Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 2)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
17 April 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya: Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 1)

Dalil-dalil dari As-Sunnah tentang penetapan sifat Kalam

Demikian pula, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki dan kapan saja Allah kehendaki.

Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَسَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah di antara Allah dan kalian.” (HR. Bukhari no. 6539, 7512 dan Muslim no. 1016)

Berkaitan dengan hadits ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam kitab Ushuulus Sunnah yang berisi pokok-pokok aqidah ahlus sunnah,

وَأَن الله تَعَالَى يكلمهُ الْعباد يَوْم الْقِيَامَة لَيْسَ بَينهم وَبَينه ترجمان والتصديق بِهِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berbicara dengan hamba-hambaNya pada hari kiamat, tidak ada penerjemah di antara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Wajib untuk beriman dan membenarkannya.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Adam.’ Nabi Adam ‘alaihis salam menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu.’ Kemudian Adam dipanggil dengan suatu suara, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruhmu untuk mengeluarkan utusan-utusan dari anak cucumu ke neraka’.” (HR. Bukhari no. 7483)

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya, dalam bab:

باب قول الله تعلى : وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.” (QS. Saba’ [34]: 23)

Imam Bukhari rahimahullah kemudian berkata,

ولم يقل : ماذا خلق ربكم

“Dan (Allah) tidak mengatakan, ‘Apa yang diciptakan oleh Rabb kalian’” (Shahih Al-Bukhari, 9: 141)

Perkataan beliau ini menunjukkan dalamnya pemahaman dan aqidah beliau yang menunjukkan bahwa kalam Allah adalah sifat Allah, dan bukan makhluk Allah.

‘Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ [بُعْدٍ كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ] قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ، حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، حَتَّى اللَّطْمَةُ ” قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: ” بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat -atau bersabda dengan redaksi ‘hamba’- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan ‘buhman’. Kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak memakai pakaian sehelai benang pun.’ Kemudian ada suara yang memanggil mereka, yang didengar oleh orang-orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang-orang yang dekat, ‘Aku adalah sang Raja, Aku adalah Dayyan (Pemberi balasan). Tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka, sedangkan dia mempunyai hak atas seorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga, sedangkan seseorang dari penduduk neraka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya, meskipun satu tamparan sekalipun.’”

(Jabir bin ‘Abdullah) bertanya, “Bagaimana ini?’ Kami mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benang pun?”

Beliau bersabda, “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 16042. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Tambahan lafal hadits dalam kurung siku berasal dari pen-tahqiq Musnad Imam Ahmad (Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) setelah mengumpulkan berbagai kitab hadits lainnya yang juga meriwayatkan hadits ini.

‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ، سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ، حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: الْحَقَّ، فَيَقُولُونَ: الْحَقَّ، الْحَقَّ

“Jika Allah berbicara (menyampaikan) wahyu, maka penduduk langit mendengar (suara) gemerincing seperti gesekan rantai di atas batu licin, hingga mereka pun pingsan. Dan mereka pun terus-menerus dalam kondisi seperti itu hingga datanglah Jibril. Ketika Jibril datang, mereka pun sadar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu mereka berkata, wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?” Jibril menjawab, “Kebenaran.” Mereka pun berkata, “Kebenaran, kebenaran.” (HR. Abu Dawud no. 4738, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan suara yang didengar oleh makhluk-Nya, sehingga tidaklah meninggalkan keraguan sedikit pun bagi para pencari kebenaran. Juga menunjukkan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Hadits-hadits yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, namun kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa hadits di atas saja.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 3

***

Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 22 Rajab 1439/9 April 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

Pembahasan ini disarikan dari kitab (dengan sedikit penambahan): Al-Asyaa’iroh fil Mizaani Ahlis Sunnah karya Syaikh Faishal bin Qazar Al-Jaasim (seorang ulama ahlus sunnah dari negeri Kuwait), penerbit Al-Mabarrat Al-Khairiyyah li ‘Uluumi Al-Qur’an was Sunnah Kuwait cetakan ke dua tahun 1431, hal. 510-512.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Kesyirikan yang Mengancam Akal

oleh Glenshah Fauzi
14 Oktober 2026
0

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori...

Iman kepada Para Rasul: Dari Mengagumi Menuju Mengikuti

oleh Mochammad Wibisono
7 Oktober 2026
0

Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan. Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah...

Karnaval Bertema “Satanic” dan Apa Hukumnya bagi Seorang Muslim?

oleh Muhammad Insan Fathin
29 September 2026
0

Beberapa waktu lalu, media sosial kita sempat ramai disebabkan karnaval yang menampilkan atribut bertema satanik di ruang publik. Ditemukan pentagram...

Artikel Selanjutnya

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah, dan Asy’ariyyah (Bag. 3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan bahwa Anda manusia: 10   +   1   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah