Muslim.or.id
Donasi muslim.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslim.or.id
No Result
View All Result

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
5 Maret 2018
di Akidah
Share on FacebookShare on Twitter

Baca pembahasan sebelumnya: Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 3)

Buah dari pengenalan terhadap nama dan sifat Allah

Termasuk di antara hal-hal yang menunjukkan pentingnya tauhid asma’ wa shifat adalah hal-hal yang merupakan buah dari pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala di dalam hati seorang mukmin, yaitu semakin kokohnya keimanan dan keyakinan. Selain itu, semakin bertambah pula cahaya dan bashiroh yang dapat menjaganya dari syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan.

Jika ilmu ini kokoh menancap di dalam hati, pasti akan menghasilkan rasa takut (khosy-yah) kepada Allah Ta’ala. Setiap nama dari nama-nama Allah Ta’ala memiliki pengaruh tertentu dalam hati dan perbuatan. Jika hati mengetahui makna dari nama Allah Ta’ala, apa kandungannya, serta merasakannya, maka dia akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.

Setiap sifat ‘ubudiyyah (penghambaan) tertentu merupakan konsekuensi dan tuntutan dari nama dan sifat Allah Ta’ala. Nama-nama Allah Ta’ala yang husna (indah) dan sifat-Nya yang ‘ulya (tinggi) menimbulkan pengaruh ‘ubudiyyah tertentu. Hal ini mencakup seluruh jenis ‘ubudiyyah yang berasal dari hati maupun amal perbuatan. Misalnya, pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah Ta’ala dalam mendatangkan bahaya atau manfaat, memberi, mencegah, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan akan menghasilkan sifat ‘ubudiyyah berupa tawakkal kepada-Nya baik secara batin maupun lahir. Dia tidak akan bertawakkal kepada selain Allah Ta’ala, baik kepada para wali, jimat, atau kepada dirinya sendiri.

Pengetahuan seorang hamba terhadap pendengaran Allah Ta’ala, penglihatan-Nya, dan ilmu-Nya, bahwa tidak ada yang samar bagi Allah Ta’ala meskipun seukuran biji sawi, baik di langit maupun di bumi, bahwa Allah Ta’ala mengetahui yang rahasia dan tersembunyi di dalam dada, maka akan menghasilkan sikap menjaga lisan, perbuatan, dan gerak-gerik hatinya dari setiap yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala. Demikian pula dia akan menjadikan anggota tubuhnya untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala. Dan menghasilkan pula rasa malu di dalam hati sehingga mendorongnya untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan.

Pengetahuan seorang hamba tentang kekayaan, kemurahan, kemuliaan, kebaikan, dan rahmat Allah Ta’ala akan menghasilkan luasnya raja’ (berharap) dari dalam dirinya. Dia tidak akan pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala ketika sedang mendapatkan musibah. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang kebesaran, keagungan, dan keperkasaan Allah Ta’ala akan menghasilkan khudhu’ (ketundukan), perendahan diri, dan kecintaan kepada Allah Ta’ala. Demikianlah, seluruh ‘ubudiyyah kembali kepada konsekuensi dari nama dan sifat Allah Ta’ala serta terkait dengannya. [1]

Dengan demikian jelaslah bahwa pengetahuan seorang hamba terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya akan menyebabkan seseorang menghamba (beribadah) kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Sehingga manusia yang paling sempurna penghambaannya kepada Allah Ta’ala adalah manusia yang beribadah kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala yang diketahuinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Seseorang tidak mungkin beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna sampai dia mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala sehingga dia menyembah Allah Ta’ala di atas bashirah.” [2]

Pernyataan beliau rahimahullah tersebut didasarkan atas firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

”Hanya milik Allah-lah nama-nama yang husna. Maka berdoalah kamu dengannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

Berdoa dengan nama Allah Ta’ala mencakup doa permintaan (doa mas’alah) atau ibadah secara umum. Karena semua ibadah yang kita lakukan pada hakikatnya adalah doa.

Berdasarkan ayat tersebut, maka termasuk kesempurnaan dalam berdoa adalah seseorang menjadikan perantaraan (ber-“tawassul”) dalam doanya dengan menyebutkan nama-nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi permintaannya. Jika kita ingin meminta rizki, maka kita ber-tawassul dengan nama Allah “Ar-Rozzaaq” (Yang Maha pemberi rizki). Jika kita meminta ampun kepada Allah, maka kita ber-tawassul dengan nama Allah “Al Ghofuur” (Yang Maha mengampuni). Inilah salah satu bentuk tawassul dalam berdoa yang disyariatkan. Bahkan inilah yang telah dicontohkan oleh para Rasul ketika mereka berdoa kepada Allah Ta’ala. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah,

فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

”Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf [7]: 155)

Demikian pula Nabi Isa ‘alaihis salam, beliau berdoa kepada Allah,

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

”Berilah kami rizki, dan Engkaulah Pemberi rizki yang paling utama.” (QS. Al-Maidah [5]: 114)

Sedangkan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam, beliau berkata,

قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 98)

Adapun dalam beribadah secara umum, maka hendaknya dibangun di atas ilmu tentang nama-nama Allah Ta’ala yang husna. Jika seseorang mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha mengampuni, maka dia akan bersegera untuk memohon ampun kepada-Nya. Sedangkan memohon ampun (istighfar) termasuk ibadah. Jika seseorang mengetahui bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha mendengar, maka hal itu akan mencegah dirinya sehingga Allah tidak mendengar dari dirinya hal-hal yang dapat menyebabkan kemurkaan-Nya. Dia juga akan berkata-kata dengan sesuatu yang apabila didengarkan oleh Allah Ta’ala, hal itu akan medatangkan ridha-Nya. Dan semua ini termasuk ibadah. [3]

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 5

***

Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah, 2: 90.

[2] Syarh Al-Qowa’idul Mutsla, hal. 20.

[3] Lihat Syarh Al-Qowa’idul Mutsla, hal. 20-23; Fiqhu Ad-Du’a, hal. 27-29.

ShareTweetPin
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

oleh Muhammad Insan Fathin
11 Juli 2026
0

Di antara hal yang menenangkan hati seorang hamba di tengah berbagai ujian kehidupan adalah mengetahui bahwa Allah Ta'ala tidak pernah...

Mengapa Allah Tidak Terlihat?

oleh Glenshah Fauzi
21 Juni 2026
1

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian...

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

oleh Yulian Purnama, S.Kom.
10 Juni 2026
0

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan...

Artikel Selanjutnya

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 10   +   10   =  

Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id Donasi Muslim.or.id
Muslim.or.id

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 No. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslimah.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Fatwa Ulama
    • Tazkiyatun Nufus
    • Khotbah Jum’at
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah