disampaikan oleh orang yang tidak menguasai ilmu dien dan menyampaikannya hanya copy paste catatan dari murabbinya, atau dengan metode panah2 yang maraji’nya tidak diketahhui secara pasti. tidak menjelaskan dengan dalil dari QUr’an dan Sunnah berdasarkan penjelasan ulama, melainkan penafsiran murabbi masing2. bayangkan saja teman saya seorang kader yang sudah level tinggi, sudah bai’at masih percaya ramalan bintang, menziarahi kubur2, bertawasul pada orang yang sudah mati, terpengaruh faham syi’ah dan bahkan mengambil ilmu dari kaum sufi, yang belakangan saya tahu sufi bukan ajaran Islam tapi ajaran baru dan agama baru, demikian pula syi’ah rafidhah, AlQur’annya saja beda dengan kita…. hati2 jangan tertipu dengan semangat mereka, karena saya juga dulu begitu, namun semakin ke dalam semakin nampak banyak kejanggalan

  49. Assalaamu’alaikum, ustadz, ana izin share di fb. Jazaakallaah Khayr.

  50. Terimakasih atas infonya, semoga bermanfaat bagi umat islam di dunia ini agar bisa bersatu kembali, AMIIN!!!

Leave a Reply