Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 5)

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 4)

Ke-empat: Memiliki perhatian terhadap kewajiban-kewajiban dalam agama

Perhatian terhadap kewajiban-kewajiban dalam Islam dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya merupakan salah satu metode untuk membuka berbagai pintu kebaikan.

Diriwayatkan dari ibunda Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Pada suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

سُبْحَانَ اللَّهِ، مَاذَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الخَزَائِنِ، وَمَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الفِتَنِ

“Maha suci Allah! Simpanan (perbendaharaan) apa yang Allah turunkan pada malam ini? Fitnah (ujian) apakah yang akan diturunkan?” (HR. Bukhari no. 115, 1126, 3599, 5844, 6218 dan 7069)

Marilah kita memperhatikan hadits ini, pintu-pintu fitnah telah diturunkan, dan pintu-pintu simpanan kebaikan telah dibuka. Lalu, apa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau melanjutkan hadits di atas dengan mengatakan,

مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الحُجُرَاتِ – يُرِيدُ أَزْوَاجَهُ لِكَيْ يُصَلِّينَ –

“Barangsiapa yang membangunkan pemilik kamar -maksudnya adalah istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mendirikan shalat.”

Jika kita ingin menjaga diri dari fitnah dan membuka pintu atau jalan menuju kebaikan, maka perhatikanlah ibadah shalat. Kami ingatkan dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau merutinkan untuk berdoa ketika masuk masjid,

اللهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Dan ketika keluar masjid, beliau berdoa,

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu keutamaan-Mu.” (HR. Muslim no. 713)

Dalam riwayat yang lain, beliau berdoa,

وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

“Bukakanlah untukku pintu-pintu keutamaan-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 314 dan Ibnu Majah no. 771)

Oleh karena itu, berjalan menuju masjid untuk mendirikan shalat akan membuka pintu rahmat. Mendirikan shalat dengan sempurna akan membuka pintu-pintu rizki (keutamaan). Lalu bagaimana mungkin seseorang ingin membuka pintu kebaikan, jika dia sering terluput dari shalat karena ketiduran dan berat mengangkat kepalanya untuk mendirikan shalat?

Hadits-hadits yang sejalan dengan ini sangatlah banyak. Diantaranya yang diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Wahai anak adam! Ruku’-lah (shalatlah) kepada-Ku sebanyak empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupi kebutuhanmu di akhir siang.” (HR. Tirmidzi no. 475. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 465)

Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)

Allah Ta’ala tidak membutuhkan shalat kita tidak butuh sujud dan ruku’ kita. Akan tetapi, shalat tersebut bermanfaat bagi kita untuk membuka pintu-pintu kebaikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Allah Rabb semesta alam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Empat rakaat ini menurutku adalah shalat subuh dan shalat sunnah rawatibnya.” (Lihat Zaadul Ma’ad, 1/360)

Yaitu, dua rakaat shalat subuh dan dua rakaat shalat sunnah qabliyah subuh.

Betapa banyak orang yang terhalang dari mendapatkan kebaikan ketika dia ketiduran dari mengerjakan shalat subuh. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Orang malas yang jiwanya buruk.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Ditutuplah pintu-pintu kebaikan dan ditutuplah pintu-pintu rizki ketika dia terlewat mengerjakan salat subuh. Permulaan hari, itulah kunci kesuksesan, kunci turunnya rizki dan keberuntungan. Barangsiapa terhalang dari mengerjakan shalat di permulaan hari, lalu apa yang dia harapkan di hari tersebut? Shalat, itulah pembuka dari berbagai kewajiban dalam Islam lainnya.

Renungkan pula apa yang terkandung dalam ibadah puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang puasa,

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَنَادَى مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

“Pada awal malam di bulan Ramadhan, setan-setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, ditutuplah pintu-pintu neraka dan tidak ada yang dibuka. Pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup. Kemudian ada penyeru yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan, teruskanlah. Wahai pencari keburukan, hentikanlah.’” (HR. Tirmidzi no. 682, Ibnu Majah no. 1642, Ibnu Hibban no. 3435, Al-Hakim 1/582. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 759)

Sebagai kesimpulan, memperhatikan dan menjaga pelaksanaan ibadah dan berbagai kewajiban dalam agama merupakan jalan terbesar untuk membuka kebaikan bagi diri sendiri dan kemudian membuka kebaikan bagi orang lain.

[Bersambung]

Baca Juga:

***

@Bornsesteeg NL 6C1, 2 Syawwal 1439/ 16 Juni 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

 

Referensi:

Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 23-27.

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Print Friendly, PDF & Email
iklan
MPD Banner

About Author

Muhammad Saifudin Hakim

Alumni Ma'had Al-'Ilmi Yogyakarta (2003-2005). Pendidikan Dokter FK UGM (2003-2009). S2 (MSc) Erasmus Medical Center (EMC) Rotterdam dalam bidang Infeksi dan Imunologi (2011-2013). Sedang menempuh S3 (PhD) di EMC-Postgraduate School Molecular Medicine Rotterdam dalam bidang Virologi Molekuler (Nov 2014 - sekarang)

View all posts by Muhammad Saifudin Hakim »