Beginilah Seharusnya Seorang Salafy

Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. Mereka saling menjatuhkan. Kelompok yang satu mencela dan mendiskreditkan kelompok yang lain. Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini tidaklah seratus persen benar. Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di dalam pandangan masyarakat.

Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan (suka ngotot dan membantah). Oleh sebab itulah pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan sebuah fatwa salah seorang Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada masa kini yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah sebagai pelajaran dan koreksi bagi kita semua. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An Najiyah)? Dan apakah adanya kekurangan (yang ada pada diri seseorang) dalam salah satu di antara karakter ini lantas mengeluarkan orang tersebut dari Golongan Yang Selamat?”

Jawaban:

Beliau rahimahullah menjawab, “Karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat adalah berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi pekerti), dan mu’amalah (interaksi sesama manusia). Dalam keempat perkara inilah anda dapatkan Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka:

Adapun dalam hal akidah: Anda bisa jumpai mereka senantiasa berpegang teguh dengan keterangan dalil Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu meyakini tauhid yang murni dalam hal Uluhiyah Allah, Rububiyah-Nya serta Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya.

Adapun dalam hal ibadah: Anda jumpai golongan ini tampak istimewa karena sikap mereka yang begitu berpegang teguh dan berusaha keras menerapkan ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menunaikan ibadah, yang meliputi jenis-jenisnya, cara-caranya, ukuran-ukurannya, waktu-waktunya dan sebab-sebabnya. Sehingga anda tidak akan menjumpai adanya perbuatan menciptakan kebid’ahan dalam agama Allah di antara mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan menyusupkan suatu bentuk ibadah yang tidak diijinkan oleh Allah.

Sedangkan dalam hal akhlak: Anda pun bisa menjumpai ciri mereka juga seperti itu. Mereka tampil istimewa dibandingkan selain mereka dengan akhlak yang mulia, seperti contohnya: mencintai kebaikan bagi umat Islam, sikap lapang dada, bermuka ramah, berbicara baik dan pemurah, pemberani dan sifat-sifat lain yang termasuk bagian dari kemuliaan akhlak dan keluhurannya.

Dan dalam hal mu’amalah: Anda bisa jumpai mereka menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sifat jujur dan suka menerangkan kebenaran. Dua sifat inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya, “Penjual dan pembeli mempunyai hak pilih selama keduanya belum berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan menerangkan apa adanya niscaya akan diberkahi jual beli mereka. Dan apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barangnya) maka akan dicabut barakah jual beli mereka berdua.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adanya kekurangan pada sebagian karakter ini tidak lantas mengeluarkan individu tersebut dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat, namun setiap tingkatan orang akan mendapatkan balasan sesuai amal yang mereka perbuat. Sedangkan kekurangan dalam sisi tauhid terkadang bisa mengeluarkan dirinya dari Golongan Yang Selamat, seperti contohnya hilangnya keikhlasan. Demikian pula dalam masalah bid’ah, terkadang dengan sebab bid’ah-bid’ah yang diperbuatnya membuatnya keluar dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat.

Adapun dalam masalah akhlak dan mu’amalah maka tidaklah seseorang dikeluarkan dari Golongan Yang Selamat ini semata-mata karena kekurangan dirinya dalam dua masalah ini, meskipun hal itu menyebabkan kedudukannya menjadi turun.

Kita perlu untuk memperinci permasalahan akhlak karena salah satu faidah dari akhlak ialah terwujudnya kesatuan kata dan bersatu padu di atas kebenaran yang diperintahkan Allah ta’ala kepada kita di dalam firman-Nya (yang artinya), “Allah mensyari’atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya.” (QS. Asy Syura: 13)

Dan Allah memberitakan bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lepas tanggung jawab dari perbuatan orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi bergolong-golongan. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka maka tidak ada tanggung jawabmu atas mereka.” (QS. Al An’am: 159). Sehingga kesatuan kata dan keterikatan hati merupakan salah satu karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat -Ahlus Sunnah wal Jama’ah- Oleh sebab itu apabila muncul perselisihan di antara mereka yang bersumber dari ijtihad dalam berbagai perkara ijtihadiyah maka hal itu tidaklah membangkitkan rasa dengki, permusuhan ataupun kebencian di antara mereka. Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya mereka adalah bersaudara meskipun terjadi perselisihan ini di antara mereka. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mau shalat di belakang imam yang menurutnya dalam status tidak wudhu sementara si imam berpendapat bahwa dirinya masih punya status wudhu.

Atau contoh lainnya adalah orang yang tetap mau shalat bermakmum kepada imam yang baru saja memakan daging onta. Si imam berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu. Sedangkan si makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudhu. Namun dia tetap berkeyakinan bahwa shalat bermakmum kepada imam tersebut adalah sah. Walaupun seandainya jika dia sendiri yang shalat maka dia menilai shalatnya dalam keadaan seperti itu tidak sah. Ini semua bisa terwujud karena mereka memandang bahwa perselisihan yang bersumber dari ijtihad dalam persoalan yang diijinkan untuk ijtihad pada hakikatnya bukanlah perselisihan. Alasannya adalah karena masing-masing individu dari dua orang yang berbeda pendapat ini sudah berusaha mengikuti dalil yang harus diikuti olehnya dan dia tidak boleh untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, apabila mereka melihat saudaranya berbeda pendapat dengannya dalam suatu perbuatan karena mengikuti tuntutan dalil maka sebenarnya saudaranya itu telah sepakat dengan mereka, karena mereka mengajak untuk mengikuti dalil dimanapun adanya. Sehingga apabila dengan menyelisihi mereka itu menjadikan dirinya sesuai dengan dalil yang ada (dalam pandangannya), maka pada hakikatnya dia telah bersepakat dengan mereka, karena dia sudah meniti jalan yang mereka serukan dan tunjukkan yaitu keharusan untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah seperti ini di kalangan para sahabat tidaklah tersembunyi di kalangan banyak ulama, bahkan sudah ada juga di jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata tidak ada seorangpun di antara mereka yang bersikap keras kepada yang lainnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpesan kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim), maka mereka berangkat dari Madinah menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat ‘Ashar sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat ‘Ashar sampai tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua kelompok tersebut. Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.

Oleh sebab itulah saya berpandangan bahwa menjadi kewajiban kaum muslimin yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah supaya menjadi umat yang bersatu padu dan janganlah terjadi tahazzub (tindakan bergolong-golongan). Yang ini membela suatu kelompok, sedangkan yang lain membela kelompok lainnya, dan pihak ketiga membela kelompok ketiga dan seterusnya, yang mengakibatkan mereka saling bergontok-gontokan dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, saling memusuhi dan membenci gara-gara perselisihan dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Dan saya tidak perlu untuk menyebutkan tiap-tiap kelompok itu secara detail, akan tetapi orang yang berakal pasti bisa memahami dan memetik kejelasan perkaranya.

Saya juga berpandangan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah wajib untuk bersatu, bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, red) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji hanya bagi Allah. Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah, red). Dan tidaklah perlu diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas satu kalimat.” (Fatawa Arkanul Islam, Daruts Tsuraya, hal. 22-26)

Demikianlah fatwa seorang alim yang sudah sama-sama kita akui kedalaman ilmu dan ketakwaannya. Duhai, alangkah jauhnya sifat-sifat kita dengan sifat-sifat elok yang beliau gambarkan… Kalau saja masing-masing dari kita bisa menerapkan dengan baik isi nasihat beliau di atas maka niscaya tidak akan terjadi baku hantam di antara sesama Ahlus Sunnah. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum bisa bersikap arif tatkala menyaksikan saudaranya menyelisihi dirinya demi mengikuti tuntutan dalil yang sampai kepada mereka. Selain itu umat Islam di negeri ini tentu akan lebih merasa gembira dan tenang dalam menerima dakwah, karena mereka bisa menyaksikan sosok-sosok da’i yang pandai menyikapi keadaan, tidak grusah-grusuh dan terlalu cepat mengambil tindakan tanpa kenal perhitungan. Apa salahnya jika kebenaran itu berada di pihak lain di luar kelompok kita? Apa salahnya jika yang menyampaikan kebenaran itu bukan ustadz kita? Bukankah hikmah itu adalah barangnya orang beriman yang hilang? Apakah semata-mata karena kebenaran itu datang dari selain kelompok kita lantas kebenaran itu boleh kita tolak. Lalu apakah bedanya kita dengan orang-orang yang taklid buta dan mengagung-agungkan kyai-kyainya? Renungkanlah saudaraku… Terkadang musuh yang cerdas itu jauh lebih bermanfaat bagi kita daripada teman-teman yang bungkam dari ketergelinciran kita.

Bagaimana bisa kita menyerukan umat Islam untuk kembali bersatu di atas pangkuan manhaj Salaf sementara kita sendiri justru memporakporandakan persatuan itu dengan menerkam saudara-saudara kita sesama Ahlus Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat dan membantah Ahlul bida’ wal ahwa’? Sedangkan para ulama mewasiatkan kepada kita untuk memperbaiki akhlak demi terjalinnya persatuan dan keterkaitan hati. Adakah yang mau mengambil pelajaran? Hamba memohon kepada-Mu ya Allah, bukakanlah hati-hati kami untuk menerima kebenaran. Engkau lah Yang Maha tahu kekurangan dan dosa-dosa kami. Kami mengakuinya dan kami mohon ampunan kepada-Mu, ya Rabbi. Kembalikanlah persatuan dakwah yang mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do’a. Semoga shalawat dan keselamatan senantiasa terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka kaum Salafiyin yang ada di sepanjang masa hingga tegaknya hari kiamat. Dan akhirnya segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.

***

Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email
Muslim App
App Muslim.or.id

About Author

Ari Wahyudi, Ssi.

Alumni dan pengajar Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, pengajar Ma'had Umar bin Khathab Yogyakarta, alumni S1 Biologi UGM, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil", pembina Ma'had Al Mubarok Yogyakarta

View all posts by Ari Wahyudi, Ssi. »
  • amir abu zayd

    matur nuwun mas ari…
    marilah kita semuanya introspeksi thd diri sendiri, sudahkah kita benar2 menjadi salafy yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya??
    ataukah kita menjadi Salafy versi kita sendiri?

  • Abu Ilyasa Rangga

    Abu Muslih wrote: Kembalikanlah persatuan dakwah yang mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do’a.

    Amin ya Robbal alamin.

  • Abu Nashir

    assalamualiakum.

    Artikel yang agus, salafy tidak hanya fokus pada nama penisbatan saja, namun lebih dari itu, kita yang mengaku mengikuti manhaj yang mulya ini apakah amalan kita ini termasuk amalan sunnah salafiyyin apa nggak.

    Semoga Tetap Istiqomah

  • hadi

    good,. ini baru lain dari biasanya…

  • adha

    saudara-saudaraku yang kucintai
    saat ini yang harus segera kita perbaiki adalah AHLAK kita.
    hendaklah kita berLEMAH LEMBUT terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin yang masih awam yg belum mengenal SUNNAH yg masi bergelimang BID’ah.
    Kita harus mendakwahi mereka dengan cara yang baik, dengan lemah lembut.
    kita harus tetap bergaul dengan mereka dengan husnul khuluq.
    tebarkan salam dan senyum kepada mereka.

  • Abu Ubaidillah

    Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihat…..haa kadza yaa Ikhwah, assalafy alhaqiqi wanarju minallah an nakuuna multazimin fi hadzal manhaj asshohih!!!
    hayya natadzakkar daaiman hadzihi an nashihah al balighoh..wa laka ya Ustadz Aba Muslih syukron jazakallah ahsanal jaza’ ‘ala hadzihir risalah al mufidah….akhukum fillah Abu Ubaidillah

  • abu fathimah

    baik saudaraKu…,kasar*,acuh terhadap orang lain apalagi yang tidak kita kenal adalah kebiasaan buruk yang mungkin banyak kita lakukan,hayoo …tunjukan aklak salaf kalau anda maengaku salafi,tinggalkan sifat kaku dalam bergaul apalagi terhadap orang umum .

  • abu ibrohim

    saya rasa yang dikatakan abu fatimah kurang tepat…masalah kaku dalam pergaulan, hanyalah masalah karakter. Karena ada yang dikarunia kemampuan bertutur kata dan bersikap yang baik adayang nggak. Salafy lebih kepada pegangan manhaj dan aqidahnya. Kalau abu fatimah menyalahkan orang yang berperilaku kasar abu fatimah sama saja dengan orang yang suka menyalah-nyalahkan.Mungkin mereka punya alasan sendiri, mungkin mereka takut terbawa pengaruh ahlulbid’ah jika mereka berlaku lembut dengan mereka sehingga untuk menjaganya mereka berlaku kaku.

  • ummu fattiyah

    ilmu adalah cahaya, semakin berilmu maka buahnya pun akan dapat dinikmati diri sendiri maupun orang banyak..

    perpecahan bersumber dari maksiat dan kebodohan

  • abu-faqih

    Artikel diatas bisakah diterapkan dengan aktifis harokah bukan dengan sesama salafi…Kebanaran bukan hanya milik salafi saja,IM,HT pasti ada benarnya ,lalu knapa salafi tidak mengambil kebenaran dari mereka……berbuat adillah….

  • Pak Abu Faqih, Salafi bukanlah kelompok atau harokah seperti Ikhwanul Muslim, Hizbut Tahrir, atau yang lainnya. Salafi adalah suatu penamaan bagi setiap muslim yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap aspek kehidupan. Salafi adalah sebutan bagi setiap muslim yang memurnikan agama Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, maksiat, dan faktor-faktor lain yang merusak kemurnian agama. Dakwah salafiyah adalah dakwah untuk kembali kepada Islam yang murni, mengajak ummat untuk bersatu di bawah panji Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah Anda dapat memahaminya. Jadi, siapapun berhak untuk mendapatkan predikat salafi, tentu saja harus memenuhi kriteria yang kami sebutkan tadi.

  • fikri

    bisakah dakwah salafiyah dapat mengena kepada saudara-saudara kita yang masih awam akan dakwah tersebut, karena selama ini masyarakat menganggap bahwa salafi itu dengan konotasi yang tidak baik. dengan kata lain disama ratakan, dengan firqoh2 yang sesat lainnya. sudah menjadi kewajiban kita bersama tuk mengenalkan kepada masyarakat khususnya umat islam di negeri kita akan kebaikan dari jalan selamat tersebut, tentunnya dengan metode penyampaian yang sesuai dengan tuntunan nabiNya
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • abu al-fida’

    Artikelnya bagus banget… Jazakalloh khoir

  • Kepada akhi Abu Faqih, semoga Allah merahmati anda…

    Karena pertanyaan anda ditujukan kepada salafiyyin, maka sebaiknya anda memahami dulu apa itu manhaj salaf, apa itu salafi, dan siapa mereka? Karena bisa jadi anda pun seorang salafi. Karena sebagaimana dijelaskan oleh admin muslim.or.id salafi bukanlah nama kelompok, sekte atau aliran yg membatasi diri. Tidak ada pendaftaran anggota salafi, tidak ada pengurus daerah salafi, pengurus cabang salafi, kartu anggota salafi, tidak ada itu semua. Pembatas salafi atau bukan, tidak lain hanyalah Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat. Maka, bisa jadi anda seorang salafi, bila anda mengikuti Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat. Bahkan manhaj salaf pada hakekatnya adalah Islam itu sendiri. Dan setiap muslim adalah salafi bila mengikuti Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

    Saya ingin balik bertanya, kebenaran apa yang telah ditolak dari Ikhwanul Muslimin atau HTI? Tolong jelaskan dan buktikan bahwa hal tersebut adalah BENAR, sesuai Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

    Barakallahu fiikum.

  • Abu Zaid

    Apabila Salafu ummah mengambil ilmu dengan kurun waktu yang lama dan jumlah guru yang banyak, sehingga kelihatan sifat alim,bijak dsb. Sedangkan kita, hanyalah sekedar aktivis P.hD= ” Pakar halakah daurah ” bermodal semangat itupun terkadang kita datang tanpa buku dan pulpen. Atau kita hanya beberapa tahun berguru di Yaman, Madinah atau Yordan, kemudian dengan mudah mengeluarkan fatwa. Jadi siapa tahu kita berada dalam generasi Grasa- grusu ! Ya Allah ampunilah saya. Berilah petunjuk untuk meniti Manhaj salaf dan beristiqomah di atasnya.

  • abu khilafah

    Beratahun tahun ana terombang ambing antara salafi dan salafy, maka dengan perjalanan waktu dan artikel ini menjadi terbukti akan kebenaran salafi. Mengikuti ulama robbani akan membawa kita dekat dengan kebenaran; tidak lembek dan tidak ghuluw.
    http://khilafah007.wordpress.com/2008/11/13/pengebom-teror/

  • abu-fakih

    Ana sering ikut kajian salafi,tetapi yg datang hampir semuanya para talabul ilmi yg mempunyai ghirah tinggi,orang awam banget bisa dibilang tdk ada.Ana pernah bawa teman yg masih awam akan agama ke kajian salaf,tetapi komentar dia pusing ,gak ngerti,terlalu tinggi bahasannya.Beginikah dakwah salafi,materi orang awam di samakan ama talabul ilmi/yg sedikit sudah paham agama…Bukankah dakwah salaf menyeluruh,tukang becak petani,pencuri, pemabuk tersentuh akan dakwah salaf ,tetapi di lapangan faktanya demikian ,kajian salafi berkesan ekslusif,yang datang hanya orang2 sedikt banyak paham agama…Ambilah kebenaran dari orang2 IM.HT.DDII, dalam berdakwah,dakwah mereka menyeluruh ke lapisan masyarakat ,fakta dilapangan bukankah demikian ….

  • Akhi Abu Fakih, yang Anda utarakan sifatnya kasuistik, dan tidak dapat digeneralisasikan. Baik, kami contohkan kajian-kajian yang kami adakan. Seluruh kajian ilmiah yang kami adakan ada yang sifatnya sangat ilmiah dengan membahas kitab-kitab para ulama, contohnya adalah kajian-kajian di pesantren mahasiswa Ma’had ‘Ilmi. Ada juga kajian yang sifatnya ilmiah tapi ditujukan untuk umum, dan kajian ini biasanya diikuti oleh para mahasiswa, dosen, karyawan, dan kaum muslim di sekitar lokasi masjid. Dan ada juga kajian yang sifatnya kajian ilmiah yang memang khusus untuk umum (seluruh kalangan), contohnya adalah kajian yang insya Allah kami adakan, dengan tajuk: Mencari Kunci Rezeki yang Hilang. Selain itu secara personal, kawan-kawan salafi juga turun berdakwah ke kalangan saudara kita yang masih sangat sangat awam dengan mengajarkan shalat, baca do’a, baca qur’an, dll. Dan memang dalam berdakwah, para salafi tidak membawa bendera (karena memang tidak ada!), tidak memakai seragam seperti layaknya orang-orang PKS atau IM (karena seragam salafi memang tidak ada!), dan tidak dipublish di media dengan foto-fotonya (buat apa?!). Pada tanggapan kami sebelumnya sudah kami utarakan konsep dan pengertian siapakah salafi tersebut! dan insya Allah Anda mengerti.

    Sekarang kita lihat fakta lapangan:

    1. Semua kajian salafiyah terbuka untuk seluruh kalangan. Dan apakah semua kajian harokah seperti IM, HT seluruh terbuka untuk umum? apakah pengajian buat kader-kader mereka terbuka untuk umum?

    2. Semua kajian salafiyah harus diampu oleh pemateri/ustadz yang memiliki kecakapan pengetahuan agama yang mumpuni. Kita lihat, apakah para pemberi fatwa di liqo-liqo IM sudah melek agama?

    3. Ada yang mau menambahkan?

    Alhamdulillah, komentar dari akhi Abu Fakih merupakan masukan yang sangat berharga bagi para da’i yang berjuang pada manhaj salaf, dan hendaknya kita perhatikan.

  • aqliaceh

    abu faqih semoga kita di beri kemudahan dlm memahami agama ini.jangan berhenti untuk mencari kebenaran ini

  • abu-fakih

    Afwan ana bukan orang IM/PKS,ana mencari kebenaran dari siapa saja baik dari SALAFI,IM,HT,PERSIS,MUHAMMADIYAH.Bukankah kebenaran diambil dari siapa saja walaupun dari musuhmu….

  • ozami

    Buat siapa saja yang masih RAGU dengan Manhaj(metode) Salaf.

    Saya bisa dibilang baru dalam memahami manhaj salaf ini. Berawal dari diskusi dengan teman kerja ttg SHALAT.

    Kenapa banyak orang muslim yg rajin sholat tapi masih juga berbuat keji dan mungkar (maksiat)?
    ..Akhirnya sampai pada satu kesimpulan, bahwa Tata Cara Sholatnya tidak benar.
    Dari beberapa buku2 ttg Sholat yang pernah saya baca ternyata Manhaj Salaf-lah yang paling ilmiah, bukan kata si anu atau anunya kamu, tapi mengambil langsung dari SUNNAH (Hadits2) Rasulullah yang shahih..
    Ini merupakan salah satu bukti cara ber-ISLAM yang benar, dan masih banyak lagi..

    Buat yang masih ragu dengan Manhaj Salaf..
    Simak dan kajilah dengan akal yang sehat dan bersih makna dari ayat-ayat al-Qur’an yang jelas maknanya:
    1. al-Fatihah;6-7
    2. at-Taubah;100

  • aqliaceh

    salam kenal abu faqih..wajib mengambil kebenaran dari mana saja berdasarkan dalil jin yg mengajar kan ayat kursi kpd abu hurairah,tapi bukan dalil boleh menuntut ilmu kpd sembarang orang,memang semua mengaku mengikuti Al quanan/sunnah hatta kelompok sesat sekalipun,yg jd masalah Al quran/sunnah menurut PEMAHAMAN siapa?? untuk lebih selamat ambillah ilmu dari orang2 yg memahami Al quran/sunnah sesuai pemahaman sahat rasul,tabiin, tabiut tabin dan imam yg empat dan orang2 yg mengikutinya hingga akhir jaman,sipapun dia dan dimanapun dia berada. ambillah ilmu dari DIA.ini lah metode yg Inya Allah selamat.semoga Allah merahmati kita aaminn…..

  • abu anas

    Apakah bukannya karena ada pergeseran manhaj antara teori seperti yang dipaparkan Syaikh Utsaimin dengan praktek yang terjadi di kalangan pihak yang mengaku “salafy” di indonesia ini sehingga tidak tercermin di akhlak yang mulia, melainkan yang keluar adalah perpecahan, sifat kasar, merasa benar sendiri, mudah mencap bid’ah, mudah mengharamkan (contoh foto padahal Syaikh Utsaimin sendiri membedakan foto dengan gambar) dengan keras, isbal padahal imam nawawi dan ibnu hajar tdk mutlak mengharamkan (artinya masih ada khilaf tapi ngotot pendapat kita adalah yang sesuai sunnah dst seakan akan imam nawawi dan ibnu hajar tak ngerti sunnah), ulama dibatasi itu itu saja dsb…. banyak kritik buat pihak yang mengaku salafy di indonesia ini…

  • Jadilah seperti salafy di jaman para Sahabat yang sedikit tidur dan menjaga sholat malam,menjaga sholat berjamaah tepat waktu bila kita sering membaca kisah-kisah para Sahabat dari berbagai sumber jangan dari satu sumber saja kalau saya ingin jadi orang biasa dulu karena masih sibuk dengan URDU ( urusan dunia )

  • abu mushlih

    Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengikuti manhaj yang mulia ini, dengan ilmu dan amal, dengan sabar dan tawakal, dengan kesungguhan dan kelemah lembutan.

  • ahmad

    bismillah
    ana setuju dengan Al Akh Abu anas, dimana terkadang sebagian kita pada hakekatnya seperti kata akhyl habib Abu Faris Adni Kurniawan dalam renungan blognya adniku.wordpress.com
    “Berapa banyak orang yang mengklaim kebebasan dari fanatisme dan taqlid, namun sejatinya ia hanyalah berpindah dari suatu fanatisme dan taqlid kepada bentuk fanatisme dan taqlid yang lain yang boleh jadi tidak kurang atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.”..

    semoga kita dapat mengambil faedah darinya

  • Dody Kurniawan

    ya ajakan yang bagus….tapi kembali ke manhaj salaf jangan disempitkan ya…..
    kalau kembalinya ke ustadz xxxx, syaikh xxxx SAJA….ya sama aja dengan perlaku hizbiyyun….

    kami yang berpegang kepada mazhab syafi’i aja selalu teringat nasehat Imam Syafii bahwa tidak boleh selalu merasa bahwa mazhab syafi’i yang terbenar sedangkan mazhab lain adalah sesat dan salah….

    perlu banyak perenungan….

  • harist

    Tidak ada manusia yang tidak berbuat salah
    sebaik-sabik yang manusia adalah yang berbuat salah lalu bertobat
    dari sekian banyak pendapat yang ada kita cari mana yang lebih mendekati pada kebenaran termasuk pendapat para imam madzhab..tidak menutup kemungkinan seseorang yang alim pun bisa saja berbuat kesalahan

  • Muluk

    Syurga dan neraka adalah iming-2 dan ancaman Tuhan. Bagi orang yg berbuat baik di iming-2 i syurga, sdgkan yg berbuat kerusakan diancam dg neraka. Ibadah adalah sarana atau media agar manusia selalu berbuat baik. Sholat,puasa,zakat dan semua jenis ibadah yg lain adalah sarana agar manusia menjadi orang yang baik.
    Jadi janganlah diperdebatkan masalah Ibadah, krn hampir semua golongan mengklaim bahwa mereka mendasarkan ibadahnya pada Al Qur’an dan Sunnah.
    Yang perlu dibahas adalh masalah kebaikan, masalah akhlak, krn inti kehidupan adalh kebaikan. makanya Nabi Muhammad diutus adalh untuk menyempurnakan akhlak manusia.

    Sudah berapa banyak kebaikan yang anda lakukan selama hidup anda ? ataukah anda justru lebih banyak menebar permusuhan dan kebencian krn selalu merasa benar sendiri shg menyalahkan serta menyesatkan org lain ?

    Hitunglah/ hisablah kebaikan anda selama ini !!!!
    Pahala sholat, puasa atau zakat atao yg lainnya itu bukanlah pahala krn sholat itu sendiri, krn puasa itu sendiri, krn zakat itu sendiri, tp pahala itu ada krn adanya kebaikan yang ditimbulkan atau dihasilkan oleh kegiatan ibadah tsb.
    tolong camkan baik-2.

  • Ummu Asy Syifa

    Subhanalloh..islam itu indah ya..stlh sedikit mengenal tentang manhaj salaf, tumbuh rasa kecintaan pd islam itu sendiri, dan barulah saya mengerti bahwa seharusnyalah kita masuk islam secara keseluruhan, bukan setengah-setengah..dan memang islam adalah agama yg telah sempurna, ya Alloh..bimbinglah kami ke jalanMu yang lurus..jadikanlah hamba seorang pengikut salaf yang tetap istiqomah di jalanMu…Aamiin..

  • sunardi

    Alhamdulillah, artikel ini memberikan pencerahan bagaimana karakter salafi sesungguhnya. Karena sekarang ini ada orang yang mengaku salaf, tetapi langsung main vonis bid’ah, sesat dan neraka.

  • Abu Muslim

    @ Abu Faqih …
    Sekarang kita lihat fakta lapangan:

    1. Semua kajian salafiyah terbuka untuk seluruh kalangan. Dan apakah semua kajian harokah seperti IM, HT seluruh terbuka untuk umum? apakah pengajian buat kader-kader mereka terbuka untuk umum?

    2. Semua kajian salafiyah harus diampu oleh pemateri/ustadz yang memiliki kecakapan pengetahuan agama yang mumpuni. Kita lihat, apakah para pemberi fatwa di liqo-liqo IM sudah melek agama?

    3. Ada yang mau menambahkan?
    ( manhaj salafi yang dimaksud hanya sebuah Me To De. Tidak lebih seperti harokah2 terbatas atau kumpulan2 yang jelas dilarang di didalam ISlam. skali lagi hanya sebuah me-to-de.
    Orang kafir juga ada yang melek Al Quran dan hadist.
    Tapi tidak untuk di taati. Hanya sekedar untuk meneliti mengenai apa itu sebenarnya islam ( Silahkan seacrhing di youtube.com mengenai komen2 mereka terhadap islam – mereka menjadikan Al Quran dan hadist sebagai literatur dan mereka membenarkannya ). Tapi yang dimaksud dengan manhaj salaf disini adalah pemahaman2 mengenai seluruh kaidah dalam islam yang sesuai dengan pemahaman para generasi salaf. Disisi inilah bedanya salafiyin dan para peneliti tersebut.
    ( kebenaran tidak datang dengan hawa nafsu, tapi kebenaran datang dengan ilmu dan pengetahuan, banyak2 lah mengkaji2 lagi sdr ku. Jika antum hendak mencari perbedaan > bukan disini tempatnya . Namun jika kebenaran yang antum inginkan, maka web ini salah satu dari sekian banyak web/blog salaf.Tinggal akal yang bisa mencerna atau tidak ) Semoga kita diberi pertolongan dan petunjuk oleh ALLOH AZZA wa JALLA.Amiin

  • abu abdur Razaq

    Yang perlu diingat salafi itu mengikuti dan menisbatkan generasi yang ma’sum yaitu para salaf secara keseluruhan atau secara generasi bukan orang per orang, karena kalau orang per orang sahabat nabi pun nggak ma’sum, maka apabila orang bisa menerima penisbatan kepada person yang tidak ma’sum seperti imam madzab, kenapa tidak bisa menerima penisbatan kepada GENERASI yang MA’SUM.
    Kepada pembela harakah perbanyaklah ngaji kitab2 salaf, karena kebanyakan aktifis harakah cuma punya semangat tanpa ilmu ..
    Salafi wala’ dan bara’ nya karena Allah tapi kalau harakah kepada oraganisasi/partainya
    Kelompok2 harakah itu cuma tidak mau kesalahan2nya dikoreksi karena bisa mengurangi anggotanya, karena memang tujuan mereka memperbanyak anggota bukan mencari kebenaran, bukalah hati kalian untuk menerima kebenaran ..
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi petunjuk kepada kita semua …

  • Tommi

    Dakwah salaf adalah dakwah ilmiah, inilah kesan yg saya dpt. Karena selalu menjadikan Quran dan hadits sebagai hujjah dan inilah sikap kritis yg sbnrnya yg menjauhkan kita dari sikap taklid pada seorg ulama atau kyai.

    Sungguh sebuah pemandangan yg amat indah bila dakwah salaf diisi dengan kelembutan tutur kata, adab sopan santun dan tidak sembarangan membid’ahkan sebelum adanya pembahasan ilmiah/dalil yg jelas. Dan sungguh saya melihat saudara2 saya di muslim.or.id berdakwah dengan penuh kelembutan dan kesopanan serta membantah hal yg salah dengan lembut dan penuh hujjah serta berdalil dari Quran dan hadits. Tetaplah istiqomah di jalur salaf.

  • Ramdhan

    Assalamu’alaikum. Saya seorang pemuda, pelajar di sebuah SMA di Bekasi yang sedikit paham salafi tapi Insya Allah akan berpegang teguh dengan manhajnya walau keadaan saya sekarang jauh…

    Saya izin untuk menyalin artikel ini di blog…

    Syukran jazaakumullah khairal jaza

  • Assalamu’alaikum..

    terimakasih artikelnya sungguh bermanfaat..
    untuk teman2 semua..

    agar tau beginilah sikap seorang salaf..

    dan salaf itu tidak berkelompok-kelompok dan bukan pula kelompok, yayasan atau organisai.

  • abu aisyah

    Alhamdulillah,artikel ini bagus sekali bisa sebagai contoh bagaimana kita bersikap benar dalam menjalankan islam.semoga kita diberikan istiqomah untuk mengikuti kebenaran & mengesampingkan hawa nafsu,yang jelas kebenaran adalah dari Allah & RosulNya tentu saja dengan pemahaman para shahabat karena merekalah sebaik-baik umat.

  • Ummu Azzahra Fadhlulhakim (Rara)

    Subhanallah, sungguh luhur akhlak Ahlus Sunnah, semoga artikel ini bisa lebih memotivasi bagi pembaca pada umumnya dan khususnya diri saya sendiri untuk bermanhaj salaf yang benar. Amin.

  • Assalamu ‘alaikum
    Ana mau tanya soal orang yang shalat di belakang imam yang batal wudhu krn makan daging unta,apakah si makmum shalatnya sah atau tidak, apabila si imam dan makmum berbeda dalam hal ini?

  • via

    Assalammu’alaikum…
    Subhanallah artikelnya bagus,ana yg baru belajar dgn salafi jd lapang dada{jd semua tergantung faktor manusianya}karna ana sdh 1 bln ini dtg sendiri ke ta’lim2 yg diadakan org2 bercadar kadang bingung juga,kebayakan dr mereka tdk ramah,cuek,sibuk dgn anak2nya,walau ana sdh berusaha ramah,kalau tdk ditanya ya diam saja mereka,padahal jilbab ana sdh lebar/belum bercadar?tapi sepertinya ada jarak ya….,tapi ana tdk akan menyerah & ingin istiqomah,walau disetiap kajian ana seperti org asing,oh ya ana mau tanya,ana suka mengikuti kajian/ta’lim yg diumumkan diRadio Rodja,tapi sebelumnya ana ikut disuatu ta’lim mengatas namakan salafi juga,tp beda bgt ya…?{bedanya main vonis kafir,menghujat dll}pdhal ana suka dgr melalui streaming Radio Rodja,Radio Muslim,syiar sunnah ustdz2nya bijak2 bgt,tdk main vonis kafir dll,bagaimana caranaya agar ana tdk salah bergabung dengan yg benar2 mencari ilmu yg bermanhaj salaf/syar’i,seperti artikel diatas.

  • abu yasir

    Assalamualaikum,
    Alhamdulillah,semoga penulis artikel dan pembaca artikel diberi kemudahan oleh Alloh ‘azza wa jalla agar istiqomah dalam meniti manhaj salafus sholeh,amiyn…

    -Mari sebarkan senyum dan salam kepada sesama muslim,baik kepada yang kita kenal maupun kepada yang tidak kita kenal
    -Mari kurangi intensitas obrolan yg kurang bermanfaat,meskipun orang lain akan menganggap kita “kurang gaul”.
    -Mari menuntut ilmu kepada ulama yang rabbani,ingatlah semisal kata Ibnu Sirin”Ilmu adalah bagian dari agama,maka lihatlah darimana kamu mengambilnya.”,kita bukanlah tong sampah,yg dapat dimasuki semua pendapat tanpa memilahnya.
    -Mari lapangkan dada dan ikhlaskan hati menghadapi celaan dari orang awam,karena pada hakekatnya mereka belum paham akan manhaj salaf,inilah tugas para da’i untuk menjelaskan dan menghidupkan manhaj haq ini ditengah masyarakat awam.
    -Mari tegakkan sunah Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam,ditiap bagian bumi yg kita pijak.
    -Ikhlaskan niat kita hanya kepada Alloh ‘azza wa jalla

  • amad-aji

    Assalaamualaikum,
    Saya telah membaca komentar-komentar dalam artikel ini. Pro-kontra pasti ada.
    Pengalaman hidup saya, saya baru saja mengenal salaf-ahlussunnah-
    Saya mulai dari mendengar nasihat2 saya tentang cara beragama (manhaj), kemudian meningkat dengan membaca dari majalah bermanhaj salaf, saya lanjutkan dengan membaca buku2 bermanhaj salaf, menghadiri kajian2 ilmiah. Dengan kata lain, ghirah saya menjadi tinggi meskipun saya seorang awam dalam agama. Semoga Allah memberi petunjuk kepada saya. Dari pengalaman yang panjang ini saya menyimpulkan bahwa cara beragama (metode = manhaj) salaf ini sangat ilmiah. Ya, seperti itulah harusnya beragama. Benar, salaf bukanlah organisasi. Dengan demikian, tidaklah benar kalau kajian salaf selalu dihadiri oleh orang2 yang sudah penuh ilmu. Justru sekarang ini saya melihat banyak orang awam yang berbondong-bondong menghadiri kajian salaf. Dan yang lebih membanggakan saya sekarang ini banyak sekali mahasiswa dan sesepuh-sesepuh kita bersemangat menghadiri kajian.
    Sekali lagi untuk saudaraku yang masih ragu akan manhaj salaf, mulailah dari sekarang, jauhkan prasangka buruk, mari kita ramaikan kajian-kajian bermanhaj salaf. Semoga kita diberi kemudahan untuk beragama. Kalau ada benarnya itu karena bimbingan Allah. Sedangkan kalau ada salahnya itu karena kedangkalan ilmu saya. Dan saya mohon ampun hanya kepada Allah.
    Wassalaamualaikum

  • Rian Alhafid

    Aslamualaikum Wr Wb

    sukron ustad atas penjelasannya,
    wlpun ana bru pmula msuk salafi smg dg brbgai pnjlsan yg ada,
    bs mnambah pmahaman ana ttng agama ini yg ssuai ptunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah… Amin.

    • @Rian Alhafid: Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Alhamdulillah, semoga akhi Rian selalu istiqomah pada manhaj salaf hingga akhir hayat. Satu hal yang harus benar-benar diingat bahwa Salafi adalah orang-orang yang teguh memegang ajaran Islam yang sesuai dengan Islam yang diajarkan dan ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, yaitu ajaran Islam yang murni dari Syirik dan Bid’ah. Jadi, siapapun dapat menjadi Salafi, tanpa perlu mendaftar menjadi anggota. Baarokallahu fiikum…

  • beginilah seharusnya salafy,…..

    Nah, artikel seperti inilah yang ana cari -cari selama ini.
    Ia bagaikan mutiara yang hilang menjauhi ummat ini; penuh kelembutan dan di hiasi ilmu dan keindahan bahasa …
    Semoga menjadi pencerahan agama bagi siapa saja pengaku kaum muslimin dan tak lupa termasuk pengelola FAKTA BLOGSOME DAN TUK PENCARI AL HAQ yang sungguh penuh dengan cacian ,dan umpatan semata…semoga ALLAH menjadikan hati mereka menjadi lembut selembut pasir di lautan,….

  • musya

    semakin mempelajari ilmu diin, semakin ku sadar, ilmu Alloh jauh lebih luas dari lautan. dan sebaik-baik pembicaan adalah didasari dengan ilmu, jika belum cukup ilmu, maka hendaklah diam.

  • ahmad

    alhamdulilah dapat pencerahan yang lebih banyak tentunya. membaca artikel diatas membuat saya lebih bersemangat tuk mempelajari manhaj salaf ini secara sungguh-sungguh, karena saya yakin jalan salaf inilah yang paling benar dari semua kelompok2 islam yang ada di Indonesia…

  • suparman salim

    Alhamdulillah…semoga kita yg mengaku beragama dan hidup dg manhaj ahlussunnah wal jama’ah menyadari kalau kita tu bersaudara, hilangkan sikap iri dengki, tdk bijak dan arif d-sbb-kan beda yayasan lalu “bermusuhan”, beda guru, beda ta’lim, yg ptg kita/mrk msh istiqomah bermanhaj salafi/salafy. Berilah tauladan yg baik bagi ummat..yg msh awam ini.

  • cyroen

    kita harus bisa bersikap hikmah

  • Abu zaki

    Alhamdulillah…..

    Very nice…..menakjubkan dan sungguh meneduhkan tulisan ini, tapi sayang komentarnya kok malah menuai perbedaan…

    Saya tergelitik membaca komentar2 di atas. Saya jadi terpancing untuk berkomentar.

    Terus terang, pengguanaan kata Salafy membawa masyarakat pada suatu yang “BARU”. Padahal sesungguhnya tidak demikian.

    Intinya : kembalilah pada penggunaan istilah yang ada dalam Al Quran dan Sunnah. Mengaku dan menjadikan diri MUSLIM, MUKMIN dan MUTTAQIN lebih jelas dalillnya dari pada mengaku MUHAMMADIYAH, NU, HT, IM maupun SALAFIYYUN.

    Maksudnya, janganlah terjebak pada istilah yang akan membuat pengelompokan baru, kurangi kata-kata salafi dengan memperbanyak kata yang Allah gunakan dalam AL QURAN. Metode salafi hanya istilah untuk kaum setelah para salafi (orang2 terdahulu : sahabat rasul, tabiin dan tabiin-tabiin).

    Saya inginkan tulisan artikel yang jujur dan akurat (seperti tulisan di atas) mengenai istilah SALAFIH agar masyarakat paham dan tidak terjebak dalam suatu “golongan”.

    Maaf sebelum dan sesudahnya bila kata2 saya kurang ilmiah dan terasa menyinggung saudaraku semua.

  • suhdi

    sikap brlapang dada dg brbagai prbedaan mrpkn bagian dari knikmtan keimann yg dirasakn sorng mu’min.sikp ksmpitan dada mlahirkn kbaikn yg dibungkus dg kjeleka,mk tampaklh smuanya jd jelek…lalu siapa yg mo ngambil manfaat darinya…tidakada pasti…

  • Semoga bermampaat Bagi Saya dan Kluarga. amin

  • mubarok

    Lindungi kami Ya Alloh dari segala tradisi yang dapat menggiring kami kepada perbuatan syirik dan kami berlindung kepadaMu dari tradisi-tradisi yang yang dengan nyata dapat membumihanguskan sunnah-sunnah Rasul-Mu

  • Abu fayza

    Terimakasih saudaraku, terima kasoh ya rabbi

  • Abu Hanifah Alim

    sebetulnya sudah jelas apa itu yg dimaksud dg manhaj salafy,
    namun kesombongan dan sikap meremehkanlah yg akan menghalangi seseorang untuk mengetahui hakekat sebuah kebenaran,
    dan hanya sekedar harapan ana saja bagi siapa saja yg ingin memahami apa itu manhaj salafy hendaknya mari kita ikhlashkan niat kita,
    tanpa niat yg ikhlash mustahil kita akan mampu memahami hakekat sebuah kebenaran,
    wallahu a’lamu bishawab

  • abu thariq al bani

    assalamualaikum Wr,Wb.kalau membaca artikel diatas ini,saya merasa lebih smangat lagi utk bersilaturahmi kepada para pengikut salafi yang skrg banyak kita temui dgn ciri khasnya itu.Tapi kenyataannya ada sebagian para pengikut salafi yang eklusif itu justru jauh dr apa yg di sampaikan oleh syaikh(ustadz) itu.mereka jarang bicara klo bukan dgn rekannya,slalu memponis dahulu sebelum menjelaskan sebab2 ibadah itu dilaksamnakan,mereka mrasa sok yang paling sunnah dan tahu dalam hal agama,jg jarang bergaul dgn masyarakat pd umumnya. mudah2an dng adanya penjelasan dari syaikh diatas membuka hati kita smua.afwan. trims wassalamualaikum wr.wb.

  • HASAN

    assalamualaikum WR WB BEGITU MASUK SAYA KE SITUS INI BARU SAYA MERASA TERANGHATI SAYA BER TAHUN2 SAYA MENCARIJALAN YANG BENAR INILAH MANHAJ SALAFY TIDA SAYA RAGUKAN LAGI mohon dimuat masalah batal wudu

  • Abu Hasna

    Banyak yang mengaku salafy tpi tak mengilmui dirinya…Banyak yang mengaku kenal dgn Laila tp laila tak mengenal mereka itulah kenyataan yang ironis..Semoga

  • Pak Jenggot

    Assalamu’alaikum.
    Kurun waktu tertentu, kita selalu disibukkan dan diributkan oleh label-label yang mengatasnamakan agama, adapun label-label tersebut pastinya dinisbatkan kepada sesuatu yang dianggap benar (apakah itu orang, tempat, kelompok, waktu, dsb). Saya sendiri baru saja mengenal islam, secara tidak sengaja saya membeli buku yang berjudul “SYARAH HADIST ARBA’IN” yg ditulis oleh seorang ulama besar pada abad ini yaitu : Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, dan ternyata beliau sudah wafat, semoga Alloh Ta’ala merahmatinya. Amin. Di dalam buku tersebut dinyatakan oleh Beliau bahwa kita disuruh menjahui kelompok-kelompok antara lain : Salafi, Jama’ah Tabliq,Ikhwanul Muslimin dsb, beliau di dalam kitab tersebut menasehati agar kita berpegang teguh dengan Manhaj Shalafus Salih saja dan menjahui kelompok-kelompok tersebut, sehingga saya jadi bingung dengan tulisan di atas yang berjudul ” Beginilah seharusnya seorang Salafy”, anda menganjurkan mengikuti Salafy, sedangkan Syaikh Muhammad Al-Utsaimin justru melarang mengikuti kelompok Salafy. Oh..ya sebagai tambahan Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Ulama-Ulama Besar Arab Saudi. Dalam kondisi demikian apa yang harus saya perbuat ??? mohon saya difahamkan.
    Teriima kasih sebelumnya

  • Pak Jenggot

    Assalamu’alaikum
    Mulia dengan Manhaj Salaf, dan terus perpeganglah dengan Manhaj-nya Shalafus Saleh, karena dia adalah golongan/kelompok yang selamat dan janganlah berpanjang angan-angan, dan janganlah bertidak tidak adil dikarenakan kebencianmu.
    Jazakumulloh.

  • sebenarnya istilah salafi, jangan di clam sebagai sesuatu jama’ah atau yang lainyya. Kita hanya punya satu nama MUSLIM cukup nama itu saja…insyaAllah kita tidak akan terpecah-belah…adapun nama tersebut hanyalah nama saja…yang jika Akhlaknya tidak sesuai bahkan rusak jauh dari conto2 ulama salaf itu sendiri…ingatlah semuanya akan kita pertanggungjawabkan dihadapanNnya..

    • #Abu Rahid
      Meng-klaim salafi untuk sebuah kelompok atau jama’ah memang tidak tepat, bahkan merupakan penyimpangan. Adapun mencukupkan diri dengan sebutan ‘muslim’ tidak tepat di zaman yang penuh fitnah ini. Orang yang mengatakan shalat tidak wajib pun mengaku muslim, yang mengatakan masih ada Nabi lagi setelah Rasulullah pun mengaku muslim, yang mengatakan Al Qur’an itu hasil budaya bukan kalam ilahi pun mengaku muslim. Padahal kita perlu sekali membedakan diri dari mereka semua ini.

  • Ada sedikit tambahan dari saya yaitu bila anda ditanyakan DI MANAKAH ALLAH? Jawablah secara tegas yaitu ALLAH TINGGI DI ATAS ARSY.

  • Alhamdulillah, tulisan yang menyejukkan. Semoga kita sibuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahihah dan mengamalkannya. Amin.

  • ki sambang dalan

    Salafus Sholeh dlm mewujudkan keimanannya satu sama lain sama-sama bersumpah demi Allah untuk selalu berpegang agama Islam, maka badan yg satu terwujud pada diri mereka……kita…???

  • Pingback: Karakter Seorang Pengikut Salaf | mediamuslim.org()

  • Pingback: Karakter Seorang Salafi | mediamuslim.org()

  • Pingback: Pelajaran Dasar Agama Islam — Muslim.Or.Id()

  • Pingback: Beginilah Seharusnya Seorang Salafy()

  • Pingback: Bagaimanakah Kehidupan Agama Anda?? | Abu Ahmad Hanifah()

  • Ridwan Pagaralam

    Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan (suka ngotot dan membantah).
    ==============================================================================
    Salaf juga tidak melakukan penerimaan atau pendaftaran kan?

    Afwan.

  • Pingback: Pelajaran Dasar Agama Islam | My Blog()